
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
“Kau yakin bisa memenuhi semua syarat yang diberikan oleh Hijau Kemot, Arda?” tanya Eyang Hagara.
“Pasti bisa, Eyang. Kata Resi Muda, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Apa saja bisa terjadi. Tanaman tumbuh di batu atau di air, manusia menjadi binatang atau menjadi setan, Eyang saja bisa hidup walaupun tidak punya hidung. Hahahak!” kata Arda Handara merujuk pada gurunya di Pendapa Kebajikan, yaitu Lanang Jagad yang dijuluki Resi Muda.
“Hahaha!” tawa Eyang Hagara.
Saat itu mereka sedang berjalan di bagian belakang rumah Gubernur Ilang Banyol setelah acara jamuan makan. Hari mulai sore dan mereka bermaksud beristirahat di rumah Eyang Hagara.
Karena pernah lama tinggal di kediaman Gubernur, Eyang Hagara dibangunkan sebuah rumah sendiri yang sesuai ukuran manusia normal, berbeda dengan Orang Separa yang segala sesuatunya mengikuti ukuran tubuh mereka yang cebol. Seperti kakus, kakus Orang Separa selalu berukuran sesuai bokong mereka, maka akan sulit bagi Eyang Hagaraa jika harus buang hajat di kakus Orang Separa. Sebenarnya bisa, tetapi harus dipaksakan dan berisiko rusak atau berceceran.
Sebelumnya, Gubernur Ilang Banyol telah memerintahkan pelayan untuk membersihkan rumah tinggal Eyang Hagara, karena memang rumah itu tidak ada yang menempati selagi penghuninya pergi lama.
Pada masa kepergiannya, sesekali Eyang Hagara datang ke Negeri Orang Separa, tetapi hanya untuk menonton Pertandingan Tongkat Bola yang ia hapal jadwal pertandingannya. Karena itulah Eyang Hagara tetap update dunia Pertandingan Tongkat Bola dan tahu sejumlah penerbang terbaru atau siapa yang sedang populer dan berjaya.
“Bagaimana jika ayahanda dan ibundamu tidak setuju kau menikah dengan Orang Separa?” tanya Eyang Hagara.
“Itu mudah Eyang, aku akan memaksa Ayahanda dan Ibunda datang ke sini,” jawab Arda Handara enteng.
“Lalu bagaimana dengan syarat kedua?”
“Jadi penerbang nomor jawu, Eyang?” tanya balik Arda Handara.
“Iya. Untuk jadi penerbang bukan perkara ringkas. Kau harus berlatih bertahun-tahun. Pertanyaannya, apakah kau mau tinggal di sini selama itu demi menjadi seorang penerbang? Apakah kau tidak ingin kembali ke ibundamu? Aku punya kewajiban untuk mengembalikanmu kepada ibundamu. Kau tidak boleh lama-lama hilang,” tutur Eyang Hagara.
“Karena Eyang yang membawaku ke negeri ini, Eyang yang harus bertanggung jawab,” kata Arda Handara.
“Belelele!” kejut Eyang Hagara menirukan gaya terkejut Orang Separa.
“Hahaha!” tawa Arda Handara mendengar keterkejutan Eyang Hagara. “Eyang orang sakti, jadi Eyang harus membuatku menjadi penerbang nomor jawu dalam waktu satu pekan. Aku tidak sabar ingin menghajar bokong Galang Ocot.”
“Permintaanmu terlalu sulit, Pangeran,” keluh Eyang Hagara.
“Jika Hijau Kemot gampang memberi syarat itu, pastinya gampang juga untuk mewujudkannya, Eyang,” kata Arda Handara, benar-benar seperti anak yang otaknya sudah berwawasan luas, meski itu hanya perasaan saja.
“Hahaha! Sebenarnya Hijau Kemot bermaksud menyusahkanmu,” ungkap Eyang Hagara setelah tertawa mendengar kata-kata Arda Handara.
“Bebelele!” pekik Arda Handara mencoba terkejut cara Orang Separa.
“Hahahak!” Eyang Hagara justru tertawa terbahak-bahak mendengar kelucuan cara kaget anak itu.
“Wah wah wah! Berani-beraninya Hijau Kemot sayangku itu menyusahkan aku!”
“Kau tidak boleh marah, karena kau telah berjanji menyanggupinya,” kata Eyang Hagara.
“Benar. Aku harus membuktikan bahwa aku adalah lelaki nomor jawu. Setelah itu, akan aku buat Hijau Kemot mengemis kawin kepadaku. Hahaha!” kata Arda Handara yang mulai muncul sisi watak hitamnya.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah permanen yang ketinggian atapnya lebih tinggi daripada rumah besar Gubernur Ilang Banyol. Tinggi ambang pintunya pun proporsional bagi Eyang Hagara.
“Inilah rumah Eyang selama Eyang tinggal di sini, Arda,” kata Eyang Hagara.
Dia lalu membuka pintu yang berdaun hijau gelap.
Ketika Eyang Hagara membuka pintu, harum semerbak bunga sesuatu langsung menyergap penciuman. Bahkan membuat Arda Handara menarik napas panjang sambil memejamkan mata, seolah-olah begitu menikmati kedamaian dari keharuman ruangan dalam rumah.
“Jadi ingin tidur nyenyak, Eyang,” kata Arda Handara.
“Hahaha!” tawa Eyang Hagara.
Keduanya lalu berjalan masuk tanpa ragu.
Sementara itu, di dalam rumah besar Gubernur Ilang Banyol.
Hijau Kemot berjalan tergesa-gesa menuju ke ruangan kerja ayahnya. Namun, semasuknya di ruangan itu, gadis cebol cantik tersebut hanya mendapati salah satu staf perempuan ayahnya.
“Ayah di mana, Mimot?” tanya Hijau Kemot.
“Di ruangan khususnya,” jawab wanita kerdil berbedak tebal bernama akhir Mimot.
Hijau Kemot terdiam sejenak mendengar jawaban itu. Dia sedang berpikir apakah akan menemui ayahnya di ruangan khususnya atau tidak. Selama ini, Hijau Kemot tidak pernah mengganggu ayahnya jika sedang berada di rungan khususnya.
“Tapi aku rasa Ayah harus segera tahu karena Ayah Gubernur Ibu Kota,” pikir Hijau Kemot. “Lagi pula tidak mungkin Ayahanda bermain perempuan di kamar khususnya.”
Untuk sampai ke kamar khusus ayahnya, Hijau Kemot harus melalui dua lorong yang berbeda warna. Tentukan sendiri warna apa keduanya.
Tidak berapa lama, Hijau Kemot sampai di depan pintu ruangan yang dijaga oleh seorang lelaki cebol besar dan kekar, tapi tetap saja pendek. Dia berpakaian warna biru telur asin dengan golok besar dijadikan tongkat.
“Pale Gembol, aku ingin bertemu dengan Ayah. Penting,” ujar Hijau Kemot.
Dak!
Tiba-tiba penjaga yang bernama Pale Gembol menghentakkan kepalanya ke belakang, sehingga membentur tembok.
“Tunggu sebentar, Ningna,” kata Pale Gembol dengan menyebut Hijau Kemot “Ningna”, sebutan pelayan atau prajurit kepada nona mudanya.
“Iya.”
Ternyata di belakang kepala Pale Gembol ada sebulat tombol yang terbenam di tembok.
Klek!
Terdengar suara pintu yang kuncinya dimainkan. Kejap berikutnya, pintu dibuka, tetapi tidak ada yang muncul keluar.
Ternyata pintu itu menggunakan teknologi yang sudah cukup maju. Pintu bisa dibuka tutup tanpa menyentuhnya.
“Silakan, Ningna,” kata Pale Gembol tanpa senyum. Sebenarnya dia tersenyum ramah kepada majikan mudanya, tetapi senyumnya tertutup oleh lebatnya kumis yang subur.
__ADS_1
Hijau Kemot berjalan masuk. Ia pun terpana melihat interior ruangan khusus ayahnya. Sebenarnya dia sudah pernah melihat dalam ruangan khusus ayahnya, tetapi itu hanya dari luar ketika pintu terbuka.
Ini kali pertama dia memasuki ruangan khusus itu. Harum semerbak lembut di penciuman. Ruangan itu sebenarnya tidak menerima gangguan. Namun, karena putri kesayangannya yang datang, Gubernur Ilang Banyol membukakan pintu.
Untuk melihat siapa yang datang, Gubernur Ilang Banyol cukup menempelkan satu matanya pada sebuah lensa yang tersambung jauh sampai ke sebuah kamera manual yang dipasang di atas pintu. Maka dari tempat duduknya, dia bisa melihat orang di depan ruangan. Teknologi semaju ini bukan barang umum, khusus untuk pejabat negeri.
Selain indah dengan dominasi warna merah muda, di ruangan itu juga ada sejumlah alat-alat berbau teknologi maju. Semodel jam unik pun ada tersemat di dinding. Di atas meja pendek Gubernur Ilang Banyol menumpuk kertas-kertas yang masih model tebal seperti karton dan ada tinta, kuas, juga stempel.
“Ada apa, Putriku Tercantik?” tanya Gubernur Ilang Banyol sambil tersenyum.
“Kapten Pasukan Domba Merah diserang di Jalan Berdebar sekitar satu jam lalu, Ayah. Kondisinya sekarat,” lapor Hijau Kemot.
“Belelele!” kejut Gubernur Ilang Banyol.
“Penyerangnya kemungkinan besar adalah pembunuh misterius berjubah hitam,” tambah Hijau Kemot.
Bak!
Tiba-tiba Gubernur Ilang Banyol memukul sebulat tombol hijau yang ada di mejanya. Ketika tombol itu ditekan, lonceng yang ada di dalam pos sisi kanan rumah berbunyi. Sepertinya antara lonceng dengan tombol di meja ruangan khusus Gubernur memiliki ikatan batin yang kuat.
Seorang prajurit katai yang duduk santai di ruangan pos, terkejut sampai terlompat, seolah-olah suara lonceng adalah bentakan atas sikapnya yang santai di saat jam kerja. Setelah itu, dia cepat berlari keluar dan menuju ke rumah utama.
Prajurit cebol yang berdiri di luar segera masuk menggantikan posisi rekannya yang pergi.
“Ayah, bukankah itu lukisan Pendekar Hagara?” tanya Hijau Kemot dengan kening berkerut. Ia memandangi serius satu dari beberapa lukisan yang terpajang di dinding ruangan yang cukup besar tersebut.
“Iya,” jawab Gubernur Ilang Banyol singkat.
“Apakah dia seorang penerbang juga atau sekedar lukisan saja?” tanya Hijau Kemot lagi.
Lukisan yang Hijau Kemot pandangi adalah lukisan yang menggambarkan Eyang Hagara muda dengan ciri khas hidung tengkoraknya, sedang terbang mengendarai tongkat terbang berkepala kerbau biru di udara atas sebuah kolosom yang padat penonton. Pakaian yang dikenakannya berwarna biru dengan lambang kura-kura warna hijau.
“Pendekar Hagara itu seorang legenda penerbang. Sebelum ada aturan tinggi penerbang hanya setinggi ras Orang Separa, Pendekar Hagara adalah penerbang nomor jawu. Karena aturan tinggi badan itulah, Pendekar Hagara berhenti menjadi penerbang. Tapi itu jauh sebelum kau lahir,” jelas Gubernur Ilang Banyol.
Tuuut!
Tiba-tiba terdengar suara kentut yang mengejutkan Hijau Kemot setelah ia terperangah mendengar kisah singkat tentang Pendekar Hagara.
“Ayahanda kempus?” tanya Hijau Kemot yang maksudnya kentut. Di negeri ini tidak mengenal kata “kentut”, tetapi “kempus” sebagai gantinya.
“Bukan, itu suara pemberitahuan bahwa ada yang datang,” jawab sang ayah, lalu dia mengintip pada sebuah lensa teropong.
Dengan teropong itu, Gubernur Ilang Banyol bisa melihat orang di depan ruangannya.
Ceklek!
Gubernur kembali mendorong pendek sebatang tuas logam. Dorongan itu ternyata membuka pintu dengan sendirinya. Setelah itu, prajurit katai yang tadi ada di pos segera masuk.
Di ruangan itu, meja kerja Gubernur Ilang Banyol seperti sebuah meja operator yang memiliki banyak tombol dan tuas. (RH)
__ADS_1