Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pertamak 24: Bajak Laut Malam


__ADS_3

*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*


Bajak Laut Malam. Itulah namanya. Sekelompok Bajak Laut yang dipimpin oleh seorang pendekar laut bernama Genggam Garam. Itu adalah nama julukannya, tapi tidak ada yang tahu nama aslinya, kecuali Tuhan dan dirinya sendiri. Ia bahkan mencoba melupakan nama aslinya karena nama itu punya cerita kelam yang penuh kehitaman, meski sebenarnya dia tidak bisa melupakan namanya.


Coba tanya orangtuanya, siapa sebenarnya nama asli anaknya itu. Namun sayang, tidak ada yang tahu siapa orangtua Genggam Garam, kecuali Tuhan dan dirinya sendiri. Sekedar informasi. Kedua orangtua Genggam Garam sudah pindah fase ke alam berikutnya alias sudah mati.


Meninggalkan masa lalu yang kelam, Genggam Garam ingin menulis lembaran baru dari perjalanan hidupnya dengan kisah kelam yang baru sebagai seorang pemimpin bajak laut.


Namun malam ini, kapal Bajak Laut Malam tidak dipimpin oleh Genggam Garam. Harap jangan terkejut. Bajak Laut Malam kali ini dipimpin oleh tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ada padanya.


Tangan kanan itu bernama Tangan Kanan. Wujudnya seorang lelaki gatal (ganteng dan frontal). “Ganteng” yang dimaksud di sini adalah ganteng standar orang laut (SOL), yang pastinya berkulit hitam, berambut merah, dan otot berombak. Adapun tafsir dari “frontal” adalah lidah dan tangan tidak punya stoper atau penahan, tanpa mempertimbangkan risiko. Itulah maksudnya, semoga dimengerti.


Meski menganut ideologi perompak, tetapi Bajak Laut Malam tidak setiap malam membajak laut, karena mereka punya usaha sampingan di darat, yaitu membajak sawah. Ketika pertanian mereka sedang masa tunggu tumbuh, mereka sesekali ganti membajak laut. Saat itu belum ada pesawat terbang dan VCD, jadi mereka tidak punya ide untuk membajak pesawat atau membuat VCD bajakan.


Singkat cerita.


Malam itu mereka melaut dan melihat di kejauhan ada cahaya lampu kapal yang kelap-kelip tidak seperti bintang ataupun lampu diskotik. Kebiasaan Bajak Laut Malam ketika melaut adalah tidak menghidupkan lentera satu pun. Kondisi gelap sudah menjadi habitat mereka setiap malam. Segala aktivitas damai di atas kapal dilakukan dalam gelap gulita. Bahkan ketika membajak sawah pun, mereka tidak menggunakan lentera, tetapi menggunakan cangkul dan kerbau.


“Gusti Juragan, di arah timur ada bintang jatuh,” lapor Perkosa Ombak, tangan kanannya Tangan Kanan. Jangan tanya kenapa namanya bisa demikian.


Sebutan “Gusti Juragan” adalah sebutan anak buah teruntuk Tangan Kanan atas permintaan sang tangan kanan. Namun, jika ada Genggam Garam, sebutan itu haram diucapkan.


Tangan Kanan yang tidak terlihat karena terlalu gelapnya kapal di tengah lautan yang gelap, segera keluar dari kabin dan memandang ke timur jauh.


“Belokkan kapal ke timur!” perintah Tangan Kanan keras menggelegar.


Anak buahnya segera membelokkan kapal besar mereka menghadap ke arah titik lampu yang kelap-kelip di kejauhan. Cahaya itu kelap kelip karena sesekali tertutupi oleh ketinggian ombak.


Singkat waktu.


Semakin dekatlah jarak kapal Bajak Laut Malam dengan titik lentera, yang rupanya berada di dalam kapal penyeberangan yang berlayar menuju ke Pulau Gunung Dua, di mana di dalamnya ada Permaisuri Geger Jagad dan rombongan.


Kapal Bajak Laut Malam yang tanpa setitik pun cahaya lampu atau lentera, membuat para awak kapal penyeberangan Kota Bandakawen dan Pulau Gunung Dua tidak bisa melihat kedatangan kapal lain ke dekat mereka.


“Hidupkan Mata Iblis Laut!” teriak Tangan Kanan kepada anak buahnya.


“Siap!” teriak beberapa dari belasan anak buah Tangan Kanan. Sejumlah anggota bajak laut yang wajah-wajah dan tubuhnya tidak terlihat karena gelap, segera memantik api dan menyalakan banyak lentera minyak di dalam anjungan.

__ADS_1


Penyalaan itu, selain membuat wajah-wajah sangar para anggota bajak laut terlihat bercahaya karena terlalu terangnya, juga membuat kapal itu jadi terlihat di atas permukaan laut yang berombak. Uniknya, pada bagian depan kamar anjungan ada dua lubang besar yang ketika lentera dinyalakan, dua lubang itu seperti sepasang mata setan yang menyala terang di dalam kegelapan. Apalagi jika dilihat dari jauh, seperti ketika dilihat dari kapal penumpang.


“Bajak Laut Malaaam! Bajak Laut Malaaam!” teriak awak kapal penumpang yang berjaga di atas menara pendek di atap anjungan.


Fooong …!


Setelah berteriak seperti itu, si awak kapal cepat meniup terompet cangkang keong besar. Tiupannya begitu panjang, memberi tanda kepada nahkoda dan awak kapal lainnya bahwa ada bahaya besar yang sedang mengancam mereka.


Nahkoda kapal yang belum tidur segera naik ke anjungan dan melihat ke satu arah. Para awak kapal yang jumlahnya belasan orang, segera naik ke atas dan berkumpul di dek haluan. Mereka memandang ke satu arah.


Di arah barat kapal mereka melihat mata besar yang menyala terang di dalam kegelapan lautan. Itu bukan mata makhluk laut, tetapi mata kapal bajak laut yang sudah mereka tahu.


Para penumpang pun menjadi riuh dan berbangunan. Mereka bertanya-tanya menyikapi kegaduhan yang ditimbulkan oleh para awak kapal.


Bukan hanya orang-orang di atas kapal yang panik dan tegang, tapi juga sepasang pengantin baru yang berperahu kecil di belakang kapal, tapi talinya masih tertambat panjang. Pasangan yang melalui malam bulan madunya dengan perjuangan itu, tidak lain adalah Pendekar Angin Barat Bagang Kala dan Anik Remas, mantan ketua di Perguruan Cambuk Neraka.


“Cepat lakukan, Bagang!” desak Anik Remas yang merasa terdesak oleh waktu dan kondisi.


“Iya, Sayang. Aku tarik napas dulu,” jawab Bagang Kala berbisik.


Saat itu mereka berada di dalam kegelapan, karena tidak ada cahaya yang sudi memvisualkan adegan asmara yang dramatis tersebut.


Di bagian buritan, ada sebuah alat besar yang terbuat dari besi dan kayu kuat. Entah apa nama alat itu. Sebanyak empat orang lelaki bekerja mengangkat selempengan besi lebar dan tebal, yang pada kedua sisinya tajam. Simpelnya, benda logam itu adalah kapak raksasa yang harus diangkat oleh empat tenaga lelaki kuat.


Kapak raksasa bermata dua itu lalu dipasang berdiri di alat tersebut dengan hati-hati. Kapak tersebut memiliki lubang-lubang sehingga bisa dipasang dan diberi beberapa tali karet besar.


Jika Tangan Kanan tadi menyebutnya Kapak Penghancur, maka alatnya mungkin bisa disebut pelontar Kapak Penghancur.


Setelah benda besar itu dipasang, bagian tempat dipasangnya ditarik ke belakang sejauh mungkin, sehingga tali-tali karetnya menegang kencang. Tatakan tempat kapak berdiri modelnya panjang. Jadi ketika ditarik maksimal, tatakannya tetap tidak lepas dari dua tiang.


Setelah pasak-pasak pengunci dipasang agar tatakan kapak tidak bergerak, dan ukuran jarak tembak dikunci, anak buah Tangan Kanan pun berteriak.


“Kapak Penghancur siap, Gusti Juragaaan!”


“Tembaaak!” perintah Tangan Kanan yang telah berdiri di atas anjungan.


Tak! Ceklek! Seeet!

__ADS_1


Seorang anak buah mengayunkan martil bergagang panjangnya yang menghantam kepala pasak besi, yang merupakan pasak penyegel. Pasak itu terpental dari lubang. Dengan demikian, maka penahan kapak raksasa itu telah lepas dan kapak pun tertarik kencang oleh tali-tali karetnya.


Kapak raksasa itu melesat dari ketapel raksasa ciptaan kelompok Bajak Laut Malam. Memberi goyangan heboh di bagian buritan kapal.


Kabar buruknya bagi para penumpang kapal yang disasar, kapak raksasa itu tidak terlihat karena tertutupi oleh kegelapan.


Brekr!


“Aaak …!”


Jeritan serentak dari para penumpang kapal terdengar membelah-belah kegelapan lautan, ketika kapak raksasa yang sangat kuat tahu-tahu menancap di tengah-tengah lambung kanan kapal penumpang.


Mereka semua terpental jatuh karena hantaman kapak besar itu begitu kuat. Sejumlah awak kapal dan penumpang bahkan terlempar jatuh ke lautan. Para pendekar pun berjatuhan dari berdirinya, kecuali yang berkesaktian tinggi semodel Tikam Ginting, Bewe Sereng, Mimi Mama dan kakeknya.


Untuk Permaisuri Dewi Ara, jangan ditanya, dia nyaman di dalam kamar milik nahkoda.


Ketika di pelabuhan Kota Bandakawen, Syahbandar telah berpesan kepada nahkoda agar sang permaisuri di beri kamar yang nyaman. Maka dalam waktu singkat, kamar itu ditransformasi menjadi kamar khusus wanita, bukan kamar yang bau laut dan bau ketiak ikan.


Serangan kapak raksasa itu terjadi di saat Bagang Kala sedang menuju puncak. Keterkejutannya justru membuat eksekusinya terjadi lebih cepat, membuat rasa maksimal tidak didapat oleh sang bini. Entah itu suatu keapesan atau kenikmatan.


Dan apesnya, kapak yang menancap di lambung kapal, tepat memangkas tali tambatan perahu. Untuk yang itu, tidak ada yang tahu. Sehingga, tanpa terasa, perahu kecil yang ditumpangi Bagang Kala dan Anik Remas terpisah dari kapal induk dan menjauh. Bisa disebut bahwa pengantin baru itu hanyut.


Nahkoda, awak kapal, dan para penumpang seketika syok. Apalagi hantaman senjata besar itu membelah lebar lambung kapal. Meski tidak membelah kapal menjadi dua, tapi kerusakan yang ditimbulkan sungguh pertanda buruk.


Selain memecah kulit kapal, sejumlah kerangka dasar kapal yang terbuat dari kayu-kayu tebal beretakan yang menimbulkan kebocoran parah. Masih untung kapal tidak langsung terbalik.


“Kapal bocooor!” teriak seorang awak dari perut kapal.


“Nahkodaaa! Tulang kapal retak besaaar!” teriak awak yang lain lain histeris ingin menangis.


“Air masuk dengan cepaaat!” teriak yang lain sambil mengobori dan menontoni air yang mengalir cepat memasuki kapal tanpa tiket.


“Kapal akan tenggelam! Kapal akan tenggelam!” teriak para awak.


“Kita akan tenggelam!” teriak penumpang panik.


“Kita akan mati jadi ikaaan! Huuu …!” teriak histeris penumpang perempuan.

__ADS_1


“Oeee!” jerit suara bayi. Itu bukan bayi dedemit laut, tetapi bayi penumpang kapal yang sawan mendengar hiruk pikuk kepanikan. (RH)


__ADS_2