Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 11: Ricuh di Pelelangan


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*


 


Pasar pelelangan ikan di Kota Bandakawen memiliki dermaga yang lebih kotor dan berbau amis dibandingkan dermaga tempat kapal-kapal besar merapat.


Pasar lelang termasuk tempat yang ramai karena banyak terjadi kegiatan transaksi antara para nelayan dan pembeli. Ikan-ikan segar jelas menjadi incaran bagi semua rumah makan dan penginapan yang ada di kota itu.


Pasar lelang pun posisinya ada di atas air yang ditopang oleh banyak tiang kayu.


Di antara banyak orang yang ada di dermaga besar yang menjadi pasar pelelangan ikan, berdiri berhadapan antara Ratu Wilasin dengan Pendekar Sekilatan, Bong Bong Dut dengan Satria Lahap dan Ki Kumis Elang. Sementara Arda Handara berdiri agak jauh di belakang kedua pendekar yang berhadapan dengan Bong Bong Dut.


Orang-orang di pasar lelang dalam posisi memerhatikan ke arah Ratu Wilasin. Hal itu terjadi karena tadi suara tawanya mendadak berhenti. Mereka jadi bertanya-tanya saat melihat wanita cantik jelita itu telah berhadapan dengan seorang pendekar bertubuh kecil.


“Aaaa …! Arda! Gejrot! Tolooong …!” jerit Ratu Wilasin pada akhirnya sambil ketakutan di tempat.


Jeritan panjang Ratu Wilasin mengejutkan hampir semua orang yang ada di pasar lelang ikan itu, terutama Arda Handara dan Bong Bong Dut.


Jika Bong Bong Dut baru cepat menengok ke belakang, karena posisi Ratu Wilasin dan Pendekar Sekilatan ada di arah belakangnya, Arda Handara tahu-tahu telah berlari kencang melewati posisi Bong Bong Dut, Satria Lahap dan Ki Kumis Elang. Sang pangeran telah mengeluarkan ketapel Ki Ageng Naga.


Tiba-tiba ada dua orang lelaki berotot berperawakan seperti nelayan, muncul berdiri di depan Ratu Wilasin dengan posisi memunggungi. Keduanya menghadap kepada Pendekar Sekilatan.


“Hei! Apa yang ingin kau perbuat terhadap wanita ini, Orang Kecil?!” tanya membentak salah satu dari lelaki penghadang.


“Ikut campur maka mati aku berikan!” teriak Pendekar Sekilatan.


West! Crarass!


Tiba-tiba Pendekar Sekilatan bergerak seperti menghilang. Tahu-tahu bayangan putihnya berkelebat sangat dekat di depan kedua nelayan yang berniat menolong wanita cantik.


Blugk!


“Aaaa …!” jerit histeris Ratu Wilasin lagi saat dua orang besar yang berniat menolongnya tumbang tanpa jeritan di depannya.


Kedua nelayan itu telah tewas dalam kondisi mengerikan dengan kedua leher nyaris putus. Papan pasar ikan di dermaga itupun tergenang darah segar.


Sementara Pendekar Sekilatan yang usai membunuh dengan sekelebatan kilat saja, berdiri dengan dingin seperti makhluk kecil yang menakutkan. Tangan kanannya menggenggam senjata dwisulanya. Saking cepatnya dwisula itu menyembelih, tidak ada darah yang menempel.


Pembunuhan dua nelayan yang berlangsung cepat dan ganas itu, membuat orang-orang yang ada di pelelangan tersebut menjadi gempar. Orang-orang yang posisinya berada di dekat kejadian, segera bergerak serempak menjauh, menciptakan ruang bagi para pembunuh bayaran.


Wanita separuh baya yang berdiri di atas tiang pemantau jadi tertarik melihat kekisruhan yang terjadi di dermaga pasar pelelangan.


Pergerakan massa yang menjauhi titik keributan membuat Arda Handara yang bergerak cepat jadi terlihat jelas.


“Sekilatan, awas di belakangmu!” teriak Ki Kumis Elang.

__ADS_1


Set! Plup!


Pendekar Sekilatan yang sedang fokus memandangi Ratu Wilasin yang sedang ketakutan, cepat menengok. Namun, kecepatan tengoknya kalah cepat oleh lesatan seekor ulat bulu yang dilesatkan oleh ketapel Ki Ageng Naga.


Uyut-Uyut lebih dulu mengenai bokong Pendekar Lesatan yang langsung memunculkan api biru.


“Rempeyek jengkol!” maki Pendekar Sekilatan saat bokongnya tahu-tahu terbakar besar.


Meski ia seorang pembunuh bayaran handal, tetap saja munculnya api di bokongnya yang kemudian membakar celana dan bajunya membuatnya panik. Mudah dan ringkas solusi yang dipilih oleh Pendekar Sekilatan.


Jbuur!


Pendekar Sekilatan memutuskan untuk langsung berkelebat ke area bebas landasan, yaitu ke air laut. Dermaga yang tidak memiliki pagar pembatas itu membuat Pendekar Sekilatan tanpa hambatan untuk melompat ke air. Pastinya api langsung padam, tapi ia pun langsung kuyup.


“Hahahak …!” tawa Arda Handara melihat nasib Pendekar Sekilatan.


Kejadian itu pula yang membuat Ratu Wilasin berhenti menjerit.


“Lindungi Gusti Ratu!” teriak Bong Bong Dut seperti seorang komandan perang. Entah teriakannya ia tujukan kepada siapa, tapi sebutan “Gusti Ratu” memicu keriuhan baru dari basak-bisik orang-orang sekitar.


Ctas! Ctas!


Bong Bong Dut meloloskan cambuk kuningnya dan memberi satu lecutan yang menimbulkan suara nyaring, menunjukkan ilmu cambuknya masih berfungsi. Setelah mengetes cambuknya, Bong Bong Dut melesatkan lecutannya menyerang Satria Lahap.


“Hukk!”


Namun, Satria Lahap yang bisa membaca dengan jelas pergerakan cambuk itu, melesatkan sebutir kedelai rebus yang mengenai ekor cambuk, menahan senjata itu untuk terus maju. Pada saat yang sama, Satria Lahap bergerak dan tahu-tahu tendangannya telah menghajar keras pinggang Bong Bong Dut.


Dengan mulut mengeluh sakit, tubuh besar gemuk itu terlempar seringan angin ke daerah bebas landasan.


Jbuur!


Bong Bong Dut jatuh ke air laut.


“Lahap, urus bocah sialan itu!” teriak Ki Kumis Elang, karena dia lebih mementingkan target bunuh, yaitu Ratu Wilasin.


Ki Kumis Elang pun berlari cepat lalu melesat di udara dengan tangan kanan sudah berbekal toya pendek yang bersinar biru. Ia melewatkan posisi berdiri Arda Handara.


“Aaaak …!” jerit kencang Ratu Wilasin sambil berlari ke belakang menjauhi kedatangan Ki Kumis Elang.


Set! Cplok!


Bdak!


Tiba-tiba dari salah satu keranjang gurita di antara deretan keranjang yang berisi berbagai jenis hasil tangkapan laut, melesat seekor gurita mati ke udara dan mendarat di wajah Ki Kumis Elang. Lelaki separuh baya itu langsung jatuh ke lantai papan dengan wajah ditutupi oleh gurita yang besar kepalanya sebesar dua kepalan. Untung sudah mati. Maksudnya guritanya yang sudah mati.

__ADS_1


“Hahahak …!” tawa orang ramai melihat kejadian itu.


Berbeda dengan Arda Handara yang tidak bisa tertawa, karena dia terancam oleh serangan Satria Lahap.


“Hiaakhpp!”


Bdak!


Namun, belum juga sampai serangan Satria Lahap kepada bocah istana itu, tiba-tiba seekor ikan mati telah melesat seperti rudal dan masuk menyumpal mulut Satria Lahap yang sedang berteriak lebar. Pergerakan maju tubuh Satria Lahap langsung tertahan dan berganti pergerakan mundur, lalu jatuh terjengkang dengan tubuh ikan menancap separuh di mulutnya.


“Hahahak …!”


Kali ini Arda Handara bisa tertawa terbahak-bahak bersama warga sekitar yang menjadi penonton.


“Ada bidadari turun dari langit!” teriak seorang nelayan sambil menunjuk ke atas.


“Bidadari turun dari langit! Bidadari turun dari langit!” teriak warga yang lain bersahut-sahutan, padahal mereka sama-sama melihatnya.


Seketika gemparlah orang-orang di pasar pelelangan ikan itu. Orang-orang yang berada di dermaga pelabuhan dan di pinggiran kota jadi segera berdatangan untuk melihat jelas apa yang terjadi di dermaga pelelangan.


Dewi Ara muncul dengan membuat hampir semua orang takjub. Tampilannya yang serba putih kali ini, membuat kedatangannya dari sisi atas begitu memukau penuh keindahan yang menghiasi kejelitaan paras dan fisiknya. Ia turun seperti kapas jatuh dari langit seolah tanpa angin, meski angin laut bertiup kencang. Berarti dia bukan kapas, tetapi orang sakti.


Dewi Aralah yang melesatkan gurita dan ikan ke wajah kedua pembunuh bayaran itu.


Dewi Ara mendarat di tengah-tengah kekisruhan tanpa menimbulkan suara apa pun.


“Tolong! Aku mau tenggelam! Tolop!” teriak Bong Bong Dut membuyarkan momentum keterpesonaan para kaum batangan yang pada bau amis.


“Cepat tolong orang itu, dia tidak bisa berenang!” teriak seorang warga panik sambil menunjuk-nunjuk Bong Bong Dut yang berjuang di air agar tidak tenggelam.


Jbur! Jbur!


Dua orang lelaki segera melompat terjun ke air, di titik posisi Bong Bong Dut panik.


Seet!


“Ibundaaa!” pekik Arda Handara seiring tubuhnya yang tiba-tiba melesat seperti orang tertarik satu kekuatan besar.


Arda Handara tertarik jauh meninggalkan dermaga dan melesat dua tombak dari atas permukaan air. Hal itu mengejutkan sebagian orang, terutama Dewi Ara, karena itu bukan perbuatannya. Bahkan ketika dia menggunakan kekuatan Tatapan Ratu Tabir untuk menahan lesatan tubuh putranya, ia gagal dengan merasakan kekuatan tarik terhadap tubuh Arda Handara lebih kuat.


“Kesaktian milik siapa ini?” batin Dewi Ara dengan jantung yang terkejut. Sudah sangat lama dia baru kembali merasakan jantungnya terkejut.


West!


Dewi Ara tidak mau dia menunggu. Dia cepat melesat terbang ke laut seperti superhero mengejar lesatan tubuh putranya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2