
*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*
Permaisuri Dewi Ara dan rombongannya tidak memiliki urusan dengan kedua pihak yang bertarung. Untuk mengetahui siapa yang jahat, maka Dewi Ara membiarkan Arda Handara maju ketika putranya itu punya jiwa penolong.
Arda Handara pun dibiarkan berlari seorang diri. Tentunya, Dewi Ara sebagai ibunya, tidak akan melepas putranya tanpa adanya kepastian perlindungan.
Maka, ketika kelompok berpakaian hitam dengan kejam menargetkan Arda Handara yang adalah seorang bocah, Dewi Ara pun bisa mengambil kesimpulan.
“Kita sudah mengetahui siapa orang jahatnya. Bola Cinta, selamatkan pemuda itu!” perintah Dewi Ara kepada pendekar pengawalnya.
“Baik, Dewi! Heah heah!” ucap Tikam Ginting lalu langsung menggebah kudanya dengan kencang.
Sementara itu, Arda Handara yang berhenti di pertengahan jarak antara posisi kelompok berpakaian hitam dan posisi rombongan berkuda Dewi Ara, jadi bingung setelah terjadi adu panah singkat di depan matanya yang membuat satu lelaki pemanah tewas oleh panah Bewe Sereng.
Arda Handara melihat Tikam Ginting datang berkuda dengan cepat ke arah posisinya.
“Arda, mundur!” teriak Tikam Ginting yang berkuda kencang dengan tangan kiri memegang tali kekang kuda dan tangan kanan telah dikelilingi enam bola-bola sinar biru kecil. Jelas itu menunjukkan bahwa dia akan menyerang.
“Baik!” sahut Arda Handara lalu berlari pulang menanjaki jalan yang mendaki.
Kuda Tikam Ginting melewati Arda Handara dengan begitu cepat dan meninggalkan debu jalanan yang kering itu.
Ctas ctas!
Sementara itu, Garda Tadapan yang terkapar tapi masih hidup, tiba-tiba melecutkan cambuknya dengan sisa tenaganya.
“Akk! Akk!” jerit dua lelaki ketika kaki mereka terkena lecutan cambuk yang menghanguskan dan membakar rambut kaki. Namun, itu tidak membunuh kedua korban.
“Bunuh!” teriak salah satu dari orang-orang itu setelah Garda Tadapan masih berusaha melawan.
“Heaaat!” maka kompak sepuluh lelaki berkapak membacokkan senjata mereka dari jarak dekat.
Garda Tadapan hanya bisa memejamkan mata karena dia sudah tidak sanggup menghindar atau melawan dengan cambuknya.
Namun, Garda Tadapan cepat membuka matanya saat tidak merasakan sakit baru dari serangan musuh.
“Hah!” kejut Garda Tadapan saat melihat sepuluh mata kapak yang seram tertahan satu jengkal dari wajah dan tubuhnya. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa orang-orang bertopeng itu tidak sedang mematung, tetapi berusaha menekan senjatanya yang tida bisa turun, seolah tertahan oleh satu kutukan.
Tiba-tiba kesepuluh lelaki bertopeng yang rapat berebut hendak membacoki Garda Tadapan, berpentalan ke belakang dan kompak jatuh terjengkang.
Set set set!
__ADS_1
Serombongan anak panah datang menyambut kedatangan Tikam Ginting bersama kudanya. Justru sepertinya serangan itu menargetkan sang kuda yang tidak memiliki kesaktian untuk menangkis atau melompat menghindar.
Bukan Pengawal Bunga namanya jika tidak bisa mengatasi serangan seperti itu.
Seess! Wuus!
Tangan kanan Tikam Ginting menghentak melesatkan enam bola sinar biru kecil yang menyelisihi rombongan anak panah. Pada saat sama, tangan kiri Tikam Ginting melepas pegangan tali kuda dan menghentak melepaskan angin pukulan yang keras.
Nah, angin pukulan itulah yang menghadang dan menghempaskan serangan panah.
Blar blar blar …!
Sementara itu, keenam bola sinar biru yang melesat jauh jatuh di tengah-tengah kelompok bertopeng. Namun, mereka dengan mudah dan serentak melompat menghindari ledakan-ledakan yang merusak tanah jalanan.
Ledakan yang bisa membongkar kulit dan daging itu juga terjadi di dekat tubuh Garda Tadapan yang tergeletak, tapi karena ia dilindungi oleh satu kekuatan yang tidak terlihat, maka dia aman. Garda Tadapan yang kenahan sakit, hanya bisa terheran.
“Siapa yang melindungiku?” ucapnya lirih sambil melihat ke sekeliling. “Apakah wanita berkuda ini?”
“Bunuh pemuda itu!” perintah lelaki bertopeng yang memegang kotak kayu putih.
Wut wut wut …!
Lebih sepuluh kapak hijau dilemparkan ramai-ramai kepada Garda Tadapan. Namun, lagi-lagi ada kekuatan tidak terlihat melindungi pemuda yang sudah terpanah dua kali itu. Semua kapak terpental balik sebelum mencapai tubuh Garda Tadapan.
“Munduuur!” teriak lelaki bertopeng pembawa kotak pada akhirnya. Sepertinya dia menyadari keberadaan seorang pendekar sakti yang levelnya jauh di atas kesaktian mereka.
Orang-orang bertopeng itu segera bergerak mundur dengan membawa rekan-rekan mereka yang terluka.
Jleg!
Tikam Ginting mendarat kokoh tidak jauh dari tubuh Garda Tadapan.
Pergerakan mundur orang-orang bertopeng itu tidak diikuti oleh pengejaran. Mereka dibiarkan pergi begitu saja.
“Terima kasih, Nisanak, atas pertolonganmu,” ucap Garda Tadapan seraya meringis kesakitan.
“Berterima kasihlah kepada junjunganku yang melindungimu sejak tadi,” kata Tikam Ginting.
“Oh,” desah Garda Tadapan sambil menengok memandang jauh ke atas. “Dari jarak sejauh itu dia bisa melindungiku?”
“Kau tidak perlu heran,” kata Tikam Ginting.
“Sayang, mereka berhasil membawa pusaka Cambuk Usus Bumi,” ucap Garda Tadapan sambil mencoba bangkit dan berdiri.
__ADS_1
“Itu bukan urusan kami. Junjunganku hanya memerintahkan untuk menyelamatkamu agar tidak mati,” kata Tikam Ginting.
Setelah kelompok berpakaian hitam pergi dan menghilang di balik alam yang ada, Dewi Ara menjalangkan kudanya menuruni jalan yang diikuti oleh Bewe Sereng, Setya Gogol dan Lentera Pyar.
Sementara Tikam Ginting berlari pergi untuk memeriksa mayat-mayat murid Perguruan Cambuk Neraka dan mayat Pendekar Cambuk Enam. Ia pun memeriksa isi bilik kereta kuda.
Garda Tadapan memandangi kedatangan Dewi Ara yang di depannya telah duduk Arda Handara. Dalam hati ia terkagum-kagum melihat kecantikan Dewi Ara yang semakin dekat semakin terlihat jelita dan semakin jelas. Namun, Garda Tadapan tidak berani berandai-andai kepada wanita yang telah menyelamatkan nyawanya, terlebih Dewi Ara sudah punya anak.
“Terima kasih atas bantuanmu, Nisanak,” ucap Garda Tadapan sambil menjura hormat saat Dewi Ara sudah tiba tiga tombak dari tempatnya berdiri.
“Putraku tidak tega melihatmu mati, jadi aku menolongmu,” kata Dewi Ara dingin.
“Lapor, Dewi, semuanya sudah mati!” lapor Tikam Ginting yang datang menghadap.
Dewi Ara hanya mengangguk. Ia lalu bertanya kepada Garda Tadapan, “Siapa orang-orang yang menginginkan kotak kayu itu?”
“Aku tidak tahu,” jawab Garda Tadapan yang terlihat pucat dan berkeringat sebesar-besar jagung.
“Gogol, bantu urus lukanya!” perintah Dewi Ara.
“Baik, Dewi,” ucap Setya Gogol patuh.
Setya Gogol lalu turun dari kudanya, demikian pula dengan Bewe Sereng dan Arda Handara. Justru Bewe Sereng yang lebih dulu mendekati Garda Tadapan.
Tsek!
“Aaak!” jerit Garda Tadapan saat Bewe Sereng tiba-tiba menekan buntut anak panah pada pahanya, membuat ujung anak panah tembus ke paha bagian belakang.
“Hahaha!” tawa Arda Handara melihat tindakan Bewe Sereng dan jeritan Garda Tadapan.
Setelah menusuk, Bewe Sereng lalu mematahkan anak panah itu dan mencabutnya begitu saja tanpa mencoba memahami perasaan Arda Handara. Bewe Sereng pun mematahkan anak panah pada bahu lalu mencabutnya.
Darah mengalir deras dari lubang kedua luka itu. Setya Gogol segera menangani luka Garda Tadapan.
“Gogol, lukanya diberi uyut-uyut biar lekas sembuh,” ujar Arda Handara sambil memperlihatkan telapak tangannya ke depan mata kedua pemuda itu.
Mendelik Garda Tadapan melihat sekumpulan ulat bulu di tangan bocah itu. Sementara Setya Gogol bersikap biasa saja, karena sudah sering ditunjukkan.
“Mana ada yang seperti itu,” bantah Setya Gogol.
“Kalau dilakukan pasti ada. Hahaha!” kata Arda Handara yang memang bermaksud bergurau.
“Paman Cambuk Enam!” pekik Garda Tadapan tiba-tiba, saat teringat dengan kematian Pendekar Cambuk Enam.
__ADS_1
Pemuda itu buru-buru berjalan terpincang menuju ke dekat kereta kuda yang posisinya cukup jauh. (RH)