Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Baut Mal 10: Mengejar ke Pulau Kabut


__ADS_3

*Bajak Laut Malam (Baut Mal)*


 


Panglima Kumbiang berjalan tergesa-gesa ke bibir jurang untuk melihat ke Pelabuhan Manisawe yang ada di bawah.


“Ada apa, Panglima?” tanya Tadayu yang penasaran melihat ketergesa-gesaan Panglima Kumbiang.


“Ada bajak laut yang mendekati pulau. Pasukan Keamanan Pelabuhan meminta bantuan,” jawab Panglima Kumbiang sambil memandang jauh ke bawah.


“Bukankah itu bendera Bajak Laut Malam? Tapi kenapa warna kapalnya kuning?” tanya Tadayu setelah turut memandang ke lautan lepas.


“Bukankah kapal hitamnya direbut oleh Permaisuri Dewi Ara?” tanya balik Panglima Kumbiang.


Ia lalu berbalik pergi untuk menghadap kepada Raja Bandelikan. Tadayu mengikuti.


Sekedar informasi, saat itu adalah masa-masa Tadayu dan Gandang Duko sedang menjalani siasat sandiwara cinta berdarah bersama Pangeran Rebak Semilon dan Putri Uding Kemala.


“Segera kirim pasukan ke pelabuhan!” perintah Raja Bandelikan.


“Mohon maaf, Paduka Raja. Bukan maksud untuk merendahkan Panglima Kumbiang, tapi Paduka Raja bisa memerintahkan hamba dan Gandang Duko saja untuk turun mengusir kapal bajak laut itu,” ujar Tadayu yang sangat membutuhkan kepercayaan kuat dari calon mertuanya.


“Baiklah. Pergilah!” perintah Raja Bandelikan.


Maka, Tadayu dan Gandang Duko turun gunung ke Pelabuhan Manisawe. Karena bucin, Putri Uding Kemala sampai ikut turun ke pelabuhan. Alasannya, dia ingin melihat kekasihnya bertarung.


Ketika kedua pangeran Pulau Tujuh Selir itu tiba di Pelabuhan Manisawe, Pasukan Keamanan Pelabuhan sudah membuat formasi dengan perahu-perahu perangnya. Kondisi yang sama ketika Komandan Bengisan menghadang kapal hitam pimpinan Permaisuri Dewi Ara.


Tadayu segera berkomunikasi dengan Komandan Borok Singa dan tercapai kesepakatan.


Maka, dengan menggunakan satu perahu perang yang dilengkapi alat pemanah jauh, Tadayu dan Gandang Duko pergi menyongsong Kapal Bintang Emas.


Di saat itu, Tadayu menunjukkan ketinggian ilmunya.


Perahu kecil itu meluncur cepat seperti perahu sekoci. Pada bagian belakangnya ada ombak rekayasa yang mendorong perahu dengan kuat. Ombak rekayasa itu diciptakan oleh ilmu Tangan Kuasa Tadayu. Kedua pemuda itu berdiri di atas perahu dengan gagah.


Kedatangan sebuah perahu itu membuat Genggam Garam memerintahkan untuk menghentikan laju kapal dengan menjatuhkan sauh dan menurunkan layar.


Syahbandar Pasir Geni dan Pasukan Keamanan Pelabuhan hanya memantau dari dermaga. Sementara itu di atas Gunung Ibu, Raja Bandelikan dan Panglima Kumbiang juga memantau.


Tanpa rasa gentar, Tadayu dan Gandang Duko naik ke atas Kapal Bintang Emas. Keduanya langsung disambut oleh pengepungan para anggota bajak laut yang telah menghunus senjata masing-masing.


“Bungkus kembali senjata kalian!” perintah Genggam Garam yang muncul di belakang para anak buahnya. “Jangan membuatku malu.”


Para bajak laut itupun menyarungkan dan menyelipkan kembali senjata-senjatanya.


“Apakah kalian Bajak Laut Malam dan kau Genggam Garam?” tanya Tadayu.


“Benar. Siapa kalian berdua?” kata Genggam Garam.


“Aku adalah Pangeran Tangan Kuasa dan temanku Pangeran Api Dewa dari Pulau Tujuh Selir. Kami berdua ingin memastikan bahwa kapal kalian tidak mendekati pelabuhan!” tandas Tadayu.

__ADS_1


“Kami datang bukan bermaksud menyerang, tapi hanya untuk mencari kapal hitam kami yang dirampas,” kata Genggam Garam.


“Jika aku memberi petunjuk, apakah kalian akan pergi dari perairan Pulau Gunung Dua?” tanya Tadayu.


“Kami akan pergi,” jawab Genggam Garam.


“Rombongan Permaisuri Dewi Ara membawa kapal hitam itu menuju ke Negeri Pulau Kabut sehari yang lalu,” kata Tadayu.


“Angkat jangkar, putar arah, kembangkan layar, dayung kekuatan penuh, kita ke Pulau Kabut!” teriak Genggam Garam kepada para anak buahnya.


“Siaaap!” teriak mereka serentak.


Semua awak Kapal Bintang Emas segera bekerja. Genggam Garam pun meninggalkan kedua pangeran.


Karena sudah ditinggalkan begitu saja, Tadayu dan Gandang Duko pun tanpa berkata lagi berbalik pergi ke pinggir kapal.


“Kisanak, kau pernah bertemu dengan Gusti Dewi Ara?” tanya Anik Remas yang menahan langkah Tadayu dan Gandang Duko.


“Benar. Kami sempat satu kapal dengannya,” jawab Tadayu.


“Terima kasih,” ucap Anik Remas tanpa senyum.


Tadayu dan Gandang Duko pun melompat turun ke perahu yang ditambatkan di tangga tali kapal.


Legalah Raja Bandelikan ketika melihat kapal emas bajak laut bergerak berbalik arah dan perahu kecil berpisah.


“Calon menantuku memang sangat bisa diandalkan,” ucap Raja Bandelikan kepada Panglima Kumbiang.


“Itu hanya dugaan burukmu karena kau iri dengan mereka,” ucap Raja Bandelikan lalu berbalik meninggalkan panglimanya.


Sementara itu, Kapal Bintang Emas bergerak cepat menggerus air laut menjauhi Pulau Gunung Dua.


“Ketua, seharusnya kita menghajar dulu dua pemuda sombong itu,” kata Tangan Kanan kepada Genggam Garam.


“Saat ini, waktu sangat penting bagi kita untuk bisa menyusul Kapal Bintang Hitam. Kita tidak tahu kapal kita akan dipakai untuk apa,” kata Genggam Garam.


Ketua Bajak Laut Malam itu lalu pergi mendatangi Anik Remas dan Bagang Kala.


“Bagang Kala, apa tujuan permaisurimu berlayar ke Pulau Kabut?” tanya Genggam Garam.


“Membebaskan Negeri Pulau Kabut dari Negeri Karang Hijau,” jawab Bagang Kala.


“Apa? Kalian ingin melawan lima puluh kapal perang hanya dengan satu kapal?” kejut Genggam Garam.


“Kami tidak tahu bagaimana caranya Gusti Permaisuri akan membebaskan Negeri Pulau Kabut,” kata Anik Remas.


“Apakah kalian akan bertarung melawan Gusti Permaisuri jika berhasil menyusulnya?” tanya Bagang Kala.


“Sebenarnya adalah aib besar bagi bajak laut jika sampai kapalnya dicuri orang. Kemudian ketika bertemu dengan si pencuri, hanya datang untuk meminta. Harus ada adu kesaktian untuk menjaga harga diriku sebagai seorang bajak laut yang ditakuti dan disegani,” kata Genggam Jagad.


Kapal Bintang Emas terus berlayar dengan semua layar di dua tiangnya melengkung indah ditiup angin. Dua puluh dayung panjang bergerak serentak diiringi teriakan penyemangat terus mendayug.

__ADS_1


“Satu tiga lima!” teriak para pendayung itu kompak.


“Cintaku mekar di tengah laut!” teriak salah seorang dari mereka.


“Satu tiga lima!” teriak mereka lagi kompak.


“Cumi bakarku disambar hantu laut!” teriak anggota yang lain.


“Satu tiga lima!” teriak mereka ramai-ramai lagi, yang kemudian disambut satu teriakan lagi dari anggota yang lain.


“Aku mau punya anak!” teriak satu anggota lagi.


“Hahaha!” tawa mereka meledak mendengar isi teriakan rekan mereka.


“Hei, Sugiono Lumut! Bagaimana kau mau punya anak sedangkan untuk mendekati pelacur saja kau gemetaran!” protes satu rekannya yang lain.


“Hahaha!” tawa mereka lagi sambil terus bergerak kompak dalam mendayung.


“Satu tiga lima!” teriak anggota yang bernama Sugiono Lumut itu mengalihkan kembali fokus ke permainan.


“Satu tiga lima!” teriak semua anggota lagi melanjutkan permainan mereka.


“Jodohku menanti di pantai asmara!” sahut anggota yang lain bergantian.


“Satu tiga lima!”


“Rinduku sedalam samudera!”


“Satu tiga lima!”


“Jantungku rindu ciuman Sayup Desah!”


“Hahaha!”


Seperti itulah salah satu cara mereka menghibur dan menyemangati diri, mereka bermain “satu tiga lima”, hitungan yang telah mengakar dan membudaya di dalam kelompok Bajak Laut Malam.


“Ketua, ada kapal penumpang!” lapor Keong Gelap kepada Genggam Garam.


“Biarkan saja, kita tidak dalam misi merompak,” kata Genggam Garam.


Memang di depan sana, ada sebuah kapal penumpang yang berlayar mengandalkan angin saja tanpa dayungan. Kemudian terlihat jelas bahwa kapal itu berbelok demi menghindari pertemuan dengan Kapal Bintang Emas.


Para bajak laut di atas kapal hanya memandangi kapal yang menuju Pulau Gunung Dua itu. Kemudian kapal itu berlalu dengan jarak yang cukup jauh. Jelas adalah kelegaan bagi para penumpang kapal penumpang melihat kapal bajak laut tidak menunjukkan gelagat minat untuk merompak.


Namun kemudian, yang menjadi masalah adalah kemunculan dua kapal perang tidak lama setelah kapal penumpang hilang di kejauhan.


“Ketua, ada dua kapal perang Kerajaan Walet Biru!” lapor Keong Gelap lagi, setengah panik.


“Kerajaan Walet Biru menganggap semua bajak laut adalah penjahat yang wajib dibunuh,” kata Genggam Garam. Lalu teriaknya, “Kita berperaaang!”


Teriakan keras Genggam Garang mengejutkan sebagian anak buahnya. Namun kemudian ….

__ADS_1


“Peraaang …!” teriak mereka semua sambil mengacungkan senjatanya masing-masing, kecuali Bagang Kala dan Anik Remas. (RH)


__ADS_2