Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 3: Laksamana Muda Sakti


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Kapal Pemangsa Laut sudah terbakar hebat, sulit bagi para prajurit untuk memadamkan api secara penuh. Asap hitam pekat dari kebakaran itu membumbung tinggi ke angkasa.


Sementara itu, sang kapten telah mengambang di permukaan air sebagai mayat.


Di atas sana, jet tempur yang bermama Tongkat Kerbau Merah masih betah melakukan bombardir. Arda Handara terlihat begitu menikmati perannya sebagai penyerang tunggal. Rasa ibanya terhadap musuh mulai menemui kematian. Ia tidak peduli dengan adanya sebagian prajurit yang tewas terkena bola apinya.


“Dewi Arang, asap itu bisa menarik perhatian jika ada kapal perang yang lain sedang berpatroli,” kata Eyang Hagara.


“Tenggelamkan semua, Kakang!” perintah Dewi Ara.


Belum habis adiknya berbicara, Eyang Hagara sudah mencelat tinggi jauh ke depan.


Brasss!


Eyang Hagara mendarat di air laut tidak begitu jauh dari posisi kapal yang terbakar. Setelah Eyang Hagara mendarat di permukaan air tanpa tenggelam dengan menciptaakan kubangan bagi kakinya, ada air laut yang bergerak menggunung. Arah gerakannya bukan ke arah pantai pulau, tetapi sebaliknya, yaitu ke arah kapal perang.


“Apa itu?!” pekik terkejut prajurit yang masih bertahan di atas kapal.


Semua prajurit yang masih di atas kapal jadi terkejut mau mati melihat munculnya ombak raksasa yang puncaknya lebih tinggi dari tiang kapal mereka.


“Lompaaat!” teriak mereka kompak ketika ombak berubah wujud siap menerkam.


Ramai-ramailah prajurit itu menyelamatkan diri.


Brosss!


Ombak besar kiriman Eyang Hagara menggulung Kapal Pemangsa Laut. Tidak hanya memadamkan api pada kapal dalam sekejap, tapi juga membalikkan kapal seperti telur gulung.


Bukan hanya kapal yang digulung, para prajurit yang melompat ke laut juga digulung seperti butiran garam di dalam kopi yang diaduk sendok.


Setelah itu, maka tidak ada lagi asap yang membumbung ke langit, kecuali sisa yang mengudara.


“Hidup Eyang Tua!” teriak Arda Handara di udara.


“Tua!” sahut Bong Bong Dut.


“Hidup Eyang Tua!” teriak Arda Handara lagi sambil terbang merendah hendak mendarat ke pantai.


“Tua!” sahut Bong Bong Dut, tapi kali ini ditemani oleh Setya Gogol dan Lentera Pyar.


Mereka yang pernah mendengra yel-yel itu, jadi teringat dengan Ratu Wilasin.


Mimi Mama dan Putri Keken hanya kerutkan kening melihat tingkah ketiga orang dewasa itu.


Namun, sepertinya upaya Eyang Hagara tidak berhasil, kecuali menenggelamkan kapal dan semua penumpangnya. Hal itu karena ada dua kapal perang lain yang muncul dari selat antara Pulau Pitak dan Pulau Tonggos. Kemunculan kedua kapal berwarna hijau kehijau-hijauan itu bisa terlihat jelas oleh mereka yang berdiri di pantai.

__ADS_1


“Jika sampai ada satu orang yang lolos dari kematian, maka Pulau Botak akan terancam,” kata Dewi Ara.


“Jadi, Bibi?” tanya Mimi Mama.


“Tenggelamkan semuanya jika kalian sanggup!” perintah Dewi Ara.


“Yeee, itu yang aku inginkan sejak tadi!” pekik Mimi Mama girang. Lalu teriaknya kepada Arda Handara, “Ulat Bulu, apakah kau mau menari bersamaku membunuhi orang-orang besar itu?”


Tawaran itu membuat Arda Handara mendelik lalu berpikir cepat. Ia tidak pernah membayangkan Mimi Mama bisa membunuh semua orang di atas kapal. Arda Handara memang belum pernah melihat keganasan Mimi Mama sebagai Pembunuh Kedua.


“Sebenarnya aku ingin, Anak Cantik. Namun, aku lelah usai menyerang kapal tadi,” jawab Arda Handara.


“Ah, alasan!” gerutu Mimi Mama. “Giliran denganku kau beralasan, giliran dengan Cicirini kau tanpa alasan.”


“Hahaha! Kau iri ya?” tukas Arda Handara seraya tertawa.


“Itu namanya bukan iri, Pangeran, tapi cemburu,” kata Lentera Pyar.


“Hahaha!” tawa Setya Gogol dan Bong Bong Dut.


“Sejak kapan aku jatuh sakit kepada Ulat Bulu sepertimu? Weeek! Ya sudah jika tidak mau. Aku jadi tahu, kau hanya bisa bertempur di udara!” rutuk Mimi Mama yang disisipi juluran lidah mengejek.


“Biarkan. Aku pun jadi tahu, kau hanya bisa bertempur di daratan! Weeek!” balas Arda Handara yang berujung ejekan juluran lidah pula.


Tes!


Tiba-tiba Mimi Mama menyentilkan satu jarinya ke arah Arda Handara. Satu energi padat tanpa wujud melesat menyerang Arda Handara. Namun, ternyata Arda Handara bisa cepat menghindar dengan bergeser ke belakang bokong Bong Bong Dut.


“Ampun! Ampun ampun ampuuun, Mimi Mama!” teriak Bong Bong Dut panik, takut dia yang terkena serangan.


“Hihihi …!” tawa Mimi Mama melihat kepanikan Bong Bong Dut.


“Hahaha!” tawa Arda Handara lalu menempak bokong pemuda gemuk itu.


Bong Bong Dut hanya merengut karena menjadi korban drama kedua anak kecil itu.


Eyang Hagara masih berdiri di atas air laut, seolah menunggu kedua kapal perang Kerajaan Puncak Samudera datang kepadanya.


Ternyata, salah satu dari kedua kapal itu lebih besar dari lainnya dan lebih kecil dari lainnya.


Sekedar perkenalan, kapal yang lebih besar bernama Kapal Kutu Setan yang dipimpin oleh Laksamana Muda Gulolo Bio. Sedangkan kapal yang lebih kecil bernama Kapal Taring Udang yang dipimpin oleh Kapten Jangga Boe, kapten andalan Laksamana Muda Gulolo Bio.


Hari itu, Angkatan Laut Kerajaan Puncak Samudera yang ada di Negeri Pulau Kabut sedang melakukan pencarian terhadap kapal hitam. Pencarian itu dipimpin langsung oleh Laksama Galala Lio. Pencarian dipusatkan di perairan selatan, daerah yang terdapat banyak pulau, salah satunya Pulau Botak.


Namun, kapal lain yang posisinya tidak jauh dari Pulau Botak selain Kapal Pemangsa Laut adalah Kapal Kutu Setan dan Kapal Taring Udang. Kedua kapal itu datang karena sebelumnya melihat julangan asap hitam di langit tinggi di balik Pulau Tonggos.


Laksamana Muda Gulolo Bio adalah seorang lelaki bertubuh gagah bertelanjang dada, memperlihatkan dirinya laksana perkasa. Lelaki berusia kepala empat lebih dua tahun itu menggelung semua rambutnya, sehigga leher betonnya bersih dari rambut. Lelaki yang masih bercelana merah itu berdiri bersedekap di ujung haluan. Dia memandang dengan kening berkerut kepada sosok tua berhidung aneh di atas air laut.


Melihat kedua kapal semakin dekat ke lokasi Kapal Pemangsa Laut tenggelam, Bewe Sereng berinisiatif melepaskan panah sinar merah dari busur gaibnya.

__ADS_1


Set!


Panah sinar merah itu melesat cepat, melewati posisi Eyang Hagara. Kejelian mata Laksamana Muda Gulolo Bio bisa menangkap kedatangan serangan.


Ses! Bluar!


Dengan satu gerakan tangan kiri, Gulolo Bio melesatkan sepirinng sinar hijau yang berposisi berdiri. Sinar hijau itu menghadang panah sinar merah Bewe Sereng sebelum mengenai dinding kapal. Ledakan keras tercipta, tapi tidak menimbulkan efek apa-apa, kecuali riak di permukaan air.


“Kali ini lawan yang datang berilmu tinggi,” kata Bewe Sereng kepada orang-orang di dekatnya.


“Waktunya memetik nyawa,” ucap Mimi Mama lalu berlari menuju bibir pantai.


Dak!


Sambil berlari, Mimi Mama menendang sepotong kayu lembab di atas pasir pantai. Kayu itu melesat ke air dan mengapung.


Mimi Mama melompat ke atas kayu tersebut dan langsung meluncur deras naik turun ombak yang bergerak secara normal.


“Anak Cantiiik!” teriak Arda Handara yang tiba-tiba terbang rendah di dekat permukaan air. Ia kemudian terbang mengiringi di sisi Mimi Mama, bahkan sesekali kaki Arda Handara menggerus permukaan ombak.


Mimi Mama cukup terkejut dengan kedatangan anak pendek itu.


“Tadi kau mengatakan bahwa kau lelah, kenapa sekarang kau terbang lagi?” tanya Mimi Mama dengan berteriak.


“Kau menggodaku!” jawab Arda Handara dengan berteriak pula, seolah ingin melawan kebisingan alam.


“Apa maksudmu, Ulat Bulu?” tanya Mimi Mama tidak mengerti dan curiga.


“Kecantikanmu menggodaku untuk ikut bertempur lagi. Hahaha!” jawab Arda Handara yang berujung tawa.


“Kau masih kecil, jangan suka menggombal!” hardik Mimi Mama.


“Hahaha! Bukan itu. Melihatmu bersemangat, aku jadi ikut bersemangat,” jawab Arda Handara. Kali ini dia menjawab serius.


“Rupanya Pangeran Bewe Sereng membawa banyak orang sakti,” ucap Gulolo Bio yang memandangi kedatangan sepasang anak tersebut. “Waktunya unjuk taring.”


Setelah berkata seperti itu, Laksamana Muda Gulolo Bio lalu melompat jauh ke depan meninggalkan kapalnya.


Krak! Krak! Krak …!


Menakjubkan, ketika satu ujung kaki lelaki itu menyentuh permukaan air laut, air laut itu langsung membeku membatu dengan lebar yang cukup untuk dijadikan tempat bertolak. Air yang membeku menjadi tolakan sehingga Gulolo Bio bisa melompat jauh ke depan lagi. Saat ujung kaki satunya lagi menyentuh air laut, air itu langsung membeku batu.


Gulolo Bio membiarkan kedua bocah yang terbang dan berselancar lewat menuju ke arah kedua kapal, dia lebih fokus kepada sosok Eyang Hagara.


“Eyang Hagara, kami duluaaan!” teriak Arda Handara sambil melambai tangan kepada paman yang disebutnya Eyang itu.


Pada saat itu, sosok Gulolo Bio telah melompat tinggi dengan kedua tangan bersinar putih terang keperakan.


Surss!

__ADS_1


Saat berada di puncak lompatannya, dia menghentakkan kedua tangannya ke arah posisi Eyang Hagara. (RH)


__ADS_2