Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Perpu But 17: Adu Ilmu Petir


__ADS_3

*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*


 


Badan Kapal Karang Jago sudah berada di dalam air, tinggal atap anjungan dan tiang kapal. Obor yang ada di kapal pun sudah padam semua. Namun seiring itu, langit di timur sudah mulai berubah terang.


Mimi Mama masih berdiri di atap anjungan yang sebentar lagi turun tenggelam tuntas.


Adapun Laksamana Muda Gandala Moi telah berdiri di lempengan es beku yang mengambang di permukaan air. Jangan tanya kenapa tiba-tiba ada bongkahan batu es padahal daerah itu bukan wilayahnya beruang kutub. Bongkahan es itu muncul buah dari kesaktian Gandala Moi, bukan dari hasil hubungan gelap.


Ses ses!


Mimi Mama melesatkan dua piringan sinar merah dari ilmu Piring Neraka. Kedua piringan itu tidak menyerang Gandala Moi, tetapi memotong tiang kapal pada dua bagian.


Maka tumbanglah dua potong kayu besar ke air, sementara sisanya mengikuti badan kapal yang tenggelam menuju dasar. Seiring itu, atap anjungan juga masuk menyelam ke air. Mimi Mama segera melompat dan mendarat di atas kayu bulat panjang yang mengambang di air, tanpa perlu menyesuaikan keseimbangan lagi seperti pemain sirkus.


“Berangkaaat!” seru Mimi Mama seperti jargon tokoh sinetron ojeg.


Kayu besar yang diinjaknya bergerak meluncur cepat seperti kapal cepat ke arah posisi Gandala Moi. Sementara pada kedua tangan Mimi Mama telah bercokol piringan sinar merah.


Sursss!


Gandala Moi menyambut kedatangan Mimi Mama dengan hentakan kedua tangan. Maka muncullah sinar kuning terang seperti pegas yang memanjang dengan ujung yang runcing. Penembakan itu membuat Gandala Moi juga meluncur mundur karena daya dorongnya.


Namun, Mimi Mama dengan mudah mengendalikan kayu kendaraannya meliuk seperti pemain ski profesional, sehingga posisinya menyampingi sinar kuning.


Ses ses!


Mimi Mama melempar kedua piringan sinarnya menyerang Gandala Moi. Sama seperti pertarungan sebelumnya, Gandala Moi menangkis kedua piringan sinar itu dengan kedua tangannya yang bersinar merah pula.


Di saat kayu yang dikendarainya akan menabrak bongkahan es Gandala Moi, Mimi Mama mencelat naik mengudara sambil melemparkan banyak kuntum mawar merah. Lagi-lagi jangan ditanya dari mana asal bunga mawar itu.


Bunga-bunga mawar itu pecah dalam bentuk kelopak-kelopak dan batang yang dengan cepat mengelilingi tubuh Mimi Mama tanpa terganggu oleh embusan angin subuh.


Prak!

__ADS_1


Pada saat itu, batang kayu menabrak hancur es batu yang dipijak oleh Gandala Moi. Namun, sang laksamana muda telah melompat pula naik mengudara menyelamatkan diri.


Surss! Broskr!


Dari atas, Gandala Moi kembali melesatkan sinar kuning spiral dari kedua tangannya. Sasarannya buka Mimi Mama langsung yang sama-sama mengudara, tapi potongan kayu yang menjadi kendaraan bagi si gadis kecil.


Batang kayu itupun hancur sehancur-hancurnya. Benar-benar hancur, tidak seperti hati yang hancur, yang kadang dikatakan hancur, tapi faktanya tidak hancur.


Mungkin semua orang bisa menerka maksud dari Gandala Moi memilih menghancurkan kendaraan Mimi Mama itu.


Namun, pilihan itu memberi Mimi Mama kesempatan untuk menyerang Gandala Moi.


Sessrr!


Serombongan kelopak bunga mawar melesat terbang seperti sekawanan lebah mengamuk menyerbu Gandala Moi. Namun, pemuda gagah itu sudah antisipasi.


Ia cukup melindungi dirinya dengan tenaga sakti, sebagaimana dia pernah menahan serbuah pasukan panah yang dikirim oleh Mimi Mama.


Set set set …!


Ternyata, perkiraan Gandala Moi salah. Sepertinya kalkulator penghitungnya salah hitung.


Gandala Moi memang melindungi dirinya dengan tenaga sakti, tetapi kekuatan dan ketajaman kelopak-kelopak bunga mawar itu lebih kuat dan tajam dari senjata biasa. Memang, tidak semua kelopak bunga berhasil melukai kulit Gandala Moi, tetapi sejumlah kelopak bunga cukup membuatnya berdarah-darah, baik di wajah, tangan, dan badan. Jubahnya bahkan jadi tidak keren dengan adanya banyak robekan.


Ketika Gandala Moi mendarat di permukaan air laut, dengan sendirinya muncul pembekuan dengan proses yang sangat super. Hal itu membuat dia bisa berdiri di atas bongkahan es lagi.


Jbur!


Berbeda dengan Mimi Mama yang ketika mendarat di air, langsung masuk tenggelam.


Namun, Gandala Moi justru bersiaga. Ia yakin, tidak semudah itu pertarungan berakhir, terlebih Mimi Mama tidak langsung muncul ke permukaan, seolah-olah langsung dimangsa ikan buntal di dalam air.


Tiba-tiba air laut di bawah Gandang Moi menyala merah. Semakin lama, semakin terang, seperti semakin mendekat.  Hal itu mengejutkan Gandala Moi.


Buru-buru Gandala Moi melompat jauh dan berlari di atas air laut. Setiap kakinya hendak menyentuh permukaan air, lebih dulu muncul es yang berproses super cepat memadatkan diri. Dengan demikian, kedua kaki Gandala Moi memiliki pijakan saat berlari.

__ADS_1


Bsuarss!


Akhirnya ombak dan air laut yang di bawahnya bersinar merah terbongkar dan pecah, seiring mengudaranya bola sinar merah besar sebesar lingkaran tubuh domba tua.


Di bawah bola sinar itu ternyata ada sosok Mimi Mama yang meneteskan banyak air dengan tangan yang seolah menjunjung bola sinar tersebut.


Gandala Moi pun telah berhenti dan berdiri di atas bidang batu es. Dia telah mencabut pedang kurusnya yang seperti pedang atlet anggar, tetapi lebih tebal. Pedang itu langsung bersinar kebiruan yang mengeluarkan asap hijau. Tidak ada yang bisa menjelaskan, kenapa sinarnya biru tapi asapnya hijau.


Gandala Moi cepat menusukkan pedangnya lurus ke langit, seperti aksi ikonik seorang super hero.


Zerzz!


Di ujung pedang itu muncul aliran listrik besar yang bergerak menyengat liar ke sana dan ke sini.


Zerzz! Zerzz! Jleggar!


Gandala Moi lalu menusukkan pedangnya dengan ujung mengarah kepada Mimi Mama yang mengudara dengan bola sinar merahnya.


Pada saat yang sama, tiba-tiba bola sinar merah di atas Mimi Mama pecah, berubah menjadi beberapa lidah petir yang salah satunya melesat beradu ujung dengan petir pedang di pertengahan jarak.


Perumpamaan petir dari pedang Gandala Moi berjenis kelamin jantan dan petir dari ilmu Telur Petir Mimi Mama adalah betina, dengan sendirinya kedua lidah petir mereka bertemu dan beradu kekuatan. Menimbulkan ledakan yang menggelegar.


Suaranya bahkan mengejutkan orang-orang di pelabuhan.


Hasilnya, Gandala Moi terpental jauh langsung masuk ke dalam air. Sementara Mimi Mama yang kecil terlempar tanpa terkendali dan jatuh pula ke dalam air.


Tidak sampai satu durasi lamanya menyeduh kopi sasetan, satu tubuh akhirnya timbul ke permukaan dalam kondisi tertelungkup. Sosok itu berjubah yang mencirikan bahwa dia adalah Laksamana Gandala Moi. Dia telah tewas.


Jika diautopsi, maka tabib akan menemukan jantungnya hangus terbakar, meski tubuhnya tidak.


Tidak berapa lama, sosok anak perempuan berpakaian warna kuning muncul ke permukaan sebatas leher.


“Cuih! Cuih!” Sambil meludah karena air laut rasanya asin, Mimi Mama memandang ke sekitar.


Ia lalu berenang seperti kecebong menuju ke sebatang kayu bekas tiang kapal yang ia lihat mengapung dipermainkan ombak.

__ADS_1


Ketika mendapati potongan kayu besar itu, dia naik dengan susah payah, seolah-olah ada sesuatu yang salah pada diri Mimi Mama. Setelah naik, Mimi Mama memilih tidur memeluk kayu tersebut seperti orang yang tidak berdaya. (RH)


__ADS_2