
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
“Aku hanya berniat menjebol dinding sinar itu. Eh, tidak tahunya, selain menghancurkan bola sinar Kakak Tikam, tembakanku juga menembus Kakak Abel.”
Itulah dalih Arda Handara ketika ditanya tentang pembunuhannya yang kedua.
Karena Dewi Ara tidak mempermasalahkan pembunuhan tidak sengaja yang dilakukan putranya, maka Tikam Ginting pun tidak mempermasalahkannya.
Namun, Tikam Ginting jadi tahu bahwa ternyata ketapel Ki Ageng Naga bukan senjata berkesaktian setengah-setengah. Buktinya, Penjara Bola Cemburu yang memiliki kekuatan tinggi bisa dijebol dengan mudah.
Setelah membunuh Abel Srikunti, setelah pedati yang dibeli diantar ke penginapan, setelah memberi bayaran kepada Demang Bajang, Dewi Ara pun melanjutkan perjalanan.
Pangeran Bewe Sereng yang sudah bisa bicara, telah menunjukkan arah jalan. Berdasarkan petunjuknya, setelah melewati wilayah Kerajaan Welang, mereka harus menuju ke pesisir, tepatnya ke kota Bandakawen.
“Lalu kapan kalian akan menikah?” tanya Dewi Ara kepada Anik Remas dan Bagang Kala saat mereka sedang berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan.
“Menunggu waktu yang tepat, Dewi,” jawab Anik Remas.
“Kalian harus cepat menikah, daripada setiap pagi kalian melakukan ritual di kamar mandi,” kata Dewi Ara datar.
Tersipu malulah pasangan kekasih tersebut karena aktivitas kamar mandinya terbaca oleh sang permaisuri.
“Main apa di kamar mandi, Ibunda?” tanya Arda Handara kepo.
“Sama seperti kau mandi bersama Brojol,” jawab Dewi Ara.
“Oooh,” ucap Arda Handara mengerti.
“Lebih baik kalian menikah di Bandakawen. Orang yang menikah di sana akan dibiayai oleh syahbandar, bahkan diberi bekal perjalanan,” kata Bewe Sereng yang kini duduk setengah berbaring di atas sebuah tandu khusus.
Bewe Sereng telah dibuatkan sebuah tandu khusus oleh seorang perajin rotan di Kademangan Bayongan. Bagang Kala dan Bong Bong Dut bertugas mengangkat tandu naik ke pedati yang ditarik oleh dua ekor kuda layaknya kereta.
Dengan adanya pedati, kecepatan perjalanan rombongan Dewi Ara menjadi lebih cepat dari sebelumnya.
“Berarti masih ada tujuh Pembunuh Kepeng Emas yang mengejar kita, Dewi,” kata Tikam Ginting sambil memacu kudanya di sisi kuda Dewi Ara.
“Tingkatkan kewaspadaan, jangan sampai para pembunuh itu membunuh secara acak,” perintah Dewi Ara.
__ADS_1
“Baik, Dewi.”
Di tengah perjalanan, pada satu daerah, rombongan itu bertemu seorang lelaki pejalan kaki yang berjalan searah. Lelaki berpakaian lusuh warna kuning itu mengenakan topi caping anyaman bambu. Tongkat dan jenggotnya yang putih menunjukkan bahwa orang itu adalah orang yang sudah tua.
Ketika rombongan mendahului kakek pejalan kaki itu, Dewi Ara bersikap abai. Berbeda dengan Tikam Ginting yang sempat menengok memandangi wajah depan si kakek. Ternyata kakek itu memiliki hidung yang cacat, sehingga sekilas terlihat menyeramkan, seperti manusia berhidung tengkorak.
“Sepertinya orang itu seorang pendekar!” kata Tikam Ginting kepada Dewi Ara.
“Aku tahu, tapi tidak ada urusan dengan kita,” kata Dewi Ara.
Ratu Wilasin dan Arda Handara juga menengok memandangi si kakek yang mereka lewati. Ketika si kakek yang tidak memiliki daging dan kulit hidung itu balas memandang kepada Arda Handara, bocah itu sengaja tersenyum lebar. Namun, si kakek tidak memberi reaksi apa pun.
Hingga akhirnya rombongan Dewi Ara meninggalkan si kakek dan hilang di kejauhan.
Deg!
Terhentak jantung Tikam Ginting, Lentera Pyar, Setya Gogol, Bong Bong Dut, Anik Remas, dan Bagang Kala, saat mereka melihat di depan sana ada sosok lelaki bercaping, berpakaian kuning dan bertongkat kayu. Sosok yang berjalan pelan dan searah itu mirip orang yang tadi mereka telah lewati dan tinggalkan.
Ketika rombongan berkuda itu mendahului si kakek yang berjalan, Dewi Ara bersikap abai. Pandangannya tetap lurus tanpa mempedulikan orang yang mereka lewati.
Namun tidak bagi Tikam Ginting dan yang lainnya. Mereka kembali menengok ramai-ramai untuk memastikan, apakah sosok berbaju kuning itu adalah kakek yang sama, yang telah jauh mereka tinggalkan.
Ketika melihat wajah si kakek, ternyata sama tanpa hidung yang normal.
Bagang Kala yang terkejut spontan menarik kencang tali kendali kuda penarik pedati. Pedati kuda itu mengerem mendadak, tidak jauh setelah melewati kakek berhidung cacat.
Karena pedati mendadak berhenti, mau tidak mau Dewi Ara dan mereka yang menunggang kuda di depan jadi menahan laju kudanya. Mereka segera melihat ke pedati.
Tampak Arda Handara memandang kepada kakek yang berjalan mendekati posisi pedati kuda.
“Kakek, ayo menumpang di pedati kami! Bukankah Kakek ke arah yang sama?” panggil Arda Handara tanpa memiliki rasa curiga kepada kakek yang wajahnya tidak membuat sang pangeran takut.
“Arda!” panggil Tikam Ginting kencang, sambil cepat melarikan kudanya mendekati pedati.
Pada saat yang sama, kakek bercaping juga tiba di dekat pedati.
Kecuali Dewi Ara dan putranya, orang-orang dalam rombongan itu menjadi tegang. Mereka menduga kuat bahwa kakek itu adalah pendekar berkesaktian tinggi. Terbukti si kakek bisa berpindah tempat sangat jauh mendahului kecepatan lari kuda.
Arda Handara jadi menengok kepada Tikam Ginting yang datang dengan berkuda.
__ADS_1
“Jangan sembarangan mengajak orang yang tidak dikenal!” kata Tikam Ginting.
“Tapi kakek itu kasihan, Kakak Tikam. Dia sudah tua,” kilah Arda Handara.
“Benar dia sudah tua, tapi dia pendekar sakti dan kita tidak tahu apakah dia punya maksud jahat atau tidak,” kata Tikam Ginting blak-blakan di depan si kakek berwajah buruk.
“Sepertinya pedatimu sudah penuh, Nak,” kata si kakek akhirnya. Lalu tanyanya yang membuat semua terkejut, “Apakah kau putra dari Dewi Geger Jagad?”
Pertanyaan si kakek menggelitik telinga Dewi Ara, karena kakek itu menyebut julukan lawasnya, yaitu Dewi Geger Jagad.
“Berarti lelaki itu mengenalku di masa lalu. Tapi siapa dia? Aku tidak mengenalnya …,” batin Dewi Ara, tapi memilih belum mau mendekat.
“Bukan Dewi Geger Jagad, Kek, tapi Permaisuri Geger Jagad,” ralat Arda Handara.
“Oooh permaisuri? Dewi Geger Jagad menjadi permaisuri?” tanya si kakek seolah tidak percaya.
“Hahahak! Jika Kakek tidak percaya, datanglah ke Kerajaan Sanggana Kecil, tapi tunggu aku pulang, agar aku bisa menyuguhkan sop uyut-uyut,” kata Arda Handara yang dihiasi tawanya.
“Iya, iya. Hehehe!” ucap si kakek lalu terkekeh. “Silakan lanjutkan perjalanan.”
“Hati-hati, Kek. Jika lelah, istirahatlah,” kata Arda Handara.
“Hehehe!” Si kakek hanya terkekeh mendengar pesan Arda Handara.
“Kita lanjutkan perjalanan, Bagang!” perintah Tikam Ginting.
“Baik!” sahut Bagang Kala.
Bagang Kala lalu menghentakkan tali kendali kuda sehingga bergerak bergelombang. Kuda pun mulai berlari lagi. Tikam Ginting kembali memutar arah kudanya.
Si kakek menyempatkan memandang kepada Dewi Ara seraya tersenyum, ketika rombongan itu kembali bergerak meninggalkannya. Dewi Ara tidak memberi reaksi kepada si kakek.
Dewi Ara melanjutkan perjalanannya. Tikam Ginting kembali berkuda di sisi kuda junjungannya.
“Jika sampai dia muncul lagi di depan kita, aku akan mempermasalahkan tindakannya!” gerutu Tikam Ginting.
“Kau yakin bisa mengalahkannya jika kesaktiannya setinggi itu?” tanya Dewi Ara.
“Sepertinya dia mengenalmu, Dewi,” kata Tikam Ginting.
__ADS_1
“Aku pasti pernah mengenalnya, tapi aku lupa. Dulu aku memiliki banyak sekali musuh orang sakti, tidak mungkin mereka semua menghilang begitu saja,” kata Dewi Ara.
Ternyata, sosok kakek misterius berhidung tengkorak tidak muncul lagi di depan perjalanan rombongan Dewi Ara. (RH)