
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Di malam kesepakatan dengan Raja Bandelikan itu juga, Tadayu dan Gandang Duko langsung beraksi. Padahal secara waktu, melakukan pelacakan dan pengejaran orang yang sudah lama pergi di malam hari, jelas sembilan puluh sembilan persen tidak mungkin. Itu artinya ada satu persen peluang untuk bisa mengejar dan menemukan pelaku pembunuhan Pangeran Bangir Kukuh yang mayatnya belum dikebumikan.
Layaknya seorang detektif sungguhan, kedua pangeran Pulau Tujuh Selir itu memulai penyelidikannya dari TKP (Tempat Kasur Pembunuhan). Mereka pun ditunjukkan jalan rahasia di kamar sang pangeran.
“Dari tinjunya, jelas ini tinju seorang lelaki,” kata Gandang Duko saat memeriksa memar menghitam pada perut mayat Pangeran Bangir Kukuh, padahal dia tahu bahwa itu bekas yang ditinggalkan oleh ilmu Tinju Cipta Kenang milik Putri Gunira.
Kesimpulan itu sengaja Gandang Duko suarakan di depan Raja Bandelikan agar sang raja jadi ikut menyimpulkan bahwa pembunuh anaknya adalah seorang lelaki, bukan perempuan. Itulah cara Tadayu dan Gandang Duko untuk melindungi Putri Gunira dari dugaan.
Pada tahapan pencarian di malam hari, jelas Paduka Raja tidak mungkin ikut. Bahkan sekelas Panglima Kumbiang, dia akan kesulitan jika memaksa ikut melakukan pencarian di malam hari, apalagi harus menjelajahi hutan gunung yang luas.
Sementara di wilayah pedesaan, para prajurit tetap berpatroli dalam jumlah yang besar. Malam itu jelas terlihat berbeda, karena banyak nyala-nyala obor yang bergerak di berbagai titik.
Jalan rahasia ternyata menuntun Tadayu dan Gandang Duko ke sebuah jurang yang sulit dilalui oleh orang biasa. Saat itu Tadayu dan Gandang Duko masih ditemani oleh Panglima Kumbiang dan beberapa prajurit pembawa obor.
“Berikan apimu, Gandang!” pinta Tadayu.
Tanpa membantah, Gandang Duko lalu melakukan gerakan bertenaga dalam.
Surss!
Tiba-tiba sepasang tangan Gandang Duko memunculkan api kuning besar, yang langsung dilemparkan ke udara lepas. Di udara malam itu, kedua bola api kuning bertemu dan menjadi lebih besar, seperti sepasang api yang sedang gembira karena pernikahannya.
Api itu menerangi area sekitar. Dengan pandangan yang awas, Tadayu membaca area jurang itu. Dalam analisanya terhadap tempat itu, dia menjadikan adiknya sebagai barometer. Ia mengenal karakter adiknya dan juga akrab dengan kesaktian-kesaktiannya.
Menurut Tadayu, medan jurang berhutan seperti itu bukanlah jalan yang sulit bagi Putri Gunira. Tadayu dan Gandang Duko bisa menduga-duga, kira-kira sisi mana yang akan dilalui oleh Putri Gunira dan Pangeran Rebak Semilon untuk meninggalkan ujung jalan rahasia itu.
“Ke arah sana!” tunjuk Tadayu ke arah salah satu sisi tebing yang banyak memiliki akar-akar pohon yang menonjol. Menurut pemikirannya, sekelas Pangeran Rebak Semilon juga mampu melaluinya.
Gandang Duko cepat berkelebat dan hinggap di akar pohon yang menjorok di tebing. Sebanyak tiga kali lompatan dilakukan oleh pemuda itu untuk sampai di bibir jurang yang nyaman untuk berdiri. Dan seiring itu, api besar yang sempat membuat tempat itu terang benderang, mengecil di udara lalu padam.
“Panglima, apakah kau ingin ikut?” tanya Tadayu.
“Aku percayakan kepada kalian. Kami cukup mengantar sampai di sini,” jawab Panglima Kumbiang.
“Baiklah,” ucap Tadayu. Dia lalu mengambil satu obor dari tangan salah satu prajurit.
Selanjutnya, Tadayu berkelebat cepat melompat lincah di tebing dengan memanfaatkan akar-akar pohon yang menjorok. Dalam waktu singkat, ia sudah sampai di sisi Gandang Duko.
__ADS_1
Gandang Duko lalu memunculkan empat bola api sebesar sebola batok kelapa tanpa sabut. Itu ilmu Api Anjing namanya, memang berfungsi penerang jalan selain untuk membakar apa saja.
“Kendalikan dua api, Tadayu,” kata Gandang Duko.
“Baik,” kata Tadayu. Ia lalu memadamkan obor di tangannya dan membuangnya. Ia kemudian menggerakkan kedua tangannya dan mengambil kendali dua bola api yang awet menyala tanpa bahan bakar minyak.
Tadayu bisa mengendalikan dua bola api yang bisa dia gerakkan ke sana dan ke sini semau udelnya.
“Waktunya berlari, Tadayu,” kata Gandang Duko lalu berlari biasa ke kanan dan ke kiri, seperti tidak ada arah yang pasti. Dua bola apinya terbang satu tombak di depannya, seolah menjadi anjing penuntun dan penerang jalan. Itulah salah satu alasan kenapa ilmu itu dinamai Api Anjing.
Tadayu juga ikut berlari sambil sibuk melihat jalan dan mengendalikan dua Api Anjing. Lari Tadayu tidak segesit Gandang Duko. Hal itu karena Api Anjing bukan mainan kecil Tadayu, jadi dia harus berjuang menyesuaikan dan mengakrabkan diri.
Tadayu pun berlari ke sana ke mari dengan pola yang sama dengan Gandang Duko. Hal itu mereka lakukan semata-mata untuk mencari jejak. Dan hasilnya ….
“Di sini ada jejak halus empat kaki!” teriak Gandang Duko yang menemukan jejak kaki samar di tanah.
Setelah tahu arahnya, maka mereka segera melesat cepat. Ketika mereka kehilangan jejak sama sekali, maka mereka kembali melakukan pencarian dengan mengandalkan Api Anjing.
Singkat cerita.
Setelah melakukan pencarian selama dua per tiga malam, akhirnya pelacakan jejak dan pengejaran menuntun kedua pemuda itu ke sebuah gua di salah satu sisi kaki Gunung Ibu.
“Kau bisa merasakan keberadaan mereka berdua?” tanya Tadayu kepada Gandang Duko, ketika mereka berdiri di mulut gua yang gelap gulita.
“Aku rasa adikku tidak tidur. Coba kau lempar api ke dalam,” kata Tadayu pelan.
Wuss!
Tanpa sungkan, Gandang Duko langsung melempar dua Api Anjing ke dalam gua. Kedua api itu bisa terbang meliuk-liuk masuk ke dalam gua yang otomatis menerangi area yang dilaluinya.
Blar blar!
Ziing!
Tiba-tiba terdengar dua ledakan di dalam gua seiring munculnya dua ledakan cahaya yang sekejap.
Seiring itu, dari dalam ruang gua yang terlindungi dari pandangan, melesat sepiringan sinar hijau dengan trek melengkung menyerang Gandang Duko. Pemuda itu cepat melompat menghindar, membuat piringan sinar hijau menghancurkan sebatang pohon kecil hingga tumbang.
Suasana gua kembali gelap gulita. Ada pergerakan dua bayangan tubuh yang bergerak ke mulut gua.
__ADS_1
“Kaukah itu, Kakak Gandang?” tanya sosok yang adalah wanita.
“Iya, kami berdua, Adik,” jawab Tadayu cepat.
“Hah! Mengejutkan saja!” gerutu si wanita yang tidak lain adalah Putri Gunira.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya sosok satunya lagi. Dia yang menghunus pedang adalah Pangeran Rebak Semilon.
“Kami mencari pembunuh adikmu, Pangeran,” kata Gandang Duko.
“Ayo, kita harus bicara di dalam!” ajak Tadayu tanpa ada nada ingin bertengkar, karena pada intinya mereka semua memang menginginkan Pangeran Bangir Kukuh dibunuh.
Maka malam menjelang subuh itu, pembicaraan delapan mata digelar serius di dalam gua. Tidak ada tawa yang terdengar sedikit pun di antara mereka.
“Hampir semua menduga bahwa pelaku pembunuhan adalah orang dalam di Keluarga Kerajaan karena pembunuhnya tahu jalan rahasia. Jika kalian berdua tahu-tahu muncul di Gunung Ibu, Pangeran bisa saja dicurigai. Paduka Raja dan Permaisuri tahunya bahwa Pangeran ikut dengan kapal Permaisuri Dewi Ara. Jika ternyata kemudian diketahui bahwa Pangeran tidak ada di kapal saat kapal sudah ada di pelabuhan, Pangeran bisa dicurigai dengan mudah,” tutur Tadayu.
“Malam ini juga, Pangeran harus pulang ke Istana, jangan bersembunyi. Jika Pangeran ikut kapal, bagaimana mungkin Pangeran tidak langsung pulang saat mendengar adik mati dibunuh. Lebih baik Pangeran pikirkan alasan terlambatnya Pangeran naik ke Istana,” kata Gandang Duko pula.
“Benar juga. Tapi, bagaimana jika ada yang tahu bahwa aku tidak pulang bersama kapal Gusti Permaisuri?” kata Pangeran Rebak Semilon.
“Kami dan Putri Uding Kemala menjadi saksi bahwa Pangeran ikut bersama di kapal. Gusti Permaisuri dan orang-orangnya tidak akan bersaksi, karena mereka sudah tidak peduli dan besok pagi akan berlayar ke Pulau Karang Hijau,” kata Tadayu.
“Tapi aku tidak pandai mengangis pura-pura,” kata Pangeran Rebak Semilon masih dilanda bingung.
“Pangeran hanya perlu marah, sama seperti ketika Pangeran marah kepada Pangeran Bangir Kukuh,” kata Gandang Duko enteng.
“Setelah itu, kita perlu anjing hitam untuk dijadikan tersangka palsu sebagai pembunuh Pangeran Bangir. Kita harus membuat pembunuh Pangeran Bangir tetap rahasia. Paduka Raja sudah berjanji akan merestui aku dan Putri Uding Kemala menikah jika aku menemukan pembunuhnya. Jadi aku perlu orang yang bisa dianjinghitamkan.”
“Pasti ada yang bisa dianjinghitamkan, Kakak,” kata Putri Gunira kepada kekasihnya.
“Jika Paduka Raja sudah tidak membenci orang Pulau Tujuh Selir, hubungan Pangeran dengan adikku pun akan mudah ke depannya,” tandas Tadayu.
“Mungkin ada tahanan kerajaan yang bisa dijadikan anjing hitam,” kata Gandang Duko.
“Ada. Pamanku yang pernah ingin membunuh Ayahanda,” kata Pangeran Rebak Semilon.
“Bagus. Itu anjing yang tepat. Kita tinggal merancang hilangnya dia dari penjara dan membunuhnya di luar!” kata Gandang Duko bersemangat, seolah-olah telah menemukan solusi tepat.
Itulah hasil dari perundingan mereka berempat.
__ADS_1
Dalam waktu dua hari, rencana rahasia itu selesai dimainkan dengan dibunuhnya adik dari Raja Bandelikan oleh Tadayu secara sembunyi. Dengan dicapnya adik raja sebagai pembunuh Pangeran Bangir Kukuh, maka pembunuh yang sebenarnya tetap rahasia.
Maka demikianlah akhir cerita balas dendam Putri Gunira dan Pangeran Rebak Semilon. Adapun alur cinta para pangeran dan putri itu berikutnya, itu terserah mereka. (RH)