
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Melihat Suragawa terpental oleh seorang asing, pihak Curiasa kian marah. Maka tampillah Deming Joyo.
Ctas!
“Hiaat!” pekik Deming Joyo setelah melecutkan cambuk birunya. Ia melompat jauh masuk ke dalam pengepungan terhadap Anik Remas dan pengawalnya.
Blet! Wuss!
Deming Joyo melecutkan cambuk birunya, tetapi Bagang Kala justru mengajukan tangan kanannya sehingga terlecut dan dililit cambuk. Namun seiring itu, tangan kiri Bagang Kala menghentak dengan jari-jari mengepal.
Meski tinju itu tidak sampai, tetapi angin padat dari tinju itu menghantam keras dada Deming Joyo.
Lelaki berkumis itu terlempar mundur hingga menabrak satu orang murid wanita yang mengepung Anik Remas. Cambuk Deming Joyo tertinggal di tangan Bagang Kala.
Anik Remas hanya tersenyum menang melihat ketangguhan berondong idamannya.
“Tahan, tahan, pengkhianatnya sudah datang!” kata Anik Remas yang melihat Bong Bong Dut datang memanggul sesosok tubuh lelaki di bahu kanannya.
Lelaki yang dipanggul itu tidak berbaju dan sebagian badannya berwarna putih tapi berlumur darah. Wajahnya yang menghadap ke dalam, membuat orang ramai menerka-nerka. Ternyata celana lelaki yang dipanggul itu sudah disempurnakan kedudukannya.
Semua orang pun segera mengalihkan perhatiannya kepada pemuda gemuk yang datang tergopoh-gopoh.
“Sepertinya itu Guru Muda Tulang Karang,” bisik seorang murid kepada rekannya.
“Eh, iya. Sepertinya memang Guru Muda Tulang Karang,” sahut si rekan.
“Cepat bawa pengkhianat itu ke sini, Bong Bong!” teriak Tolak Berang.
“Baik, Ketua!” sahut Bong Bong Dut lalu mempercepat larinya. Kedua bibirnya sampai terbuka dan melambai-lambai karena terengah-engah.
Setibanya di depan Ketua Dua, Bong Bong Dut segera menurunkan tubuh yang dipanggulnya. Tubuh itu diturunkan dalam kondisi terlentang di tanah, sehingga tampak jelas tubuhnya yang berwarna merah putih, lengkap dengan luka-luka cambukannya. Namun, wajahnya sudah bengkak-bengkak, juga putih karena tepung dan bercampur darah kering.
“Tulang Karang!” sebut sejumlah orang bersamaan, termasuk Tolak Berang.
Meski wajah si lelaki bertepung sudah berantakan, tetap saja mereka masih bisa mengenali lelaki yang dituding pengkhianat itu.
Sementara itu, pada saat yang sama, dari arah belakang pendapa berjalan tergesa istri Ketua Dua, Lunar Maya. Wajahnya menunjukkan ketegangan, lebih tepatnya kepanikan. Ia dikawal oleh dua murid berseragam kuning bersenjata cambuk.
Rupanya kondisi Tulang Karang yang mengenaskan itu tidak membuat Tolak Berang iba.
Dak!
__ADS_1
“Akk!”
Saking marahnya, Tolak Berang menyepak kepala Tulang Karang dengan keras, membuat guru muda itu memekik kesakitan.
“Tulang Karang, siapa yang memerintahkanmu berkhianat?!” bentak Tolak Berang.
“Lebih baik kau jujur, kondisimu sudah tidak bisa diselamatkan. Lebih baik berbuat baiklah sekali, memfitnah aku tidak ada gunanya!” sahut Anik Remas pula.
“Sepertinya dia salah satu pembunuh keluargaku,” batin Bagang Kala yang menatap lekat pada wajah Tulang Karang. “Meski wajahnya bengkak, penuh tepung dan darah, tapi bentuk hidungnya aku sangat ingat.”
“Katakan, Tulang Karang!” bentak Tolak Berang lagi setelah meloloskan cambuknya yang berwarna kuning bagus. “Atau kepedihan akan kekal pada tubuhmu!”
Interogasi terhadap Tulang Karang itu ternyata membuat Suragawa dan Deming Joyo bereaksi tidak tenang.
“Aku … aku dipe-pe-perintah oleh … Gusti Adipati,” jawab Tulang Karang akhirnya.
Maka terkejutlah hampir semua orang mendengar pengakuan itu.
Set set!
“Aakk!” jerit terakhir Tulang Karang saat dua angin setajam pedang merobek dalam tubuhnya, menciptakan luka panjang yang menganga lebar.
Para petinggi perguruan itu terkejut bukan main. Mereka langsung memandang marah kepada Bagang Kala, orang yang melesatkan ilmu Angin Setajam Lidah. Dua angin tajam itu tadi bisa lewat di ruang-ruang kosong di antara orang-orang.
“Kisanak, kenapa kau membunuhnya?” hardik Guna Wetong.
“Hihihi!” tawa pendek Anik Remas.
“Kakang Tolak! Kakang Tolak!” panggil seorang wanita dari sisi lain tiba-tiba.
Panggilan bernada panik itu mengejutkan Tolak Berang. Ia cepat menengok dan berbalik. Ia melihat istrinya sedang berlari kecil untuk bergabung bersama mereka semua.
“Ada apa, Lunar?” tanya Tolak Berang heran. Ia harus menahan dulu amarahnya kepada kubu Anik Remas.
“Wanita yang diminta oleh Gusti Adipati adalah seorang Permaisuri Sanggana Kecil!” jawab Lunar Maya dengan setengah berteriak, meski ia sudah tiba di depan suaminya.
“Apa?!”
Bukan hanya Tolak Berang yang memekik terkejut, tetapi hampir semua petinggi perguruan, terutama Ketua Tiga Citari Lenting dan Curiasa serta pengawalnya.
“Wanita yang menjadi tamu kita adalah Permaisuri Geger Jagad, permaisuri dari Kerajaan Sanggana Kecil!” tegas Lunar Maya.
“Ma-ma-mati kita,” ucap Tolak Berang tergagap dan gemetar bibirnya.
Brak!
__ADS_1
Tiba-tiba semuanya dikejutkan oleh suara sesuatu yang hancur. Serentak mereka melihat jauh ke arah depan atas, tepatnya ke atap bangunan tempat Adipati Kuritan berkamar.
Mereka kian terkejut saat melihat dengan jelas, ada bagian atap yang sudah rusak jebol dan ada sesosok tubuh bening sedang melambung di udara tinggi.
Sosok tubuh itu terlihat bening karena ia memiliki kulit yang termasuk putih bersih dan tidak ditutupi sehelai benang pun alias buto (bugil total).
Sosok bugil itu melambung lalu meluncur jatuh menuju ke tanah lapang yang masih banyak potongan-potongan bambu.
“Kakang Adipati!” pekik spontan Curiasa saat mengenali siapa sosok lelaki bugil itu.
“Putrakuuu!” pekik Citari Lenting saat mengenali pula orang polos itu.
“Gusti Adipati!” ucap yang lainnya terkejut.
Namun ada yang aneh. Ketika sosok bugil yang memang adalah Adipati Kuritan itu meluncur jatuh, luncuran sempat terhenti seperkian detik saat tinggal tiga tombak dari tanah.
Bugk!
“Akk …!”
Setelah berhenti, tubuh itu kembali meluncur jatuh menghantam tanah. Adipati Kuritan mengerang panjang sambil menggeliat di tanah lapang.
Jika luncuran tubuh sang adipati tidak terhenti sejenak, mungkin kondisi tubuhnya sudah berpatah-patah tulang.
“Hahaha …!” tawa sebagian besar murid Perguruan Cambuk Neraka yang menyangka ada binatang sirkus di lapangan.
Sebagai dua orang sahabat sejati, tanpa sepakat lebih dulu, Suragawa dan Deming Joyo segera berlari ke tanah lapang untuk menolong Adipati Kuritan.
Wung wung wung …!
Namun, Suragawa dan Deming Joyo harus buru-buru mengerem larinya karena tiba-tiba bambu yang berserakan di tanah, beterbangan dan melesat lewat beramai-ramai di depan wajah mereka.
Belasan potongan bambu itu melesat terbang mengelilingi posisi tubuh Adipati Kuritan membentuk benteng bergerak.
Penerbangan batang-batang bambu itu bukanlah perbuatan Adipati Rukitan untuk membentengi dirinya, tapi justru dia semakin tegang setegang “adipati kecil” yang masih dalam pengaruh obat kuat.
Dengan perasaan ngeri, takut jika batang-batang bambu pendek itu menyerang dirinya, Adipati Kuritan perlahan bergerak bangkit berdiri. Takut bercampur malu, itulah suasana perasaan sang adipati saat itu.
Bagaimana tidak takut, jika ada belasan potongan bambu yang terbang seperti pesawat mengurungnya dan itu di luar kendalinya?
Bagaimana tidak malu, jika kini ia berdiri dalam kondisi buto tanpa bisa mengambil sesuatu untuk menutupi tubuhnya? Terpaksa ia berdiri dengan kedua tangan mengatup pusaka biologisnya.
“Ini dia binatang biadab itu!” desis Bagang Kala lirih, yang terdengar oleh Anik Remas.
Bruakr!
__ADS_1
Tiba-tiba atap bangunan kayu tempat kamar sang adipati berada, hancur berpentalan ke berbagai arah. Setelah itu, sesosok wanita cantik jelita berpakaian merah gelap bergerak terbang dengan kalem keluar dari dalam bangunan. Sosok bersayap kain seperti Superwoman itu tidak lain adalah Dewi Ara, Permaisuri Geger Jagad.
Semua lelaki hanya bisa terkejut takjub melihat kesaktian berbalut kecantikan dan semua wanita hanya bisa mengiri hati. (RH)