
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Namanya Kadidat Colong. Ia adalah lelaki cebol berkumis tebal yang nyaris saja menutupi seluruh wajahnya. Meski tampangnya cukup sangar, tetapi cebol muda itu adalah seorang penerbang ternama karena dia adalah Kapten Pasukan Domba Merah.
Saat itu dia menunggangi seekor domba yang juga pendek, tapi memiliki tanduk yang melingkar seperti lipan. Ia mengenakan jaket berbahan bulu domba yang tebal, membuat tubuhnya terlihat besar, meski tidak bisa lebih besar dari manusia normal. Di punggungnya tersandang sebuah tongkat penerbang berwarna merah yang dalam kondisi terlipat. Tongkatnya berkepala kepala lalat. Jika tidak percaya bahwa itu kepala lalat, tanyakanlah kepadanya.
Sepekan mendatang, tim kesembilanannya akan bertanding melawan Pasukan Beruang Biru di babak pamungkas, memperebutkan posisi puncak tertinggi di dunia Pertandingan Tongkat Bola.
Sore itu, Kadidat Colong sedang menuju ke lalat (lapangan latihan), sebuah lapangan yang jauh lebih kecil dari sebuah kolosom. Namun, sebuah lalat hanya boleh dipakai untuk berlatih, tidak boleh dipakai untuk pertandingan resmi. Sebuah lalat pun hanya memiliki tribun yang kecil dan terbatas.
Untuk sampai ke lalat milik Pasukan Domba Merah, dia harus melewati sebuah jalan yang biasanya sepi, jalan yang diapit oleh dua pagar pepohonan yang rapat. Jalanan itu sering sepi karena memiliki nuansa yang cukup menyeramkan. Padahal itu adalah tempat yang biasa-biasa saja, bukan tempat keramat atau dikeramatkan.
Kadidat Colong termasuk orang yang tidak percaya bahwa jalan itu keramat. Ia lebih yakin bahwa kumisnya lebih keramat daripada jalan itu. Jalan itu sering disebut dengan nama Jalan Berdebar.
Kresrek!
Karena keyakinan itulah, pemuda cebol berambut lebat itu tidak begitu curiga ketika mendengar suara di balik rerimbunan pohon sebelah kanan. Ia hanya melirik sekilas ke sisi kanan, setelah itu dia kembali memandang lurus secara wajar.
“Sepertinya kerja petugas keamanan binatang kurang giat, sehingga masih ada hewan liar keluyuran di lingkungan Ibu Kota,” ucap Kadidat Colong pelan kepada dirinya sendiri.
Seeet!
Tiba-tiba dari celah-celah antara batang pepohonan di sisi kanan muncul melesat lima benda panjang berwarna hitam dan mengkilap, seperti tali yang ujungnya ada benda runcing berbahan logam.
“Belelele!” pekik Kadidat Colong terkejut bukan main. Ia cepat melompat tinggi meninggalkan punggung dombanya.
Tsuk!
__ADS_1
Mbeeek!
Akibat hindaran itu, tiga senjata panjang itu menusuk udara kosong, tetapi dua besi runcing lainnya menusuk di badan si domba.
Domba itu mengembik nyaring dan panjang. Ternyata domba di negeri ini bersuara seperti kambing, tidak seperti di Tanah Jawi di mana domba bersuara seperti domba.
Seeet!
Namun, gagal pada serangan itu, muncul lagi lima senjata serupa yang menyerang Kadidat Colong di udara.
Tatak! Tsuk!
“Akk!” jerit Kadidat Colong setelah dengan tongkatnya dia menangkis empat besi runcing pada ujung tali hitam. Satu besi runcing berhasil menusuk tembus perutnya.
Kesepuluh tali hitam mengkilap itu melesat balik meninggalkan Kadidat Colong bersama dombanya yang kemudian menggelepar-gelepar. Sementara Kadidat Colong jatuh dengan luka yang mengucurkan darah.
Sambil mengerenyit menahan sakit, Kadidat Colong menatap tajam ke arah kelompok pohon yang rapat di sisi kanan jalan. Sekilas pemuda berkumis itu melihat keberadaan seseorang berpakaian hitam. Yang dia lihat hanyalah lambaian ujung jubahnya.
Sebelum muncul serangan berikutnya, Kadidat Colong cepat melepaskan seberkas sinar kuning ke pepohonan.
Blar!
Sinar kuning itu meledakkan satu batang pohon. Namun, sekejap sebelum ledakan terjadi, satu bayangan hitam lebih dulu berkelebat menjauh di balik batang pepohonan. Kadidat Colong masih bisa melihat di balik ledakan, sosok yang lebih tinggi dari kaum Orang Separa.
Namun, dia tidak memiliki waktu untuk berpikir. Kondisinya yang terluka dengan darah yang mengalir deras, memaksanya harus cepat menyelamatkan diri. Dia melesat terbang dengan tongkat terbangnya.
Suuut! Bluar!
Sosok berjubah hitam di balik pohon melesatkan bola sinar merah berekor mengejar lesatan tongkat penerbang Kadidat Colong.
__ADS_1
Meski sinar itu pada akhirnya tidak mengenai punggung Kadidat Colong, tetapi sinar itu meledak tidak terlalu jauh di belakang si pemuda cebol. Daya ledaknya itu ternyata mendorong keras tubuh Kadidat Colong, sehingga terbangnya terganggu dan meluncur berputar menukik ke bawah.
Suara ledakan telah mengejutkan warga Ibu Kota di sekitar area itu. Mereka segera mencari tahu apa yang meledak. Mereka lebih terkejut ketika melihat ada penerbang yang jatuhnya menghantam tanah jalanan berlapis batu.
Sejumlah warga cepat berdatangan untuk memeriksa dan menolong penerbang yang jatuh. Kadidat Colong ditemukan warga dalam kondisi sudah tidak bergerak dan bersimbah darah.
“Belelele! Kadidat Colong! Kapten Pasukan Domba Merah!” sebut seorang warga terkejut bukan main.
“Debuuur! Cepat ke mari!” teriak warga cebol lainnya memanggil seorang kusir debur.
Kusir debur segera menggebah burung botaknya ke lokasi kecelakaan.
Dalam waktu singkat, seiring debur tiba di lokasi, beberapa orang prajurit Pasukan Pelindung Ibu Kota juga tiba. Mereka segera datang setelah mendengar suara ledakan keras, yang ternyata ada jatuh korban.
Sebelum Kadidat Colong dilarikan ke bilik tabib, beberapa penerbang anggota Pasukan Domba Merah masih sempat tiba di lokasi, karena lalat yang menjadi markas latihan mereka hanya berjarak beberapa lemparan biji salak.
Para anggota Pasukan Domba Merah sangat terkejut melihat kapten kesembilanan mereka dalam kondisi terluka parah, yang kemungkinan besar bisa menjurus kepada kematian. Jelas itu adalah bencana bagi Pasukan Domba Merah.
Apakah nanti terjadi hal buruk kepada Kadidat Colong atau masih bisa selamat, kemungkinan besar dia tidak akan bisa ikut bertanding. Itu artinya, Pasukan Domba Merah akan bertanding tanpa ujung tombak andalan.
Dalam hitungan menit, berita tentang insiden buruk yang menimpa Kadidat Colong tersebar cepat ke seluruh pelosok Ibu Kota, bahkan masuk ke Istana yang berada di sisi timur Ibu Kota. Isu bahwa Kadidat Colong telah tewas diserang pembunuh misterius menjadi santer.
Setelah prajurit Pasukan Pelindung Ibu Kota melakukan olah TKP, disimpulkan bahwa Kadidat Colong telah diserang oleh seseorang. Terduga utama adalah pembunuh misterius yang hingga saat ini belum berhasil diungkap dan ditangkap oleh Pasukan Pelindung Ibu Kota.
Berita heboh dan utama itu dengan cepat sampai ke telinga tim Pasukan Beruang Biru. Sebagai sesama penerbang, tidak pantas jika mereka bergembira karena mengetahui kondisi Kadidat Colong. Namun demikian, kondisi rival mereka itu pastinya akan sangat melemahkan Pasukan Domba Merah dan menguntungkan Pasukan Beruang Biru dalam pertandingan babak pamungkas.
“Kemenangan sudah pasti memihak kita,” kata Galang Ocot kepada rekan-rekannya di lalat markas mereka.
Berita duka tentang Kadidat Colong pun sampai ke telinga para penggemar berat kedua kesembilanan. Bagi fans Pasukan Domba Merah, berita itu adalah bencana. Sebaliknya, bagi fans Pasukan Beruang Biru, berita itu menjadi tiket kemenangan di depan mata.
__ADS_1
Berita viral itupun sampai ke telinga Eyang Hagara dan Arda Handara, di saat keduanya sedang membahas perkara bagaimana memenuhi keempat syarat yang diberikan oleh Hijau Kemot. (RH)