
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
“Cepat cepat cepat!” teriak Komandan Bengal Banok bernada panik kepada pasukannya.
Para personel Pasukan Pengawal Prabu berjuang keras, tetapi tidak dalam peperangan, melainkan sedang mengangkut karung dan beberapa peti kayu dari sebuah bangunan ke dalam kereta kuda. Terlihat ada enam prajurit lain yang tergeletak tewas tidak jauh dari pintu bangunan yang merupakan gudang harta kerajaan.
Tiba-tiba seorang prajurit berkuda datang mendekat. Ketika Komandan Bengal Banok menengok, dibiarkannya karena itu adalah personel pasukannya juga.
“Lapor, Gusti! Panglima Dendeng Boyo dan pasukannya sudah menyerah tanpa ada yang tersisa!” lapor prajurit yang baru datang setelah turun dari kudanya.
“Tunggakan! Bawa sebagian pasukan untuk melancarkan jalan belakang. Bunuh prajurit yang menghalangi!” teriak Komandan Bengal Banok kepada orang dekatnya.
“Baik, Gusti!” sahut prajurit yang bernama Tunggakan.
Tunggakan segera mengajak dua puluh prajurit rekannya untuk pergi lebih dulu ke jalan yang akan mereka lalui untuk melarikan diri.
“Berapa banyak lagi?” tanya Bengal Banok kepada prajurit yang menggendong peti berisi mutiara.
“Masih banyak, Gusti. Satu kereta tidak akan cukup dan jika harus dihabiskan, khawatir pasukan Sanggana Kecil lebih dulu masuk ke mari,” jawab prajurit itu.
“Sial!” maki Bengal Banok.
Ide menjarah gudang pebendaharaan kerajaan memang muncul mendadak, jadi tidak ada persiapan matang. Angkutan yang tersedia hanya satu buah kereta kuda.
“Isi juga kantung-kantung pakaian kalian dan kuda-kuda yang ada!” perintah Bengal Banok.
Mendengar perintah itu, bergembiralah para prajurit dibalik rasa was-was mereka.
Namun, belum juga perintah itu mereka lakukan, tiba-tiba terdengar suara teriakan orang ramai dari kejauhan.
“Serbuuu!” teriak puluhan atau ratusan prajurit dari kejauhan, sumbernya dari arah benteng Istana.
__ADS_1
“Tinggalkan yang tersisa! Cepat! Pasukan Sanggana datang!” teriak Bengal Banok keras.
Mendengar peringatan dari pimpinannya, para prajurit yang masih ada di dalam gudang segera lari terbirit-birit.
Bdak! Sreeekr!
Sampai-sampai dua orang prajurit saling bertabrakan karena berebut lubang, lubang pintu maksudnya. Sekantung uang kepeng terlempar jatuh dan terburai isinya hingga berserakan di lantai.
“Cepat! Jika kalian tertinggal, tanggung sendiri akibatnya!” teriak Bengal Banok yang sudah naik ke atas kereta kuda.
“Heah heah!” teriak prajurit yang bertugas sebagai kusir.
Para prajurit berkuda segera menaiki kudanya dan mengikuti kereta kuda yang pergi ke salah satu sudut keputren. Di sana ada sebuah jalan belakang yang hanya diperuntukkan oleh keluarga Istana. Sebagian pasukan lagi harus berlari kencang.
Sementara di kejauhan dari arah benteng Istana, terdengar suara teriakan-teriakan orang banyak dan samar-samar suara lari kaki kuda juga.
Suara teriakan yang ramai itu bersumber dari para Pendekar Pengawal Bunga dan para prjurit berkuda dari Pasukan Ular Gunung, yang menikmati atmosfer penyerbuan tersebut. Di belakang mereka ada ratusan pasukan berkuda yang di susul ribuan prajurit pejalan kaki yang berlari kencang dan sudah melewati gerbang utama.
Pasukan yang menyerbu itu dipimpin langsung oleh Permaisuri Ginari yang didampingi oleh Panglima Bidar Bintang.
“Siap!” teriak semua prajurit berkuda dari Pasukan Ular Gunung. Suaranya yang serentak begitu menggebuk jantung para prajurit Pasukan Pengawal Prabu yang mendengar.
Mereka lalu mulai mengurai menyebar untuk melakukan sweeping di dalam lingkungan Istana. Sementara Permaisuri Ginari dan pasukan pendekarnya yang berjumlah sepuluh orang, terus memacu kudanya lurus menuju keputren.
Ditemukan sejumlah prajurit yang bersembunyi sejak tadi di beberapa tempat. Mereka adalah prajurit jaga yang ketakutan dan memilih bersembunyi sejak tadi.
Lingkungan Istana semakin ramai ketika pasukan pejalan kaki sudah menyebar menyisir setiap sudut Istana. Semua gedung, wisma dan bangunan lainnya mereka masuki. Alhasil, para prajurit itu keluar dengan menodong sejumlah abdi dalam, dayang dan prajurit jaga yang bersembunyi di dalam wisma. Mereka pun ketakutan, takut dibunuh.
Namun tidak perlu khawatir, para prajurit itu sudah diperintahkan untuk tidak membunuh orang yang tidak melawan.
Ternyata beruntunglah Komandan Bengal Banok dan pasukannya. Ketika Permaisuri Ginari dan sepuluh pendekarnya memasuki lingkungan keputren, Bengal Banok dan pasukannya sudah tidak terlihat ujung rambutnya sehelai pun.
Namun, ternyata keberuntungan itu hanya seumur hisapan es dawet cendol. Ketika prajurit terdepan menyibak dinding tumbuhan rambat yang tebal, mereka terkejut bukan main. Beberapa tombak di balik dinding tanaman itu ternyata ada barisan berlapis para prajurit dari Pasukan Ular Gunung.
__ADS_1
Jika Ibu Kota yang lebih luas bisa dikepung oleh Pasukan Ular Gunung, maka Istana yang jauh lebih kecil areanya pasti dikepung juga.
“Berhenti!” teriak salah seorang prajurit Pasukan Ular Gunung saat melihat kemunculan sejumlah prajurit Baturaharja.
“Mundur! Munduuur!” teriak prajurit Baturaharja terdepan panik, sambil cepat-cepat mundur masuk ke dalam dinding tanaman.
“Kejaaar!” teriak pemimpin prajurit Pasukan Ular Gunung.
“Seraaaang!” teriak ratusan prajurit Sanggana Kecil yang ada di area itu.
Mereka pun mengejar ke arah tirai tumbuhan rambat.
“Mundur! Munduuur! Di luar ada pasukan Sanggana!” teriak para prajurit personel Pasukan Pengawal Prabu.
Mendengar itu, Komandan Bengal Banok terkejut dan sempat bingung harus mengambil keputusan apa.
“Serang pemberontak!” teriak satu prajurit yang lebih dulu masuk menembus tirai tanaman yang merupakan pintu jalan rahasia.
Setelah teriakan itu, dua, tiga, lima, lalu menyusul belasan prajurit muncul menembus tirai tumbuhan, lalu berlari menyerang Pasukan Pengawal Prabu yang menumpuk di jalan yang lebarnya hanya beberapa depa saja.
“Kita berperaaang!” teriak Bengal Banok keras dan panjang setelah mengambil keputusan tanpa pertimbangan lagi. Sebab, mundur pun akan percuma, karena di belakang ada pasukan berkuda Kerajaan Sanggana Kecil.
Tang ting ting suk! Tang ting ting suk!
Seperti itulah kira-kira irama peraduan pedang dan berujung tusukan yang membunuh. Jalan di belakang keputren itu semakin padat karena prajurit Pasukan Ular Gunung terus mengalir masuk.
Pertarungan bersosoh pun terjadi karena arena yang sempit. Prajurit Pasukan Pengawal Prabu yang berkuda segera mendapat pengeroyokan. Ada yang langsung ditusuki di atas kuda, ada pula yang ditarik jatuh lebih dulu lalu dieksekusi ramai-ramai.
Kereta kuda yang ditumpangi oleh Komandan Bengal Banok pun mendapat serangan yang ramai. Namun di sini, prajurit Pasukan Ular Gunung cepat menemui ajal karena memang yang mereka keroyok adalah orang sakti.
Namun, laksana air yang menjebol perahu bocor, para prajurit Pasukan Ular Gunung terus mengalir masuk, menciptakan ketimpangan jumlah yang jauh.
Formasi Pasukan Ular Gunung sambung-menyambung seperti badan ular. Ketika ada bagian pasukan yang bertemu musuh, maka bagian terdekat akan bergerak mengikuti. Demikian seterusnya. Pasukan Ular Gunung yang lain akan ikut tersedot sehingga akan terjadi penumpukan ketika aliran pasukan itu terhenti, seperti yang terjadi di jalan belakang keputren.
__ADS_1
Suara pertarungan yang ramai itu terdengar oleh Permaisuri Ginari dan para pendekarnya yang sedang menggeledah wisma-wisma di keputren. Prajurit berkuda dari Pasukan Ular Gunung yang juga mendengar suara pertarungan yang tidak terlihat karena terhalang tembok, segera memasuki keputren.
Karena suara pertarungan tidak terlalu jauh, Permaisuri Ginari memilih terbang seperti burung meninggalkan kudanya. (RH)