Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
PHT 36: Cumi Hutan Raksasa


__ADS_3

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*


 


Setelah sukses membunuh banyak Cumi Hutan dan membuat sebagiannya mundur, Prabu Dira Pratakarsa Diwana dan para istrinya, serta para pendekar pengawalnya melanjutkan perjalanan dalam mengikuti jejak Pangeran Arda Handara dan rekannya. Namun sayang, saat itu mereka tidak terpikir untuk pesta sate cumi atau membuat cumi balado.


Mereka sudah meninggalkan daerah sungai yang mengalir di dasar jurang. Meski mereka masih berada di daerah dasar jurang, tetapi lebih berhutan dengan banyaknya pepohonan berukuran raksasa. Benar-benar gulita. Mereka hanya mengandalkan puluhan obor yang dibawa oleh para pendekar Pengawal Bunga.


Sebenarnya, bagi orang sakti seperti Prabu Dira dan para istrinya, kondisi gulita bukanlah perkara yang begitu menyulitkan. Namun, berbeda bagi para pendekar pengawal.


Prabu Dira dan rombongan jelas telah memasuki Hutan Timur lebih jauh.


“Tahan!” seru Prabu Dira tiba-tiba.


Press!


Tiba-tiba Prabu Dira melepaskan seberkas sinar putih menyilaukan mata ke langit malam. Kecuali Permaisuri Sandaria, mereka semua bisa melihat suasana sekitar dengan terang benderang.


Terkejutlah mereka semua ketika melihat di antara pepohonan yang tinggi ada beberapa sosok tinggi besar seperti pohon kecil. Namun, sosok itu tidak memiliki dahan dan dedaunan. Ujung sosok yang lancip tumpul bahkan bergerak-gerak meliuk.


“Cumi Hutan raksasa!” pekik Badirat terkejut dan membuat tegang tiba-tiba.


Ya, mereka semua dapat melihat dengan jelas keberadaan lima sosok Cumi Hutan raksasa berwarna hitam, yang berdiri tegak di antara batang-batang pohon besar. Ujung belalai mereka sedikit menekuk, seolah sedang memandangi Prabu Dira dan para istri jelitanya di bawah sana.


Bluar!


Terdengar suara ledakan dahsyat di angkasa malam ketika sinar putih menyilaukan dari ilmu Surya Langit Jagad meledak tanpa lawan. Suara ledakan yang keras itu mengejutkan para hewan penghuni Hutan Timur yang memiliki telinga.


Sekelompok burung sontak berhamburan terbang dari pesta reuniannya, sejumlah monyet terdengar menjerit lantaran sawan, dan beberapa jenis hewan penghuni lama hutan itu jadi memaki sumpah serapah.


Namun kemudian, suasana kembali gelap, kecuali penerangan yang terbatas dari obor-obor para pendekar.


Karena sudah ketahuan, lima Cumi Hutan raksasa tiba-tiba bergerak dengan melompat hendak menimpakan tubuhnya kepada kelompok manusia itu.


“Cari masalah!” pekik Permaisuri Kusuma Dewi yang justru melompat menyambut salah satu Cumi Hutan raksasa yang sebesar batang pohon.


Seset seset!


Permaisuri Kusuma Dewi menyongsong Cumi Hutan raksasa itu dengan putaran tubuh laksana gangsing. Terlihat jelas ada putaran sinar biru tipis yang tercipta dan menebas tubuh Cumi Hutan raksasa beberapa kali. Makhluk besar itupun rontok ke tanah dalam beberapa bagian.

__ADS_1


Terlihat jelas keganasan ilmu Tarian Angin Dewi Pedang.


Permaisuri Kusuma Dewi kini telah menjelma menjadi pendekar pedang yang begitu hebat.


Zerzz!


Rupanya gatal juga Prabu Dira jika tidak ikut unjuk kesaktian yang kini jarang bertarung. Ia hentakkan tangan kanannya dengan kelima jari merentang. Dari kelima jari itu melesat aliran listrik sinar hijau yang menjerat dan menghentikan gerakan Cumi Hutan raksasa. Listrik hijau dari ilmu Lima Jerat Terakhir itu menggerogoti tubuh makhluk tersebut.


Sosok besar itu tidak bisa banyak bertingkah saat tubuh besarnya disetrum dengan listrik bertegangan exstra tinggi.


Ctar ctar ctar …! Bluarr!


Tiba-tiba sosok Cumi Hutan raksasa berledakan di mana-mana dari bagian tubuhnya. Pada puncaknya, Cumi Hutan itu meledak besar menjadi kornet dan tetelan.


“Awaaas!” teriak Reksa Dipa saat dua Cumi Hutan menjatuhkan tubuhnya yang sebesar pohon kepada para pendekar di dua tempat.


“Hiaaat!” pekik para pendekar sembari berlompatan menghindari timpaan, lalu balas menyerang dengan berbagai senjata yang mereka miliki.


Bak bik buk …!


“Ak! Hugk! Akk …!”


Demikian pula dengan Cumi Raksasa satunya. Dia disambut dengan sejumlah sinar kesaktian.


Ctar ctar ctar!


Beberapa ledakan tenaga sakti menghantam tubuh Cumi Raksasa yang datang, tetapi itu tidak mencegah si makhluk besar menimpa ke arah para pendekar yang sontak berlesatan menghindar. Beberapa pendekar harus terpental karena tersenggol.


“Aaakk!” teriak pendekar wanita berpakaian seksi yang sedang duduk mengangkang dan kedua tangan menahan tubuh Cumi Hutan besar yang menimpanya. Posisi itu membuat wanita bernama Gemara tersebut terlihat semakin seksi.


Dua roknya yang memiliki belahan tinggi di kanan kiri membuat kedua pahanya terobral sembilan puluh persen. Kedua tangannya yang mengangkat membuat dadanya terbusung lapar tanpa berdaya. Beruntung kondisi saat itu gelap, jadi tidak begitu terobral murah.


“Tanpa Sanding, bantu aku!” teriak Gemara yang seperti Wonder Women menahan tubuh raksasa.


“Aku datang, Sayangku!” teriak Tangpa Sanding lalu melesat cepat di udara.


Bubuk bubuk …!


Dengan kedua tinju yang bersinar hijau gelap, Tangpa Sanding mengagresikan puluhan tinju otomatis ke tubuh Cumi Hutan yang menimpa Gemara. Ia meninju seperti Mike Tyson kesurupan.

__ADS_1


Tubuh Cumi Hutan terguncang-guncang seperti naik odong-odong di jalan rusak.


“Tinju Tusukan Malam Pertamaaa!” teriak Tangpa Sanding histeris melancarkan tinju penutupnya.


Bukg! Bsrak!


Tinju terakhirnya itu berubah warna sinar menjadi merah berpijar dan menghantam dahsyat tubuh Cumi Hutan.


Tingginya kekuatan Tinju Tusukan Malam Pertama Tangpa Sanding membuat badan Cumi Hutan terlempar pendek ke samping, tapi lepas dari menindih Gemara.


“Oooh, Tangpa Sanding! Kau memang lelaki perkasa!” pekik Gemara girang sambil menghamburkan diri memeluk pemuda yang sudah beristri itu.


“Sebenarnya aku lebih suka melihatmu seperti tadi, begitu menggairahkan,” bisik Tangpa Sanding.


“Eeeh, sembarangan!” kata Sumi, pendekar wanita bertubuh pendek bersenjatakan gendang kayu. Ia menarik baju Gemara agar lepas dari memeluk Tanpa Sanding. “Kakang Tangpa Sanding itu suamiku, beraninya kau memeluknya di depan mataku. Kau mau aku buat menari?”


“Hihihi! Maafkan aku, Sumi. Aku terlalu gembira sampai lupa kalau Kakang Tangpa Sanding sudah menjadi suamimu,” kilah Gemara sambil tertawa malu.


“Awaaas!” teriak Tangkil Ilir kepada ketiga pendekar itu.


Bdak!


Terlambat bagi Tangpa Sanding, Sumi dan Gemara. Tubuh mereka terlebih dulu terlempar jauh saat ujung belalai Cumi Hutan menghantam tubuh mereka bertiga sekaligus. Ketiganya pun jatuh keras bergulingan di antara akar-akar pohon.


Para pendekar Pengawal Bunga mengandalkan senjata dan kesaktiannya masing-masing mengeroyok dua Cumi Hutan raksasa.


Sementara satu ekor Cumi Hutan raksasa lainnya diurus oleh Permaisuri Yuo Kai.


Baam!


Seet! Bset bset!


Permaisuri bermata sipit itu lebih dulu menghentakkan lengan kanannya yang melepasakan tenaga dahsyat menahan jatuh tubuh Cumi Hutan. Setelah itu ia melesatkan benang-benang suteranya yang panjang dan tidak terlihat, terlebih suasana gelap seperti itu.


Ketika benang-benang itu sudah dipastikan melilit tubuh besar si Cumi Hutan, Permaisuri Yuo Kai tinggal menarik hentak jari-jarinya. Maka Cumi Hutan terpotong-potong serentak menjadi beberapa bagian yang lebih kecil. Nasibnya sama seperti korban Tarian Angin Dewi Pedang.


Sementara dua Cumi Hutan raksasa yang tersisa harus babak belur dikeroyok secara massal oleh para pendekar Pengawal Bunga, seperti maling motor yang tertangkap warga. Keduanya harus rela tidak pulang karena tumbang menjadi bulan-bulanan.


Namun, kedua Cumi Hutan itu masih lebih beruntung karena mereka bisa membuat beberapa pendekar terluka terkena hantaman. (RH)

__ADS_1


__ADS_2