Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 8: Menyerbu Pelabuhan Kepeng


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Ada beberapa cahaya menyala di kejauhan. Cahaya-cahaya itu adalah kumpulan obor di sebuah pulau.


“Itu adalah Pelabuhan Kepeng, Gusti,” kata Bewe Sereng.


“Bersiaplah!” perintah Dewi Ara.


“Baik, Gusti,” ucap Bewe Sereng patuh.


Dua perahu kecil yang dimiliki oleh Kapal Bintang Hitam diturunkan. Setelah itu, Bewe Sereng, Tikam Ginting, Setya Gogol, Lentera Pyar, Bagang Kala, dan Anik Remas turun ke perahu dengan hati-hati karena mereka bergerak tanpa cahaya sedikit pun, bahkan mereka dilarang menyalakan ilmu kesaktian yang mereka miliki.


Kapal Bintang Hitam terus bergerak mendekati pelabuhan kecil yang memiliki sejumlah obor penerangan di beberapa titik.


Di perairan yang tidak jauh dari dermaga, ada pula tiga kapal besar yang bersauh di air dalam. Satu kapal memiliki nyala obor penerangan. Itu adalah kapal-kapal pedagang dari negeri lain.


Sementara di pelabuhan ada banyak perahu-perahu kecil yang tertambat.


“Lepas!” teriak Bewe Sereng, ketika dirasa sudah sampai pada jarak ideal.


Maka tambang perahu yang masih bertaut pada kapal dilepaskan.


Setelah teriakan itu, dua perahu kecil saling bergandeng tali agar tidak terpisah di dalam gelap. Mereka pun mengunci mulut-mulutnya. Sementara Kapal Bintang Hitam dan Kapal Bintang Emas yang berlayar tanpa cahaya bergerak berbelok. Mereka akan memutari ujung Pulau Kabut untuk sampai ke Pelabuhan Pintu Kabut, di mana armada angkatan laut Kerajaan Puncak Samudera berbasis.


Seperti pasukan khusus, Bewe Sereng dan kelima orang yang dipimpinnya bergerak senyap di dalam irama ombak lautan.


Saat itu masih dini hari, waktu yang sibuk untuk terlelap, sehingga pelabuhan itupun terlihat sepi. Ada satu dua prajurit yang terlihat berada di dekat dengan obor penerangan, tetapi kondisi mereka tidak bersemangat, lebih cenderung menahan rasa kantuk berat, tetapi mereka dituntut terus terjaga.


“Kalian terus ke pantai!” kata Bewe Sereng kepada Tikam Ginting, Anik Remas dan Bagang Kala yang berada di perahu satunya.


“Baik,” jawab Tikam Ginting.


Kedua perahu itu saling melepas tali untuk berpisah. Perahu yang dinaiki oleh Bewe Sereng, Setya Gogol dan Lentera Pyar merapat ke kaki dermaga, jauh dari cahaya obor yang temaram. Sementara Tikam Ginting, Anik Remas dan Bagang Kala terus mendayung senyap hingga ke pasir pantai. Mereka akan naik ke darat dari jalur yang berbeda.


Ketika Bewe Sereng dan kedua rekannya naik ke dermaga, Bewe Sereng langsung melesat meninggalkan kedua rekannya. Bewe Sereng tahu-tahu muncul di belakang seorang prajurit berseragam biru.

__ADS_1


Krek!


Bewe Sereng langsung membekap mulut prajurit itu dari belakang, lalu memelintir lehernya hingga terdengar suara beberapa bagian tulang leher patah.


Setya Gogol dan Lentera Pyar berlari di atas dermaga papan tanpa ada suara dari langkah mereka. Jika Setya Gogol tanpa senjata, maka Lentera Pyar berbekal pedang kecil. Keduanya pergi mendatangi sebuah rumah kambing yang merupakan pos penjagaan prajurit.


Ternyata di dalam pos tersebut ada dua prajurit yang sama-sama tidur.


Tsuk tsuk tsuk!


“Hekr! Hekr!” pekik terkejut kedua prajurit itu ketika tikaman Lentera Pyar begitu cepat bekerja menikami tubuh mereka.


Di sisi lain, tim Tikam Ginting melumpuhkan beberapa prajurit di titik lain.


Bewe Sereng menunjuk ke sebuah bangunan kayu seperti rumah yang posisinya agak jauh ke atas. Di bangunan itu cukup terang dengan beberapa obor yang menyala sepanjang malam.


Keenam penyerang itu merapatkan diri ke dinding-dinding bangunan. Mereka mengintip dari jendela yang terbuka dan celah-celah dinding.


Ternyata, di dalam ada sejumlah prajurit yang tidur bersama, maksudnya tidur berdamping-dampingan di lantai papan, bukan tidur satu selimut.


Bewe Sereng memberi kode agar para prjurit itu dibunuh.


West! Set set set …!


“Ak! Akh! Akk …!”


Bagang Kala lalu mengayunkan kedua tangannya secara bergantian. Setiap tangannya mengayun, ada angin yang melesat bergantian dan bertubi-tubi ke dalam ruangan berlantai papan itu. Dalam penerangan dian di dalam ruangan, terlihat jelas bahwa tubuh-tubuh para prajurit yang terlelap itu disayat-sayat oleh sesuatu yang tidak terlihat, seiring angin kencang yang berembus di dalam ruangan tersebut.


Para prajurit yang anggota tubuhnya tersayat-sayat oleh ilmu Angin Setajam Lidah itu berjeritan kesakitan. Mereka tidak langsung mati, tetapi masih sempat melek tanpa mengucek mata, melihat lebih dulu apa yang terjadi dengan mereka. Oh ternyata, mereka sedang dibantai oleh seseorang yang tidak pernah mereka temui sebelumnya, bahkan tidak di alam mimpi pun, ataupun nanti di alam kubur.


Dalam waktu yang singkat, ruangan itu telah banjir oleh darah. Ada yang kakinya terpotong, ada perutnya terbedah, ada yang tangannya putus, ada yang sekedar tersayat, bahkan ada yang lehernya terpenggal oleh angin ketika bangun duduk.


Kebisingan yang terdengar memilukan itu, membuat beberapa prajurit muncul dari ruang dalam. Para prajurit itu sudah berbekal pedang.


West! Set set!


Pendekar Angin Barat langsung menyambut kemunculan para prajurit berwajah sawan itu dengan serangan angin yang serupa, angin yang setajam pedang.

__ADS_1


“Akk! Akk! Akk!” para prajurit itupun berjeritan tanpa sempat mempertahankan diri.


Mungkin ini adalah pembantaian pertama yang dilakukan oleh Pendekar Angin Barat dalam karir kependekarannya di dunia persilatan.


Jeritan-jeritan yang keras ternyata terdengar jauh ke luar, terbukti dari munculnya beberapa orang prajurit berseragam biru bersenjata panah.


Set set set …!


Tanpa banyak bacot, para prajurit itu berhenti dan langsung memanahi Bewe Sereng dan rekan-rekannya.


Ctas!


Sambil berkelebat di udara, Anik Remas memainkan cambuk putihnya, menangkis beberapa anak panah sekaligus. Selanjutnya, dia mencapai para prajurit itu dan melumpuhkannya dengan mudah.


Tikam Ginting pun berkelebat cepat mendatangi para pemanah itu dan melemparkan bola kayu merahnya.


Prak! Dak!


Kepala prajurit pertama yang dihantam pecah. Sedangkan kepala kedua yang terkena pantulan bola, hanya bocor. Namun kemudian, prajurit kedua juga harus gugur saat Tikam Ginting telah sampai kepadanya dengan pukulan bertenaga dalam tinggi.


Habisnya para prajurit pemanah itu membuat suasana berubah hening. Jerit kematian dari dalam bangunan kayu sudah berakhir, menunjukkan bahwa belasan prajurit yang tidur di dalamnya telah tuntas tanpa nyawa yang tersisa.


Untuk beberapa waktu, tidak ada lagi prajurit berseragam biru yang muncul. Itu berarti pelabuhan itu telah mereka taklukkan.


“Ini baru awal. Kita harus melewati Gerbang Kepeng. Di situlah tinggal seorang laksamana muda,” kata Bewe Sereng kepada kelima rekannya.


Mereka pun melanjutkan penyerangan dengan berlari santai menuju Gerbang Kepeng yang Bewe Sereng maksud. Ternyata sejauh puluhan tombak harus mereka tempuh untuk sampai ke Gerbang Kepeng.


Gerbang Kepeng adalah sebuah gerbang besar yang pintunya terbuat dari teralis nan tinggi. Membukanya dengan cara ditarik ke atas menggunakan beberapa rol kayu. Pastinya ada pos penjagaan di sana.


Di belakang gerbang adalah sebuah bangunan kayu panjang berlantai dua yang pada bagian tengahnya menjadi lorong dan jalan yang lebar. Orang, kuda, gerobak, hingga pedati lewat lalu lalang di gerbang dan terowongan itu di kala siang. Namun, pada pukul tertentu di waktu malam, Gerbang Kepeng ditutup. Kecuali petugas, tidak ada yang boleh melewati akses tersebut.


Hingga akhirnya, Bewe Sereng CS berhenti beberapa tombak di depan Gerbang Kepeng. Meski pos di sisi gerbang teralis ada obor, tetapi tidak terlihat ada manusia. Senyap. Di bangunan kayu pun sepi sekali, meski beberapa penerangan ada.


“Sepertinya laksamana muda itu sudah menyadari kehadiran kita,” kata Bewe Sereng.


Set set set!

__ADS_1


Bewe Sereng lalu melepaskan tiga anak panah bersinar biru ke sembarang arah. Ketiga panah sinar itu melesat pergi jauh lalu menghilang.


Ternyata benar dugaan Bewe Sereng. Kedatangan mereka telah diketahui. Hal itu terbukti tidak lama setelah Bewe Sereng melepas panah sinarnya, di atas atap bangunan kayu panjang yang menyamping muncul sepuluh orang dengan panah sinar merah yang membidik ke arah rombongan Bewe Sereng. (RH)


__ADS_2