Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
PHT 30: Mengendus Jejak Arda


__ADS_3

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*


 


Sore itu, Istana dilanda kegemparan. Apa lagi jika bukan karena hilangnya Pangeran Arda Handara.


Pangeran yang sudah keluar dari tembok benteng Istana tidak hanya membuat Prabu Dira dan Permaisuri Dewi Ara panik, tetapi juga membuat Ratu Tirana dan semua permaisuri cemas, kecuali Permaisuri Nara. Orang tersakti di Kerajaan Sanggana Kecil itu seolah sudah tahu apa yang akan terjadi terhadap Arda Handara kemudian, sehingga ia tidak menunjukkan kecemasannya sedikit pun. Atau mungkin karena Arda Handara bukanlah putranya.


Mau tidak mau, Prabu Dira dan para istri harus keluar dari Istana untuk mencari Arda Handara.


Agar kegemparan itu tidak menimbulkan kekisruhan yang berlebihan, Prabu Dira dan istri-istrinya mengandalkan para serigala milik Permaisuri Sandaria untuk mencium jejak Pangeran Arda Handara.


Dengan gaya ketenangan, Prabu Dira dan istri-istrinya keluar dengan dikawal oleh lima puluh pendekar dari Pasukan Pengawal Bunga yang diketuai oleh Reksa Dipa. Selain itu, ada seratus prajurit istana yang berseragam hitam-hitam.


Keluarnya rombongan besar itu memasuki ibu kota Sanggara jelas menjadi pusat perhatian para pendekar dan warga. Namun, mereka hanya bisa bertanya-tanya di dalam hati yang senang. Sebab, jarang-jarang Prabu Dira keluar bersama hampir semua istrinya sekaligus.


Rombongan itu lebih seperti parade militer, karena melibatkan lima puluh pendekar Pasukan Pengawal Bunga dan seratus prajurit.


Semua serigala besar milik Permaisuri Sandaria berjalan di posisi paling depan.


Permaisuri Sandaria yang menunggangi serigala hitam bernama Satria berjalan paling depan. Satria bertugas sebagai pengendus jejak bau tubuh Arda Handara.


Di belakang Satria berjalan Kemilau yang ditunggangi oleh Permaisuri Dewi Ara, Bintang yang ditunggangi oleh Permaisuri Sri Rahayu, Bulan ditunggangi Permaisuri Getara Cinta, dan Belang ditunggangi oleh Permaisuri Yuo Kai.


Di belakang rombongan serigala berjalan kuda yang ditunggangi oleh Prabu Dira, Ratu Tirana, Permaisuri Kerling Sukma, Permaisuri Ginari, Permaisuri Kusuma Dewi, dan Kepala Pengawal Prabu Riskaya.


Setelah itu rombongan Pasukan Pengawal Prabu, Pasukan Pengawal Bunga dan pasukan prajurit.


Faktor “terlalu cemas” dan kemungkinan besar Arda Handara pergi ke Hutan Timur, membuat Prabu Dira mengerahkan kekuatan terbesar Kerajaan Sanggana Kecil. Komposisi itu memang adalah kekuatan terbesar Kerajaan Sanggana Kecil, meski tanpa Permaisuri Nara. Entah, kekuatan mana yang kira-kira bisa mengalahkan jika kesaktian Prabu Dira dan istri-istrinya bersatu, apalagi ditambah kesaktian lima puluh pendekar dari Pasukan Pengawal Bunga.


Sebelumnya, Permaisuri Nara mengutarakan dugaannya bahwa Pangeran Arda Handara kemungkinan kuat pergi ke Hutan Timur. Namun, itu baru sekedar dugaan.


Jika dugaan itu benar adanya, jelas akan sangat berbahaya bagi sang pangeran karena Hutan Timur memiliki penghuni yang kejam, terbukti tiga orang pendekar sudah menjadi korban. Apalagi penghuni Hutan Timur bukanlah manusia, yang mungkin tidak memiliki perasaan.


Dugaan itu harus tetap dibuktikan. Karenanya para serigala ditugaskan untuk menjadi penuntun arah. Jadi, rombongan itu mutlak mengikuti arah langkah kelima serigala piaraan Permaisuri Sandaria. Jika para serigala itu lurus, maka rombongan Prabu Dira pun akan lurus. Jika belok kanan, maka rombongan Prabu Dira pun akan belok kanan.


Selain itu, Prabu Dira dan para istrinya juga berlomba dengan waktu. Jika sampai hari gelap mereka belum menemukan Arda Handara, maka situasi jelas akan lebih buruk.

__ADS_1


Warga Ibu Kota berbondong-bondong datang ke jalan utama hanya demi melihat Prabu Dira dan para istrinya yang laksana kumpulan bidadari dari langit. Mereka semua turun berlutut menghormat. Mereka tidak tahu bahwa saat itu Prabu Dira dan rombongan sedang memendam cemas dan mencari jejak.


Setibanya di persimpangan tengah Ibu Kota, para serigala ternyata berbelok ke timur, menegaskan bahwa Arda Handara kemungkinan besar pergi ke Hutan Timur.


Semakin benarnya dugaan tersebut, membuat Permaisuri Sandaria memerintahkan tunggangannya berlari cepat.


Karena Satria berlari cepat, serigala yang lain juga berlari. Prabu Dira dan para istrinya yang berkuda segera mengejar.


Kelima puluh pendekar pun tidak mau tertinggal. Serentak mereka segera berlari di udara mengejar junjungannya, menunjukkan pemandangan yang menakjubkan. Sementara pasukan prajurit segera berlari kencang.


Warga Ibu Kota hanya bisa dibuat terpaku melihat ketergesa-gesaan tersebut.


“Apa yang terjadi?” tanya Dengkul Baga, salah seorang pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana, kepada ketuanya, yaitu Delik Rangka.


“Entahlah. Sepertinya Gusti Prabu ingin menaklukkan Hutan Timur,” jawab Delik Rangka, salah satu orang yang sudah pernah masuk ke hutan larangan tersebut.


“Apakah untuk menaklukkan Hutan Timur, Prabu Dira perlu menurunkan semua permaisuri?” tanya Sebilah Rengkuh yang sebenarnya tidak bisa dijawab oleh kedua rekannya.


“Ini kekuatan yang sangat dahsyat bagi Cumi Hutan penghuni Hutan Timur,” timpal Delik Rangka.


“Mungkin Gusti Permaisuri Mata Hati jaga kandang,” terka Delik Rangka.


Tidak butuh waktu lama, rombongan besar Prabu Dira telah tiba di pinggiran timur Ibu Kota. Dengan demikian, mereka telah berhadapan dengan Hutan Timur yang besar.


Sementara itu, senja terus bergerak menuju magrib.


Rombongan itu tidak berhenti, mereka terus bergerak mendatangi Hutan Timur yang seolah selalu siap menerima kedatangan para penantang.


Para serigala terus mengendus.


“Sudah jelas, Pangeran Arda pergi ke Hutan Timur,” kata Permaisuri Getara Cinta.


“Untuk apa Pangeran Arda pergi ke sana?” tanya Permaisuri Yuo Kai.


“Aku menduga, Pangeran penasaran dengan Hutan Timur. Saat peristiwa terbunuhnya tiga pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana, Pangeran mendengarkan laporan-laporan tentang Hutan Timur,” kata Permaisuri Getara Cinta.


“Dia pasti mencari uyut-uyut beracun,” celetuk Permaisuri Sri Rahayu.

__ADS_1


“Aku juga menduga seperti itu,” kata Permaisuri Dewi Ara, tanpa menyalahkan madunya itu karena menjadi sumber keakraban Arda Handara dengan ulat bulu, yang sering disebut dengan nama “uyut-uyut”.


“Pangeran Arda tidak sendiri!” sahut Permaisuri Sandaria tiba-tiba yang membuat Prabu Dira dan para wanita cantik itu terkejut.


Rombongan mereka memang sudah melewati posisi pohon mangga yang tadi siang dipanjati oleh Barada.


“Dengan siapa?” tanya Permaisuri Dewi Ara spontan.


“Serigalaku hanya mengenali bau, Kakak Permaisuri,” jawab Permaisuri Sandaria. “Tapi menurut Satria, jenis bau tubuhnya adalah perempuan.”


Semakin tanda tanyalah tentang kemungkinan yang terjadi.


“Kita pahami saja seperti ini. Pangeran Arda pergi bersama seorang wanita ke Hutan Timur,” kata Prabu Dira kepada istri-istrinya.


“Sejak kapan bau perempuan itu ada bersamanya?” tanya Permaisuri Dewi Ara.


“Sejak kita keluar dari Ibu Kota,” jawab Permaisuri Sandaria.


Ketika pemilik Kerajaan Sanggana Kecil dan para istrinya sedang keluar, Pangeran Bewe Sereng dari Pulau Kabut telah tiba di gerbang utara Ibu Kota yang bernama Gerbang Macan Langit.


Gerbang Macan Langit adalah gerbang berdinding tinggi. Gerbang itu memiliki dua pintu. Pintu utama lebar dan tinggi, tertutup rapat. Pintu utama terbuat dari kayu tebal tiga lapis dengan pinggiran berlapis logam. Pintu itu terhubung dengan sebuah mesin yang bisa membuat pintu terbuka atau menutup.


Adapun pintu kedua lebih kecil di sisi kanan pintu utama. Pintu itu yang menjadi akses bagi orang, hewan dan kendaraan lewat. Lebar pintunya masih bisa dilalui oleh dua kereta kuda yang berdampingan.


Baik di atas dinding maupun di bagian pintunya ada penjagaan yang ketat dengan jumlah prajurit penjaga yang banyak. Ada prajurit yang berjaga dan ada prajurit yang disiapkan di barak penjagaan. Setiap gerbang besar di Ibu Kota memiliki barak penjagaan.


Ibu kota Sanggara memiliki tiga gerbang besar, yaitu Gerbang Macan Langit di utara, Gerbang Rajawali Kahyangan di barat, dan Gerbang Naga di selatan yang juga menjadi gerbang benteng Istana. Adapun di bagian timur yang berhadapan dengan Hutan Timur, tidak ada gerbang.


Pangeran Bewe Sereng kini berhadapan dengan dua orang prajurit penjaga.


“Tunjukkan tanda pengenalmu, Kisanak!” perintah prajurit penjaga.


“Aku datang untuk menantang Raja Joko Tenang, bukan untuk bertamu. Aku tidak punya tanda pengenal,” jawab Pangeran Bewe Sereng.


Kedua prajurit yang mengenal siapa itu Raja Joko Tenang, jadi terkejut. Keduanya kompak menodongkan ujung tombaknya kepada Pangeran Bewe Sereng yang bersikap tenang.


“Tutup gerbang. Ada musuh yang datang!” teriak prajurit itu keras kepada rekan-rekannya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2