
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
“Bibi Permaisuri, aku dan kakekku izin untuk pulang ke Pulau Tujuh Selir sekarang. Terima kasih sudah mengizinkan kami ikut bergabung dalam rombongan Bibi,” ucap Mimi Mama kepada Permaisuri Dewi Ara di atas kapal Bajak Laut Malam.
“Di masa lalu aku telah membunuh ratusan orang, mungkin juga ribuan orang. Namun, sekarang aku bisa menjadi permaisuri baik yang suka membunuh. Sebelum kau bertemu orang sakti yang tidak peduli dengan kecantikan, kelucuan dan kekecilanmu, kau bisa mengikuti jejakku, Mimi,” pesan Dewi Ara.
“Baik, Bibi Permaisuri,” ucap Mimi Mama sambil menunduk sejenak tanda memahami dan menghormati nasihat Dewi Ara.
“Dan kau, Serak Gelegar. Sebagai orang yang jauh lebih tua darimu, aku nasihati kau agar menjadi kakek yang baik, yang memerintahkan cucumu untuk menolong, bukan menganjurkan cucumu untuk membunuh,” kata Dewi Ara yang membuat sepasang mata tua Serak Gelegar melebar terkejut karena sang permaisuri mengaku jauh lebih tua.
“I-i-iya, Gusti Permaisuri. Kami undur diri,” ucap Serak Gelegar mendadak gagap, bukan mendadak dangdut.
“Pergilah,” kata Dewi Ara.
Setelah menjura hormat kepada sang permaisuri, kakek cucu itu berbalik pergi. Mimi Mama berjalan kancil dengan agak melompat-lompat seperti anak kecil yang bahagia.
“Mimi Mama!” panggil Bong Bong Dut yang mengejar gadis kecil itu dengan setengah berlari, setengahnya lagi berjalan.
Mimi Mama berhenti melangkah dan berbalik menghadap kepada Bong Bong Dut.
“Ada apa, Kakang?” tanya Mimi Mama dengan senyum buatannya yang lucu.
“Jika kalian bertemu dengan perahu Bagang Kala dan Ketua Anik Remas, beri tahu tentang keberadaan kami,” ujar Bong Bong Dut.
“Baik,” jawab Mimi Mama.
Setelah itu dia berbalik dan melompat tinggi ke udara dengan salto, lalu mendarat di dermaga. Setelah itu ia dan kakeknya pergi menuju ke kapal kecil yang akan berlayar ke Pulau Tujuh Selir. Jika berangkat sekarang, maka akan tiba di Pulau Tujuh Selir menjelang magrib, jadi masih ada waktu untuk magriban.
Pada saat yang sama, dari gerbang utama Pelabuhan Manisawe masuk dua ekor kuda yang ditunggangi oleh Pangeran Rebak Semilon dan komandan yang bernama Kucup Pucuk. Nama yang kreatif itu diberikan oleh orangtua tetangganya.
Meski mereka hanya berdua yang berkuda, tetapi ada dua ratus prajurit pelari kaki di belakang mereka. Memang sudah nasib menjadi prajurit di negeri itu, selalu harus berlari di belakang kuda pembesar. Sudahlah lelah, selalu ketinggalan, kadang-kadang kudanya buang hajat yang kemudian mereka injak.
“Lapor, Syahbandar!” ucap seorang prajurit keamnan masuk ke ruang kerja Syahbandar Pasir Geni.
“Ada apa?” tanya Syahbandar santai.
“Ada pasukan kerajaan, ratusan jumlahnya!” lapor prajurit itu lagi.
“Hah!” kejut Pasir Geni, lalu buru-buru beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat keluar.
Sekeluarnya dari rumah kerjanya di pelabuhan itu, Syahbandar bisa langsung melihat ratusan prajurit Kerajaan Lampara sudah memasuki area pelabuhan.
“Gusti Pangeran,” sebut Syahbandar lirih.
__ADS_1
Setelah mengenali salah satu penunggang kuda pemimpin pasukan, Pasir Geni cepat berlari untuk menyongsong sang pangeran.
“Sembah hormat hamba, Gusti Pangeran!” seru Pasir Geni sambil turun berlutut dua tombak di depan dua kuda yang sedang berjalan.
Pangeran Rebak Semilon dan Komandan Kucup Pucuk terpaksa menghentikan kudanya, membuat pasukan pun berhenti berlari. Ternyata terbukti apa yang tadi disebutkan sebelumnya. Beberapa prajurit segera menggosok-gosokkan kakinya di tanah setelah berhenti. Sementara rekan-rekan mereka hanya mengerenyitkan hidung karena mencium bau kotoran kuda yang terinjak, artinya tidak sengaja diinjak.
“Mana Komandan Bengisan, Syahbandar?” tanya Pangeran Rebak Semilon yang langsung main gas.
Belum juga Syahbandar menjawab, terdengar suara lari sejumlah orang yang datang mendekat. Semuanya menengok. Mereka melihat kedatangan Komandan Bengisan bersama sepuluh prajurit Pasukan Keamanan Pelabuhan. Komandan Bengisan sudah berganti pakaian, tetapi tetap menunjukkan bahwa dialah punggawa keamanan di pelabuhan tersebut.
“Sembah hormat kami, Gusti Pangeran!” ucap Komandan Bengisan sembari memimpin anak buahnya turun berlutut menghormat.
“Tangkap Komandan Bengisan!” perintah Pangeran Rebak Semilon.
Terkejutlah Komandan Bengisan.
Drap drap drap …!
Seratus pasukan segera berlari memecah jadi dua kelompok yang segera mengepung posisi Komandan Bengisan dan kesepuluh anak buahnya.
“Ini pasti ada hubungannya dengan Pangeran Bangir,” duga Komandan Bengisan di dalam hati.
Ingin rasanya Komandan Bengisan melawan karena dia merasa tidak bersalah. Namun, jika dia melawan, itu sama saja mendeklarasikan diri sebagai pemberontak. Akan tetapi, jika dia tidak melawan, itu sama saja pasrah ditangkap, lalu dipenjara, kemudian dipenggal.
Kepanikan juga melanda kesepuluh prajurit bawahan Komandan Bengisan.
Namun, sebelum tusukan itu terjadi sempurna, salah satu prajurit telah berteriak kencang sambil menunjuk jauh.
“Bola raksasa itu!”
Teriakan si prajurit itu membuat mereka semua kompak menengok ke arah tunjukan. Tombak-tombak yang bergerak menusuk jadi terhenti di tengah jalan. Komandan Bengisan yang sudah siap melakukan perlawanan, jadi menahan diri juga.
“Cepat menghindaaar!” teriak Komandan Kucup Pucuk setelah mengenali benda besar yang datang memantul-mantul menuju ke tempat mereka dengan cepat.
Benda itu adalah bola sinar sebesar rumah berwarna abu-abu transparan. Sama seperti bola sinar yang mengurung banyak orang di jalanan Desa Berunuk.
Mereka jelas tidak mau bernasib seperti Pangeran Bangir Kukuh, Panglima Kumbiang dan yang lainnya. Maka itu, ketika mendengar perintah Komandan Kucup Pucuk, mereka segera bubar ke arah mana saja, asalkan menjauhi bola pemenjara itu. Persis sekumpulan ikan yang sedang musyawarah di permukaan, lalu ditimpa batu pada tengah-tengah mereka.
Kedatangan Pangeran Rebak Semilon dan pasukannya ternyata terpantau oleh Dewi Ara dan para abdinya.
Ketika para prajurit yang mengepung pada berlarian menyebar, Syahbandar, Komandan Bengisan dan tiga orang prajurit anak buahnya terjaring bola sinar ketika menimpa mereka. Kelima orang itu masuk ke dalam bola sinar dan dibawa memantul tanpa keluar lagi.
Hingga akhirnya, bola sinar itu berhenti tidak jauh dari lokasi.
Setelah itu, suasana berubah hening. Mereka semua memandang kepada bola sinar itu. Terlihat Pasir Geni berusaha mendorongkan tubuhnya untuk keluar, tetapi upayanya sia-sia. Maklum ini pengalaman pertama masuk Penjara Bola Cemburu. Seharusnya namanya adalah Penjara Bola Cemberut, karena setiap orang yang dipenjara rata-rata cemberut.
__ADS_1
Sifat sinar itu sama dengan bola sinar yang kini mengurung Raja Bandelikan dan putranya, yakni mudah dimasuki, tapi sulit keluar.
“Ada yang datang!” teriak seorang prajurit lagi sambil menunjuk ke arah yang sama seperti sebelumnya.
Mereka semua cepat menengok, khawatir jika yang datang adalah bola sinar lagi. Namun, ketika mereka menengok dan melihat, mereka semua terdiam. Mereka terpesona seperti lagu prajurit negeri masa depan.
Yang datang adalah sosok wanita cantik berpakaian ungu dengan bentuk bodi yang ideal, menunjukkan bahwa dia belum pernah melahirkan. Perutnya masih rata serata-ratanya, membuat dadanya yang memiliki bulatan nan indah semakin memiliki porsi panggung yang maksimal. Rambut keritingnya terurai panjang berkibar-kibar tertiup angin laut, memberi kesan romantis meski tanpa pasangan. Gadis cantik yang sedang berjalan mendatangi pasukan kerajaan itu tidak lain adalah Pendekar Bola Cinta Tikam Ginting.
Tidak seperti seorang model yang berjalan di atas dogwalk, Tikam Ginting berjalan apa adanya sebagai seorang pendekar wanita.
“Siapa kau, lelaki di atas kuda?” tanya Tikam Ginting setelah dia berhenti tidak jauh dari para prajurit bertombak. Dia menunjuk langsung ke arah Pangeran Rebak Semilon.
“Lancang …!” teriak tertahan Komandan Kucup Pucuk, karena Pangeran cepat mengangkat tangan kanannya, memberi perintah agar diam.
Komandan Kucup Pucuk terpaksa diam.
Pangeran Rebak Semilon lalu turun dari kudanya dan berjalan ke hadapan Tikam Ginting.
“Hormatku, Gusti Permaisuri,” ucap Pangeran Rebak Semilon seraya menjura hormat.
Terkejut Komandan Kucup Pucuk mendengar sang pangeran menyebut wanita cantik itu “Gusti Permaisuri”.
“Hampir saja aku lancang kepada permaisuri cantik itu. Bisa-bisa aku bernasib sama seperti Pangeran Bangir,” pikir Komandan Kucup Pucuk bersyukur.
Ia lalu buru-buru turun dari kudanya dan pergi berdiri di belakang sang pangeran sebagai pengawal.
“Maafkan hamba, Gusti Permaisuri. Hamba tidak tahu jika Gusti adalah permaisuri yang mengurung Pangeran Bangir Kukuh yang kurang ajar itu,” ucap Komandan Kucup Pucuk sembari membungkuk menghormat.
Ingin tertawa Syahbandar Pasir Geni dan Komandan Bengisan melihat kekeliruan itu, tetapi mereka tahan, sama halnya dengan Tikam Ginting yang menahan senyumnya karena kekeliruan Pangeran Rebak Semilon dan Komandan Kucup Pucuk.
“Memang aku yang mengurung pangeran kurang ajar itu karena mata dan mulutnya yang tidak pernah menuntut ilmu tata krama,” kata Tikam Ginting. Lalu tanyanya kepada sang pangeran, “Lalu kau siapa?”
“Aku Pangeran Rebak Semilon, kakak dari Pangeran Bangir Kukuh yang Gusti Permaisuri penjarakan.”
“Dengarkan aku, Pangeran Rebak. Komandan Bengisan berada di bawah perlindunganku. Jika kalian datang bermaksud menangkapnya, maka jangan salahkan jika harus banyak mayat prajurit yang bergelimpangan di sini, bahkan bisa saja dirimu sendiri!” tandas Tikam Ginting yang menikmati lakonnya.
“Tapi, Raja Bandelikan telah memerintahkan aku untuk menyeret Komandan Bengisan ke hadapannya,” kata Pangeran Rebak Semilon.
“Apakah dengan menangkap Komandan Bengisan, adikmu bisa bebas dari bola penjaraku?” tanya Tikam Ginting, “Coba lihat bola sinarku itu!”
Pangeran Rebak Semilon lalu beralih memandang kepada Komandan Bengisan di dalam kurungan. Tindakannya diikuti oleh Komandan Kucup Pucuk dan pasukannya.
Clap!
Tiba-tiba bola sinar besar itu lenyap begitu saja. Syahbandar Pasir Geni, Komandan Bengisan dan tiga prajurit lainnya, terkejut gembira.
__ADS_1
“Jika tujuan kalian ingin kebebasan bagi pengeran itu, adalah salah jika Komandan Bengisan yang ingin kalian bawa. Aku bisa membebaskan adikmu semudah aku membebaskan Komandan Bengisan. Namun dengan syarat, harus ayahmu yang datang langsung meminta kepadaku.”
“Apa?!” kejut Pangeran Rebak Semilon. (RH)