Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 1: Memetakan Serangan


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


Permaisuri Dewi Ara, Arda Handara, Mimi Mama, Eyang Hagara, Tikam Ginting, Setya Gogol, Lentera Pyar, Bong Bong Dut, Dayung Karat, Komandan Bengisan, Putri Keken, Pangeran Bewe Sereng, dan Seser Kaseser, berdiri mengelilingi sebuah meja kayu yang di atasnya ada sebuah miniatur daratan, yaitu Pulau Kabut.


Merekalah orang-orang yang akan terlibat dalam penyerangan ke Pulau Kabut, kecuali Putri Mahkota. Semoga tidak ada yang tertinggal untuk disebutkan.


Sebelum membahas strategi, Dewi Ara sebelumnya meminta dibuatkan replika atau miniatur Pulau Kabut, untuk mempermudah gambaran dan pengaturan serangan. Maka Bewe Sereng harus bekerja keras membuat miniatur Pulau Kabut karena dialah yang paling tahu tentang pulau tersebut.


“Berdasarkan keterangan telik sandi kami yang ada di Pulau Kabut, keamanan pulau dipegang oleh Laksamana Galala Lio. Jadi mereka mengandalkan pasukan angkatan laut. Dalam angkatan laut itu ada kelompok orang sakti yang bernama Enam Pasang Kekasih Laut. Sedangkan di Istana Kabut Kuning dikuasai oleh Pangeran Tololo Coi. Dia adalah adik Raja Puncak Samudera. Kesaktiannya di atas Laksamana Galala Lio. Selain itu, Pangeran Tololo Coi selalu di kawal dua orang berkesaktian tinggi,” papar Seser Kaseser.


“Apakah kalian tidak memiliki pasukan sama sekali untuk membantu?” tanya Dewi Ara.


“Selain prajurit jaga, semuanya ditahan dan dijadikan budak pekerja. Prajurit jaga pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena keluarga mereka tersandera, baik sebagai budak atau tahanan. Di dalam kondisi seperti inilah, para pejabat jahat terlihat jelas sifat berkhianatnya. Mereka berkompromi dengan aturan-aturan jahat yang dibuat oleh Pangeran Tololo Coi. Mereka bahkan ikut memperbudak dan memerah darah rakyat sendiri,” jawab Seser Kaseser.


“Masa waktu mereka tidak akan lama lagi,” kata Bewe Sereng dengan nada memendam kemarahan. Dia memang sangat marah kepada para pejabat yang memilih menjilat kepada penguasa penjajah dan justru ikut membuat rakyat negeri sendiri menderita.


“Kita akan menyerang diwaktu malam. Jalan mana yang harus kita lewati untuk masuk ke Pulau Kabut?” tanya Dewi Ara.


“Pulau Kabut memiliki dua pelabuhan. Ini adalah Pelabuhan Pintu Kabut, pelabuhan utama. Ini jalan masuk bagi kekuatan militer dan orang-orang yang bertamu,” jelas Seser Kaseser sambil menunjuk satu titik pinggir miniatur pulau dengan tongkat kecil yang dipegangnya.


Seser Kaseser lalu menunjuk lagi ke titik yang berbeda, tapi masih di pinggir.


“Ini Pelabuhan Kepeng, lebih kecil dari Pelabuhan Pintu Kabut. Di pelabuhan ini kapal ikan dan perdagangan berlabuh. Namun, di pelabuhan ini, kapal besar tidak bisa berlabuh. Kapal besar yang membawa barang-barang dagangan harus bersauh di laut dalam, kemudian barangnya harus diangkut dengan perahu kecil. Pelabuhan Pintu Kabut adalah markas pasukan angkatan laut Kerajaan Puncak Samudera. Meski Pelabuhan Kepeng kecil, tetapi banyak juga prajurit yang ditempatkan karena berurusan dengan kepeng. Di Pelabuhan Kepeng ada seorang laksamana muda yang memegang tanggung jawab pelabuhan,” jelas Seser Kaseser lagi.


“Posisi Pulau Botak ini ada di sebelah mana Pulau Kabut?” tanya Dewi Ara.


“Kita ada di selatan. Sekitar di sini, Gusti,” jawab Seser Kaseser sambil menunjuk satu titik.


“Kita akan berlayar mendekati Pelabuhan Kepeng pada malam menjelang pagi dan menurunkan perahu untuk menyusup ke pelabuhan. Pangeran akan memimpin Tikam Ginting, Setya Gogol, dan Lentera Pyar. Lakukan apa yang menurut Pangeran baik dalam penyerangan,” kata Dewi Ara.

__ADS_1


“Baik, Gusti,” ucap Bewe Sereng patuh.


“Setelah itu kapal akan memutari pulau menuju ke Pelabuhan Pintu Kabut. Sebelum tiba di pelabuhan, Kakang Hagara dan Arda akan masuk ke pulau lewat udara,” kata Dewi Ara.


“Siaaap, Ibunda! Nanti Eyang Hagara jangan jauh-jauh dariku, agar aku bisa melindungi Eyang,” kata Arda Handara serius.


“Hahaha!” tawa Eyang Hagara.


 “Sementara Tangan Kanan, Mimi Mama, Bong Bong Dut dan Komandan Bengisan ikut aku untuk menyerang pasukan musuh di Pelabuhan Pintu Kabut. Kakang Hagara dan Arda bertugas membuat kekacauan di Istana Kabut Kuning. Pasukanku akan menyibukkan pasukan di pelabuhan agar tidak mengirim bantuan ke Istana Kabut Kuning,” kata Dewi Ara.


“Di Pelabuhan Pintu Kabut kini telah dibangun benteng yang kuat, tetapi kami belum tahu sejauh mana kehebatan benteng itu,” kata Seser Kaseser.


“Pulau Tujuh Selir memiliki Benteng Sejagad yang sangat kuat, tetapi Bibi Permaisuri bisa menjebolnya. Aku yakin benteng baru di Pulau Kabut tidak lebih hebat dari Benteng Sejagad Pulau Tujuh Selir,” kata Mimi Mama.


“Di Istana Kabut Kuning ada dua kelompok prajurit. Prajurit berseragam warna kuning adalah prajurit asli Negeri Pulau Kabut dan prajurit berseragam biru adalah prajurit musuh. Bagi kalian yang menyerang ke Istana kabut Kuning, kalian bisa memberi tahu prajurit berseragam kuning bahwa Putri Mahkota telah menyerang. Prajurit asli Istana memiliki kesetiaan yang tinggi kepada Keluarga Istana,” kata Bewe Sereng.


“Jika aku berhasil lolos dari Pelabuhan Kepeng, aku akan mendatangi Menteri Perikanan agar mau membantu merebut Istana,” kata Bewe Sereng.


“Apakah dia abdi yang setia?” tanya Dewi Ara.


“Benar. Menteri Kete Weleng bisa aman dari penindasan karena membayar pajak dua kali lipat dibanding pejabat yang lain,” jawab Bewe Sereng.


“Ibunda, lalu Putri Mahkota ikut siapa?” tanya Arda Handara.


“Putri Mahkota sangat berharga, jadi dia tidak ikut, tetap tinggal di pulau ini sampai Istana Kabut Kuning kita bebaskan,” jawab Dewi Ara.


“Seharusnya Putri Mahkota ikut, Ibunda. Ada Putra Mahkota.” Arda Handara menepuk perutnya dengan jumawa. “Biar Putra Mahkota yang menjaga keselamatannya. Anak Cantik saja ikut bertempur, seharusnya anak yang tidak cantik wajib ikut juga.”


Mendelik emosi Putri Keken disebut “anak yang tidak cantik”.

__ADS_1


“Kita semua berjuang untuk menjadikan Putri Mahkota ratu, kenapa justru dia tidak berjuang?” protes Arda Handara.


“Gusti Permaisuri, apakah Gusti menyayangi Pangeran Arda?” tanya Putri Keken. Sebelum Dewi Ara menjawab, dia sudah melanjutkan kata-katanya, “Jika Gusti Permaisuri tidak sayang, aku akan memanahnya sekarang juga.”


“Eh eh eh! Tidak boleh seperti itu, Putri Mahkota. Jika aku nanti memilih menikah dengan Anak Cantik, nanti kau akan gigit gigi. Hahaha!” ledek Arda Handara lalu tertawa.


“Kau ….” Putri Keken menunjuk Arda Handara dengan mata mendelik dan bibir kian mengeras kerucutnya.


“Hahahaha! Waktunya berperaaang!” tawa Arda Handara lalu berteriak.


Dia lalu berbalik dan melesat terbang denganTongkat Kerbau Merah.


“Aku ikut berperang, Paman Pangeran!” kata Putri Keken tiba-tiba.


“Jangan, Putri!” larang Bewe Sereng.


“Benar. Menyerang ke Istana sangat berbahaya,” tandas Seser Kaseser.


“Benar perkataan Pangeran Arda. Sangat tidak pantas ketika semua orang berkorban nyawa dan darah demi aku, sedangkan aku hanya bersembunyi menghirup udara sawah,” kilah Putri Keken.


“Tidak. Putri Mahkota harus berada di tempat yang aman sampai Istana Kabut Kuning,” tegas Seser Kaseser.


“Biarkan Putri Mahkota ikut, agar Arda tidak terus mengejeknya. Tangan Kanan yang bertanggung jawab atas keselamatan Putri Mahkota,” kata Dewi Ara.


“Baik, Gusti,” ucap Seser Kaseser tidak membantah.


Orang dekat Tetua Pulau yang bernama Tare Munele datang mendekat.


“Lapor, Gusti Permaisuri. Ada sebuah kapal perang yang mendekat ke pulau ini!” lapor Tare Munele. (RH)

__ADS_1


__ADS_2