Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 28: Menunggu Permaisuri


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Setya Gogol dan Lentera Pyar yang memimpin pasukan Negeri Pulau Kabut bisa masuk ke dalam bangunan utama Istana Kabut Kuning. Mereka bertemu dengan para prajurit jaga yang berseragam kuning, yang kemudian bergabung, sehingga jumlah pasukan kian bertambah.


Namun, ketika pasukan itu mendekati Istana Raja yang ada di dalam Istana, ternyata ada pasukan jaga berseragam biru yang merupakan pasukan Istana dari Kerajaan Puncak Samudera. Namun, jumlah mereka kalah banyak.


Menang jumlah membuat pasukan Negeri Pulau Kabut kian beringas menyerang pasukan berseragam biru yang hanya dipimpin oleh perwira biasa.


Setya Gogol yang berduet dengan Lentera Pyar bisa mengurus perwira musuh.


Untuk sampai ke Istana Raja, pasukan itu harus melewati dan menaiki dua lantai. Namun, ketika pasukan menuju gerbang Istana Raja yang tidak begitu besar, semua prajurit yang berlari di depan tiba-tiba terpental jatuh seperti orang yang menabrak tembok tidak kasat mata.


Setya Gogol dan Lentera Pyar yang juga berlari di depan memimpin pasukan, juga menabrak dinding gaib itu. Tabrakan itu hanya memberi rasa sakit yang wajar.


“Ada benteng gaib lagi,” kata Setya Gogol menyimpulkan. “Kita harus menunggu Eyang Hagara dan Pangeran Bewe Sereng.”


Maka, Setya Gogol dan pasukan harus menunggu. Dari dalam Istana Raja yang sudah tanpa penjaga tidak ada yang keluar.


Tidak berapa lama, datanglah rombongan Eyang Hagara dan Menteri Kete Weleng.


Setibanya di lantai tiga dari istana itu, Eyang Hagara mendapati Setya Gogol dan pasukan dalam masa menunggu.


Bluar!


Eyang Hagara yang mencoba menghancurkan benteng gaib itu, harus terpental dan jatuh terjengkang.


“Minggir, minggir! Hahaha!” teriak Arda Handara jumawa sambil memasang peluru di ketapel saktinya.


Sets! Bluar!


Sinar putih kecil menyilaukan melesat dan meledak hebat di tengah jalan karena menabrak dinding gaib, sampai-sampai istana besar itu terguncang sejenak. Ternyata, kali ini kekuatan Ki Ageng Naga tidak bisa menjebol dinding gaib tersebut.


“Hah! Kok tidak bisa?” kejut Arda Handara melihat hasilnya.


Sets! Bluar!


Arda Handara mencoba kembali menembakkan peluru yang sama. Hasilnya ledakan hebat yang sama. Sinar putih itu tetap meledak di tengah jalan, tidak tembus menuju ke Istana Raja yang dihuni oleh Pangeran Tololo Coi.


Sementara itu di dalam Istana Raja, Pangeran Tololo Coi sedang duduk di kursi mewah yang berdampingan dengan meja. Di atas meja ada sekeranjang buah anggur yang tidak diangguri. Untuk menghibur perasaannya yang sedang dilanda gelisah, pemuda berdagu panjang itu makan anggur tanpa henti, tanpa khawatir nantinya dia akan mencret.


Di depannya berdiri seorang lelaki tua bergaya anak muda. Rambut putih pendeknya disisir rapi ke belakang. bibir dan dagunya bersih dari rambut, sepertinya dia memakai silet cukur yang mahal dan sekali pakai saja. Di lehernya ada rantai emas besar melingkar seperti penyanyi rap Barat. Baju birunya ketat tanpa lengan, seolah masih mau menonjolkan otot tuanya yang masih eksis. Uniknya, dia bercelana pendek ketat, tapi masih untung bahannya tebal berbulu, jadi tidak menjiplak miliknya yang pastinya sudah tua. Pada keempat jari tangan kanannya ada cincin akik berbagai jenis batu.

__ADS_1


Si kakek yang berusia separuh baya lebih seperempat abad itu bernama Tengkorak Ahoi, rekan Gambut Cone, sesama pengawal sakti Pangeran Tololo Coi.


“Musuh sudah berkumpul di depan Istana, Pangeran,” kata Tengkorak Ahoi.


“Aku yakin, mereka sedang menunggu pemimpinnya. Kita tunggu sampai matahari terbit. Jika tidak ada yang datang lagi, kita habisi mereka semua,” kata Pangeran Tololo Coi dengan mulut penuh kunyahan anggur.


“Apakah Pangeran mau aku bawakan wanita untuk memanaskan keperkasaan? Masih ada waktu hingga pagi datang,” tawar Tengkorak Ahoi.


“Tidak usah. Sudah cukup tiga wanita tadi malam. Lebih baik kau bawa ke mari keluarga Istana yang tersisa lewat jalan rahasia!” perintah Tololo Coi.


“Baik, Pangeran,” ucap Tengkorak Ahoi patuh.


Lelaki tua lalu berbalik pergi. Tinggallah Pangeran Tololo Coi termenung seorang diri sambil mulutnya terus mengunyah, sampai-sampai kunyahannya begitu halus baru dia telan.


Akhirnya, dari pada bete, Pangeran yang sudah tidak memiliki prajurit jaga itu memutuskan pergi keluar dari Istana dan menemui para pembencinya.


Namun, baru saja dia muncul, dia sudah dibuat sakit hati.


“Itu Pangeran Tolol keparat!” teriak salah seorang prajurit yang pertama kali melihat kemunculan penguasa tertinggi di negeri itu saat ini.


“Pangeran Tolol keparat!” teriak beberapa prajurit di saat Eyang Hagara dan pendekar lainnya juga mengalihkan pandangannya ke arah Tololo Coi.


“Panaaah!” teriak seorang pemimpin pasukan panah, padahal belum ada perintah.


Demikianlah, karena terlalu lamanya mereka memendam amarah dan dendam kepada orang-orang Negeri Karang Hijau, mereka sampai lupa bahwa saat itu Istana Raja dibentengi benteng gaib.


Puluhan panah yang dilepas pun berguguran ketika terhalang oleh dinding gaib.


Tololo Coi yang awalnya marah, menjadi terhibur dengan ketidakmampuan para prajurit itu.


“Hahahak!” Dia tertawa.


Sets! Bluar!


Menteri Kete Weleng pun tidak bisa menahan amarahnya. Dia melepaskan panah sinar merah berapi-api hijau. Panah sinar itu awalnya berputar-putar lalu akhirnya melesat menghantam dinding gaib.


Ledakan keras terjadi, tapi tidak sehebat ledakan peluru Ki Ageng Naga. Itu artinya benteng gaib pun tidak apa-apa.


“Hahahak …!” Tololo Coi tambah tertawa, seolah-olah meledek.


“Keluar kau dari bentengmu, Tololo Pengecut!” seru Kete Weleng. Dia sudah menempatkan mayat Pangeran Bewe Sereng di tempat yang aman.


“Hahaha! Menteri Kete Weleng, cepat sekali kau berbalik hati,” sindir Tololo Coi. Lalu serunya lagi, “Menghancurkan bentengku saja kalian tidak sanggup, bagaimana bisa kalian menang melawanku?”

__ADS_1


“Lalu kau hanya tertawa di balik bentengmu?” tanya Kete Weleng.


“Membunuh kalian adalah perkara mudah ….”


“Lalu kenapa tidak kau lakukan, Anak Muda Mulut Besar,” kata Eyang Hagara datar.


“Pasti kau yang paling sakti di antara mereka, Orang Tua,” kata Tololo Coi. “Tapi aku tidak akan keluar sebelum pemimpin tertinggi kalian datang.”


“Jika pemimpin kami datang, kau akan menyesal karena tidak akan sempat lagi untuk membunuh kami,” kata Eyang Hagara.


“Hahaha! Jangan membual kau, Orang Tua. Kalau orang sudah tua itu, jangan suka membual, nanti matinya lucu. Hahahak!” ledek Tololo Coi.


“Hehehe!” Eyang Hagara justru hanya terkekeh.


“Putri Mahkota datang! Putri Mahkota datang!” teriak prajurit dari lantai bawah tiba-tiba.


Seketika cerialah para prajurit Negeri Pulau Kabut. Mereka bahkan pergi ke tangga untuk melongok ke bawah, ingin melihat kedatangan Putri Mahkota.


“Waaah!”


Tidak peduli bahwa mereka semua belum gosok gigi, hampir semuanya mendesah terperangah saat yang pertama mereka lihat adalah sosok wanita cantik jelita yang diliputi oleh kharisma tinggi, yaitu Permaisuri Dewi Ara.


Sang Permaisuri datang bersama Putri Mahkota, Mimi Mama, Komandan Bengisan dan Tabib Loang. Bong Bong Dut memilih bertahan di pelabuhan, membatu Tabib Zoang mengobati Tangan Kanan Seser Kaseser.


“Ibundaaa!” panggil Arda Handara dari atas.


Panggilan itu membuat Dewi Ara memandang kepada putranya.


“Aku telah membunuh lawan yang lebih sakti dari Paman Bewe Sereng!” teriak Arda Handara.


“Sembah hormat kepada, Gusti Permaisuri!” seru Setya Gogol.


Sebagian besar pasukan terkejut mendengar sebutan itu. Namun, mereka segera ikut menghormat. Kharisma yang tinggi pada diri Dewi Ara membuat para prajurit yang belum berkenalan dengan sang permaisuri sangat percaya bahwa itu memang seorang permaisuri.


“Sembah hormat kepada Putri Mahkota!” seru Kete Weleng pula.


“Sembah hormat kepada Putri Mahkota!” seru para prajurit itu juga.


Dewi Ara lebih dulu naik mengudara lalu mendarat lembut di lantai tiga, di depan Istana Raja. Ia meninggalkan Putri Mahkota di belakang.


“Cantiknya gila. Tubuhnya pasti sangat legit,” ucap Tololo Coi lirih dan ternganga, ketika pertama melihat sosok dan parah Dewi Ara.


Eyang Hagara dan Arda Handara segera menghampiri Dewi Ara. (RH)

__ADS_1


__ADS_2