
*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*
Jika Pangeran Tololo Coi memiliki delapan tangan yang melesatkan delapan sinar hijau berenergi sangat besar dari atas, maka Dewi Ara telah siap menyambut dengan delapan sinar hijau berwujud kuncup bunga besar bertangkai panjang.
Slop slop slop …!
Kedelapan kuncup bunga sinar hijau itu membuka mulut seperti monster bunga dan bergerak cepat menangkap sinar-sinar hijau milik Tololo Coi, lalu menahannya di dalam katupan.
Dak!
“Hukh!”
Ketika delapan sinar hijau sedang ditahan di dalam kuncup bunga, Dewi Ara menghantamkan Tatapan Ratu Tabir ke dada Tololo Coi. Sang pangeran yang meluncur turun kembali terpental naik mengudara.
Flus flus flus …!
Di saat Tololo Coi mengudara di luar kendalinya, kedelapan kuncup bunga Dewi Ara lalu berbarengan menembakkan sinar hijau yang ditahannya di dalam katupannya.
Delapan sinar hijau milik Tololo Coi menyerbu naik kepada tuannya sendiri.
Mendelik terkejutlah Tololo Coi menyaksikan kesaktiannya mendatanginya dengan begitu cepat.
Blar blar blar …!
Tololo Coi tidak bisa menolak ketika dirinya dikeroyok oleh ledakan ilmu Enam Tangan Samudera miliknya.
Lagi-lagi Tololo Coi patut diacungi jempol kaki. Delapan ledakan dahsyat itu tidak menghancurkan tubuhnya. Namun, tubuhnya terpental liar menabrak tangga batu lalu jatuh di lantai satu.
Tololo Coi segera bangkit dengan sempoyongan dalam kondisi tubuh berlumur darah yang keluar dari pori-pori kulitnya, mata, lubang hidung, telinga dan mulut. Mungkin juga lubang di bawah mengeluarkan darah, tetapi hanya tidak terlihat. Pakaiannya pun sudah hancur terkoyak-koyak dengan parah.
Greg! Set! Dakr!
“Akk!” jerit Tololo Coi ketika tanpa berdaya kepalanya di hantam kepala patung batu yang dilesatkan oleh kekuatan mata Dewi Ara. Kepala patung yang lebih besar dari kepala sang pangeran bahkan hancur berkeping, sementara kepala orang masih utuh meski tidak baik-baik saja.
Tololo Coi terlempar dan jatuh di lantai.
Saat itu Tololo Coi sudah tidak berdaya. Dia masih bisa bergerak dan berusaha berdiri kembali dengan wajah dan tubuh bersimbah darah. Sementara para prajurit menonton dari tepian lantai tiga.
Seet!
Tiba-tiba tubuh Tololo Coi diterbangkan oleh Dewi Ara, seiring tubuh sang permaisuri yang juga naik mengudara. Setiba di ketinggian lantai tiga, Dewi Ara melempar tubuh Tololo Coi ke lantai, tepat di hadapan kaki Putri Keken.
Terkejut Putri Mahkota menyaksikan kondisi pembunuh orangtuanya semerah-merah itu. Sebenarnya dia cukup ngeri dan jijik, tetapi dia harus membalas dendam atas kematian keluarganya.
Sing!
Putri Keken mencabut pisau belatinya yang terbuat dari logam pilihan.
“Berhenti!” seru seseorang dari pintu utama Istana Raja.
Sosok kakek berbaju ketat bercelana pendek berbulu itu adalah Tengkorak Ahoi. Dia keluar dengan menyeret dua orang perempuan.
__ADS_1
“Bibi Putri!” sebut Putri Keken terkejut saat mengenali kedua wanita yang ditarik dalam kondisi tangan terantai.
Wanita separuh baya yang dibawa oleh Tengkorak Ahoi adalah Putri Neneng Ame, istri dari Pangeran Bewe Sereng. Sedangkan wanita yang lebih muda adalah putrinya yang bernama Siri Galih.
“Putri Keken!” sebut Putri Neneng Ame dan Siri Galih bersamaan.
“Satu tindakan saja kau lakukan kepada tubuh Pangeran Tololo Coi, maka kedua wanita ini langsung akan mati!” seru Tengkorak Ahoi yang sebenarnya telah menderita luka dalam.
“Pengecut sekali kelakuanmu, Kisanak,” kata Eyang Hagara yang tiba-tiba muncul begitu saja seperti setan di antara Tengkorak Ahoi dengan kedua sanderanya.
“Tengkorak setan!” maki Tengkorak Ahoi sambil mengibaskan tangan kanannya yang mengeluarkan kelebatan sinar merah tipis bermaksud mengeksekusi kedua sandera.
Saas!
Namun, Eyang Hagara juga cepat menghentakkan tangan kanannya, memunculkan Kembangan sinar biru yang besar, yang menangkal sinar merah Tengkorak Ahoi.
Kakek gagah itu juga harus terlempar oleh sinar biru Eyang Hagara. Sementara Putri Neneng Ame dan Siri Galih harus menahan perih yang menyengat karena tersengat radiasi dari ilmu Benteng Kembang Biru.
Upaya Eyang Hagara berhasil menjauhkan Tengkorak Ahoi dari kedua sandera. Kondisi itu cepat dimanfaatkan oleh Putri Keken untuk membunuh Pangeran Tololo Coi yang sudah tidak berdaya di depan kakinya.
Set!
“Aaak!” jerit Putri Keken terkejut bukan main sambil refleks melangkah mundur dua tindak.
Semua perhatian sontak beralih kepada Putri Keken. Ternyata, Tololo Coi sudah mati dengan leher yang putus rapi dan mengalirkan darah yang deras.
“Putri Mahkota tidak perlu repot-repot mengotori tangan dengan menjadi pembunuh kejam, cukup aku saja,” kata Mimi Mama dingin. Dialah yang mengeksekusi leher Tololo Coi sebelum Putri Keken menikamkan pisau belatinya ke tubuh Tololo Coi.
“Pangeraaan!” teriak Tengkorak Ahoi terkejut dengan mata terbeliak.
“Bocah keparat!” maki Tengkorak Ahoi sambil menggerakkan tangannya hendak menyerang Arda Handara.
Arda Handara mendelik panik.
Dak!
“Hukh!” keluh Tengkorak Ahoi ketika satu kekuatan menghantam tubuhnya dan membuatnya terlempar ke samping. Namun, dia masih bisa mendarat dengan kedua kakinya.
“Dia sudah terluka, lebih baik Kakang habisi saja,” kata Dewi Ara datar kepada kakaknya.
“Baik!” sahut Eyang Hagara.
Clap!
Tiba-tiba Tengkorak Ahoi menghilang begitu saja dari tempatnya. Hampir semuanya terkejut, kecuali yang tahu ke mana Tengkorak Ahoi bergerak.
Brak!
Tiba-tiba pintu besar aula lantai satu tertutup cepat dan keras dengan sendirinya. Hal itu membuat sosok Tengkorak Ahoi muncul tidak jauh dari pintu. Sepertinya dia berusaha untuk kabur.
Suss! Bluar!
Tengkorak Ahoi langsung melesatkan seberkas sinar merah yang menghantam dan menghancurkan pintu besar itu.
__ADS_1
Para prajurit yang berjaga di lantai bawah tidak ada yang berani menyerang Tengkorak Ahoi.
Clap!
Kembali sosok Tengkorak Ahoi menghilang seperti tertelan udara.
Di sisi lain, Dewi Ara pun tidak ribut terkait upaya kaburnya satu musuh yang tersisa. Namun ternyata, kecuali Dewi Ara, Putri Neneng Ame dan putrinya, tidak ada yang menyadari bahwa Eyang Hagara juga telah menghilang tanpa suara.
“Eh, Eyang ke mana?” tanya Arda Handara sambil celingak-celinguk.
“Sedang mengurus musuh,” jawab Dewi Ara datar.
Putri Neneng Ame dan Siri Galih segera mendatangi Dewi Ara.
“Terima kasih, Nisanak,” ucap Putri Neneng Ame sambil turun berlutut menyembah kepada Dewi Ara yang belum dikenal siapa adanya. Siri Galih pun ikut berlutut dan menghormat dalam.
“Bibi Putri!” sebut Putri Keken sambil berlari menangis dan memeluk bibinya.
Neneng Ame pun balas memeluk Putri Mahkota dan ikut menangis.
“Siapa mereka?” tanya Dewi Ara kepada Putri Keken.
“Ini Bibi Putri Neneng Ame, istri Paman Pangeran Bewe Sereng, Gusti Permaisuri. Dan ini Kakak Siri Galih, putri Paman Pangeran,” jawab Putri Keken.
“Bangunlah, Putri. Nikmati kebebasan kalian!” perintah Dewi Ara. Lalu tanyanya, “Ke mana Pangeran Bewe Sereng?”
“Mohon maaf, Gusti Permaisuri, Putri Mahkota,” ucap Menteri Kete Weleng setelah datang mendekat dan menghormat. “Pangeran Bewe Sereng telah gugur.”
Jelegerr!
Laksana ada petir di pagi hari, Putri Keken, Putri Neneng Ame dan Siri Galih terkejut bukan main.
Menangislah ketiga wanita beda usia itu.
“Lalu kau siapa?” tanya Dewi Ara kepada sang menteri.
“Hamba Menteri Kete Weleng,” jawab Kete Weleng.
“Kumpulkan semua anggota Keluarga Kerajaan yang tersisa dan bebaskan mereka semua yang ditahan!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Gusti,” ucap Kete Weleng patuh.
“Di mana pengawal setiaku yang cantik?” tanya Dewi Ara kepada abdinya yang lain.
“Kami tinggal bertarung duel dengan laksamana muda penjaga Gerbang Kepeng, Gusti,” jawab Setya Gogol.
“Pergi cari. Mungkin dia juga mati!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Gusti,” ucap Setya Gogol patuh. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Novel Baru
Om Rudi telah rilis novel terbaru genre cinta-cintaan anak muda berbau religi berjudul “Rudi adalah Cintaku”, yuk ramaikan dengan baca, like, komen dan gift. Terima kasih.