Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 23: Tadayu yang Sebenarnya


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


Dalam perjalanannya membawa korbannya, Gandang Duko tidak memilih lewat Desa Berenuk, karena ia bisa bertemu rombongan Raja Bandelikan dan pasukannya. Jadi, ia memilih jalur hutan untuk sampai ke Desa Konengan.


Gandang Duko tiba di Desa Konengan bertepatan dengan waktu magrib, tapi tidak terdengar suara azan. Suasana desa mulai sepi dengan sejumlah penerangan sudah dinyalakan di bawah langit yang masih cukup terang. Meski demikian, masih ada sejumlah warga yang berada di luar rumah untuk menuntaskan pekerjaannya, sebelum hari benar-benar gelap.


Gandang Duko melalui jalan gelap demi menghindari berpapasan dengan warga yang masih ada di luar rumahnya.


Jleg!


Gandang Duko memasuki halaman sebuah rumah dengan satu pendaratan dari lompatannya. Ada satu obor yang dipasang di tiang kayu dekat pintu yang tertutup.


Set!


Tiba-tiba Gandang Duko menggerakkan tangan kanannya tanpa terlihat. Tahu-tahu di jepitan dua jarinya ada sebatang jarum besar yang tertangkap. Jarum itu berasal dari balik pintu rumah.


“Ini aku, Tadayu. Aku membawakanmu Putri Uding Kemala!” seru Gandang Duko cepat, agar sahabatnya tidak menyerangnya lagi.


Tidak berapa lama, pintu rumah terbuka. Muncullah Tadayu di ambang pintu yang di belakangnya berdiri Dayung Karat dan seorang wanita seumuran sang nahkoda. Itu adalah istri Dayung Karat yang bernama Lenting Buai.


Terkejutlah ketiga orang itu melihat sepasang kaki putih yang tidak bercelana, sementara kepalanya terlindung di belakang punggung.


“Siapa yang kau bawa, Gandang?” tanya Tadayu cepat, seolah-olah ia tidak mendengar nama sang putri tadi disebut oleh Gandang Duko.


“Putri Uding Kemala,” kata Gandang sambil tersenyum. Dia lalu menurunkan dan memberdirikan sang putri.


Kembali terkejutlah ketiga orang itu saat melihat bahwa wanita itu benar-benar berwaja Putri Kerajaan Lampara yang hanya ada satu seorang. Wajah cantik itu sudah sembab bersimbah air mata, membuat hati Tadayu terenyuh.


Bukan hanya Tadayu dan Dayung Karat yang terkejut, tetapi juga Putri Uding Kemala. Sang putri mengenali wajah Tadayu, pemuda yang tadi siang membuatnya terkagum-kagum.


“Kau gila, Gandang!” hardik Tadayu, karena pertemuan itu jelas membongkar penyamarannya.


“Aku mengubah rencana kita. Tidak usah repot-repot menyamar. Di saat Raja Bandelikan dan pangeran bejat itu terjebak di penjara bola, aku memutuskan menculiknya. Malam ini juga kita pulang ke Tujuh Selir. Nanti kita perkosa putri ini di perahu,” ujar Gandang Duko.


“Haaah!” Tadayu mengempaskan napas panjang sebagai tanda kecewa. Lalu katanya, “Apa boleh buat, tidak ada sandiwara lagi. Kita bawa dia dan kita lakukan di perahu malam ini juga.”


“Aku ingin melihat reaksi Putri terhadapmu,” kata Gandang Duko sembari tersenyum licik kepada sahabatnya.

__ADS_1


“Jangan la ….”


“Kakak Tadayu!” pekik Putri Uding Kemala kencang memotong kata-kata Tadayu. Wajahnya bersimbah air mata. “Ternyata Kakak Tadayu adalah setan di balik penculikanku. Jadi, Kakak adalah lelaki kedua yang akan memperkosaku?”


“Benar. Salah satu rencanaku adalah memperkosa adik dari orang yang telah memperkosa adikku. Jangan kau tanya apa salahmu. Adikku juga tidak bertanya apa salahnya sehingga dia diperkosa oleh Pangeran Bangir Kukuh. Adikku hanya meminta kepala orang yang telah memperkosanya. Dan itu akan aku berikan setelah kau pun aku perkosa,” jelas Tadayu dengan sikap yang dingin, meski ada rasa iba yang muncul di dalam dadanya.


“Kakak sangat jahat kepadaku!” teriak Putri Uding Kemala. “Padahal aku telah jatuh hati kepada Kakak, tetapi ternyata Kakak Tadayu adalah seorang setan jahat. Hiks hiks hiks …!”


“Tadayu, kenapa kalian melakukan ini?” tanya Dayung Karat. Sementara istrinya hanya terdiam dengan wajah yang cemas.


“Nahkoda harus ikut kami malam ini juga menyeberang ke Pulau Tujuh Selir,” kata Tadayu.


“Tapi, aku harus ….”


“Raja Bandelikan tahu aku adalah keponakan dari Nahkoda Dayung Karat. Jika Nahkoda tidak ikut, prajurit bisa menangkap kalian berdua,” tandas Tadayu.


Drap drap drap!


Tiba-tiba ada suara lari seekor kuda. Mereka semua cepat menengok ke arah kedatangan suara itu. Lari kuda yang kencang membuat kuda dan penunggangnya cepat tiba di depan halaman rumah. Lngit yang masih putih membuat mereka bisa melihat dengan jelas siapa adanya orang berkuda yang datang.


“Itu prajurit kerajaan,” kata Tadayu saat mengenali dari seragamnya, tetapi tidak mengenali nama prajuritnya.


Tiba-tiba Putri Uding Kemala berteriak kencang, meski wajahnya tidak bisa melihat prajurit yang datang. Namun, Gandang Duko cepat menotok kembali pita suara sang putri.


Prajurit Kerajaan Lampara yang tidak lain adalah Komandan Kucup Pucuk itu terkejut mendengar teriakan sang putri, terlebih dia melihat sosok wanita berambut panjang yang hanya berbaju sebatas paha atas.


Set!


Tiba-tiba Gandang Duko melesatkan satu jarum besar yang masih dipegangnya sejak tadi.


Jarak yang cukup jauh membuat Komandan Kucup Pucuk yang cepat merunduk di atas kudanya, bisa lolos dari tusukan jarum.


Lolos dari serangan itu, sang komandan cepat menggebah kudanya ingin meninggalkan tempat tersebut.


Clap!


Tiba-tiba Gandang Duko lenyap begitu saja.

__ADS_1


“Cepat kita pergi ke perahu di Dermaga Tidur, Nahkoda!” perintah Tadayu. Ia lalu memanggul tubuh Putri Uding Kemala. Giliran dirinya yang mulai memegang-memegang tubuh gadis itu.


Clap! Soss! Bluar!


“Aaak!” jerit keras Komandan Kucup Pucuk.


Tiba-tiba sosok Gandang Duko muncul di udara tepat di atas kuda yang berlari kencang hendak meninggalkan tempat itu. Tangan kanan pemuda berkumis itu sudah berbekal sebola sinar hijau yang langsung dibantingkan ke tubuh Komandan Kucup Pucuk yang melintas di bawahnya.


Komandan Kucup Pucuk yang sudah bersiaga, cepat mengangkat tangan kanannya yang bersinar kuning bergelombang. Terjadilah dua pertemuan tenaga sakti yang keras, ketika tangan kanan Gandang Duko nemukul yang ditangkis oleh Komandan Kucup Pucuk. Dentuman tenaga sakti terjadi keras.


Hal itu mengejutkan warga penghuni Desa Konengan. Ketika sebagian warga cepat melongok mengintip apa yang terjadi di dekat rumah Nahkota Dayung Karat, Komandan Kucup Pucuk telah terlempar keras dari kudanya dan terkapar di rerumputan pinggir jalan desa.


“Gandang Duko cepat. Warga sudah berkeluaran!” seru Tadayu cepat.


Clap!


Setelah berteriak kepada sahabatnya, Tadayu mendadak hilang dengan memanggul tubuh Putri Uding Kemala.


Clap!


Gandang Duko juga tahu-tahu menghilang meninggalkan jalanan desa dan Komandan Kucup Pucuk yang tidak bergerak, entah apakah sudah mati atau pura-pura mati.


Kepergian Tadayu dan Gandang Duko membuat Dayung Karat dan istrinya Lenting Buai jadi panik. Sebab, warga mulai berkeluaran karena tadi mendengar suara ledakan yang memekakkan telinga.


“Ayo, kita harus menyelamatkan diri, Buai!” ajak Dayung Karat sambil menarik tangan istrinya.


Tanpa bermaksud megenang masa muda ketika kawin lari, Dayung Karat berlari kecil sambil menggandeng tangan istrinya.


Warga mulai berdatangan ke pusat kebisingan.


“Mau ke mana, Nahkoda?” tanya seorang warga yang berpapasan dengan Tadayu,


“Kebetulan, Junarko!” kata Dayung Karat sembari berhenti mendadak. Lalu katanya kepada lelaki sebayanya itu, “Jika ada pemaisuri yang menanyakan keberandanku, katakan bahwa aku pergi ke Pulau Tujuh Selir.”


“Oooh, iya,” ucap lelaki kurus bernama Junarko. Kekurusannya bukan karena dia adalah seorang juragan narkoba, tetapi dia memang tidak suka dengan makanan bergizi.


Dayung Karat kembali berlari pergi dengan menggandeng tangan istrinya.

__ADS_1


Sementara itu, tubuh Komandan Kucup Pucuk tiba-tiba bergerak bangkit perlahan. (RH)


__ADS_2