
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
“Berita penting! Berita penting dari medan perang!” teriak seorang prajurit yang berseragam perang lengkap kepada para penjaga Istana di gerbang masuk menuju Istana Keprabuan, tempat Prabu Banggarin tinggal di dalam lingkungan keputren.
Para prajurit yang berjaga di tengah malam itu segera membuka jalan dan minggir menepi. Mereka tidak perlu menghentikan pengendara itu karena si prajurit berkuda menunjukkan tanda bahwa dirinya adalah prajurit pembawa pesan.
Setibanya di depan Istana Keprabuan, si prajurit berkuda cepat berteriak kepada para prajurit Pengawal Prabu.
“Berita penting dari medan perang untuk Gusti Prabu!” teriak si prajurit kepada para penjaga agar ia dikenali.
Seorang prajurit segera maju untuk memegangi tali pada kepala kuda. Prajurit pembawa pesan segera turun dan pergi berlutut di depan pintu besar bangunan istana kecil itu.
“Lapor, Gusti Prabu! Berita penting dari medan peraaang!” teriak si prajurit agar suaranya sampai ke pendengaran Prabu Banggarin yang sedang tidur.
Memang, Prabu Banggarin yang belum lama tertidur, langsung terbangun mendengar teriakan laporan pertama, seolah-olah menunjukkan bahwa ia tidak tidur nyenyak.
Prabu Banggarin segera bangun tanpa menunggu sukmanya berkumpul satu. Ia langsung menyambar jubah kebesarannya yang berwarna hitam tanpa kancing.
Prajurit di depan kamar menjura hormat ketika sang prabu berjalan tergesa-gesa keluar dari kamar.
Prabu Banggarin langsung menuju ke pintu depan. Dengan dikawal oleh dua prajurit, sang prabu keluar ke teras yang luas usai dibukakan pintu.
“Ada apa, Prajurit?” tanya Prabu Banggarin yang tegang karena terbawa oleh suasana genting yang dibawa oleh si prajurit.
“Lapor, Gusti Prabu. Pasukan yang dipimpin oleh Gusti Mahapatih Duri Manggala kalah telak oleh pasukan Kerajaan Sanggana Kecil!” lapor prajurit tersebut.
“Kurang ajar!” maki Prabu Banggarin gusar.
Dari arah samping teras Istana Keprabuan muncul Komandan Bengal Banok bersama sejumlah prajurit Pasukan Pengawal Prabu.
“Ada apa, Gusti Prabu?” tanya Bengal Banok yang tidak sempat mendengar laporan dari prajurit perang itu.
“Pasukan Mahapatih kalah telak melawan pasukan Sanggana Kecil,” jawab Prabu Banggarin dengan nada kesal.
“Secepat itu?” ucap Bengal Banok terkejut. Ia seakan tidak percaya, karena kabar kekalahan itu datang hanya beberapa hari setelah pasukan yang dipimpin Mahapatih Duri Manggala berangkat meninggalkan Ibu Kota.
__ADS_1
“Lalu bagaimana nasib pasukan kita? Apakah mereka dibunuh semua?” tanya Prabu Banggarin kepada prajurit pelapor.
“Menyerah semua, Gusti Prabu,” jawab si prajurit.
“Lalu bagaimana dengan Mahapatih?” tanya Prabu Banggarin lagi.
“Hamba tidak mengetahui nasib Gusti Mahapatih, Gusti Prabu,” jawab si prajurit.
“Pasukan Sanggana Kecil pasti sedang menuju ke Ibu Kota, Gusti Prabu,” kata Bengal Banok.
“Prajurit, panggil Panglima Dendeng Boyo dan Panglima Tarikurat menghadap!” perintah Prabu Banggarin.
“Baik, Gusti Prabu!” sahut prajurit yang biasa bertugas melakukan panggilan.
Di saat terjadi ketegangan di dalam Istana karena kabar buruk yang datang, ada dua ekor penunggang kuda yang memasuki ibu kota Jayamata.
Ketika kedua penunggang kuda itu melewati jalan yang berpenerang obor, terlihat bahwa ternyata mereka mengenakan seragam prajurit Kerajaan Baturaharja.
Pada satu pertigaan jalanan Ibu Kota, kedua penunggang kuda itu berpisah arah. Satu penunggang tetap berlari lurus bersama kudanya menuju gerbang benteng Istana. Sementara yang satu lagi ke arah lain. Entah mau ke mana dia, tapi pastinya dia tidak menuju ke kamar kecil.
Karena belum jelas hendak pergi ke mana kuda yang berbelok, jadi harus diikuti ke mana dia akan berhenti.
Dia berhenti di depan sebuah pagar kayu rumah kayu. Meski sederhana, tetapi pintu pagar kayu itu dijaga oleh empat orang prajurit. Ada sejumlah obor yang menyala.
“Ada pesan dari medan perang untuk Gusti Penasihat!” ujar prajurit berkuda itu.
“Tapi siapa yang mengutusmu?” tanya salah satu prajurit jaga.
“Gusti Mahapatih Duri Manggala,” jawab prajurit tamu tersebut.
“Tunggu sebentar!”
Seorang prajurit lalu segera pergi ke dalam menuju pintu rumah.
Tidak berapa lama, terlihat pintu rumah terbuka dan berdirilah sesosok tua di ambang pintu. Ternyata orang itu adalah Penasihat Kerajaan, yakni Ranggasewa. Maka terjawab sudah ke mana tujuan sebenarnya prajurit berkuda itu.
“Prajurit, masuklah!” teriak prajurit yang masuk kepada prajurit tamu.
__ADS_1
Prajurit utusan segera berlari masuk dan berlutut menjura hormat di depan Ranggasewa yang tampil hanya berselendang untuk menutupi badannya.
“Pesa napa yang kau bawa dari Gusti Mahapatih?” tanya Ranggasewa.
“Pasukan Baturaharja sudah menyerah. Pasukan Kerajaan Sanggana Kecil sedang bergerak menuju ke Ibu Kota. Mungkin akan sampai besok pagi, Gusti,” lapor prajurit itu. “Gusti Penasihat diminta oleh Gusti Mahapatih agar membujuk Gusti Prabu untuk menyerah dan mau ditangkap oleh pasukan Sanggana Kecil. Jika sampai Gusti Prabu melakukan perlawanan menggunakan pasukan Istana dan Ibu Kota, akan jatuh korban.”
“Hmmm …,” gumam Ranggasewa sambil manggut-manggut, seiring otaknya berpikir mencoba membaca kondisi yang terjadi saat itu. Kemudian tanyanya, “Lalu bagaimana dengan Gusti Mahapatih?”
“Menyerah kepada pasukan Sanggana Kecil,” jawab prajurit pelapor itu.
“Kenapa kau tidak langsung melapor kepada Gusti Prabu, tapi justru datang kepadaku?” tanya Ranggasewa.
“Sebelumnya sudah diutus prajurit yang melaporkan tentang kekalahan telak pasukan Baturaharja dari pasukan Sanggana Kecil. Utusan kedua juga sedang menuju ke Istana,” jelas prajurit pelapor.
“Baiklah, kau boleh pergi. Aku akan melaksanakan apa yang diinginkan oleh Mahapatih,” kata Ranggasewa.
Sementara itu di Istana.
Prajurit utusan berkuda telah tiba di hadapan Prabu Banggarin, kali ini Prabu Banggarin berada di pendapa. Ia dikawal lengkap oleh Pasukan Pengawal Prabu pimpinan Komandan Bengal Banok.
“Lapor, Gusti Prabu. Pasukan Sanggana Kecil dalam jumlah besar sedang bergerak malam menuju ke Ibu Kota!” lapor prajurit utusan yang merupakan rekan prajurit yang melapor ke kediaman Penasihat Ranggasewa.
“Berapa kekuatan mereka?” tanya Prabu Banggarin.
“Mohon ampun, Gusti. Hamba tidak bisa memperkirakan jumlah pasukan mereka. Mereka bergerak dengan pola yang tidak biasa, yaitu memanjang jauh sampai ujungnya tidak terlihat di belakang,” kata prajurit utusan.
“Jika laporanmu hanya memberi tahu bahwa pasukan Sanggana Kecil sedang menuju ke mari, kami semua sudah tahu itu!” bentak Prabu Banggarin marah.
“Panglima Dendeng Boyo dan Panglima Tarikurat tibaaa!” teriak prajurit penjaga pintu pendapa.
Dua orang perwira militer yang sudah mengenakan pakaian perang melangkah cepat memasuki pendapa.
Jika Panglima Dendeng Boyo adalah Kepala Keamanan Istana, maka Panglima Tarikurat adalah Kepala Keamanan Ibu Kota.
“Hormat sembah kami, Gusti Prabu!” ucap kedua lelaki gagah perkasa itu bersama, sambil turun berlutut.
“Aku perintahkan kalian berdua untuk menggerakkan semua pasukan kalian tanpa terkecuali. Pasang pasukan berlapis di perbatasan Ibu Kota dan juga penuhi benteng Istana dengan pasukan panah. Pasukan Sanggana Kecil sedang bergerak menuju Ibu Kota. Jangan biarkan ada seorang pun prajurit Sanggana Kecil yang masuk ke dalam Ibu Kota, apalagi masuk ke Istana!” perintah Prabu Banggarin.
__ADS_1
“Baik, Gusti Prabu,” ucap kedua perwira militer tersebut.
Mereka berdua kemudian kembali menjura hormat untuk berpamitan. (RH)