
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
Dengan mimik wajah yang mengerenyit, menunjukkan ada rasa takut atau tidak nyaman, Niring Kuwikuwi berjalan cepat mendatangi Aji Mupung yang menunggunya di teras.
“Apakah kau tahu sesuatu tentang mayat wanita di seberang jalan sana?” tanya Aji Mupung setibanya Niring Kuwikuwi di hadapannya.
“Itu … itu pendekar pembunuh bayaran, yang dibunuh oleh pelanggan penginapanku,” jawab Niring Kuwikuwi ragu dan lirih.
Dari dalam penginapan muncul sosok cantik jelita Dewi Ara yang penuh kharisma.
Pandangan Aji Mupung dan Niring Kuwikuwi serta para karyawan penginapan langsung menengok memandang kepada sosok yang ketika pagi, mereka bisa melihat dengan jelas kejelitaan sang permaisuri.
Mereka semua terkesima, terutama Aji Mupung yang baru memberi pandangan pertama. Apalagi pagi ini Dewi Ara tampil sesegar buah apel merah di dalam kulkas.
Dewi Ara dikawal oleh Setya Gogol dan Lentera Pyar.
“Katakan kepada junjunganmu, bersihkan saja mayat itu dan kubur,” ujar Dewi Ara kepada Aji Mupung.
Mendapat ajakan berbicara oleh wanita yang lebih cantik daripada bidadari yang mandi di irigasi sawah itu, terhentak resah jantung Aji Mupung. Darahnya seketika mengalir rusuh yang membuatnya gemetar halus.
“I-i-iya, Nisanak,” jawab Aji Mupung yang berubah tergagap. Kegagahannya di depan Niring Kuwikuwi mendadak ambyar.
Lentera Pyar lalu melempar sekantung kecil berisi kepeng kepada Aji Mupung. Aji Mumpung menangkap kantung kepeng itu dengan dua tangan, seperti orang yang tidak terpelajar.
“Urus dengan baik mayat itu, karena di sana ada pembunuh bayaran lainnya,” kata Dewi Ara.
Terkejutlah Aji Mupung dan Niring Kuwikuwi mendengar berita itu. Aji Mupung berubah panik. Dia buru-buru pergi meninggalkan teras dan berlari mendatangi Demang Bajang.
“Gusti Demang! Gusti Demang!” teriak Aji Mupung panik sejak jarak masih jauh.
Panggilan mode panik itu mengejutkan Demang Bajang dan Sikut Geprek.
Sementara Dewi Ara kembali duduk di teras untuk menyeruput teh hangat sambil menikmati cuaca pagi yang sejuk. Sebuah meja baru telah disiapkan oleh karyawan penginapan, lengkap dengan seperangkat perlengkapan minum, tapi tidak dibayar tunai. Penganan yang tersedia adalah bubur kacang merah hangat beraroma jahe yang kental, tapi tidak sepedas jahe merah campur susu.
Lentera Pyar melayani junjungannya. Sementara Setya Gogol hanya duduk diam seperti patung pemanis pemandangan, tapi khusus untuk kaum hawa semodel Niring Kuwikuwi.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Demang Bajang dengan pandangan mendelik, membuatnya semakin sangar dengan kumis gemuknya.
“Di sini ada pembunuh bayaran teman mayat wanita itu!” jawab Aji Mupung.
Terkejut lagi Demang Bajang dan Sikut Geprek, termasuk seluruh warga yang sedang berkerumun di tempat tersebut.
“Di mana?” tanya Demang Bajang sambil melihat ke sekitar, mencari orang yang mungkin di atas kepalanya ada tulisan “Aku pembunuh bayaran.”
“Pa-pa-pasti di antara warga-warga ini,” jawab Aji Mupung.
Maka Demang Bajang dan kedua pengawalnya itu memandangi dengan seksama wajah warga yang berkumpul di sekitar. Hingga lima belas hitungan suara tokek berbunyi, ketiganya tidak menemukan wajah atau sosok yang mencurigakan sebagai pembunuh bayaran. Tidak ada satu pun yang memegang selembar cek atau kwitansi tanda pembayaran.
“Sepertinya tidak ada,” kata Sikut Geprek pelan.
Tiba-tiba Demang Bajang membentak warga yang ada.
“Siapa dari kalian pembunuh bayaran!”
“Bukan Abel! Sumpah demi perkutut, bukan Abel, meong, meong aw!” pekik seorang pemuda bernada latah di antara warga yang berdiri berkerumun.
Mendengar latahan seseorang itu, Demang Bajang dan kedua pengawalnya fokus memandang ke kumpulan warga. Mereka tidak bisa melihat langsung pemuda berambut pendek yang barusan latah, sebab berlindung di belakang warga yang lain.
“Siapa yang latah barusan?!” tanya Sikut Geprek membentak warga yang berkumpul seperti setangkai buah rambutan.
Beberapa warga yang berkerumun itu sontak bergeser menjauh sambil menunjuk pemuda latah yang sedang mingkem seperti maling bersembunyi. Karena dirinya sudah terbuka selebar durian dibelah, pemuda berpakaian warna abu-abu itu hanya menyengir lebar, memperlihatkan gigi putihnya yang berderet rapi seperti bintang iklan odol.
“Hei!” panggil seorang wanita dari sisi belakang sambil menepak bahu kanan si pemuda latah.
“Abel ganteng sebukit! Abel ganteng sebukit, meong meong aw!” pekik latah si pemuda yang berujung menirukan suara kucing lalu bergaya mencakar udara dengan gemulai.
“Hahaha …!”
Baru kali ini Demang Bajang dan warganya tertawa terbahak-bahak menyaksikan kelatahan pemuda yang diduga sebagai pembunuh bayaran tersebut.
“Hihihik!” tawa Tikam Ginting pula, wanita yang menepak pemuda itu dari belakang.
Di belakang Tikam Ginting ada Ratu Wilasin dan Arda Handara yang juga tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi si pemuda latah.
__ADS_1
Tikam Ginting berlalu dengan mengabaikan si pemuda dan berkata kepada Demang Bajang, “Demang, di sebelah sana ada satu mayat lagi. Yang di sana itu mayat telik sandi Kerajaan Baturaharja.”
“Hah! Telik sandi Kerajaan Baturaharja?” ucap Demang Bajang terkejut.
“Bagaimana ini, Gusti?” tanya Aji Mupung.
“Aku tidak mau berurusan dengan orang kerajaan. Bisa-bisa kita yang disalahkan,” kata Demang Bajang setengah berbisik, tapi masih terdengar oleh Tikam Ginting.
“Majikanku yang duduk di teras penginapan akan membayar kalian. Semua kematian itu tanggung jawab majikanku,” ujar Tikam Ginting.
“Gusti, tadi majikannya memberi uang sekantung untuk mengurus mayat ini. Majikannya sangat cantik seperti telur rebus,” bisik Aji Mupung.
Ditunjukkan barang bagus, Demang Bajang pun melemparkan pandangannya ke arah teras penginapan. Dilihat dari jauh saja, Dewi Ara sudah terlihat cantik, apalagi jika dilihat dari dekat.
“Biarpun cantiknya selangit, tapi kalau kita bisa dipotong-potong seperti mayat itu, siapa yang tidak takut,” kata Demang Bajang.
“Kakang!” panggil Arda Handara sambil menusuk bokong pemuda latah dengan gagang ketapelnya.
“Abel ganteng sebukit! Abel ganteng sebukit, meong meong aw!” pekik latah si pemuda lalu bergaya seperti kucing minta kawin.
“Hahahak …!” tawa Arda Handara dan sebagian warga.
“Hihihik …!” tawa Ratu Wilasin melengking menyayat ulu hati.
“Benarkah kau pembunuh bayaran teman Cempaka yang mati itu?” tanya Tikam Ginting yang beralih kepada pemuda latah.
“Abel awalnya tidak mau pamer diri sebagai pembunuh bayaran,” kata pemuda itu bernada mengayun pakai cengkok dan dengan gerakan tangan yang agak melambai gemulai. “Tapi, karena sudah ketahuan, Abel mau bilang apa. Abel memang pembunuh bayaran teman Kakak Cempaka. Sedih deh melihat sahabat bernasib seperti itu.”
“Hahahak!” tawa Arda Handara yang geli melihat gestur tubuh si pemuda latah ketika berbicara.
Tiba-tiba Tikam Ginting melompat menerjang santai pemuda itu. Ia ingin membuktikan bahwa pemuda gemulai itu benar-benar seorang pendekar.
Dak dak!
Dengan gerakan yang gemulai tapi cepat, pemuda itu menangkis terjangan Tikam Ginting lalu memutuskan melompat mundur cukup jauh, sejauh tiga kali lompatan belalang.
Tikam Ginting lalu berkelebat pergi dan mendarat dua tombak di depan si pemuda latah. (RH)
__ADS_1