Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Jalan Dara 9: Tiga Pendekar Tua


__ADS_3

*Perjalanan Dewi Ara (Jalan Dara)*


 


Nenek berjubah abu-abu dan bertongkat kayu warna hitam berjalan memasuki kedai besar itu. Terlihat mulut tua imutnya bergerak-gerak seperti mulut bayi sedang menyusu, tetapi tidak ada susunya.


Kedai yang posisinya berseberangan jalan dengan kediaman Adipati Siluman Merah itu, memiliki dua bagian ruang untuk para pelanggan makan dengan model lesehan. Dua ruang berlantai papan itu dipisahkan oleh lantai tanah yang seperti sebuah jalan. Jadi di kedai itu tidak ada kursi, hanya meja-meja yang terpisah.


Saat itu, ada ramai pelanggan yang sedang duduk bersila menekuni santapannya di atas meja yang mereka hadapi. Beberapa pelanggan terlihat berperawakan pendekar. Selainnya berperawakan warga biasa.


Biasanya, kedai itu menjadi basis bagi prajurit kademangan untuk makan di saat jam istrirahat tugas. Namun, karena hari ini para prajurit makan di rumah Adipati yang sedang berpesta satu hari menjelang hari pernikahan putrinya, kedai itu kosong dari pelanggan prajurit.


Kedatangan nenek berjubah abu-abu ke dalam kedai, sebentar menarik perhatian para pelanggan, tapi kemudian mereka kembali fokus kepada makannya. Hanya pelayan yang peduli karena segera mendatangi dengan senyum yang ramah.


“Silakan, silakan, Tetua. Silakan pilih meja yang sesuai selera, Tetua,” ucap pelayan kepada si nenek.


“Sesuai selera apanya? Semua meja bentuk dan warnanya sama,” kata nenek yang sudah tidak bergigi itu. “Buatkan aku bubur kacang merah, pakai hati kambing bakar!”


“Baik, Tetua,” ucap si pelayan.


Setelah ditinggal oleh pelayan, si nenek berpipi kempot itu naik ke lantai papan sebelah kiri lalu mendatangi sebuah meja yang di sana sudah duduk seorang kakek yang masih gagah kelihatannya.


Kakek berjubah hitam itu sedang makan nasi dengan lauk ikan asin, telur asin dan daun pepaya rebus yang ditabur sambal cabai rawit. Kakek berambut putih panjang sebahu itu berikat kepala kain warna hijau tua. Di sisi kanannya ada sebuah kandang burung, tetapi berisi seekor tupai berbulu merah. Di dunia persilatan, hanya ada dua orang yang berciri membawa kandang burung berisi tupai. Yang satu bernama Pangeran Bajing Tua, yang satunya lagi Putri Bajing Setan. Maka bisa ditebak dengan betul siapa adanya si kakek berperawakan pendekar itu.


“Apakah kau sudah lama menungguku, Kenyot Gaib?” Justru Pangeran Bajing Tua yang menyapa si nenek lebih dulu.


“Kau dan Tengkak Bande terlalu lama. Aku sampai menunggu satu pekan lamanya di sini,” kata si nenek yang disebut dengan nama Kenyot Gaib. Nada kata-katanya terdengar kesal.


Kenyot Gaib lalu duduk berseberangan meja dengan Pangeran Bajing Tua.


“Apakah akan kita mulai dari sini?” tanya Pangeran Bajing Tua.


“Iya, tidak apa-apa. Aku punya seekor anjing gila berkaki dua. Sebentar lagi dia akan merusak kebahagian keluarga adipati itu,” kata Kenyot Gaib.


“Apa yang kau rencanakan?” tanya Pangeran Bajing Tua dengan suara rendah.

__ADS_1


“Aku ingin mengacaukan kadipaten ini,” jawab Kenyot Gaib tanpa memelankan suaranya di saat rekan lawan jenisnya itu merendahkan suaranya.


Perkataan Kenyot Gaib didengar oleh beberapa pendekar lain yang sedang makan di kedai itu, membuat mereka menengok melihat kepada si nenek. Namun, si nenek bersikap abai, seolah tidak ada masalah.


Namun kemudian, para pendekar itu kembali fokus kepada santapannya, tetapi obrolannya beralih membahas tentang si kakek nenek.


“Hei, Kenyot Gaib!” teriak memanggil seorang lelaki tua yang muncul di pintu kedai dengan senyum yang lebar, membuat deretan gigi panjang-panjangnya yang telah tanggal beberapa biji terpampang bebas.


Frukr!


“Uhhuk uhhuk!”


“Hahahak!”


Mendengar nama yang dipanggil oleh kakek berpakaian putih hijau itu, sejumlah pelanggan bereaksi spontan. Ada yang sampai menyemburkan makanan di dalam mulutnya, ada yang tersedak lalu terbatuk, pada ujungnya mereka semua tertawa, baik yang tertawa lepas ataupun tertawa tertahan.


Brak! Pas pas!


“Hek! Akk! Hukk!”


Kejadian itu ternyata memancing kemarahan Kenyot Gaib. Ia tiba-tiba menggebrak meja, membuat nasi di piring Pangeran Bajing Tua terlompat naik ke udara beramai-ramai, tapi anehnya tidak membuat piringnya ikut terlompat.


Bulir-bulir nasi itu melesat menyebar sangat cepat menyerang para pelanggan yang menertawai si nenek.


Orang-orang itu menjerit tertahan saat bulir-bulir nasi menghantam leher atau tubuh mereka. Meski hanya sebulir nasi, tetapi rasa hantamannya begitu menusuk. Serangan nasi-nasi itu membuat para pendekar atau warga biasa yang sedang jadi pelanggan diam tertotok.


“Hahahak!” tawa kakek bergigi berantakan sambil berjalan penuh gaya ke tempat Kenyot Gaib dan Pangeran Bajing Tua. Ia berjalan seperti orang kaya, kepala agak ke belakang sementara perut dikedepankan, sehingga badannya melengkung ke depan.


“Kenapa kau pakai acara memanggilku seperti itu, Tengkak Bande?” hardik Kenyot Gaib.


“Hahahak!” tawa kakek yang memiliki jari besi di punggungnya. Besi berbentuk telapak tangan itu memiliki batang besi sepanjang satu hasta yang diselipkan di pinggang belakang. Benda itu mirip alat penggaruk punggung.


Saat itu juga, seorang pelayan datang membawa pesanan Kenyot Gaib.


Kakek bernama Tengkak Bande lalu duduk di sisi ujung meja.

__ADS_1


“Rupanya kesaktianmu tidak menyusut seperti menyusutnya kekencangan kulitmu,” kata Tengkak Bande.


“Tidak usah bicara manis kepadaku, kau tidak akan mendapatkan kenyotanku,” kata Kenyot Gaib agak ketus.


“Hahahak!” tawa Pangeran Bajing Tua yang kini beralih hanya memakan daun pepaya lalapannya yang bertabur sambal cabai rawit.


“Silakan, Tetua,” ucap si pelayan setelah selesai meletakkan makanan pesanan si nenek.


“Hei, bawakan aku sup buntut kerbau,” kata Tengkak Bande sambil mencolek si pelayan.


“Baik, Tetua,” ucap si pelayan patuh.


Keistimewaan kedai makan besar tersebut adalah hampir semua jenis makanan tersedia. Selain terkenal memiliki koki handal bersertifikat, kedai makan itu memang terkenal lengkap oleh berbagai jenis makanan. Gudang bahan makanannya saja yang berdiri terpisah di sebelah belakang, lebih besar dari kedainya.


“Hei, apakah kalian juga mendapat tanda pengenal seperti aku?” tanya Tengkak Bande sambil menunjukkan lempengan kayu berwarna merah terang yang memiliki tulisan nama dari si kakek.


“Baru kali ini aku menemukan peraturan seruwet ini,” rutuk Kenyot Gaib. “Aku juga punya. Jika tidak, kau tidak akan bisa melenggang singkong di daerah ini.”


“Tadi aku juga ditanyakan oleh prajurit kadipaten tentang tanda pengenalku itu,” kata Pangeran Bajing Tua.


“Jika wajahmu asing di mata para prajurit, maka pasti mereka akan menanyakan tanda pengenalmu,” kata Kenyot Gaib.


“Ayo, siapa yang harus kita hancurakan?” tanya Tengkak Bande bersemangat.


“Kita akan menghancurkan penguasa Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Kenyot Gaib terang-terangan, seolah dia tidak takut bahwa rencana pemberontakannya didengar oleh orang lain.


“Lalu kenapa kita berkumpul di sini? Bukankah kerajaan ini memiliki ibu kota yang katanya gudang pendekar?” tanya Tengkak Bande.


“Kita mulai dari sini hanya sekedar untuk memanaskan jiwa tarung kita dan menunjukkan pemberontakan kita,” jawab Kenyot Gaib enteng.


“Kejaaar!” teriak keras seorang lelaki dari jalanan.


Ketiga pendekar tua itu segera memandang ke luar kedai yang sedang ada keramaian tiba-tiba.


Terlihat puluhan prajurit berseragam biru terang sedang berlarian mengejar seseorang.

__ADS_1


“Tangkap penculik itu!” teriak punggawa prajurit yang tadi memberi perintah.


Terlihat dari jauh pula, suasana di kediaman besar Adipati Siluman Merah berubah ricuh dengan kemarahan dan kepanikan. (RH)


__ADS_2