Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 25: Mendobrak Benteng Gaib


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Seperti pasukan jagoan yang naik level dalam sebuah permainan gim perang, Arda Handara dan Eyang Hagara bersama pasukan ibu kota Tanah Hitam menuju gerbang Istana Kabut Kuning, yang pastinya sudah ada penjaga sakti menunggu.


Mereka meninggalkan pinggiran dalam Ibu Kota dan menyeberangi tanah lapang untuk sampai ke gerbang benteng Istana yang terlihat rendah, karena ketinggian Istana tidak terlihat oleh tutupan kabut kuning yang terlihat gelap.


“Arda, berhenti!” seru Eyang Hagara sambil mengangkat tangannya, memberi tanda kepada pasukan di belakang agar berhenti.


Arda Handara yang terbang segera mengerem terbangnya hingga berhenti tanpa niat mendarat.


“Aaa!” teriak Arda Handara karena dia meluncur turun tertarik oleh hukum gravitasi.


Mau tidak mau, Eyang Hagara bergerak menangkap bocah yang sengaja mau mengerjai paman tuanya itu.


Eyang Hagara tahu bahwa di depan gerbang dan benteng Istana yang tidak terlihat ada penjaga itu, ada lapisan gaib yang menjadi benteng.


Seet! Bdar!


Eyang Hagara lalu melempar tongkat kayunya yang bersinar merah ke arah gerbang Istana yang tinggi dan besar.


Dan ketika tongkat itu hendak menghantam pintu, tiba-tiba tongkat itu hancur lebur, seolah-olah menghantam satu dinding gaib yang berkekuatan. Hal itu membuat Eyang Hagara agak mendelik, sementara Arda Handara bersikap biasa saja karena memang hanya Eyang Hagara yang tahu betapa kuat tongkat miliknya.


Eyang Hagara lalu berjalan maju untuk mendekati posisi dinding gaib yang kuat itu. Arda Handara dan pasukan Ibu Kota hanya diam di tempatnya, menunggu apa yang akan terjadi. Mampukah Eyang Hagara menghancurkan benteng gaib itu? Jangan dijawab.


Seperti ketika hendak menghancurkan benteng gaib ibu kota Tanah Hitam, Eyang Hagara menempelkan telapak tangan kanannya pada dinding gaib yang dirasakannya hangat, tetapi tidak sehangat cinta seorang wanita.


Kemudian, dari tempelan telapak tangan itu keluar pendaran cahaya hijau.


Bluar!


Ledakan cahaya bersuara keras terjadi. Namun, berbeda dari sebelumnya. Kali ini Eyang Hagara terlempar mundur dan mendarat dengan sempoyongan, nyaris jatuh jelek.


“Tidak bisa,” ucap Eyang Hagara sambil geleng kanan dan kiri.


“Hah! Tidak bisa, Eyang?” tanya Arda Handara terkejut sungguhan.


“Tidak bisa. Mau tidak mau, kita harus menunggu ibundamu tiba atau musuh keluar dari dalam Istana,” tandas Eyang Hagara.


Sementara itu, rombongan Pangeran Bewe Sereng dan Menteri Kete Weleng baru tiba di pinggiran ibu kota Tanah Hitam. Bersama mereka ada pasukan bersenjata, tapi tidak berbaju, tapi masih bercelana.


“Kenapa Komandan Satu mati di sini?” tanya Kete Weleng yang pertama menemukan mayat Komandan Satu Lingba Meon.


“Berarti Pendekar Hagara dan Pangeran Arda sudah menuju Istana,” jawab Bewe Sereng. “Ayo, kita langsung ke Istana membantu mereka!”

__ADS_1


Maka Bewe Sereng dan yang lainnya segera meneruskan perjalan melewati Ibu Kota untuk menuju ke Istana Kabut Kuning.


Singkat waktu.


Tanpa hambatan, mereka akhirnya tiba di depan gerbang Istana Kabut Kuning. Mereka heran ketika melihat keberadaan Eyang Hagara dan Arda Handara yang hanya menunggu bersama pasukannya.


“Apa yang terjadi, Tetua?” tanya Bewe Sereng kepada Eyang Hagara.


“Aku tidak bisa menghancurkan dinding gaib yang melapisi Istana ini,” jawab Eyang Hagara. “Jadi kami hanya menunggu kedatangan Gusti Permaisuri atau musuh yang keluar sendiri.”


“Biar aku coba,” kata Bewe Sereng.


Dia lalu melakukan gerakan memanah tanpa busur dan anak panah. Tangan kanannya yang menekuk lalu menarik ke belakang dengan ibu jari dan jari telunjuk saling menekan. Jepitan dua jari itu lalu membuka.


Sets! Bluar!


Satu sinar merah berapi-api berwujud anak panah tebal melesat cepat dan meledak keras sebelum mengenai gerbang benteng Istana. Setelah itu hening.


Tek! Des!


Eyang Hagara kemudian menendang satu batu yang melesat dan membentur dinding gaib yang ternyata masih ada. Batu itu sekedar untuk pembuktian.


“Sepertinya kita memang hanya bisa menunggu,” kata Bewe Sereng.


Terbeliaklah sepasang mata Eyang Hagara dan Arda Handara yang mendengar pertanyaan itu.


“Hahaha!” tawa Arda Handara akhirnya.


Tanpa berkata-kata lagi, bocah itu memasang sebutir kerikil pada ketapel Ki Ageng Naga. Kali ini Arda Handara serius dengan berkonsentrasi dan memfokuskan pikirannya.


Sets! Fusss! Bluar!


Kerikil itu melesat dalam wujud bola sinar putih menyilaukan seperti sinar las karbit.


Terdengar suara mendesis seperti aliran angin yang ditekan ketika menabrak dinding gaib. Namun, tidak sebatas itu, sinar putih menyilaukan itu terus melesat dan menghantam pintu gerbang. Ledakan hebat terjadi yang menghancurkan daun pintu gerbang yang besar dan tebal.


Eyang Hagara dan yang lainnya hanya bisa terpana dalam kondisi alam yang bergetar samar.


“Hahahak!” tawa jumawa Arda Handara melihat kehebatan tembakannya. Itu adalah peluru terhebatnya yang pernah dia lepaskan.


“Ayo!” seru Bewe Sereng bersemangat.


“Berhenti!” teriak seseorang tiba-tiba dari arah belakang.


Mereka pun dipaksa menengok ke belakang.

__ADS_1


Di belakang sana, ada empat orang berperawakan pendekar telah berdiri. Dua lelaki dan dua wanita. Dari pencahayaan obor besar yang ada di atas benteng Istana, bisa dilihat wajah-wajah mereka. Mereka berempat tidak lain adalah dua pasang dari Kekasih Laut.


“Mereka adalah pendekar di Angkatan Laut Kerajaan Puncak Samudera,” kata Kete Weleng yang kenal wajah-wajah mereka. “Jika hanya menghadapi satu orang, aku juga masih bisa.”


Set set set …!


Kete Weleng lalu melesatkan sepuluh panah sinar biru ke sembarang arah.


Set set set …!


Ternyata, lelaki yang bernama Gelaga Wing melepaskan sepuluh panah sinar hijau dari busurnya yang tanpa anak panah ke sembarang arah.


“Bawa pasukan masuk ke Istana, Pangeran,” kata Eyang Hagara.


“Baik,” ucap Bewe Sereng.


“Anik, bagaimana kalau kita ambil satu?” tawar Bagang Kala kepada istrinya.


“Dengan senang hati, Satria Anginku,” jawab Anik Remas so sweet.


“Dua orang berikan kepadaku!” kata Eyang Hagara. Lalu katanya kepada Arda Handara, “Pangeran, ikutlah menyerbu ke dalam!”


“Baik, Eyang,” ucap Arda Handara. “Ayo, Kakang Gogol!”


Arda Handara lalu melesat terbang lebih dulu menuju gerbang yang sudah berlubang besar.


“Pasukan Negeri Pulau Kabut, majuuu!” teriak Bewe Sereng memerintah.


“Seraaang!” teriak pasukan yang semakin ramai dalam dua warna seragam. Satu seragam kuning, satu lagi seragam kulit.


Sementara itu Eyang Hagara, Kete Weleng, Bagang Kala dan Anik Remas segera berkelebat ke belakang untuk menghabisi orang-orang Kerajaan Puncak Samudera.


Namun, sebelum Bewe Sereng dan pasukannya sampai ke gerbang, tiba-tiba di atas tembok benteng Istana bermunculan para prajurit berseragam kuning-kuning. Mereka semua langsung mengekerkan anak panahnya ke arah Bewe Sereng dan pasukannya.


Kemunculan mereka cukup mengejutkan Bewe Sereng dan pasukannya. Sementara Arda Handara menyikapi kemunculan pasukan itu dengan terbang lurus ke atas.


“Berhentiii!” teriak Bewe Sereng cepat.


Pasukan pun berhenti mendadak.


“Panah siap!” teriak pemimpin prajurit.


Pasukan panah pun segera ambil posisi dalam formasi dan mengarahkan ujung panahnya ke atas benteng.


Dua pasukan panah pun saling ancam dalam ketegangan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2