Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Baut Mal 14: Siasat Laksamana Muda


__ADS_3

*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*


 


Dalam perjalanan Panah Lebah Pembaca, Bewe Sereng hanya melihat kegelapan air laut. Selain mendengar suara angin, dia pun hanya mendengar suara ombak lautan. Itulah hebatnya Panah Lebah Pembaca yang berwujud panah sinar hijau.


Pandangan mata Bewe Sereng terkoneksi dengan panah sinar. Meski dia berdiri di atas Kapal Bintang Hitam, tetapi dia bisa melihat apa yang dilalui oleh panahnya yang bertindak seperti drone pemantau.


Ketika panah sinar itu tiba di Selat Gurita, Bewe Sereng bisa melihat keberadaan dua gugusan hitam besar di dalam gelap yang saling berseberangan.


Perairan yang bernama Selat Gurita itu adalah jalur laut yang masih bisa dilewati dua puluh kapal besar secara bersamaan.


Awalnya, Bewe Sereng hanya melihat kegelapan dan bayangan pulau yang lebih gelap. Namun, setelah panah pemantaunya melintasi atas selat, Bewe Sereng melihat ada cahaya api di balik tebing pulau sebelah kiri, yaitu di Pulau Geleng.


Jika itu tidak dilihat dari udara, mungkin cahaya api itu tidak akan terlihat.


Panah sinar hijau yang muncul terbang di udara seketika mengejutkan prajurit yang sedang bertugas mengintai dari atas Pulau Geleng.


“Laksamana Muda! Ada sinar hijau di langit!” teriak prajurit pemantau.


Laksamana Muda Gandala Moi yang sedang berkumpul bersama ketujuh kapten kapal di bawah, di balik tebing batu, cepat mendongak memandang ke langit malam. Pada saat itu juga, mereka bisa melihat lintasan segaris sinar hijau di langit.


“Itu ilmu Panah Lebah Pembaca. Panglima Negeri Pulau Kabut pernah mengirim panah seperti itu saat kita menyerang,” kata Gandala Moi. “Kita sudah ketahuan. Kapal Pangeran Bewe Sereng pasti sudah mendekat ke selat ini.”


“Lalu apa yang harus kita lakukan, Laksamana?” tanya salah satu kapten kapal.


“Semua kembali ke kapal. Kita keluar dari selat untuk mencari kapal mereka. Jangan nyalakan api satu kapal pun, kecuali Kapal Karang Jago!”


“Baik, Laksamana!” ucap para kapten patuh dan kompak.


Mereka lalu membubarkan diri. Api yang mereka kerumuni dipadamkan, kecuali satu obor sebagai penerang yang minimal.


Biarkan musuh mengetahui keberadaan mereka, tapi jangan sampai membaca jumlah kekuatan mereka. Itu yang ada di dalam pikiran Gandala Moi.


Panah Lebah Pembaca sempat terbang melesat berputar-putar di atas selat dan kedua pulau. Manuver yang sangat kentara bahwa bermaksud mengetahui seperti apa kekuatan para penghadang.


Tidak adanya nyala api pada kedelapan kapal perang Armada Bintang Tujuh, membuat Bewe Sereng tidak bisa melihat keberadaan kapal. Bewe Sereng hanya bisa melihat pergerakan satu api obor yang turun menuju bibir pantai.


Pada akhirnya, Bewe Sereng memadamkan panah sinarnya yang lenyap begitu saja. Itu artinya Bewe Sereng telah mengakhiri pemantauannya.


“Ada prajurit di Pulau Geleng, Gusti. Melihat panahku, membuat mereka memutuskan turun ke kapal. Aku tidak bisa melihat berapa banyak kekuatan mereka karena minimnya cahaya yang mereka nyalakan. Sepertinya mereka tahu bahwa sinar panahku adalah ilmu Panah Lebah Pembaca. Kemungkinan besar mereka juga tahu bahwa ilmu itu milikku,” tutur Bewe Sereng menjelaskan apa yang dia dapat.


“Itu berarti mereka tahu bahwa kita sudah mengetahui keberadaan mereka. Mereka pasti akan bereaksi,” kata Dewi Ara. Lalu perintahnya kepada sang nahkoda, “Tahan kapal untuk sementara!”


“Baik, Gusti,” ucap Dayung Karat patuh. Dia lalu pergi untuk memberi perintah.


“Kenapa kita tidak langsung bertempur saja, Arang?” usul Eyang Hagara.

__ADS_1


“Jelaskan kepada kakakku ini, Pangeran!” perintah Dewi Ara kepada Bewe Sereng.


“Kerajaan Puncak Samudera yang memerintah Negeri Karang Hijau memiliki banyak pejabat dan perwira sakti, Tetua. Mereka juga memiliki sekitar lima puluh kapal perang. Meski kita yakin akan menang, tapi jangan sampai kondisi kapal tidak mendukung di saat kita belum sampai di Pulau Kabut. Itu yang Gusti Permaisuri khawatirkan. Terlebih kita membawa wanita dan anak-anak,” jelas Bewe Sereng.


“Jika hanya untuk menenggelamkan satu atau dua kapal, aku sendiri pun sanggup melakukannya,” kata Eyang Hagara sesumbar.


“Aku mempercayaimu, Kakang Hagara. Lautan seolah menjadi tempat tidur bagimu,” komentar Dewi Ara.


Tidak berapa lama kemudian, akhirnya muncul sesuatu di Selat Gurita.


Dewi Ara dan orang-orang yang bersiaga di atas kapal itu, melihat kemunculan beberapa nyala api kecil yang bergerak muncul dari balik Pulau Geleng. Api itu terus bergerak ke tengah selat dan bisa diduga dengan pasti bahwa itu adalah sebuah kapal perang. Kapal perang itu bergerak keluar dari selat dan menuju ke arah perairan di mana kapal hitam bersauh. Terlihat bahwa hanya satu tiang yang layarnya dikembangkan.


Jauhnya jarak dan minimnya penerangan pada kapal di selat, membuat Dewi Ara dan pasukan kecilnya tidak bisa melihat wujud kapal secara sempurna.


Itu adalah Kapal Karang Jago yang dinahkodai oleh Laksamana Muda Gandala Moi. Gelapnya kapal hitam membuat sang laksamana tidak bisa melihat kapal lain atau mengetahui keberadaannya. Namun, Gandala Moi tetap yakin bahwa di depan sana ada kapal yang ditumpangi oleh Pangeran Bewe Sereng, buronan nomor dua, setelah Putri Mahkota Istana Kabut Kuning sebagai buronan nomor satu.


Sekedar bocoran, berikut ini adalah uraian sebagian dari strategi Gandala Moi.


Ia bermaksud menemukan kapal musuh yang tidak terlihat. Karena dia tidak bisa melihatnya, dia menyalakan obor agar musuh yang melihatnya lalu datang mendekatinya.


Gandala Moi sangat sadar bahwa dengan adanya nyala api, kapalnya akan dengan mudah disergap tiba-tiba. Itu pengorbanan sebagai umpan demi menangkap ikan besar. Namun, sesuai informasi sebelumnya, Bewe Sereng dan rombongannya hanya menggunakan satu kapal. Jika diserang tiba-tiba pun, tidak akan terlalu mengejutkan karena pasukannya pun sudah siap.


Di atas Kapal Karang Jago terlihat lebih sepi oleh prajurit, itu karena sebagian prajurit berada di empat anak perahu.


Kapal Karang Jago memiliki empat perahu kecil. Semuanya diturunkan dan sarat oleh prajurit yang siap tempur. Keempat perahu itu tetap tertambat dengan tambang yang panjang. Jadi keempat perahu bergerak mengekori kapal tanpa terlihat keberadaannya. Cahaya obor tidak sampai menerangi mereka.


Sementara ketujuh kapal perang lainnya tidak terlihat keberadaannya pula, tetapi mereka bergerak.


“Bagaimana, Gusti?” tanya Dayung Karat.


“Kapal itu pasti adalah umpan. Lanjutkan pelayaran, hindari kapal itu!” perintah Dewi Ara.


“Baik, Gusti,” ucap Dayung Karat patuh.


Sang nahkoda pun pergi untuk memberi perintah kepada anak buahnya. Kapal kembali berlayar, tetapi agak dibelokkan untuk menghindari Kapal Karang Jago.


Jelas Laksamana Muda tidak tahu bahwa kapal hitam bergerak menghindarinya. Hingga kedua kapal posisinya sejajar dalam jarak sekitar lima puluh tombak, Gandala Moi belum juga menyadari pergerakan kapal hitam.


Akhirnya kedua kapal saling menjauh dan membelakangi.


“Kita akan bertabrakan dengan kapal lain di depan,” kata Dewi Ara tiba-tiba, setelah menyadari keberadaan sebuah kapal yang meluncur dari depan ke arah mereka.


Kedua kapal tidak saling melihat keberadaan.


Karena jarak kapal di depan sudah tidak terlalu jauh dan semakin mendekat, Dewi Ara bisa merasakan keberadaannya, baik dari suara air laut yang dipecah oleh kapal atau suara kibaran bendera dan layar.


“Pertempuran tidak bisa dihindari. Belokkan kapal agar kapak raksasa bisa ditembakkan!” perintah Dewi Ara.

__ADS_1


“Baik, Gusti!” ucap Dayung Karat bernada tegang. Dia lalu berteriak kepada pengendali kemudi.  “Belokkan kapaaal!”


Teriakan Dayung Karang yang keras ternyata terdengar olah kapten dan pasukannya di kapal yang mendekati kapal hitam. Mereka terkejut karena ternyata kapal musuh sudah ada dekat di depan mereka.


“Nyalakan api!” teriak kapten di kapal yang benama Kapal Satria Ombak.


Tidak berapa lama, Kapal Satria Ombak muncul dari kegelapan seiring menyalanya api obor-obor.


Menyalanya Kapal Satria Ombak membuat Kapal Karang Jago dan enam kapal perang lainnya bisa melihat. Cahaya api membuat kapal hitam milik rombongan Dewi Ara samar-samar terlihat.


Tiba-tiba, muncul menyala enam kelompok api lainnya yang tersebar di enam titik. Keenam kapal Armada Bintang Tujuh lainnya yang tersebar di perairan itu turut menyalakan api obor dan lampu antiangin. Karena sudah mengetahui posisi kapal musuh, Kapal Karang Jago dan keenam kapal armada segera berbelok arah untuk mengepung.


“Tembak!” perintah Dewi Ara kepada Setya Gogol yang menjadi operator pelontar Kapak Penghancur.


Dak! Ceklek! Seeet!


Sreet!


Setya Gogol yang sebelumnya sudah mempelajari cara kerja alat itu, segera memukul pasak pengunci dengan palu. Dan ketika pasak pengunci lepas, maka kapak raksasa itu tertarik kuat dan melesat kencang menabrak Kapal Satria Ombak yang berjarak hanya belasan tombak.


Tabrakan itu membuat Kapal Satria Ombak terguncang keras menjatuhkan sebagian prajurit yang ada di atas kapal. Yang jatuh ke laut bisa dihitung dengan satu tangan.


Ternyata, tembakan Setya Gogol kurang akurat, karena kapak besar bermata dua itu tidak menancap pada kapal, tetapi terpental ke samping dan jatuh tenggelam ke laut.


Namun ternyata pula, meski demikian, kapak itu masih mengenai lambung kanan Kapal Satria Ombak sehinga terkelupas tebal dan lebar. Justru itu menciptakan lubang besar di lambung seperti jendela dunia.


Tak ayal, air laut langsung masuk melimpah ke dalam perut kapal seperti banjir bandang.


“Kapal akan tenggelam, cepat naik ke perahu penyelamat!” teriak sang kapten.


Maka para prajurit di atas kapal segera menurunkan empat perahu dan berebut naik. Tidak sedikit yang terdorong-dorong dan jatuh ke air. Pada akhirnya, keempat perahu itu penuh dan didayung menjauhi kapal yang dengan cepat miring ke samping hendak terbalik sendiri.


Bagi prajurit yang tidak kebagian tempat di perahu, terpaksa melompat terjun ke air, sebelum kapal tenggelam secara total.


Keempat perahu dan mereka yang berenang pergi menyongsong kapal rekan yang mendekat.


“Lanjutkan pelayaran!” perintah Dewi Ara enteng.


“Baik, Gusti!”


Kapal hitam kembali melanjutkan pelayaran. Dewi Ara tidak ingin melanjutkan pertempuran laut itu. Namun, sepertinya itu tidak mudah, karena ada dua kapal perang lain yang bergerak mencoba menghadang jalur kapal hitam.


“Hadang kapal musuh!” teriak Kapten Kapal Satria Angin.


“Jangan biarkan kapal musuh melarikan diri!” teriak Kapten Kapal Pendekar Laut. “Panah api, siaaap!”


Pasukan panah di dua kapal perang yang bergerak hendak menghadang, segera mengambil posisi.  Kedua kapal terlihat semakin terang ketika puluhan anak panah yang dipasang di busur dinyalakan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2