Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Pas Buyar 8: Tiba di Bandakawen


__ADS_3

*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*


 


Untuk beberapa hari perjalanan rombongan Permaisuri Dewi Ara tanpa gangguan dari para pemburu Ratu Wilasin. Gangguan terakhir adalah di pinggir telaga oleh Telapak Petir.


Sejauh ini, Ratu Wilasin menikmati perjalanannya. Sifat kekanakannya sangat cocok dengan karakter Pangeran Arda Handara. Sejauh ini mereka berdua sudah seperti dua sahabat kental jika tidak mau disebut seperti ibu dan anak.


Anik Remas sudah sehat total dari lukanya. Kemajuan kondisi juga dialami oleh Pangeran Bewe Sereng. Ia sudah bisa bergerak cukup bebas dan pada waktu-waktu tertentu dia melakukan meditasi untuk melakukan pengobatan mandiri. Hal itu menunjukkan bahwa lelaki berkumis biru itu sudah bisa mengolah ilmu kesaktiannya.


Akhirnya mereka tiba di Kota Bandakawen di pinggir laut.


Kota Bandakawen adalah kota komersil sebagai pendulang pundi-pundi kepeng. Uniknya, kota ekonomi ini bukan kota milik kerajaan manapun. Meski demikian, tidak ada kerajaan sekitar yang berani menyerbu untuk menguasai kota bandar tersebut, sebab keamanan mereka dijamin oleh Kerajaan Srigaya, satu kerajaan kecil tapi memiliki kekuatan balatentara yang besar, bahkan jumlah tentaranya lebih banyak dari jumlah rakyatnya.


Kota Bandakawen begitu ramai dan padat untuk ukuran kota pada masa itu. Infrastrukturnya pun tergolong lebih moderen dibandingkan kota-kota di Tanah Jawi. Mungkin bisa bersaing dengan kemoderenan Ibu Kota Sanggara. Jalanan daratnya saja bukan lagi tanah, tapi berlapis lempengan batu-batu alam.


Selain menjadi pelabuhan moderen yang menjadi terminal bongkar muat bagi jalur perdagangan ekspor impor berbagai kerajaan, kota itu juga menjadi pasar besar, pusat kuliner, hiburan, hingga pusat pelacuran. Di sini banyak orang-orang asing yang singgah sementara, di mana mereka membutuhkan makan enak, tempat istirahat nyaman dan hiburan yang bisa membuat tertawa.


Seperempat dari Kota Bandakawen terdiri dari lantai kayu yang di bawahnya air laut. Bahan kayunya tebal dan jenis terbaik yang tahan api, maksudnya tidak mudah terbakar. Lantai luas yang merupakan bagian dari pelabuhan kota itu, ditopang oleh ribuan tiang-tiang kayu besar.


Untuk mencegah kota itu diamuk ombak besar dan badai, di laut telah dibangun tanggul besar sebagai benteng ketika cuaca alam sedang ekstrem.


Kota Bandakawen memiliki dua gerbang pemeriksaan, baik memeriksa barang angkutan maupun memeriksa orang yang keluar masuk via darat. Orang yang keluar masuk via laut pun tidak luput dari pemeriksaan. Sebagai kota pelabuhan internasional, Kota Bandakawen sudah memiliki sistem administrasi yang rapi.


Rombongan Dewi Ara pun tidak luput dari pemeriksaan identitas diri. Tentunya mereka tidak akan mengaku sebagai ratu, permaisuri atau pangeran. Pemeriksaan identitas diri sebenarnya adalah formalitas administrasi saja, karena banyak orang yang keluar masuk dengan menggunakan identitas palsu. Berbeda untuk barang dagangan, itu harus ketat.


Setelah melewati pos pemeriksaan, maka mereka pun bisa menikmati kemewahan dan keramaian kota pelabuhan besar tersebut.

__ADS_1


“Lihat, orang apa itu!” teriak Arda Handara sambil menunjuk.


Ning nong ning nong gong!


Ning nong ning nong gong!


“Naik kuda cinta! Naik kuda cinta!”


Rombongan Dewi Ara terpaksa berhenti ketika mereka melihat keramaian yang akan melintas memotong jalan mereka.


Sejumlah pembawa alat musik gamelan berjalan sambil bermain. Di belakang ada sepasang lelaki dan wanita berpakaian pengantin. Mereka diusung sejumlah lelaki menggunakan tandu kayu berwujud angsa putih dan angsa biru, mirip pengantin sunat.


Ada puluhan orang yang ikut dalam rombongan pengantin. Mereka dengan senang berteriak “Naik kuda cinta”. Maksudnya, sebentar lagi pengantin lelaki akan naik kuda dalam ranjang pertamanya. Tujuan rombongan adalah penginapan termahal dan termegah di kota tersebut. Kedua mempelai tidak perlu khawatir soal biaya sewa, semua sudah ditanggung oleh syahbandar.


“Waaah ramainya! Hihihi!” sorak Ratu Wilasin girang.


“Apakah aku dan Bagang Kala akan diarak seperti itu jika kami menikah di sini?” tanya Anik Remas kepada Bewe Sereng dengan wajah sumringah.


“Pernikahan kita akan menarik, Bagang. Hihihi!” kata Anik Remas girang sambil tertawa dan memeluk manja lengan Bagang Kala yang duduk di sisinya.


Bagang Kala hanya tersenyum tanda sepakat.


“Kalian pergilah mendaftar untuk menikah. Kami akan menunggu di penginapan hingga kalian melalui ranjang pertama. Agar kami tidak perlu membayar biaya makan dan inap kalian!” perintah Dewi Ara.


“Baik, Dewi,” jawab Anik Remas patuh, tanpa mengambil hati kalimat terakhir sang permaisuri.


“Pakailah kuda Gejrot dan Setya Gogol,” kata Dewi Ara.

__ADS_1


“Baik, Dewi,” ucap Anik Remas.


Bagang Kala segera bertukar posisi dengan Setya Gogol dan Anik Remas menggunakan kuda Bong Bong Dut. Bagang Kala dan Anik Remas pergi bersama untuk mencari tempat pendaftaran nikah. Sementara Dewi Ara dan rombongan segera pergi menuju ke penginapan. Mereka jadi ikut di belakang rombongan pengantin yang sama-sama menuju ke penginapan yang terbaik.


Dalam perjalanannya di dalam kota pelabuhan yang berhawa sejuk oleh angin laut, Dewi Ara dan rombongan melihat keberadaan sejumlah pendekar, orang kaya, bangsawan, petugas keamanan, hingga para tukang panggul serta penarik dan pendorong gerobak.


Ketika melewati pusat perbelanjaan Kota Bandakawen, mereka dimanjakan oleh pemandangan berbagai macam jenis dagangan, dari penawaran jasa pijat, lapak-lapak kuliner, hingga berbagai macam asesoris produk industri rumah tangga.


Sementara itu, setelah bertanya kepada warga kota, Bagang Kala dan Anik Remas menemukan lokasi pendaftaran nikah.


Singkat cerita, setelah mengutarakan maksud kepada petugas, setelah mendapat penjelasan dan akhirnya mendaftar, Bagang Kala dan Anik Remas segera pergi ke penginapan untuk melapor kepada Dewi Ara.


“Karena banyaknya daftar tunggu, jadi pernikahan kami akan dilaksanakan dua hari lagi menjelang tengah hari. Setelah kami mendaftar, semua biaya makan dan penginapan ditanggung oleh Syahbandar,” ujar Anik Remas saat melapor kepada Dewi Ara di balkon penginapan yang menghadap ke arah lautan lepas.


Dari balkon lantai tiga, pelanggan penginapan bisa dengan leluasa melihat aktivitas di dermaga pelabuhan. Banyak kapal-kapal yang merapat atau buang jangkar di perairan dangkal. Banyak pula perahu-perahu kecil. Aktivitas bongkar muat barang atau sebaliknya, seolah tidak pernah berhenti di dermaga.


“Apakah kalian berdua ingin tetap ikut atau tidak? Jika tidak, kami tidak perlu menunggu kalian berdua menikah,” tanya Dewi Ara.


“Kami tetap ingin ikut,” jawab Anik Remas, padahal sebelumnya dia keberatan mengikuti Dewi Ara.


“Aku ingatkan, sebentar lagi para pembunuh bayaran mungkin akan sampai di sini,” kata Dewi Ara.


“Kami akan mengabdi kepada Dewi dan menghadapi para pembunuh bayaran itu bersama,” tandas Anik Remas.


“Baiklah. Aku akan menunggu kalian sambil menunggu kapal yang menuju ke Pulau Gunung Dua,” kata Dewi Ara.


“Terima kasih, Dewi,” ucap Bagang Kala dan Anik Remas bersamaan.

__ADS_1


Sekedar informasi, untuk sampai ke Pulau Kabut, tidak ada kapal dari Bandakawen langsung ke sana. Mereka harus naik kapal ke Pulau Gunung Dua lalu ganti kapal menuju ke Pulau Kabut.


Di sisi lain, Ratu Wilasin bersama Arda Handara dan Bong Bong Dut pergi bermain ke pelabuhan seperti turis domestik. Keberadaan mereka masih berada dalam pantauan Dewi Ara, khususnya sang putra. Dewi Ara selalu memantau keberadaan putranya dengan kesaktiannya. Ia akan tahu jika seandainya Arda Handara hilang dari pantauan radarnya. (RH)


__ADS_2