Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 36: Penjara Bola Cemburu


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


 


Terlukanya Ketua Tiga Citari Lenting karena telah beradu kesaktian dengan Pendekar Bola Cinta, yang memiliki tingkat tenaga dalam lebih tinggi.


Namun, luka itu tidak membuat Citari Lenting menyerah. Dia justru semakin penasaran ingin mengalahkan wanita yang jauh lebih muda darinya itu.


Tidak seperti Anik Remas yang bertarung melawan Citari Lenting sebelumnya, Tikam Ginting tidak takut dengan permainan cambuk api.


Ctas! Serr! Bzarss!


Setiap Citari Lenting melecutkan cambuknya, garis api panjang menyambar menyerang Tikam Ginting. Namun, pada tangan kiri gadis cantik itu ada perisai sinar hijau yang bisa dia munculkan sewaktu-waktu.


Setiap kali garis api datang menyambar, tangan kiri Tikam Ginting mengibas di depan badan. Maka muncul perisai sinar hijau di depan tubuh dan wajah, menangkis serangan api yang menyambar.


Ilmu Pertahanan Keutuhan Cinta itulah yang membuat Citari Lenting kesulitan untuk memasukkan serangannya kepada Tikam Ginting.


Set! Tak!


Pada satu kesempatan, setelah menangkis dua sambaran garis api sekaligus dengan ilmu perisai Pertahanan Keutuhan Cinta, Tikam Ginting melempar kencang senjata bola merahnya. Namun, lemparannya bukan kepada lawan, melainkan ke arah jauh sebatang pohon.


Setelah itu, Tikam Ginting melanjutkan pertarungannya dengan melakukan serangan jarak dekat.


Kondisi itu membuat Citari Lenting jadi ekstra waspada. Selain harus meladeni serangan Tikam Ginting yang bertenaga dalam tinggi, dia juga tahu bahwa lemparan bola ke arah lain bertujuan melancarkan serangan membokong, seperti model panah Rombongan Kapak Hijau yang bisa melakukan seperti itu.


Meski pertarungan jarak dekat, bukan berarti senjata cambuk Citari Lenting tidak berfungsi. Cambuknya tetap bisa melakukan serangan jarak dekat.


Ctas! Ctas!


Bzarrs! Bzarrs!


Dalam kondisi bertarung jarak dekat seperti itu, Citari Lenting memiliki kesempatan dua kali melecutkan cambuk bersinar merahnya. Namun, Tikam Ginting terlalu tangkas. Masih saja dia bisa menangkis serangan cambuk yang hendak mendera punggung dan betisnya. Ilmu Pertahanan Keutuhan Cinta tetap bisa berfungsi dengan baik meski cambuk berbahaya itu menyerang dari arah belakang.


Dak! Dak! Dakr!


“Akk!” jerit Citari Lenting tiba-tiba di tengah pertarungan dengan tubuh terbanting jatuh di tempat.


Serangan bola kayu merah yang ia tunggu-tunggu dan waspadai sejak tadi, tanpa terduga ternyata datang menyerang mata kaki kiri, setelah memantul beberapa kali ke beberapa benda yang berjarak berjauhan.


Tidak hanya sekedar menghantam mata kaki Citari Lenting, tetapi juga terdengar suara tulang yang remuk. Itu artinya tulang mata kaki Ketua Tiga itu remuk dihantam oleh si bola kayu merah.


Wanita berusia lebih dari separuh abad itu merintih sambil memegangi mata kakinya yang berdarah pula.


“Pertarungan berakhir, Ketua,” kata Tikam Ginting lalu melepaskan sebola sinar kelabu besar, lebih besar dari sebuah gubuk kecil.

__ADS_1


Sinar kelabu yang keluar dari telapak tangan kanan Tikam Ginting muncul seperti bola sabun yang terus membesar, lalu dilepaskan dengan santai. Bola sinar kelabu besar itu melayang lalu turun dan jatuh mengurung tubuh Citari Lenting, sehingga membentuk kurungan kubah.


Sadar bahwa tubuhnya sudah dikurung oleh sinar kelabu, sambil menahan sakit yang begitu menggigit, Citari Lenting bangun terpincang.


Ctas! Ctas!


Dua kali cambukan dilakukan oleh Citari Lenting terhadap dinding sinar kelabu transparan itu. Namun, hanya menimbulkan sekilas kobaran api tanpa memberi efek apa pun terhadap dinding sinar itu.


“Hiaaat!” pekik Citari Lenting histeris sambil menghentakkan tangan kirinya dengan telapak terbuka.


Serss! Bluar!


Seberkas sinar biru berpijar melesat dalam jarak pendek menghantam dinding sinar kelabu. Satu ledakan keras tercipta, tetapi itu hanya membuat tubuh Citari Lenting terlempar menghantam dinding sinar.


“Ini adalah Penjara Bola Cemburu, hanya kesaktian bertenaga dalam tinggi yang bisa menghancurkannya. Kau telah dipenjara, Ketua. Nasibmu tergantung dari perguruanmu,” ujar Tikam Ginting.


Itulah pertarungan terakhir yang berakhir setelah kelompok Penguasa Dunia yang tersisa melarikan diri.


“Panjang umur Kakak Bola! Panjang umur Kakak Bola!” teriak Arda Handara girang sambil mengangkat kepal tinggi-tinggi ke langit.


Tikam Ginting menengok memandang kepada Arda Handara dan tersenyum, lalu mengendipkan satu matanya kepada putra junjungannya itu. Kedipan mata itu membuat Arda Handara tiba-tiba jatuh tergeletak begitu saja sambil memegangi dadanya.


“Hahaha!” tawa Arda Handara kemudian, yang diikuti oleh tawa Lentera Pyar dan Setya Gogol melihat tingkah sang pangeran.


Sementara itu, beberapa petinggi Perguruan Cambuk Neraka yang tidak menderita luka apa pun, segera mengatur murid-murid perguruan untuk mengevakuasi para pemimpin dan murid yang terluka.


Pertempuran yang sudah selesai dengan cepat berubah menjadi aktivitas penanganan korban-korban luka. Adapun korban tewas dinomorduakan.


Ayuting Palasa dan Lirih Lambai merawat luka berat Sarang Asugara. Lunar Maya kini mau menghampiri suaminya yang juga terluka parah. Bong Bong Dut alias Gejrot lebih memilih membantu Garda Tadapan. Murid-murid divisi dapur umum membantu Guna Wetong. Kepala Kebersihan Suriwak juga menderita luka, tapi tidak serius dan juga tidak bercanda.


Adapun Bagang Kala kembali menemani Anik Remas dengan Gelisa turut membantu.


Namun, tiba-tiba mereka mendengar suara keramaian dari batas luar kampung. Keramaian itu adalah suara ramai lari kaki banyak orang dan teriakannya yang liar. Meski tidak setebal asap debu seperti yang diciptakan oleh pasukan berkuda, tetapi lari lebih dari seratus kaki menciptakan debu yang beterbangan ke udara.


Mendengar suara satu pasukan pelari kaki itu, ketegangan kembali menghinggapi orang-orang Perguruan Cambuk Neraka. Para petinggi perguruan dan murid-murid yang masih sehat bugar kembali berdiri dengan cambuk masing-masing tergenggam di tangan.


“Istirahatlah kalian semua, biarkan aku yang mengurus pasukan itu!” kata Permaisuri Dewi Ara dari sisi atas kepada semua orang.


“Baik, Gusti Permaisuri!” ucap orang-orang Perguruan Cambuk Neraka serentak.


Set set set …!


Dari arah keramaian yang berlari mendekat, kembali muncul puluhan anak panah yang terbang menyerbu.


Namun, lagi-lagi kekuatan mata Dewi Ara membuat semua anak panah itu berhenti melesat dan jatuh berguguran.

__ADS_1


Beleng Tarmehek bersama pasukan berkapak hijau dan panahnya sudah berlari kencang memasuki kampung perguruan.


“Rupanya ada orang berkesaktian tinggi di perguruan ini,” ucap Beleng Tarmehek kepada dirinya sendiri.


Set! Set!


Bes! Bes! Bes!


“Akh! Akh! Akh …!”


Tiba-tiba dari arah samping muncul lesatan dua anak panah bersinar biru. Dua anak panah bersinar itu menusuk tembus beberapa anggota pasukan panah Rombongan Kapak Hijau. Ada sebanyak enam anggota pasukan panah yang jatuh tersungkur setelah tubuh mereka dilubangi oleh anak panah bersinar biru. Mereka semua kemudian tewas.


Beleng Tarmehek yang berlari paling depan jadi terkejut dan cepat menengok. Ia masih sempat melihat lesatan dua anak panah bersinar biru membunuhi aggota kelompoknya. Anak panah itu kemudian melesat jauh dan menghilang di kejauhan.


“Panah sinar biru. Itu seperti Panah Samudera milik Pangeran Istana Kabut Kuning. Namun, tidak mungkin dia ada di sini,” pikir Beleng Tarmehek dengan tatapan mendelik terkejut. Lalu tiba-tiba teriaknya, “Berhentiii!”


Pasukan itu sontak mengerem larinya dengan masing-masing memendam tanda tanya, bukan memendam cinta. Namun, dengan tewasnya enam orang anggota pemanah, menciptakan ketegangan di antara mereka.


Set! Set!


Bes! Bes! Bes!


“Akh! Akh! Akh …!”


Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh jeritan beberapa orang anggota pemanah seiring munculnya dua anak panah bersinar biru yang menyerang dari belakang, menembusi tubuh korbannya. Bahkan kedua anak panah bersinar biru itu bisa berbelok dan menyerang bersama kepada Beleng Tarmehek.


Ctas! Zerzz!


Ketua Rombongan Kapak Hijau itu bisa dengan cepat meloloskan cambuk putih bagusnya. Dengan sekali lecutan saja, bisa menghantam dua anak panah sekaligus. Dari lecutan itu muncul serabut listrik sinar putih dan memusnahkan dua anak panah bersinar biru.


Sekedar informasi, cambuk putih itu adalah pusaka utama milik Perguruan Cambuk Neraka yang telah dirampok, yaitu Cambuk Usus Bumi.


“Pasukan panah, bentuk formasi Benteng Setan Malam! Pasukan kapak, terus maju!” perintah Beleng Tarmehek.


“Siap!” teriak pasukan Rombongan Kapak Hijau keras. Suara mereka sampai terdengar ke pusat Perguruan Cambuk Neraka.


“Seraaang!” teriak satu komandan pasukan kapak hijau sambil berlari maju lebih dulu.


“Seraaang!” teriak pasukan berkapak ramai-ramai sambil berlari kencang menuju pusat perguruan, di mana Permaisuri Dewi Ara telah menunggu.


Sementara pasukan panah yang telah berkurang dua belas anggotanya dalam waktu singkat, segera bergerak membentuk formasi yang disebut Benteng Setan Malam.


Mereka dalam posisi membentuk lingkaran dan berlutut satu kaki menghadap ke luar. Busur dan anak panah telah siap. Mereka menunggu dalam suasana tegang. Mereka menunggu kedatangan sesuatu.


Sementara Beleng Tarmehek berdiri di pusat formasi sambil memegang cambuk putih. (RH)

__ADS_1


__ADS_2