Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 50: Sepasang Kekasih Tiba


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


“Serahkan Gandang Duko!” pinta Dewi Ara kepada Ratu Bunga Petir yang kondisinya sudah kembali prima, karena memang dia kalah hanya karena sulit bernapas saat dikurung oleh ilmu Kupu-Kupu Badai.


“Apakah tidak sebaiknya Permaisuri memberi kami kesempatan untuk menjamu?” tawar Ratu Bunga Petir seraya tersenyum, tanpa ada rona permusuhan lagi.


“Apakah ini bentuk penghormatan atau semata-mata jebakan?” tanya Dewi Ara dingin.


“Ibundaku adalah orang yang tulus, Bibi. Aku yang menjamin Bibi akan tetap aman,” kata Mimi Mama.


“Baiklah, aku menyambut niat baik Gusti Ratu. Namun, jika ada siasat licik di balik ini, jiwa masa laluku bisa dengan mudah bangkit,” kata Dewi Ara. Lalu perintahnya kepada Tikam Ginting, “Bebaskan semua pasukan itu!”


“Baik, Dewi,” ucap Tikam Ginting patuh. Lalu teriaknya kepada Komandan Bengisan dan Bong Bong Dut, “Bebaskan semua tawanan!”


“Siap!” sahut Komandan Bengisan.


“Siaaap, Cantik!” teriak Bong Bong Dut pula.


Agak terkesiap Tikam Ginting mendengar jawaban Bong Bong Dut.


“Mulai berani si Gejrot menggodaku,” ucap Tikam Ginting kepada dirinya sendiri.


“Hahahak! Tenang saja, Kakak. Aku bisa menjodohkan kalian!” kata Arda Handara yang didahului tawa kencangnya.


“Mohon maaf, Gusti Permaisuri,” ucap Selir Kedua setelah maju mendekat, kemudian menghormat.


“Bicaralah, Tetua!” perintah Dewi Ara.


“Aku hanya ingin tahu, apa yang akan kau perbuat kepada Gandang Duko?” tanya Selir Kedua selaku ibu dari Gandang Duko.


“Hanya membawanya ke depan Raja Bandelikan. Aku tidak akan mencabuti rambutnya atau kukunya,” jawab Dewi Ara.


“Tidak apa-apa, Ibu,” sahut Gandang Duko dari sisi belakang.


“Tidak apa-apa karena kesaktianmu jauh di atas orang-orang Kerajaan Lampara,” timpal Dewi Ara menerka.


“Sepertinya harapanku akan gagal karena Gusti Permaisuri sudah bisa menerka,” kata Gandang Duko kecewa.


“Silakan, Permaisuri,” ucap Ratu Bunga Petir mempersilakan Dewi Ara untuk berjalan menuju jalan hutan.


Baru saja Dewi Ara hendak melangkah, tiba-tiba dari kejauhan ….


“Gusti Ratu! Gusti Ratu!” panggil seorang wanita berpakaian hijau muda mewah berhias emas dan perak. Dia berlari datang dari ujung pantai.


“Putri Inai Laya,” sebut Selir Kedua.


Selir Kelima yang berjalan menghadang Putri Inai Laya.


“Ada apa, putriku?” tanya Selir Kelima.


“Putri Gunira meninggalkan pulau,” kata Putri Inai Laya.


“Ke mana?” tanya Selir Kelima.


Sementara Ratu Bunga Petir dan lainnya hanya mendengarkan.


“Tadi pergi ke kapal hitam. Lalu dari kapal hitam pergi bersama seorang lelaki,” jawab Putri Inai Laya yang sebelumnya memantau Putri Gunira dari kejauhan.


“Dengan seorang lelaki?” sebut ulang Selir Keenam selaku ibu dari Putri Gunira. Ia segera mendatangi Putri Inai Laya. “Lelaki siapa yang bersamanya?”

__ADS_1


“Kakak Putri Gunira pergi dengan kekasihnya ke Kerajaan Lampara untuk menuntut balas.” Yang menjawab adalah Mimi Mama.


“Siapa kekasihnya? Putriku tidak memiliki kekasih,” tanya Selir Keenam kepada Mimi Mama.


“Kekasih Kakak Putri Gunira adalah Pangeran Rebak Semilon, kakak dari Pangeran Bangir Kukuh yang telah menodai Kakak Putri,” jelas Mimi Mama.


“Appa?!” pekik sebagian besar pihak Pulau Tujuh Selir mendengar kabar mengejutkan itu.


“Putri Gunira telah mengambil jalan hidupnya sendiri,” kata Selir Kedua selaku Tetua Penghukum.


“Tidak! Gusti Ratu harus berbuat sesuatu untuk mencegah putriku pergi ke Gunung Dua!” kata Selir Keenam dengan tetap berusaha tenang.


“Jangan khawatir, Tetua. Kakak Putri dalam lindungan orang yang menyayanginya. Kakak Putri tidak akan apa-apa,” kata Mimi Mama mencoba menenangkan Selir Keenam, meskipun pada kenyataannya, justri Putri Gunira yang akan menjadi pelindung Pangeran Rebak Semilon.


“Hahaha!” Arda Handara mendadak tertawa sambil memandang kepada Mimi Mama, yang artinya dia sedang menertawakan Mimi Mama.


Mimi Mama jadi memandang tajam kepada Arda Handara.


“Omongannya seperti orang tua. Hahaha!” kata Arda Handara.


“Hahaha!” tawa beberapa orang di kedua pihak. Sementara sang ratu hanya tersenyum sebagai ibu dari Mimi Mama.


Sementara Mimi Mama hanya merengut menunjukkan kekesalan menjadi bahan tertawaan.


“Tetua Penghukum, rundingkan masalah Tadayu dan adiknya kepada Tetua Penjaga Telur,” perintah Ratu Bunga Petir. Lalu katanya kepada Dewi Ara, “Silakan, Permaisuri.”


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Selir Kedua patuh.


“Silakan,” kata Dewi Ara datar.


Maka kedua wanita cantik berbeda usia dan keawetan itu lalu berjalan lebih dulu menuju ke jalan hutan meninggalkan pantai. Semua rombongan Dewi Ara ikut.


Gandang Duko untuk sementara di tarik kembali ke penjara.


Sementara sisa-sisa pertarungan adalah urusan Rengkuh Badai.


Dewi Ara dan rombongannya mendapat jamuan makanan lezat yang berbau laut atau sebutan lainnya sea food.


“Hei, Anak Cantik!” panggil Arda Handara kepada Mimi Mama.


Panggilan itu mengejutkan para orang dewasa, tetapi mereka tetap membiarkan Arda Handara mendatangi Mimi Mama yang sedang ikut makan.


“Aku sudah berjanji, jika aku kalah, aku akan memberimu uyut-uyut,” kata Arda Handara.


“Uhhuk uhhuk!” batuk Setya Gogol yang tiba-tiba tersedak mendengar kata-kata Arda Handara. Ia ingin tertawa dalam kondisi makan, sehingga tersedaklah jadinya.


Semua orang jadi memandang kepada Setya Gogol.


“Ma-maaf, Gusti Ratu,” ucap Setya Gogol.


“Namaku Mimi Mama, Putri Cahaya Bulan. Aku adalah anak perempuan tercantik di dunia,” kata Mimi Mama memperkenalkan diri, sambil menengok kepada Arda Handara yang berdiri di sisi kursinya.


“Hahaha!” Arda Handara justru menertawakan Mimi Mama lagi. Lalu katanya dengan bangga, “Aku sudah punya tiga calon istri yang lebih cantik darimu, Mama.


“Uhhuk!” giliran Ratu Bunga Petir yang tersedak mendengar kata-kata Arda Handara, tapi hanya batuk sekali.


Namun, batuk sang ratu tidak menarik perhatian Arda Handara.


“Aku Pangeran Arda Handara, Pendekar Ketapel Naga!” kata Arda Handara pula dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Kubu Dewi Ara jadi mendelik mendengar nama baru yang disandang sang pangeran.


“Sejak kapan kau memiliki gelar pendekar, Arda?” tanya Dewi Ara.


“Sejak aku membunuh orang cebol,” jawab Arda Handara enteng.


“Kakang mengajarinya membunuh orang?” tanya Dewi Ara kepada Eyang Hagara.


“Tidak. Arda hanya membela diri,” jawab Eyang Hagara enteng.


Dewi Ara lalu beralih kepada putranya.


“Selesaikan urusanmu dengan Mimi Mama, lalu kembalilah makan!” perintah Dewi Ara.


“Baik, Ibunda,” jawab Arda Handara patuh.


“Mana uyut-uyutnya?” pinta Mimi Mama.


“Ini,” jawab Arda Handara sambil membuka satu telapak tangannya di depan wajah gadis kecil itu.


“Ak!” pekik Mimi Mama terkejut saat melihat tiga ekor ulat bulu di telapak tangan Arda Handara.


Pak!


Mimi Mama sontak menepak punggung tangan Arda Handara dari bawah, membuat ketiga ulat bulu terlempar melambung ke udara. Ujung-ujungnya ketiga ulat bulu itu mendarat tepat di makanan di piring Mimi Mama.


“Pangeran Ardaaa!” teriak Mimi Mama marah sambil mendelik memandang anak pendek itu.


“Hahahak …!” tawa terbahak Arda Handara sambil berlari memutari meja dan para orang dewasa yang duduk sedang makan. Ia kembali ke kursinya di sisi kanan Dewi Ara.


“Awas, akan aku balas kau nanti!” ancam Mimi Mama.


“Kenapa kau menyalahkanku, bukankah kau sendiri yang meminta dan memukul tanganku?” kelit Arda Handara.


“Jangan berbuat jahil di saat sedang makan!” hardik Dewi Ara sambil menepak pelan kepala Arda Handara.


“Iya, Ibunda,” ucap Arda Handara patuh.


Setelah itu, acara makan kembali berlangsung normal. Dalam perbicangan sambil makan itu, Dewi Ara dan para abdinya mendapat cerita lengkap tentang latar belakang Tadayu dan Gandang Duko berani melakukan penculikan terhadap Putri Uding Kemala.


“Aku hanya akan membawa Gandang Duko dan Tadayu ke hadapan penguasa Pulau Gunung Dua. Juga memulangkan Putri Uding Kemala dengan selamat kepada kedua orangtuanya. Setelahnya terserah mereka,” kata Dewi Ara meyakinkan Ratu Bunga Petir dan beberapa selir yang ikut makan bersama.


Dari luar ruangan tiba-tiba Rengkuh Badai masuk menghadap.


“Lapor, Gusti Ratu. Pangeran Tangan Kuasa sudah pulang bersama Putri Uding Kemala!” lapor Rengkuh Badai.


“Bawa mereka ke Ruang Pengadilan Tujuh Selir!” perintah Ratu Bunga Petir.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Rengkuh Badai patuh.


Setelah menghormat, Rengkuh Badai berbalik pergi.


Singkat cerita, acara jamuan pun diselesaikan dan mereka semua beralih pergi ke ruang persidangan.


Di Ruang Pengadilan Tujuh Selir, Tadayu dan Putri Uding Kemala sudah berlutut. Putri Uding Kemala tampil mengenakan pakaian milik Goreang.


Tadayu yang tiba di pantai disambut dengan tertawaan pasukan karena hanya mengenakan celana daun selutut, kini telah mengenakan baju prajurit pulau. Ketika dia tiba dipantai, dia melucuti pakaian seorang prajurit dan memakainya.


Bukan hanya mereka yang menghadap, ikut serta pula Goreang yang kondisinya masih busikit. Dia tergeletak begitu saja di lantai batu yang dingin.

__ADS_1


Ketika Ratu Bunga Petir dan Dewi Ara bersama rombongannya memasuki ruang persidangan itu, Selir Kedua, Selir Ketiga dan Selir Keenam sudah hadir lebih dulu. (RH)


__ADS_2