Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
PHT 32: Menghukum Bewe Sereng


__ADS_3

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*


 


“Sebelum aku menghukummu, katakan lebih dulu alasanmu sampai lancang menantang Gusti Prabu, agar aku bisa menentukan separah apa kau harus aku hukum!” perintah Permaisuri Nara kepada Pangeran Bewe Sereng.


“Hanya akan aku katakan jika aku benar-benar kalah, Permaisuri!” tandas Pangeran Bewe Sereng lalu mencabut satu anak panahnya dari empat yang tersisa.


Set!


Pangeran Bewe Sereng lalu memanah ke samping menggunakan busur tanpa wujud, tetapi anak panahnya bisa melesat. Hal itu membuat Perwira Basahan dan pasukannya terkejut takjub.


Set set set!


Selanjutnya, Pangeran Bewe Sereng melepaskan tiga anak panah yang tersisa ke arah yang berbeda-beda. Empat anak panah sudah Pangeran Bewe Sereng lepaskan.


“Silakan jika ingin menghukumku, Permaisuri!” seru Pangeran Bewe Sereng tanpa gentar.


Dug!


“Hugh!” keluh Pangeran Bewe Sereng saat tiba-tiba dia merasakan ada tenaga besar yang menekan bahunya dari atas, hingga membuatnya jatuh terlutut dua kaki di tanah keras.


Buru-buru dia mengerahkan tenaga dalamnya secara maksimal guna menahan kekuatan tidak terlihat itu.


“Akk!” erang Pangeran Bewe Sereng berusaha bertahan. Kedua tangannya sudah turun ke tanah turut berusaha bertahan.


Pangeran Bewe Sereng sudah seperti sapi-sapian yang siap untuk diqurbankan, hanya saja dia tidak melenguh.


Terlihat jelas wajah Pangeran Bewe Sereng memerah dengan urat wajah yang bertonjolan keras. Tubuhnya bergetar dan keringat segera bermunculan beramai-ramai dengan riang gembira.


Bak!


“Hakr!” keluh Pangeran Bewe Sereng dengan darah yang termuncrat dari dalam mulutnya, ketika tenaga besar yang menekannya semakin berlipat, membuatnya terbanting rapat ke tanah.


Seperti kecoa diinjak oleh seorang bidadari, seperti itulah nasib Pangeran Bewe Sereng. Tidak ada ruang lagi di bawah perutnya. Pipi, kedua tangannya, dada dan perutnya, serta kedua kakinya rapat dengan tanah, bahkan tertekan kuat.


“Kesaktian macam apa ini?” desis Pangeran Bewe Sereng dengan mulut yang sudah penuh oleh darah. Ia sudah tidak memiliki kuda-kuda untuk bisa menahan kekuatan yang diberikan oleh Permaisuri Nara.


Set


Tiba-tiba dari arah langit melesat turun menukik sebatang anak panah bersinar biru, lalu sebelum sampai ke tanah berbelok menyerang ke arah punggung Permaisuri Nara.


“Awas, Gusti Permaisuri!” teriak Perwira Basahan terkejut.


Namun, anak panah bersinar biru itu terhenti diam di udara, satu depa dari punggung Permaisuri Nara.


Ternyata, fokus Permaisuri Nara yang terpecah karena harus menghentikan anak panah itu, memberi celah bagi Pangeran Bewe Sereng untuk lepas dari tekanan tenaga yang menindih tubuhnya.


“Hiaaat!” pekik Pangeran Bewe Sereng dengan tubuh yang langsung melompat naik ke udara dengan kedua tangan telah bersinar kuning terang.


Bag!

__ADS_1


“Hukrr!” keluh Pangeran Bewe Sereng dengan tubuh terpental jauh ke belakang.


Belum sempat dia melepaskan salah satu ilmu tertingginya, satu kekuatan tidak terlihat telah menghantam dadanya hingga terdengar jelas suaranya. Darah termuncrat banyak dari dalam tenggorokannya.


Blugk!


Bersamaan dengan tubuh Pangeran Bewe Sereng menghantam tanah yang jauh lalu terseret beberapa tombak, anak panah di belakang Permaisuri Nara jatuh ke tanah.


Sambil memegangi dadanya yang terasa remuk, dengan mulut dan dagu berlumur darah, Pangeran Bewe Sereng berusaha bangkit. Namun, kakinya sudah tidak kokoh lagi. Terbukti dia kembali jatuh terlutut satu kaki.


Karena tidak kuat berdiri lagi, Pangeran Bewe Sereng memilih duduk bersila. Dia melakukan gerakan tangan untuk meringankan kondisi lukannya.


Juss!


Pangeran Bewe Sereng mengerahkan ilmu perisainya yang bernama Bulan Sebening Merah. Kini tubuhnya dilindungi oleh kurungan bola sinar merah bening yang besar.


Wizz!


Tiba-tiba sehelai bulu burung berwarna merah di dahi Pangeran Bewe Sereng bersinar dan mengeluarkan banyak bulir-bulir sinar hijau kecil. Pemandangan bola sinar merah itu jadi terlihat begitu indah, terlebih suasana hari mulai teduh karena hari sudah menjelang magrib.


Bulir-bulir sinar hijau terus berkeluaran dari bulu burung seperti serangga sinar yang banyak, yang kemudian memadati ruang dalam bola sinar merah.


Set set!


Tiba-tiba dari dua arah yang berbeda muncul melesat dua anak panah bersinar biru menyerang Permaisuri Nara. Entah melancong ke mana tadi mereka. Kali ini Perwira Basahan tidak berteriak lagi seperti kesan pertama.


Namun sama seperti tadi, kedua anak panah bersinar biru itu terhenti melesat dan diam melayang di udara, satu depa dari tubuh Permaisuri Nara.


Set!


Muncul anak panah bersinar biru yang keempat. Datang dari langit. Namun, lagi-lagi anak panah itu berhenti melesat dan diam di udara dalam posisi berdiri, hanya sedepa dari atas kepala Permaisuri Nara.


Di saat itu, Permaisuri Nara bisa merasakan sekuat apa tenaga yang terpendam di dalam bola sinar merah. Sosok Pangeran Bewe Sereng telah tidak terlihat karena tertutupi rapatnya bulir-bulir sinar hijau yang memenuhi ruang bola sinar.


Set!


Tiba-tiba ketiga anak panah bersinar biru melesat serentak menyerang ke arah bola sinar merah di depan sana.


Bluarr! Serrr!


Ketika ketiga anak panah itu menusuk dinding bola sinar merah bening, ledakan dahsyat terjadi yang suaranya terdengar hingga ke Gerbang Naga dan Hutan Timur, di mana Prabu Dira dan rombongannya telah mulai memasuki hutan.


Ketika bola sinar merah meledak seperti balon ulang tahun, maka semua bulir-bulir sinar hijau, tanpa terkecuali, melesat berjemaah menyerbu ke arah Permaisuri Nara.


Perwira Basahan dan pasukannya jadi terkejut ngeri, karena serangan itu seperti serangan wabah serangga yang jumlahnya ribuan bulir, jika dihitung.


Namun tidak bagi Permaisuri Nara. Wajah jelitanya yang bermata hitam tetap tenang seperti tidak ada masalah yang mendera.


Di depan Permaisuri Nara tahu-tahu muncul dinding sinar kuning bening yang luas, karena dia tinggi seolah ingin mencapai awan dan panjang seolah kavling tanah semua miliknya. Itulah ilmu Dinding Seribu Baja, yang baru bisa ditaklukkan oleh satu orang, yaitu Permaisuri Getara Cinta.


Tratas tratas …!

__ADS_1


Ketika satu bulir sinar hijau itu menghantam dinding Dinding Seribu Baja, terciptalah satu ledakan nyaring. Jadi, jika ribuan bulir sinar menghantam Dinding Seribu Baja dalam waktu yang begitu rapat, maka bayangkanlah kebisingannya seperti apa.


Perwira Basahan dan pasukannya, serta para pendekar warga Ibu Kota yang bermunculan menonton, hanya bisa mengerenyit menahan rasa sakit pada gendang telinga mereka yang tertusuk-tusuk.


Melihat apa yang terjadi, setelah ilmu Pasukan Kehancuran lenyap menyisakan kehancuran pada tanah, Pangeran Bewe Sereng hanya bisa membuang napas lemas dengan ekspresi wajah seperti orang bego.


“Kesaktian apa sebenarnya yang dimiliki wanita lelaki itu?” ucap Pangeran Bewe Sereng lirih kepada dirinya sendiri. “Kenapa ilmu Pasukan Kehancuran tidak bisa menjebolnya setiiik!”


Tiba-tiba Pangeran Bewe Sereng merasa tercekik lehernya tanpa ada tangan atau tali yang menjeratnya. Lidahnya sampai terjulur dengan leher yang menegang kencang. Sepasang matanya mendelik merah. Buru-buru kedua tangannya mencoba memegang sesuatu yang tidak tampak yang mencekiknya. Namun, tangannya tidak merasakan ada makhluk tidak kasat mata yang sedang mencekiknya.


Pangeran Bewe Sereng semakin kebingungan ketika tiba-tiba kedua tangannya merentang sendiri, seperti dicekal oleh satu kekuatan. Cekikan yang sama kemudian juga dirasakan di perut, kedua paha, dan kedua pergelangan kaki.


Selanjutnya, Pangeran Bewe Sereng lepas landas karena diangkat naik ke udara. Pada ketinggian satu tombak, tubuh itu berhenti naik, tapi juga tidak turun.


Sejauh ini, belum ada yang bisa mengalahkan ilmu Mata Dewa Gelap milik Permaisuri Nara.


Dengan wajah yang tetap menghadap lurus, Permaisuri Mata Hati melangkah mendekati posisi Pangeran Bewe Sereng.


“Katakan alasanmu, yang membuatmu lancang mau menantang Gusti Prabu Dira!” perintah Permaisuri Nara setelah berhenti tidak begitu jauh di depan bawah tubuh Pangeran Bewe Sereng, yang sudah dekil oleh darah dan keringat.


Kumis biru dan bulu burung merahnya ternyata tidak bisa menyelamatkan nasibnya.


Pangeran Bewe Sereng merasakan cekikan pada lehernya hilang, yang artinya ia diberi kesempatan untuk berbicara.


“Aku hanya ingin memastikan bahwa Raja Joko Tenang yang terkenal sakti mandraguna bisa menolong Negeri Pulau Kabut!” jawab Pangeran Bewe Sereng dengan berteriak. Lalu ia menambahkan, “Bila Raja Joko Tenang bisa mengalahkanku, berarti kemungkinan besar Raja Joko bisa menyelamatkan Negeri Pulau Kabut dari serangan Negeri Karang Hijau!”


“Kau menggunakan cara yang salah,” ucap Permaisuri Nara datar.


“Akk!” pekik Pangeran Bewe Sereng saat merasakan lehernya kembali tercekik.


Suut!


Tiba-tiba pula, tubuh lelaki separuh baya itu melejit lurus naik lebih tinggi dan berhenti pada ketinggian yang membuatnya terlihat kecil.


Inilah salah satu yang paling terkenal pada diri Permaisuri Nara. ia satu-satunya tokoh sakti dunia persilatan yang bisa menggantung seseorang di langit tanpa tali dan tanpa perlu dijaga.


Kini di area Gerbang Macan Langit, selain para prajurit militer, telah berkumpul pula para pendekar dan sebagian warga Ibu Kota. Saat mendengar ledakan dahsyat tadi, mereka berlomba-lomba pergi ke Gerbang Macan Langit untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Kini mereka menyaksikan seorang asing sedang digantung di langit, hal yang mungkin tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Sebagian dari mereka hanya bisa mendongak dengan mulut menganga takjub.


Permaisuri Nara berjalan tenang mendatangi Perwira Basahan.


“Hormaaat!” teriak Perwira Basahan lantang.


“Sembah hormat kami, Gusti Permaisuri!” seru seluruh orang sambil turun berlutut menghormat.


“Jika Gusti Prabu sudah pulang ke Istana, laporkan tentang tawanan itu!” perintah Permaisuri Nara.


“Baik, Gusti Permaisuri!” jawab Perwira Basahan.


Clap!

__ADS_1


Setelah itu, Permaisuri Nara menghilang begitu saja. (RH)


__ADS_2