
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Malam itu, suasana di Perguruan Cambuk Neraka sudah tenang setelah terjadi hari yang begitu keras, yang menyebabkan semua ketua terluka dan banyak murid yang tewas dan terluka.
Mayat-mayat yang bergelimpangan di perkampungan Perguruan Cambuk Neraka sudah ditertibkan, jika tidak, mereka akan terus melakukan aksi tidur tanpa batas waktu. Mereka yang terluka segera mendapat penanganan dari tabib. Sampai-sampai pihak perguruan pergi memanggil tabib yang ada di desa tetangga terdekat.
Murid-murid perguruan yang aman dari luka harus menjadi perawat dadakan, termasuk Arda Handara yang bergaya menjadi tabib untuk mengobati Pangeran Bewe Sereng. Lelaki berkumis biru itu mendapat keisengan dari Arda Handara yang meletakkan sejumlah ulat bulu pada badannya. Itu Arda Handara lakukan karena kata tabib, kesadaran Bewe Sereng perlu dipancing agar aktif.
Melihat efek gatal yang diberikan oleh beberapa ulat bulunya gagal, Arda Handara akhirnya memutuskan untuk menembak tubuh Bewe Sereng dengan peluru ulat bulu.
“Apa yang akan kau lakukan, Gusti Pangeran?” tanya sang tabib yang menangani Bewe Sereng, saat melihat Arda Handara sudah mengarahkan bidikannya.
“Membuatnya bangun, Ki,” jawab Arda Handara.
“Tapi, bagaimana jika ….”
Set! Puk!
“Ekrr!”
Uyut-uyut yang menjadi peluru sudah melesat, membuat si tabib tidak bisa menyempurnakan kalimatnya.
Ketika ulat bulu jingga itu mendarat di leher Bewe Sereng, tiba-tiba tubuh Bewe Sereng kelojotan halus karena lehernya tersengat listrik yang tidakl tampak, sampai keluar erangan dari mulutnya.
“Hahaha! Paman Bewe Sereng bergerak banyak, Ki!” sorak Arda Handara.
“Iya iya iya,” ucap si tabib yang jadi sumringah.
__ADS_1
Memang, setruman dari ulat bulu yang disugesti oleh Arda Handara, membuat Bewe Sereng tersadar lemah. Setelah setruman itu, ia memang ada kesadaran, meski sedikit. Kondisi itu sangat membantu untuk membawa Bewe Sereng meninggalkan masa kritis.
Sementara itu di kamar pribadi untuk Ketua Empat, Anik Remas sudah menjalani pengobatan sementara. Kini dia hanya berdua dengan Bagang Kala karena Gelisa sedang pergi meracik obat resep sang tabib.
Anik Remas dalam kondisi berbaring yang menantang mata lelaki, tapi beruntung Bagang Kala masih separuh lugu, jadi otaknya tidak sampai traveling terlalu jauh hingga ke luar negeri.
Tinggi ranjang yang rendah membuat Bagang Kala berlutut di lantai, merapat pada sisi ranjang, sehingga posisi wajah pemuda tampan itu begitu dekat dengan wajah cantik Anik Remas yang sudah dibersihkan.
“Bagang Kala,” sebut Anik Remas sambil memegang lembut tangan kanan pemuda itu.
“Iya, Ketua,” sahut Bagang Kala lembut pula, tapi dengan aneka ragam pertanyaan di kepalanya karena disikapi seperti itu. Hingga saat itu, dia belum mengerti maksud dari wanita dewasa tersebut.
“Aku sudah lama menjanda, hidup tanpa pendamping asmara. Selalu ditatap mesum oleh para lelaki, membuatku merasa tidak nyaman. Namun, sejak kau ada di sisiku, aku merasa nyaman dan tenang. Aku juga merasa bahagia. Aku menyimpulkan, sebenarnya kita cocok hidup bersama dan saling memiliki,” ujar Anik Remas lembut, tapi dengan tatapan yang tajam kepada Bagang Kala.
Di tatap seperti itu, diberi kalimat yang mengandung unsur ******* tapi tidak genit, membuat pikiran Bagang Kala hanya bisa menerka dengan aliran darah kelelakiannya yang uring-uringan.
“Ma-ma-maksud Ketua bagaimana?” tanya Bagang Kala demi memastikan apa yang ada dalam dugaannya saat itu.
“Aku mencintaimu, Bagang. Aku sangat mencintaimu. Meskipun aku tahu, aku jauh lebih tua dari usiamu, tapi aku sangat ingin menjadi milikmu seutuhnya, bukan lagi sebagai pengawal dan majikan, tetapi sebagai sepasang kekasih yang akan menikah,” tandas Anik Remas.
Wanita itu lalu menarik tangan Bagang Kala dan meletakkannya di sungai kering yang diapit oleh dua gunung nan cerah lagi empuk, dengan kepadatan yang memenuhi standarisasi pengamat pegunungan.
Melebar sepasang mata Bagang Kala. Untuk kondisi ini, dia sudah tahu betul.
“Ini permintaanku yang mendalam, Bagang. Maukah kau menjadi suamiku?” tanya Anik Remas begitu lembut, seolah setengah mengiba.
“Aku juga menyukai Ketua Empat, karena Ketua begitu baik kepadaku. Ta-ta-tapi, aku ingin pergi mengembara. Aku sudah membunuh orang-orang yang membunuh orangtua dan kakakku. Jadi, aku akan pergi, Ketua,” jawab Bagang Kala bernada sedih.
__ADS_1
Jawaban yang semula melambungkan harapan Anik Remas, berubah menjadi kekecewaan bagi wanita janda cantik itu.
“Tapi, Bagang,” ucap Anik Remas cepat, kali ini ia menarik tangan Bagang Kala menempel di leher mulusnya. “Jika aku ikut denganmu, apakah kau mau bersamaku?”
“Eee …. Tapi, Ketua Empat adalah pemimpin di perguruan ini,” kata Bagang Kala.
“Semua akan aku lepaskan demi bersamamu, Bagang. Aku ingin kau jadi milikku, aku jadi milikmu. Kita bisa hidup bahagia bersama,” jawab Anik Remas penuh harap.
“Apakah Ketua tidak sedang bergurau?” tanya Bagang Kala.
“Tidak. Aku adalah wanita terbaik yang pernah kau temui di dalam hidupmu,” tandas Anik Remas haqqul yaqin.
“Benar. Ketua adalah wanita terbaik yang pernah aku temui di dalam hidupku. Jika Ketua memang ingin ikut berpetualang bersamaku, aku setuju untuk menikah dengan Ketua,” kata Bagang Kala akhirnya memberi keputusan.
Mendengar hal itu, berkaca-kacalah sepasang mata sayu Anik Remas. Seketika itu, dengan lembut ia menarik tangan dan tubuh Bagang Kala ke dalam pelukannya. Pemuda tampan itu hanya menurut sehingga untuk pertama kalinya, ia merasakan sensasi bibir wanita.
Tidak ada alasan bagi Bagang Kala untuk menolak dan ada alasan bagi Anik Remas untuk memberinya dalam jumlah yang terbatas. Anik Remas tidak mau jika nanti Bagang Kala menganggapnya terlalu murah, meski pada faktanya dia sudah mengobral.
Adapun Ketua Dua dan Ketua Lima mendapat penanganan kasih sayang dari istri dan anak serta para pembantunya.
Sementara nasib Ketua Tiga yang ditetapkan sebagai tersangka utama pengkhianatan selain putranya, Adipati Kuritan, dilumpuhkan kesaktiannya dan ditawan.
Ketika malam semakin larut, para ketua perguruan yang dalam kondisi terluka dan para petinggi perguruan harus hadir di pendapa. Hanya tinggal tiga ketua, yakni Ketua Dua Tolak Berang, Ketua Empat Anik Remas dan Ketua Lima Sarang Asugara. Ketiga ketua hadir dalam kondisi dipapah, bahkan Anik Remas didatangkan dengan digendong di punggung Bagang Kala.
Cara datangnya Anik Remas jelas menjadi pusat perhatian mereka semua. Ia kemudian didudukkan di kursi dengan Bagang Kala dan Gelisa berdiri di belakangnya. Namun, Anik Remas cuek itik. Hatinya sudah tidak berada di Perguruan Cambuk Neraka, tetapi sudah tenggelam di dalam hati Pendekar Angin Barat.
Sementara itu, Permaisuri Dewi Ara duduk di kursi kebesaran yang terbuat dari rotan berlapis bantalan empuk. Di sanalah biasanya mendiang Ketua Satu duduk dalam setiap pertemuan.
__ADS_1
Di belakang kursi berdiri Pendekar Bola Cinta Tikam Ginting, Lentera Pyar dan Setya Gogol. Sementara Arda Handara duduk bersila di sisi kiri kaki kursi sambil memeluki sangkar bajingnya. Rupanya Brojol sudah ditangkap kembali.
Tampak Setya Gogol memegang Cambuk Usus Bumi. (RH)