Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 26: Cemburu Hijau Kemot


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


Hijau Kemot berjalan tergesa-gesa dengan wajah tegang yang menunjukkan kemarahan. Namun, itu tidak melunturkan kecantikannya.


Kemarahan itu kian menjadi ketika dia keluar rumah dan melihat pemandangan yang tergelar di teras. Bergemuruhlah darah di dalam dadanya.


“Hahaha!”


“Hihihi!”


Saat itu, Hijau Kemot sedang melihat pemandangan yang membuatnya cemburu tinggi.


Arda Handara duduk bersila sambil menumpahkan semua ulat bulu tangkapannya di lantai. Meski terlihat menggelikan, tetapi makhluk-makhluk mungil itu juga terlihat begitu menggemaskan dengan gerakan lambatnya yang bergelombang dan warnanya yang semarak.


Bersama Arda Handara ada Sanda Kolot yang juga tertawa-tawa begitu mesra. Ternyata gadis berambut biru terang itu tidak takut atau merasa geli dengan ulat bulu. Hanya, dia harus hati-hati agar tidak tersengat oleh bulu beracun si uyut-uyut.


Mereka berdua sangat seperti dua anak kecil yang sedang bermain ulat bulu. Permainan yang mereka mainkan adalah balapan dengan membuat dua garis di lantai, satu garis start dan satu garis finish dengan jarak yang proporsional untuk ukuran jarak tempuh ulat bulu.


Ada lima jenis ulat bulu yang mereka jadikan pembalap, yaitu ulat bulu petang, ulat bulu harimau, ulat bulu cebol, ulat bulu bokong priuk, dan ulat bulu raja yang hanya ada satu ekor.


Mereka berdua tertawa begitu renyah seperti gorengan traktiran.


“Hei, bokong priuk, ayo jalan!” bentak Arda Handara kepada ulat bulu yang semua badan dan bulunya berwarna hitam legam. Sepertinya ulat bulu itu ngambek tidak mau jalan.


“Hihihi!” Sanda Kolot justru tertawa nyaring mendengar bentakan Arda Handara.


“Jiahahaha! Uyut-uyut Cebol terpeleset!” pekik Arda Handara tertawa kencang sambil menunjuk ulat bulu warna biru, paling kecil dan bulu-bulunya paling halus.


“Hihihi …!” Sanda Kolot kian tertawa terkikik-kikik melihat ulat bulu cebol terpelanting lalu berguling ke samping dan kembali berjalan dengan menekuk badannya, kemudian meluruskannya lagi, demikian seterusnya.


Hijau Kemot semakin panas hatinya melihat kebersamaan, kegembiraan dan kemesraan Arda Handara dan Sanda Kolot.


“Hei!” bentak Hijau Kemot galak kepada keduanya.


Bentakan itu membuat Arda Handara dan Sanda Kolot tidak menghentikan tawa terbahaknya. Keduanya menengok memandang wajah Hijau Kemot sambil terus tertawa, membuat gadis pemilik rumah itu kian kesal bukan main.

__ADS_1


“Hijau Kemot, apakah kau mau ikut bermain? Kita ulang balapannya,” tawar Arda Handara kepada Hijau Kemot sambil masih menyisakan tawanya.


“Tidak!” jawab Hijau Kemot marah. “Hentikan permainanmu, Pangeran!”


Terkejut Sanda Kolot mendengar sebutan Hijau Kemot terhadap Arda Handara. Ia jadi berhenti tertawa.


“Belelele! Kau seorang pangeran, Arda?” tanya Sanda Kolot.


“Benar. Apakah kau tidak suka, Sanda?” jawab Arda Handara.


“Tentu saja aku sangat suka. Aku ikhlas memutuskan hubunganku dengan Kadidat Colong demi mendapatkan seorang pangeran,” jawab Sanda Kolot.


“Hei, Perempuan Jelalatan!” hardik Hijau Kemot kasar.


“Hei! Apa hakmu menyebutmu seperti itu, Kemot?” balas Sanda Kolot yang tersinggung di sebut “Perempuan Jelalatan”.


“Karena kau mau merebut calon suamiku!” tandas Hijau Kemot.


“Belelele! Arda Handara calon suamimu?” kejut Sanda Kolot. Ia lalu bertanya kepada Arda Handara, “Apakah kau memang calon suaminya, Arda? Bukankah kau masih kecil?”


“Hahaha!” Arda Handara malah tertawa jumawa karena menjadi rebutan oleh dua penerbang tercantik. “Bisa dikatakan seperti itu. Namun, kata guruku, selagi janur belum tegak berdiri, peluang masih terbuka selebar sayap rajawali ayahku. Hahaha! Lagi pula aku masih harus memenuhi empat syarat. Jika aku tidak sanggup, aku dan Hijau Kemot tidak mungkin akan menikah dan membuat anak sebanyak-banyaknya.”


Ia lalu bangun berdiri dan berkacak pinggang menantang Hijau Kemot.


“Aku tahu kau adalah kekasih Galang Ocot. Kau jual mahal kepada Pangeran Arda, tapi kau juga pecemburu berat. Lalu sebenarnya maumu apa, Kemot?” kata Sanda Kolot.


“Kau sendiri apa? Kau adalah kekasih Kadidat Colong, tetapi justru mencari kemesraan kepada lelaki lain. Pangeran Arda itu masih anak kecil!” balas Hijau Kemot.


“Aku tahu. Aku bisa menjadi kekasih yang menunggunya membesar. Arda telah menyelamatkan nyawaku, jadi aku berhak menjadi miliknya!” tandas Sanda Kolot.


“Aturan dari mana itu?” tanya Hijau Kemot sambil mendelik-delik.


“Aturan dari nenekku,” jawab Sanda Kolot seenaknya yang membuat Hijau Kemot kian emosi.


Di saat kedua wanita cebol cantik itu memperebutkannya, Arda Handara lebih memilih merapikan uyut-uyutnya ke dalam wadahnya. Untuk sementara ia membiarkan kedua gadis cebol itu adu mulut.


“Kau pasti ingin mengintai kekuatanku dengan menjadikan Pangeran Arda sebagai alasan dan alat tumpangan. Jadi cara licik seperti ini yang dilakukan oleh Pasukan Domba Merah?” tukas Hijau Kemot.

__ADS_1


“Jika berbicara lihat pijakanmu, Kemot. Pasukan Domba Merah adalah kesembilan terhormat yang meraih kejayaan dengan ksatria. Akan kami tunjukkan bahwa Pasukan Domba Merah akan mempecundangi Beruang Biru!” tandas Sanda Kolot. Lalu sambil tersenyum sinis mengejek, ia berkata, “Kau tidak lebih dari penerbang pecundang yang naik karena kedudukan ayahmu.”


“Belelele! Apa kau bilang? Dasar wanita murahan!” maki Hijau Kemot lalu maju menyerang Sanda Kolot.


Sanda Kolot yang tidak mau diremehkan, juga maju menyambut serangan Hijau Kemot.


Ternyata, pertengkaran antara dua wanita zaman ini tidak jauh berbeda dengan versi masa depan, yaitu saling jambak rambut.


“Bebelele!” pekik Arda Handara terkejut.


Arda Handar buru-buru berdiri hendak memisahkan keduanya. Namun, dia bingung harus bagaimana cara memisahkan keduanya yang saling tarik rambut. Untuk sebentar, dia sibuk bingung sambil memerhatikan celah mana yang bisa dimasuki untuk memisahkan keduanya.


Arda Handara lalu pindah ke sisi satunya, tapi dia masih juga bingung.


“Jika aku tarik satu, yang satu pasti cemburu.” Itulah isi pikiran Arda Handara.


“Eh eh eh! Kalian jangan berkelahi!” teriak Arda Handara yang bingung.


Mungkin karena memang cerdas atau karena tidak ada cara lain, Arda Handara akhirnya punya ide untuk memisahkan keduanya.


Arda Handara lalu turun dan merangkak, menyelipkan kepalanya di antara kaki kedua wanita cebol itu. Setelah kepalanya masuk, maksudnya masuk di antara kedua badan bawah wanita itu, Arda Handara lalu mendorong kepalanya naik ke atas, sehingga dia muncul di dalam pelukan kedua gadis itu dengan tubuh dan kepala yang terjepit. Jangan ditanya apa yang tersundul, tersenggol dan tercium.


Namun, itu semua tidak memberi rasa mesum kepada Arda Handara yang pikirannya masih apa adanya. Justru bocah itu merasakan kesulitan dan kesakitan karena terjepit, tersikut hingga rambutnya ikut tertarik.


“Ningna Kemot! Ningna Kemot! Hentikan! Jangan berkelahi!” teriak Sempa Manyong sambil berlari ke teras. Ia diikuti dua prajurit cebol lainnya.


Keributan yang terjadi ternyata terdengar pula oleh Gubernur Ilang Banyol dan istrinya, Linting Kedot yang ada di dalam rumah.


“Jika tidak mau berhenti, aku beri uyut-uyut!” ancam Arda Handara yang pipinya tertekan oleh ciuman Sanda Kolot karena rambut biru itu ditarik kencang oleh Hijau Kemot dari belakang pangeran.


Namun, Sanda Kolot tidak mau kalah. Ia pun berhasil meraih banyak rambut Hijau Kemot dan menariknya dengan kencang.


Dak!


Dahi Hijau Kemot membentur kepala Arda Handara.


Sebelum ada rambut yang tercabut dari kepala salah satu gadis itu, Gubernur Ilang Banyol dan Kepala Penjaga Sempa Manyong segera menarik badan kedua wanita itu.

__ADS_1


Legalah Arda Handara dengan jejak bibir warna merah muda di pipinya, membuat Hijau Kemot terus terbakar api cemburu. (RH)


__ADS_2