
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Di saat Pasukan Keamanan Pulau Tujuh Selir justru ditambah jumlahnya seratus personel menjadi tiga ratus prajurit pulau, di saat Ratu dan ketujuh selir sedang melakukan pertemuan darurat membahas ancaman, Permaisuri Dewi Ara hanya menunggu tanpa melakukan strategi apa pun.
Dewi Ara hanya menunggu sang surya mencapai puncak tertingginya. Jika pada waktu itu tidak ada tanda-tanda tuntutannya dipenuhi maka dia pun akan bertindak. Entah tindakan seperti apa yang akan dilakukannya.
Di Pantai Selir Bulan, selain ratusan prajurit bersenjata pedang dan perisai rotan telah berbaris bersiap, kini ada sekitar sepuluh senjata pelontar batu yang sebelumnya tidak ada. Tersedia pula keranjang-keranjang rotan besar yang berisi batu-batu berbentuk kubus, bukan berbentuk bola sebagaimana pada umumnya peluru batu. Besarnya pun tidak begitu besar, tidak lebih besar dari kepala orang dewasa.
Persiapan pasukan di pantai itu benar-benar siap perang, meski yang mereka hadapi hanya satu kapal bajak laut. Itu menunjukkan bahwa Ratu Bunga Petir dan ketujuh selirnya tidak meremehkan Permaisuri Dewi Ara.
Masukan-masukan dari Mimi Mama dan Serak Gelegar sangat penting untuk menjadi bahan pertimbangan bagi Ratu Bunga Petir. Namun yang jadi masalah, dua orang yang diminta oleh Dewi Ara tidak ada di pulau itu, yakni Tadayu dan Putri Uding Kemala. Adapun Gandang Duko, meski dia sedang menjadi orang hukuman, tetapi dia tetap seorang pangeran Pulau Tujuh Selir yang tidak mungkin diberikan kepada orang asing untuk dihukum.
“Serahkan saja Nahkoda Dayung Karat dan istrinya kepada permaisuri itu dan sampaikan kepadanya apa adanya, bahwa Tadayu dan Putri Kerajaan Lampara tidak ada di pulau ini. Jika kapal itu belum pergi menjauh dari pulau, maka kita akan menenggelamkannya!” kata Ratu Bunga Petir.
Di saat ketegangan semakin memanas, di sebuah taman batu ada seorang wanita muda lagi cantik yang sedang duduk di taman batu yang sepi. Dia sedang duduk menghadap kepada batu balok yang lebih tinggi dari kepalanya. Wanita berambut terurai itu mengenakan pakaian warna abu-abu tanpa banyak hiasan. Dia adalah Putri Gunira, adik dari Tadayu.
Sejak kesuciannya telah direnggut oleh Pangeran Bangir Kukuh, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan memperdalam kesaktiannya dan memahat batu di taman batu belakang rumahnya.
“Kakak Putri Gunira! Kakak Putri Gunira!” panggil seorang wanita yang datang berlari menghampiri adik Tadayu itu. Wanita itu berpakaian warna hijau muda dan lebih mewah dengan perhiasan emas dan perak. Wanita yang terlihat lebih muda dari Putri Gunira tersebut bernama Putri Inai Laya, putri dari Selir Kelima yang bergelar Tetua Tersayang.
“Ada apa?” tanya Putri Gunira sambil menengok. Ia memang sangat akrab dengan Putri Inai Laya.
“Apakah Kakak sudah dengar bahwa masalah Kakak tadi disidangkan oleh Tetua Penghukum?” Putri Inai Laya justru balik bertanya.
“Aku rasa kau sudah tahu jawabannya, Adik Inai,” kata Putri Gunira.
“Kakak Tadayu bersama Kakak Gandang Duko telah menculik Putri Kerajaan Lampara, tetapi kakak Tadayu dan putri itu hilang di tengah laut. Hanya Kakak Gandang Duko yang pulang. Kakak Gandang Duko kini dipenjara oleh ibunya sendiri karena membakar Istana Kerajaan Lampara,” kata Putri Inai Laya berair-air.
“Aku memang meminta Kakak Tadayu membalaskan dendamku dan meminta kepala pemerkosaku dibawa kepadaku,” kata Putri Gunira enteng.
“Apa?!” pekik Putri Inai Laya terkejut. “Tapi Pangeran Api Dewa tidak mengatakan bahwa kaulah yang meminta mereka berdua untuk menyerang ke Pulau Gunung Dua.”
“Kakak Gandang pasti sengaja untuk tidak melibatkanku,” kata Putri Gunira, masih enteng.
“Tapi karena masalah ini, ada satu kapal bajak laut yang datang untuk menuntut pertanggungjawaban atas diculiknya Putri Kerajaan Lampara. Aku dengar, pemimpin bajak laut itu seorang permaisuri sakti. Pantai Selir Bulan sudah siap jadi medan perang,” kata Putri Inai Laya, masih berair-air.
__ADS_1
“Apa?” kejut Putri Gunira. “Akan ada perang?”
“Sepertinya. Karena menurut Putri Cahaya Bulan, permaisuri itu terlalu sakti,” jawab Putri Inai Laya dengan menyebut gelar dari Mimi Mama.
“Haaak!” pekik Putri Gunira tiba-tiba marah.
Buk! Prak!
Ia meninju balok batu di depannya yang sudah memiliki ukiran. Batu itu pecah berkeping-keping.
Hal itu mengejutkan Putri Inai Laya dan membuatnya mendelik terdiam.
“Aku tidak peduli sesakti apa orang yang berusaha menghalangi dendamku. Dia harus tahu, betapa hancurnya hidupku telah diculik dan diperkosa dengan cara yang sangat pengecut. Dia harus aku beri tahu, apalagi dia seorang wanita,” kata Putri Gunira dengan wajah memerah dan mata nanar.
Putri Gunira lalu bangkit dan berjalan cepat menuju ke luar taman batu. Ekspresinya jelas menunjukkan kemarahan.
“Kakak mau ke mana?” tanya Putri Inai Laya sambil turut berjalan cepat mengejar Putri Gunira.
“Aku ingin memberi tahu permaisuri itu agar tidak mencampuri urusanku. Aku lebih baik mati jika dendamku tidak terpenuhi!” desis Putri Gunira.
Sekeluarnya dari lingkungan rumahnya yang besar dan luas dengan atap sejajar tanah, Putri Gunira berlari cukup kencang. Putri Inai Laya hanya bisa mengikuti. Ia pun khawatir jika Putri Gunira berbuat sesuatu yang berbahaya.
Ketika berada di hutan, Putri Gunira sudah bisa melihat kondisi ramai di pantai dan keberadaan kapal Bajak Laut Malam yang bersauh di perairan dangkal.
Untuk menghindari keramaian prajurit pulau, Putri Gunira memilih pergi ke ujung pantai, di mana juga terdapat banyak perahu ditambatkan. Bahkan ada sejumlah nelayan biasa yang berkumpul menyaksikan pagelaran pasukan dari jauh.
Pada saat yang sama, Selir Pertama bersama Selir Kelima, Selir Ketujuh, Mimi Mama, Serak Gelegar, Pangeran Tendangan Kilat, dan Janggung telah kembali ke pantai. Mereka membawa Nahkoda Dayung Karat dan istrinya.
Kedua tawanan itu dinaikkan ke atas sebuah perahu. Dari pihak pulau yang bersamanya adalah Mimi Mama dan Serak Gelegar selaku pendamping setia cucunya. Perahu yang membawa empat orang itu melaju menuju kapal hitam.
“Siapa dua orang asing itu?” tanya Putri Gunira.
“Nahkoda dari Pulau Gunung Dua dan istrinya. Mereka mengaku disandera oleh Kakak Tadayu dan Kakak Gandang. Di Gunung Dua, Kakak Tadayu mengaku sebagai keponakan nahkoda itu. Permaisuri di atas kapal itu minta pembebasan nahkoda dan Putri Kerajaan Lampara. Dia juga minta Kakak Tadayu dan Gandang diserahkan,” jelas Putri Inai Laya.
Sejumlah nelayan biasa yang berkumpul di ujung pantai itu hanya memandangi kemunculan Putri Gunira dan Putri Inai Laya.
“Lebih baik Kakak Putri tidak ikut terlibat,” kata Putri Inai Laya mengingatkan.
__ADS_1
“Kau jangan ikut!” larang Putri Gunira.
“Kakak Putri, kau akan mencampuri urusan para Tetua,” kata Putri Inai sambil berhenti mengikuti Putri Gunira yang sudah mendekati perahu.
Namun, putri dari Selir Keenam itu sudah tidak menggubris nasihat adik lain ibunya itu.
“Lepaskan tambatan perahu untukku!” perintah Putri Gunira kepada para lelaki nelayan yang hanya memandangi kedua anggota keluarga Ratu itu.
“Baik, Gusti Putri,” jawab salah satu nelayan lalu segera pergi melepaskan satu tali yang tertambat.
Putri Gunira lalu melompat naik ke perahu dengan gerakan lembut seperti burung terbang pendek. Kakinya pun bersih dari sentuhan air laut. Si nelayan membantu hingga mendorongkan perahu tanpa mau ikut.
Perahu itu meluncur pelan di air.
Wuss!
Namun, ketika Putri Gunira mengibaskan kedua tangannya dari depan ke belakang, perahu jadi melesat cepat seperti perahu balap yang didayung oleh tenaga beberapa lelaki. Perahu yang dinaiki mencoba mengejar perahu yang dinaiki oleh Mimi Mama, Serak Gelegar dan kedua tawanan.
Kemunculan perahu dari ujung pantai agak mengejutkan para tetua di depan pasukan. Jarak yang jauh tidak membuat mereka pangling dengan sosok Putri Gunira.
“Putri Gunira?” sebut Selir Kelima.
“Apa yang anak itu ingin lakukan?” tanya Selir Ketujuh yang pastinya tidak ada yang bisa memberi jawaban.
“Biarkan saja, dia sudah mengambil keputusan besar. Jika nasibnya bagus, maka hukum Tujuh Selir akan menantinya,” kata Selir Pertama dingin.
Sementara itu di perahu yang membawa tawanan.
“Putri Cahaya Bulan!” panggil Serak Gelegar.
“Iya, Kek?” sahut Mimi Mama yang sedang duduk tenang di haluan perahu menghadap lurus ke arah kapal hitam.
“Tengoklah ke samping,” kata Serak Gelegar.
Mimi Mama lalu menengok ke kanan, dilihatnya hanya air laut berombak tanpa ada sesuatu yang istimewa. Ia pun kemudian menengok ke kiri. Barulah ia melihat pergerakan perahu yang di atasnya berdiri anggun sosok Putri Gunira dengan rambut dan ujung-ujung pakaian berkibar bebas, memberi cetakan yang jelas pada badan depannya yang aduhai dengan perut yang rata, tidak sixpack atau sickpack.
“Eh, Putri Garis Lurus,” ucap Mimi Mama dengan menyebut gelar Putri Gunira, tetapi gelar itu telah dicabut sehingga seharusnya sudah tidak boleh disematkan kepadanya.
__ADS_1
Ternyata keterkejutan juga melanda seseorang yang ada di kapal Bajak Laut Malam. Orang itu adalah Pangeran Rebak Semilon.
“Putri Gunira kekasihku!” ucapnya terkejut ketika mengenali sosok Putri Gunira. (RH)