Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
PHT 41: Tangis Lelaki Terkutuk


__ADS_3

*Penakluk Hutan Timur (PHT)*


 


Barada begitu bersemangat memetik daun akar matahari yang ditugaskan oleh Ragu Santang.


“Tapi aku tidak tahu seperti apa tampang daun akar matahari itu, Guru,” kata Barada saat mendapat titah dari gurunya yang tampil dalam wujud sempurna sebagai manusia.


“Akar Santang akan menunjukkanmu, Barada,” kata Ragu Santang.


“Baik, Guru!” sahut Barada penuh semangat untuk melaksanakan tugas perdananya sebagai murid Ragu Santang, yang menurut Permaisuri Mata Hati bergelar Dewa Penggenggam Matahari.


Dalam melaksanakan tugasnya mencari daun akar matahari, Barada ditemani oleh seekor Akar Santang yang oleh orang Kerajaan Sanggana Kecil dinamai Cumi Hutan.


Cumi Hutan itulah yang pertama kali menunjukkan tanaman yang bernama daun akar matahari. Daun akar matahari itu adalah tanaman pendek yang berdaun bulat pipih. Ia memiliki ujung-ujung akar yang naik ke atas seperti tunas keluar dari dalam tanah di sekeliling batang.


Barada memetiki daunnya sampai gundul tidak terhormat dan menaruhnya di keranjang daun yang dianyamnya sendiri, sama semodel keranjang tempat uyut-uyut Pangeran Arda Handara, tetapi miliknya ini berukuran lebih besar. Memang, sebagai wanita, Barada juga suka ukuran yang besar.


Tumbuhan itu tingginya hanya sekisaran setinggi betis. Setelah menggunduli satu pohon, Barada menggunduli daun akar matahari lainnya.


Setelah keranjang daunnya cukup penuh, barulah Barada pulang ke gubuk kayu milik Ragu Santang. Di sana dia kembali menemui si kakek yang kemudian memberinya tugas baru.


Pada saat yang sama, tanpa diketahui oleh Barada, Permaisuri Nara telah berada di tempat itu di dalam pemandangan yang berbeda.


Permaisuri Nara kini berdiri diam melayang di udara, tepatnya di depan makhluk gurita darat bertubuh kakek Ragu Santang.


“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi, Nara,” sapa Ragu Santang sembari tersenyum bahagia.


“Apakah ini kutukan yang diberikan oleh Guru, Kek?” tanya Permaisuri Nara dengan nada yang datar tapi mengandung warna kesedihan.


“Benar. Kutukan ini lebih buruk dari kematian. Itu yang aku rasakan selama sekitar dua puluh tahun lamanya, hingga akhirnya aku berusaha menikmati kutukan ini. Dulu aku menganggap kutukan ini lebih buruk dari kematian, tapi kini aku masih bisa bersyukur tidak dibunuh oleh gurumu. Kini aku memiliki kesempatan mewariskan kesaktianku kepada seorang murid,” kata Ragu Santang.


“Anak dari mana gadis muda itu?” tanya Permaisuri Nara.

__ADS_1


“Dia datang bersama Pangeran Arda. Mereka berdua masuk ke hutan ini bersama,” jawab Ragu Santang. “Kau semakin cantik dengan menjadi seorang pendamping raja.”


“Apakah Kakek masih bisa menikmati kecantikan seorang wanita, yang menjadi penyebab Kakek dibuat seperti ini?” tanya Permaisuri Nara.


“Hahaha!” tawa Ragu Santang pelan. “Aku sudah tidak memiliki pemikiran kotor tentang hal yang justru membuatku menjadi mayat hidup seperti ini. Karena itu, aku berani mengambil murid seorang perempuan. Namun, aku akan menyembunyikan wujud asliku darinya hingga nanti aku menduga dia sudah menyerap lebih dari setengah kesaktianku dan siap untuk melihatku yang mengerikan ini.”


“Apakah tidak ada cara untuk melenyapkan kutukan ini, Kek?” tanya Permaisuri Nara.


“Hanya kematian, Nara,” jawab Ragu Santang dengan tatapan yang tegar.


“Maafkan aku, Kakek Ragu Santang. Selama sepuluh tahun tinggal di Istana, aku sedikit pun tidak mengetahui bahwa kau berada di dalam hutan ini selama ini,” ujar Permaisuri Nara.


“Aku dengar kau adalah orang tersakti di Kerajaan,” kata Ragu Santang sambil tersenyum tulus.


“Kakek pasti mendengar ocehan anak pendek itu,” terka Permaisuri Nara.


“Hahaha!” tawa Ragu Santang sebagai pembenaran dari terkaan wanita jelita berambut pendek itu.


“Sekarang bukan aku orang tersakti di Sanggana Kecil. Kini ada dirimu, Kek,” kata Permaisuri Nara.


“Seandainya Guru masih hidup, mungkin aku akan memohon kepadanya agar mencabut kutukannya kepadamu, Kek,” kata Permaisuri Nara.


“Oh, Ratu Cemara Suci sudah mati?” kejut Ragu Santang. “Karena apa dia mati, Nara?”


“Penyesalan yang mendalam karena kesuciannya telah Kakek renggut,” jawab Permaisuri Nara.


Begitu terkesiap sepasang mata Ragu Santang.


“Tapi, tapi aku tidak pernah merenggut kesuciannya, Nara!” bantah Ragu Santang.


“Garis merah dari kesucian Guru adalah pandangan mata lelaki. Meski Kakek hanya melihat tanpa menyentuh, Guru sudah menganggap kesuciannya telah ternoda begitu kotor. Kesedihan yang mendalam dan berkepanjangan karena gagal menjadi wanita suci hingga mati, membuat Guru mengakhiri sendiri hidupnya,” kisah Permaisuri Nara.


“Kenapa kau tidak mengatakan itu kepadaku, Ratu Cemaraaa! Hiks hiks …!” teriak Ragu Santang meraung panjang lalu menangis tersedu-sedu seperti seorang wanita.

__ADS_1


“Aku tidak bermaksud membuat agar Kakek Ragu merasa bersalah berkepanjangan. Namun, Kakek harus tahu apa sebenarnya yang terjadi,” kilah Permaisuri Nara.


“Hiks hiks …! Aku benar-benar adalah lelaki tolol yang dibutakan oleh setan. Maafkan aku, Ratu Cemaraaa. Maafkan akuuu! Hiks hiks …!” ratap Ragu Santang.


Lelaki berusia ratusan tahun itu benar-benar bersimbah air mata. Ia menunduk, seolah ingin menyembunyikan malunya dari pandangan Permaisuri Nara, meski ia tahu bahwa wanita berjubah kuning itu buta.


“Hampir seratus tahun lamanya, kenapa aku ditakdirkan baru tahu tentang perkara ini. Aku sungguh tidak tahu, Nara. Aku sungguh tidak tahu tentang hal itu. Jika aku tahu, pasti aku tidak akan melakukan perbuatan terkutuk itu. Hiks hiks …!” ratap Ragu Santang dan tetap terus menangis.


Rasa bersalah begitu kuat memukul perasaan dan pikirannya. Memori saat-saat dia melakukan aksi pengintipan tingkat tinggi terhadap sosok indah yang begitu indah, kembali hadir dengan gambaran yang jelas. Penyesalan yang begitu dalam dan rasa iba kepada Ratu Cemara Suci teramu menjadi adukan yang kental.


Das das das …!


Tiba-tiba sejumlah tentakel Ragu Santang bergerak berayun ke atas dan secara bergantian ujungnya menghantami wajah dan tubuhnya sendiri.


“Kakek Ragu jangan!” teriak Permaisuri Nara terkejut.


Tiba-tiba semua belalai hitam yang menghakimi Ragu Santang tertahan dan tidak bergerak. Ada kekuatan yang menahannya dengan kuat.


Permaisuri Nara telah menahan pergerakan para belalai tersebut. Ia pun merasakan ada kekuatan dari Ragu Santang yang mencoba melepaskan diri dari kekuatan Permaisuri Nara. Namun, meski Ragu Santang memiliki kekuatan yang dahsyat, tepi ia tidak mau memaksa untuk menghakimi dirinya sendiri.


“Semua telah terjadi dan mau tidak mau kita harus menerima kenyataan yang telah ditakdirkan, Kek. Aku yakin Guru telah tenang di alam sana,” kata Permaisuri Nara.


“Di mana gurumu itu dimakamkan?” tanya Ragu Santang dengan suara yang serak parau.


“Di dalam peti es di dalam Gua Tanpa Cahaya,” jawab Permaisuri Nara. “Hilangkanlah rasa penyesalan itu, Kek. Ingat, kini kau memiliki seorang murid. Jangan sampai kau merasakan kehilangan anak gadis untuk kedua kali.”


Maka, selain bayangan Ratu Cemara Suci, bayangan wajah Dewi Kenanga, putri semata wayangnya, turut hadir pula dalam pikiran Ragu Santang.


“Kapan-kapan aku akan datang kembali untuk mengunjungimu di sini, Kek,” kata Permaisuri Nara.


“Iya,” sahut Ragu Santang sambil berusaha menyeka air matanya.


Para belalai yang ditahan oleh kekuatan Permaisuri Nara, berjatuhan serentak setelah Permaisuri Nara tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


Sementara di sisi lain dari tempat itu, tepatnya di balik Tirai Sihir si kakek, Barada sedang berbicara dengan sosok palsu Ragu Santang di depan gubuk kayu. (RH)


__ADS_2