Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 18: Masuk Tanah Hitam


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Arda Handara terus melesat terbang lurus di atas hutan yang gelap. Terbang seorang diri tidak membuat Arda Handara takut atau khawatir, tetapi membuat bocil itu berwajah serius. Dia harus memandang dengan teliti, jangan sampai kegelapan malam membuat dirinya menabrak gunung atau sebatang pohon kelapa purba, yang konon menurut dongeng tingginya setinggi gunung karena dia tumbuh di gunung.


Dia juga tidak melihat keberadaan Eyang Hagara, maklum kakek berhidung tengkorak itu tidak membawa lampu senter. Namun, Arda Handara tidak perlu mengkhawatirkan paman tuanya itu karena sudah besar, bahkan sudah tua. Jikapun mati, berarti sudah ajalnya.


Arda Handara terus melesat terbang bersama tongkat terbangnya seperti anak tukang sihir.


Hingga akhirnya Arda Handara melihat permukiman yang ada lentera-lentara kecil dan obor-obor menyala, tetapi terlihat sepi.


Arda Handara terbang merendah untuk memasuki permukiman yang merupakan ibu kota Tanah Hitam.


Bdag!


“Akk!” pekik Arda Handara tiba-tiba saat dia menabrak sesuatu yang tidak terlihat olehnya.


Menabrak sesuatu itu membuat Arda Handara terpental berpisah dengan tongkat terbangnya.


“Aaa …!” Arda Handara hanya bisa menjerit panjang meluncur jatuh menuju bumi.


Namun, belum waktunya dia mati. Satu bayangan melesat cepat menyambarnya. Bahkan Tongkat Kerbau Merah tidak sempat sampai ke tanah karena tersedot oleh satu kekuatan. Tongkat terbang itu melesat dan terhenti di dalam tangkapan tangan Eyang Hagara, yang sudah menggendong Arda Handara dengan satu tangan.


“Fuuuh! Untung Eyang masih hidup. Padahal aku sudah membayangkan bertempur tanpa Eyang,” kata Arda Handara lega, tapi mengusap-usap jidatnya yang terasa sakit.


“Belum waktunya kau hidup tanpa Eyang. Tiga calon istrimu menunggumu,” kata Eyang Hagara.


“Eyang, apa itu tadi? Kenapa aku jatuh?” tanya Arda Handara.


“Rupanya kota ini dibentengi oleh kesaktian tinggi. Itu artinya, kedatangan kita telah diketahui,” jawab Eyang Hagara.


“Lalu bagaimana kita masuk?” tanya Arda Handara.


“Mudah. Tapi, coba kau lari dulu ke depan,” kata Eyang Hagara.


Arda Handara yang sudah diturunkan dari gendongan itu lalu berlari sedang ke depan.


Dagk!


“Aw!” pekik Arda Handara lagi mengaduh.


Anak itu terpental dan terjengkang setelah menabrak sesuatu yang tidak terlihat.

__ADS_1


Eyang Hagara datang dan menyodokkan kepala tongkat terbang yang dipegangnya. Ternyata ada dinding keras yang tidak terlihat. Eyang Hagara menusuk beberapa titik, semuanya keras.


“Jika Eyang hanya ingin memeriksa, kenapa aku yang disuruh berlari?” dumel Arda Handara.


“Hehehe!” kekeh Eyang Hagara. Lalu katanya, “Mundurlah!”


Arda Handara mundur. Eyang Hagara memberikan kembali Tongkat Kerbau Merah kepada Arda Handara.


Sementara itu, Eyang Hagara berdiri dengan telapak tangan kanan menempel pada dinding gaib. Terlihat jelas bahwa telapak tangan kanan Eyang Hagara berdiri lurus menekan seperti menempel pada sebuah bidang yang lurus ke atas.


Sebentar kemudian, telapak tangan tua Eyang Hagara memendarkan cahaya hijau muda.


Bluar!


Tiba-tiba satu ledakan tenaga sakti yang begitu besar terjadi yang bahkan membuat bumi bergetar sejenak. Ibu kota Tanah Hitam seolah terguncang. Suara ledakan itu mengejutkan sebagian besar warga Ibu Kota, seperti ban truk tanah meledak di tengah malam.


Tidak berapa lama, suasana Ibu Kota agak lebih terang karena ada warga yang menyalakan dian di dalam rumahnya. Jelas mereka penasaran, suara ledakan apa itu. Namun, mereka hanya berani mengintip.


Setelah ledakan itu, Eyang Hagara berjalan maju dengan enteng tanpa ada hambatan sedikit pun. Hal gaib yang tadi menghadang terbang dan langkah Arda Handara sudah tidak terasa. Arda Handara pun berlari menyusul pamannya.


Fung fung fung …!


Namun yang jelas, tidak berapa lama setelah ledakan dahsyat itu, terdengar suara tiupan terompet cangkang kerang yang bernada putus-putus, tetapi beritme cepat.


Drap drap drap …!


Dari kejauhan di dalam kota, terdengar suara ramai lari kaki banyak orang. Sudah bisa ditebak dari irama larinya, siapa orang-orang yang berlari itu. Sementara Eyang Hagara dan Arda Handara terus berjalan memasuki ibu kota Tanah Hitam.


Drap drap drap …!


Cukup lama suara lari kaki yang banyak itu hanya terdengar tapi belum terlihat wujudnya. Namun, semakin lama, suaranya semakin keras dan mendekat. Cahaya obor yang mereka bawa juga terlihat bergerak cepat.


“Eyang, ayo kita sembunyi, agar mereka tidak tahu di mana kita. Nanti yang tahu kita beri hadiah!” kata Arda Handara serius.


“Hadiah apa?” tanya Eyang Hagara.


“Uyut-Uyut. Hahaha!” jawab Arda Handara lalu tertawa terbahak.


Drap drap drap …!


Akhirnya pasukan prajurit yang ditunggu pun muncul dari balik tikungan. Mereka bersenjata tombak dan tameng. Sebagian membawa obor. Berbeda dari pasukan di pelabuhan yang berseragam biru-biru, pasukan yang ini berseragam kuning-kuning.


“Kepuuung!” teriak seseorang yang sudah melihat keberadaan Eyang Hagara dan Arda Handara.

__ADS_1


Pasukan bertombak yang jumlahnya sekitar lima puluh orang itu terus berlari dalam dua baris, lalu memecah mengelilingi posisi tamu yang tidak diundang dan tidak dikenal pula. Tidak bawa amplop pula.


Ujung pasukan itu kembali bertemu dan fiks mengepung Eyang Hagara dan Arda Handara. Mereka memajukan ujung tombaknya sebgai ancaman. Di belakang pasukan yang sebelah depan, ada dua saf pasukan panah siap panah.


Di saat Eyang Hagara berdiri tenang, Arda Handara sudah berdiri menjepit Tongkat Kerbau Merah dengan kedua pahanya.


“Eyang, bukankah kata Tangan Kanan Beser ….”


“Iya, Eyang tahu. Mereka adalah pasukan Negeri Pulau Kabut,” kata Eyang Hagara memotong kata-kata Arda Handara.


Di belakang pasukan panah ada berdiri seorang lelaki berbadan besar tanpa baju. Cahaya obor membuat wajah sangarnya yang berkumis tebal ala Mas Adam jelas terlihat. Lehernya dilingkari ring logam. Senar busur menyelempang di badannya. Perwira itu adalah Komandan Satu Lingba Meon.


“Siapa kalian?!” tanya Lingba Meon dengan membentak garang.


“Kami berdua diutus oleh Putri Mahkota Putri Keken,” jawab Eyang Hagara.


Terkejutlah Lingba Meon dan pasukannya. Para prajurit itu jadi saling pandang, seolah-olah minta pendapat rekannya.


“Kalian semua adalah prajurit Negeri Pulau Kabut yang setia kepada Putri Mahkota. Putri Keken telah datang bersama kekuatan yang sangat besar untuk mengambil kembali haknya, yaitu tahta Istana Kabut Kuning. Berbaliklah berpihak kepada kami!” seru Eyang Hagara.


Maka riuhlah pasukan itu dalam kasak-kusuknya. Mereka melakukan diskusi singkat antarsesama.


“Heaat!” teriak Lingba Meon murka sambil kedua tangan besarnya mencengkeram kepala dua prajurit panah yang ada depannya.


Prekr!


Terdengar suara tulang pecah, mengejutkan semua prajurit yang melihat dua rekan mereka dipecahkan kepalanya dengan sekali cengkeram.


“Siapa yang memberontak, maka akan aku bunuh!” ancam Lingba Meon.


Sejenak semua prajurit Negeri Pulau Kabut itu tegang.


Memang, para prajurit itu tunduk di bawah perintah Komandan Satu Lingba Meon yang merupakan perwira Kerajaan Puncak Samudera. Dia ditempatkan di Ibu Kota untuk memegang keamanan. Dia memimpin dengan tangan besi.


“Jangan takut. Jika aku bisa dengan mudah menghancurkan benteng gaib kota ini, maka dengan muda orang itu bisa aku bunuh,” kata Eyang Hagara memberi jaminan.


“Serang Komandaaan!” teriak seorang prajurit bertombak dengan keras.


Set set set …!


Pasukan bertombak tiba-tiba melemparkan tombaknya ke arah Lingba Meon. Sementara pasukan panah buru-buru berlari meninggalkan posisinya agar tidak terkena tombak nyasar.


“Kurang ajar sekaliii!” teriak Lingba Meon murka. (RH)

__ADS_1


__ADS_2