
*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*
Orang dekat Tetua Pulau yang bernama Tare Munele datang menemui Putri Keken dan Seser Kaseser di sawahnya, tidak lama setelah mereka aman dari gangguan Arda Handara yang seperti nyamuk bagi orang pacaran.
“Pangeran Bewe Sereng telah datang bersama Gusti Permaisuri,” lapor Tare Munele.
“Oh, itu pasti salah satu permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil,” terka Putri Keken sumringah. “Ayo, Paman. Aku ingin cepat bertemu dengan permaisuri itu.”
Putri Keken lebih dulu berjalan cepat melewati celah pagar batu yang bisa dilewati oleh orang dewasa dengan sedikit membungkuk.
Seser Kaseser dan Tare Munele segera mengikuti sang putri mahkota.
“Apakah Paman Tare tadi sudah melihat Gusti Permaisuri?” tanya Putri Keken sambil terus berjalan cepat, seperti ingin berlari saja.
“Sudah,” jawab Tare Munele sambil berjalan tergopoh-gopoh demi mengimbangi langkah Putri Keken.
“Gusti Permaisuri siapa yang datang, Paman?” tanya Putri Keken lagi.
“Aku tidak tahu. Pangeran Bewe Sereng hanya menyebutnya Gusti Permaisuri,” jawab Tare Munele.
“Apakah dia cantik?”
“Sangat cantik. Tetua Pulau saja sampai terpana.”
“Hihihi …!” tawa Putri Keken nyaring.
“Sekarang air laut surut. Jadi kapal mereka tidak bisa merapat ke dermaga. Jadi mereka menggunakan kesaktiannya masing-masing untuk mendarat ke dermaga. Gusti Permaisuri terbang seperti dewi turun dari awan pujaan. Bahkan ada anak kecil yang bisa meluncur di air laut dan ada yang terbang seperti capung,” cerita Tare Munele.
“Yang terbang anak lelaki?” tanya Seser Kaseser.
“Benar. Dia dipanggil dengan sebutan pangeran. Dari kapal langsung terbang jauh di atas pulau,” jawab Tare Munele.
“Mungkin yang baru saja mengganggu kita, Paman,” terka Putri Keken.
“Mengganggu?” tanya Tare Munele.
“Iya. Baru saja pangeran itu meneriaki aku maling karena mengira aku mau mencuri padiku sendiri,” kata Putri Keken.
“Putri mengenal permaisuri itu?” tanya Tare Munele.
__ADS_1
“Tidak, tapi aku tahu Raja Joko Tenang dan kesebelas permaisurinya. Meski aku tidak pernah bertemu, tetapi aku adalah pengagum mereka. Karena itulah aku memerintahkan Paman Pangeran untuk pergi ke sana memintah bantuan,” jawab Putri Keken.
Untuk sampai ke pusat desa tempat kediaman Tetua Pulau berada, mereka harus melintasi hutan yang jaraknya hanya beberapa puluh tombak saja.
Singkat cerita, tibalah Putri Keken, Seser Kaseser dan Tare Munele di kediaman Tetua Pulau yang sederhana tapi lapang. Rumah Tetua Pulau terbuat dari material kayu.
Rumah itu sedang ramai oleh tamu dan tuan rumah sedang sibuk menyambut tamu yang dianggap agung.
Setibanya di tengah-tengah tamu, Putri Keken sudah tersenyum lebar. Pandangannya fokus kepada sosok Dewi Ara yang membuatnya begitu terkagum.
“Perkenalkan, ini Putri Mahkota Putri Keken, pewaris tahta Istana Kabut Kuning, Gusti Permaisuri,” ujar Bewe Sereng memperkenalkan keponakannya.
“Sembah hormatku, Gusti Permaisuri,” ucap Putri Keken sambil menghormat ala Negeri Pulau Kabut, yaitu membungkuk empat puluh lima derajat dengan telapak tangan berdiri tegak menempel di dahi, sementara tangan kiri setengah merentang di samping badan.
“Bangunlah!” perintah Dewi Ara yang duduk bersila di teras rumah Tetua Pulau yang lapang. “Aku pikir putri mahkota itu adalah seorang gadis dewasa.”
“Seperti inilah hamba, Gusti Permaisuri,” kata Putri Keken dengan senyum malu-malu yang terus mengembang.
“Jangan menghamba di depanku. Kau adalah calon penguasa Negeri Pulau Kabut. Setarakan dirimu denganku, Putri,” kata Dewi Ara.
“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Putri Keken. Ia lalu ikut duduk di lantai papan.
“Lelaki yang di sisinya adalah Tangan Kanan Putri Mahkota, Seser Kaseser,” kata Bewe Sereng lagi memberi tahu.
“Bangunlah!” perintah Dewi Ara lagi.
“Putri Keken adalah pengagum Raja Joko Tenang dan kesebelas permaisurinya,” kata Bewe Sereng lagi.
“Ooh,” desah Dewi Ara sembari mengangguk sekali. Lalu tanyanya kepada Putri Keken, “Apakah kau tahu aku permaisuri yang mana?”
“Mohon maaf, Gusti, aku tidak tahu. Namun, aku hafal semua nama permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Putri Keken.
“Aku adalah permaisuri pertama yang melahirkan putra Raja Joko Tenang. Apakah Putri bisa menerka siapa aku?” tanya Dewi Ara datar yang tanpa senyum sejak tadi.
“Bisa. Gusti Permaisuri adalah Permaisuri Dewi Ara yang digelari Permaisuri Geger Jagad, yang dulu sangat dikenal dengan julukan pendekarnya Dewi Geger Jagad,” jawab Putri Keken dengan lancar yang mebuat orang-orang terdekatnya tersenyum.
“Kau putri yang menarik, Putri. Kau membuatku tertarik kepadamu. Apakah kau bercita-cita ingin menjadi salah satu permaisuri dari Raja Joko Tenang?”
“Hihihi!” tawa Putri Keken dengan pandangan yang malu-malu. Namun kemudian katanya, “Sepertinya saat ini tidak baik membahas masalah itu, Gusti. Apakah kedatangan Gusti Permaisuri ingin membantu kami bebas dari Kerajaan Puncak Samudera?”
__ADS_1
“Sesuai permintaan,” ucap Dewi Ara. “Dari pulau ini, kita akan langsung menyerang ke Pulau Kabut. Yang tidak ikut menyerang akan tinggal di pulau ini untuk sementara.”
“Baik, Gusti,” ucap Putri Keken.
Terlihat pandangan Putri Keken beralih memandang kepada Mimi Mama yang lebih cantik darinya. Mimi Mama duduk di sisi kanan Dewi Ara, seolah-olah dia adalah anak sang permaisuri.
“Itu anak Gusti Permaisuri?” tanya Putri Keken. Yang dia maksud adalah Mimi Mama karena pepatah mengatakan “buah jatuh lurus ke bawah”, maksudnya kecantikan jatuh lurus menurun ke anaknya, bukan mendatar ke anak tetangga.
“Iya. Ini anak pungutku, namanya Mimi Mama, Pembunuh Kedua dari Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas, juga putri dari Ratu Pulau Tujuh Selir,” jawab Dewi Ara sekaligus memperkenalkan Mimi Mama secara mendetail.
Jika Mimi Mama tersenyum lebar karena diakui sebagai “anak pungut”, maka Putri Keken dan Seser Kaseser terkejut mendengar identitas lengkap Mimi Mama. Mereka berdua tahu tentang Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas.
“Ibundaaa!” teriak Arda Handara yang datang dari udara dan langsung mendarat di lantai teras.
Bdak!
Arda Handara yang mendarat dengan kasar membuatnya terjungkal lalu jatuh tersungkur menabrak Tetua Pulau, membuat sang tetua ikut jatuh terjengkang.
“Hihihi …!” tawa terkikik Mimi Mama, seolah-olah dia senang melihat Arda Handara ketiban apes.
“Itu putraku, Putra Mahkota Kerajaan Sanggana Kecil. Diburu oleh banyak wanita untuk dijadikan suami,” kata Dewi Ara, sekaligus mempromosikan putranya. Entah serius atau sekedar kelakar gaya Pemaisuri Geger Jagad.
“Hahaha!” Arda Handara justru tertawa sambil buru-buru bangkit. Dia segera mencoba membantu Tetua Pulau untuk bangkit. “Maaf, Eyang. Aku kira perempuan cantik. Hahaha!”
“Hihihi! Matamu buta karena wanita cantik, Ulat Bulu!” seru Mimi Mama menertawakan.
“Awas kau, Anak Cantik!” ancam Arda Handara dengan mendelik kepada Mimi Mama. Namun kemudian, dia terkejut saat melihat Putri Keken. “Eh, Maling padi!”
Arda Handara terkejut dan menunjuk kepada Putri Keken.
Mendelik pula Putri Keken disebut “maling padi”.
“Apa maksudmu dengan maling padi, Arda?” tanya Dewi Ara.
“Tadi aku kira dia maling padi, ternyata sawah itu punyanya sendiri. Jadi dia maling padinya sendiri,” jawab Arda Handara.
Putri Keken hanya mendelik. Ingin rasanya dia menyemprot Arda Handara, tetapi bocil pendek itu adalah putra Permaisuri Dewi Ara.
“Rupanya kalian sudah berkenalan wajah. Cepat juga,” komentar Dewi Ara. Lalu tanyanya kepada putranya, “Apakah kau akan ikut berperang menyerang ke Negeri Pulau Kabut, Arda?”
__ADS_1
“Tentu, Ibunda. Aku bisa menyerang dari langit. Hebat, kan?” kata Arda Handara jumawa.
“Jika demikian, kita langsung bicarakan tentang penyerangan ke Pulau Kabut,” kata Dewi Ara. (RH)