Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Jalan Dara 2: Hadiah untuk Arda


__ADS_3

*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*


 


Jika Permaisuri Dewi Ara akan pergi jauh dan lama, itu artinya Pangeran Arda Handara pun harus ikut. Tidak mungkin sang permaisuri pergi menjalankan tugas penting sementara di sisi lain ia terganggu oleh kerinduan. Kerinduan kepada suaminya mungkin bisa ditahan, terlebih Prabu Dira mungkin tidak begitu merindukannya. Namun, kerinduan kepada anak akan sangat mengganggu jika si anak tidak ada bersama.


Prabu Dira tidak keberatan jika Pangeran Arda Handara ikut berpetualang bersama ibunya. Ia yakin bahwa putra sulungnya itu memiliki garis hidup yang hebat, karena itu ia tidak khawatir akan terjadi apa-apa terhadap Arda Handara, terlebih Permaisuri Dewi Ara adalah wanita sakti yang memiliki tingkatan sedikit di bawah Permaisuri Nara.


Jika Pangeran Arda Handara ikut, itu berarti kedua pemomongnya harus ikut juga. Meski berstatus seorang ibu, tetapi Permaisuri Dewi Ara bukanlah tipe ibu yang telaten mengurus anak. Sejak berada di Istana, ia sudah dimanjakan oleh pelayanan dayang-dayang. Banyak berbagai hal tentang pengurusan bayi atau anak dikerjakan oleh dayang atau pemomong.


Selain Setya Gogol dan Lentera Pyar, Permaisuri Dewi Ara juga mengajak satu orang pendekar Pengawal Bunga, yaitu Pendekar Bola Cinta.


Pasukan Pengawal Bunga memiliki seratus sepuluh anggota. Ratu dan kesepuluh permaisuri masing-masing memiliki sepuluh pendekar pengawal, termasuk Permaisuri Dewi Ara. Namun, untuk perjalanan ini dia hanya memilih Pendekar Bola Cinta yang bernama asli Tikam Ginting.


Pendekar Bola Cinta adalah seorang pendekar wanita muda lagi cantik, usianya masih tergolong produktif untuk membuat para pemuda jatuh hati. Meski ia tidak sejelita permaisurinya, tapi ia memiliki bodi secantik kuda friesian dengan rambut hitamnya yang keriting panjang, tidak seperti cabai. Namun, kulitnya tidak sehitam kuda friesian, justru sebaliknya. Jenis kulitnya kuning langsat dan segar. Ia pendekar yang suka dengan warna ungu. Meski pakaiannya tidak serba ungu, tapi warna itu mendominasi selain warna putih. Jika julukannya Pendekar Bola Cinta, mungkin bisa ditebak senjata andalan yang dimilikinya.


“Ibunda, sebelum besok kita pergi, bolehkah aku pergi ke Hutan Timur untuk bertemu dengan Kakek Setan dan Barada?” izin Pangeran Arda Handara, setelah ia diberi tahu bahwa mereka besok akan berangkat menuju ke Negeri Pulau Kabut.


“Cepat pergi temui Ibunda Permaisuari Guru. Tadi dia mengatakan akan pergi sore ini menemui Kakek Ragu Santang,” kata sang ibunda.


Mendengar itu, Arda Handara langsung pergi berlari kencang meninggalkan Istana Dewi Awan.


“Gusti Pangeran, tunggu!” teriak Lentera Pyar yang terkejut karena ditinggalkan begitu saja.


“Tidak usah dikejar. Kalian pun tidak akan bisa terbang mengikuti Permaisuri Guru!” tahan Permaisuri Dewi Ara kepada kedua pemomong putranya.


Setya Gogol dan Lentera Pyar pun menahan niatannya untuk mengejar sang pangeran.


Memang benar, ketika Arda Handara tiba di Istana Mata Hati, Permaisuri Nara baru hendak pergi.


Niatan Arda Handara membuat Permaisuri Nara pergi bersama dengan anak kecil itu.

__ADS_1


Arda Handara dibawa terbang cepat menuju Hutan Timur. Ini pertama kali ia dibawa terbang oleh seseorang. Ia merasa seperti sedang diculik oleh setan cantik bermata hitam seperti lelaki.


Tidak pakai L, Permaisuri Nara dan Arda Handara pun tiba di kediaman Dewa Penggenggam Matahari.


Sementara Permaisuri Nara menemui Ragu Santang, Pangeran Arda Handara pergi menemui Barada di alam lain, yaitu di gubuk kayu.


“Kak Barada, di mana kau?” teriak Arda Handara memanggil sambil berlari pelan ke arah gubuk papan.


“Pangeran Bulu, apakah itu kau? Aku di sini, di belakang!” sahut satu suara perempuan.


Arda Handara segera berlari menuju ke belakang gubuk. Setibanya di sana, ia melihat gadis tanggung yang bernama Barada sedang berdiri dengan pose kuda-kuda tengah dengan paha yang rata, sehingga seperti orang duduk. Di saat kedua kakinya menahan berat tubuhnya, kedua tangannya merentang lurus ke depan dengan jari-jari mengepal. Namun, pada kedua pergelangan tangannya masing-masing digantungi oleh potongan kayu balok yang beratnya sama.


Selain menahan bokongnya agar tidak jatuh, kedua tangannya juga menahan berat kayu. Pastinya, semakin lama maka ketahanan Barada akan semakin melemah.


Sulitnya lagi, kedua kaki Barada berdiri di atas dua batok kelapa yang masih utuh bulatannya. Jika kaki Barada bergerak sedikit, maka ia akan jatuh dari pijakannya karena kelapa tanpa kulit sabut itu akan berguling. Namun, jika itu terjadi, tetap tidak berbahaya bagi Barada, tapi itu menunjukkan bahwa Barada akan gagal dalam latihannya.


“Hahahak!” tawa Arda Handara saat melihat keadaan Barada. Otak jailnya segera bekerja.


Mendelik paniklah Barada melihat tingkah Arda Handara kepadanya.


“Hei, apa yang akan kau lakukan kepadaku, Pangeran Bulu?!” bentak Barada.


“Hahahak …!” tawa berkepanjangan Arda Handara.


Arda Handara lalu berhenti tertawa, sementara demi mematuhi perintah gurunya, Barada tidak berani bergerak.


Arda Handara berdiri tepat di sisi kanan Barada.


“Kakak Barada, besok aku dan Ibunda akan pergi jauh dan lama, jadi aku akan lama tidak mengunjungimu untuk bermain. Sebagai kenang-kenangan agar Kakak Barada tidak melupakan aku, aku akan beri sesuatu yang bisa dibawa tidur. Hahaha!” kata Arda Handara panjang lalu tertawa licik.


“Kau jangan kurang ajar, Pangeran Bulu!” pekik Barada.

__ADS_1


“Tratatang!” sorak Arda Handara sambil menunjukkan kedua telapak tangannya yang terbuka.


Terbeliak Barada melihat kumpulan Ulat Bulu Petang yang berkumpul di telapak tangan Arda Handara. Kemudian wajah manis itu mengerenyit lemas.


“Uyut-Uyut, Uyut-Uyut!” sebut Arda Handara sambil tersenyum lebar dan sesekali melirik kepada Barada yang panik, tapi tidak bisa bergerak atau kabur, persis seperti seorang putri yang menahan kentut.


“Jangan kau lakukan, Pangeran Bulu! Awas kau jika melakukannya!” pekik Barada mengancam.


“Hihihik!” tawa Arda Handara seperti nenek sihir licik.


Anak kecil pendek itu tidak mempedulikan teriakan Barada. Sambil terus terkekeh-kekeh. ia tetap bergerak meletakkan ulat bulu pada kedua punggung kaki Barada, kedua punggung tangan, tengkuk, dan dahi.


“Hahahak! Tenang saja, Kakak. Uyut-Uyut tidak akan nakal, mereka hanya akan membuat gatal. Hahaha!” kata Arda Handara.


“Pangeran Bulu, kenapa kau jahil seperti iniii?” teriak Barada kesalnya bukan main.


Setelah diletakkan di anggota tubuh Barada, para ulat bulu itu segera merayap, seolah tidak sabaran untuk menjelajahi tubuh Barada. Ulat bulu di kaki bergerak merayap naik masuk ke lubang celana. Yang di tangan merayap lewat lubang tangan baju dan yang ditengkuk merayap ke leher depan lalu bergerak turun ke dada.


“Pangeran Arda!” panggil seorang kakek tiba-tiba dari sisi lain.


Arda Handara agak terkejut dan langsung menengok.


“Eh, Kakek Setan. Hehehe!” sapa Arda Handara lalu tertawa cengengesan.


Melihat kedatangan sang guru, Barada hanya diam dan tetap bertahan dalam posisinya.


“Aku dengar kau akan pergi jauh ke seberang lautan?” tanya Ragu Santang yang berjalan datang bersama Pemaisuri Nara. Ia tampil dalam wujud masa lalunya, yaitu seorang kakek bertubuh normal yang berjalan dengan kedua kakinya.


“Benar, Kek. Kata Ibunda, calon pendekar harus banyak melakukan perjalanan untuk berpetualang, agar tahu betapa luasnya dunia. Agar tahu di atas gunung yang tinggi, masih ada gunung lain yang lebih tinggi, di atas langit masih ada langit,” kata Arda Handara seperti anak terpelajar.


“Hahaha! Bagus, bagus!” puji Ragu Santang. “Karena kau akan pergi lama, maka Kakek akan memberimu sebuah hadiah.”

__ADS_1


“Wah! Hadiah apa itu, Kek? Uyut-Uyut raksasa?” tanya Arda Handara antusias. (RH)


__ADS_2