
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Ternyata, Negeri Orang Separa sudah maju dalam hal transportasi darat, meski baru sekedar debur (delman burung), yaitu kendaraan roda tiga yang ditarik oleh seekor burung botak. Kendaraan itu dikusiri seorang kusir dan tempat duduk penumpangnya hanya muat untuk dua orang bertubuh ukuran sedang.
Sepuluh tahun yang lalu, debur hanyalah kendaraan pribadi kaum bangsawan, pejabat negeri dan figur publik seperti para penerbang. Namun, semakin berkembangnya kemajuan teknologi, kaum elit beralih menjadikan kereta burung botak sebagai kendaraan pribadi yang mewah. Sementara debur dijadikan alat transportasi darat publik satu-satunya atas usulan seorang Menteri Negeri.
Di negeri ini, kendaraan kuda tidak populer, meski kuda itu tidak dilarang. Mungkin karena ukuran tubuh Orang Separa yang katai sehingga kuda bukan pilihan yang baik untuk hewan tunggangan. Mereka lebih suka menggunakan domba kecil sebagai hewan tunggangan, tapi itupun tidak terlalu umum. Warga negeri ini lebih suka menggunakan debur karena geratis dan lebih nyaman. Para kusir diupah oleh pemerintah dengan tugas hanya untuk melayani warga yang mau menggunakan jasa debur untuk berpergian.
Eyang Hagara dan Arda Handara saat ini menggunakan jasa debur. Mereka duduk di kursi belakang yang memiliki atap terbatas, yang bisa melindungi penumpang dari terik matahari.
“Eyang, kita mau ke mana?” tanya Arda Handara.
“Ke rumah sahabat Eyang. Sahabat Eyang itu punya taman yang luas. Di taman itu ada taman kecil yang khusus memelihara binatang-binatang beracun ganas. Seingat Eyang, di taman itu ada juga uyut-uyut,” jawab Eyang Hagara yang sudah berdamai dengan masa puber monyet Arda Handara.
“Wah, jadi tidak sabar, Eyang,” kata Arda Handara. “Jika ada, pasti akan aku jodohkan dengan Uyut-Uyut Raja, agar anaknya seganas aku.”
“Selain Uyut-Uyut Petang, kau punya Uyut-Uyut Raja juga?” tanya Eyang Hagara yang baru mendengar nama Uyut-Uyut Raja disebut.
“Punya. Eyang mau coba kehebatan racunnya?” tawar Arda Handara.
“Hahaha! Tidak usah, aku percaya kepadamu,” jawab Eyang Hagara.
“Oh iya, Eyang. Sepertinya Eyang tidak seperti orang asing di negeri ini?” tanya Arda Handara.
“Hahaha! Eyang pernah tinggal lama di negeri ini. Dulu, waktu Eyang masih sangat muda, Eyang pernah mati, bahkan sudah dikubur. Sebelum kematian Eyang berganti hari, ada seorang dari Negeri Orang Separa yang menghidupkan Eyang. Orang itu sedang melakukan percobaan kesaktian barunya, ternyata berhasil. Maka hiduplah Eyang. Sejak kehidupan Eyang untuk yang kedua, Eyang tinggal bersama orang yang menghidupkan Eyang sampai Eyang tua,” kisah Eyang Hagara.
“Waaah, Eyang hebat!” sorak Arda Handara sambil bertepuk tangan.
“Hahaha!” tawa Eyang Hagara. “Sejak lima tahun lalu, barulah Eyang pergi mencari keberadaan adik kesayangan Eyang, yang kini menjadi ibundamu.”
Kusir debur hanya mendengar obrolan di belakangnya itu tanpa komentar. Dalam hati ia hanya bisa menyimpulkan bahwa penumpangnya adalah turis yang sakti.
“Kusir, siapa namamu?” tanya Eyang Hagara tiba-tiba beralih.
“Rahang Binjol, Pendekar,” jawab si kusir.
“Binjol, kau sehari-hari berpangkalan di depam Kolosom Awan?” tanya Eyang Hagara.
“Benar, Pendekar,” jawab Rahang Binjol.
“Apakah kau tahu, Pasukan Beruang Biru akan berhadapan dengan siapa di Babak Pamungkas?” tanya Eyang Hagara.
“Pasukan Beruang Biru akan berhadapan dengan Pasukan Domba Merah, kesembilanan yang baru berumur lima tahun, tapi sudah menjadi kesembilanan yang kuat. Aku termasuk penggemar Pasukan Domba Merah,” jawab Rahang Binjol agak panjang.
“Siapa juara bertahan tahun lalu?” tanya Eyang Hagara lagi.
“Pasukan Beruang Biru, Pendekar,” jawab Rahang Binjol.
“Waaah, aku harus menonton, Eyang. Aku mau melihat calon istriku menang,” kata Arda Handara.
__ADS_1
“Berarti kau harus lebih lama di negeri ini, Arda,” kata Eyang Hagara.
“Maaf, Pendekar. Jika diizinkan, aku ingin bertanya,” ujar Rahang Binjol.
“Silakan. Asal kau jangan bertanya siapa istriku,” kata Eyang Hagara.
“Hahaha!” tawa Rahang Binjol. “Pendekar berasal dari negeri mana?”
“Dari Tanah Jawi.”
“Belakangan ini, ramai berita tentang pembunuh gelap yang kabar-kabarnya berasal dari negeri asing. Namun, sampai sekarang pembunuh itu belum tertangkap,” cerita Rahang Binjol.
“Jika pembunuh itu belum juga tertangkap, berarti pembunuh itu orang sakti. Setahuku, seorang komandan tingkat rendah saja memiliki kesaktian yang tinggi, tapi dalam kasus ini komandan tingkat tinggi pun tidak berkutik. Menurutku, Prajurit Negeri Separa harus melibatkan Pendekar Bintang-Bintang,” kata Eyang Hagara.
“Sepertinya pembunuh itu harus ditembak dengan Ki Ageng Naga, Eyang,” celetuk Arda Handara.
“Sepertinya begitu,” timpal Eyang Hagara.
“Pendekar, kita sudah tiba di kediaman Gubernur Ilang Banyol,” kata Rahang Binjol.
“Oh ya,” ucap Eyang Hagara. “Ayo turun, Arda!”
Eyang Hagara dan Arda Handara lalu turun dari debur yang telah berhenti di depan sebuah rumah besar dan mewah.
Rumah beratap genteng warna biru terang itu terlihat besar dan mewah dengan warna cat tembok hijau muda berpadu merah terang. Kediaman gubernur tersebut memiliki halaman luas yang berumput halus dengan hiasan patung-patung jamur payung berwarna emas.
Ada sejumlah prajurit katai yang berjaga di beberapa titik di halaman dan sekitar rumah besar tersebut. Di halaman yang tidak berpagar itu ada terparkir tiga kereta burung botak beroda empat.
“Baik, Pendekar,” ucap Rahang Binjol lalu menjalankan burung botaknya meninggalkan depan rumah Gubernur.
Seorang prajurit berseragam biru terang segera datang menghampiri Eyang Hagara dan Arda Handara.
“Maaf, Kisawak, ada keperluan apa?” tanya prajurit lelaki katai itu.
Sebutan “Kisawak” ditujukan kepada orang yang tidak dikenal. Di Tanah Jawi biasa menggunakan panggilan “Kisanak”.
“Taru Jelot!” panggil seorang prajurit lain sambil berlari cepat mendekat.
Prajurit yang menanyai Eyang Hagara segera menengok kepada rekannya yang adalah seorang lelaki cebol berkumis dan berjenggot lebat. Dia juga mengenakan seragam biru terang, tetapi modelnya lebih bagus.
“Siap, Kepala!” sahut prajurit bernama Taru Jelot sambil bersikap siap sempurna menyambut kedatangan Kepala Penjaga yang bernama Sempa Manyong.
“Pergilah!” perintah Sempa Manyong.
“Siap, Kepala!” jawab Taru Jelot, lalu balik kanan dan pergi.
“Maafkan prajuritku, Pendekar Hagara,” ucap Sempa Manyong sambil menjura hormat. “Dia prajurit baru, jadi tidak mengenal Pendekar Hagara.”
“Tidak apa-apa, Manyong,” kata Eyang Hagara.
__ADS_1
“Berpuluh tahun pergi mengembara, bagaimana kabar Pendekar Hagara?” tanya Sempa Manyong.
“Aku baik-baik saja. Perkenalkan, ini adalah Arda Handara, putra adikku,” kata Eyang Hagara memperkenalkan orang bawaannya.
“Oooh. Anak yang sangat tampan,” ucap Sempa Manyong memuji.
“Harus tampan, Paman. Ayahandaku lelaki paling cantik di dunia dan ibunda wanita tercantik di dunia,” kata Arda Handara.
“Hahaha!” tawa rendah Sempa Manyong, karena ada kata-kata yang lucu. Lalu katanya, “Mari, Pendekar. Gubernur pasti sangat senang jika melihat kedatangan Pendekar Hagara.”
“Silakan,” ucap Eyang Hagara.
Maka, ketiga orang itu berjalan menginjaki rerumputan halus dan melewati patung-patung jamur yang lebih tinggi dari kepala Arda Handara dan Sempa Manyong, tapi setinggi Eyang Hagara.
Sempa Manyong membawa kedua tamu itu ke ruang depan, di mana di ruangan itu sepi tanpa orang. Di sana ada kursi-kursi batu berlapis kasur tebal, tapi pendek dan sangat cocok untuk kaum cebol.
“Duduklah dulu, Pendekar. Aku akan memberi tahu Gubernur lebih dulu, Gubernur sedang menerima tamu,” kata Sempa Manyong.
“Baik,” ucap Eyang Hagara.
Sempa Manyong lalu pergi masuk lebih ke dalam lewat sebuah lorong.
Sebenarnya, bagi Eyang Hagara, rumah besar permanen itu adalah tempat yang sangat akrab baginya. Puluhan tahun yang lalu, dia tinggal lama di rumah tersebut seperti rumah sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara orang ramai bercakap-cakap sambil berjalan menuju ke ruangan itu. Arah suara beberapa orang kecil itu dari ruang dalam. Hal itu membuat perhatian Eyang Hagara dan Arda Handara tertuju ke lorong yang menuju ke dalam.
Dalam hitungan jari, dari dalam muncul sejumlah orang katai ada sembilan orang.
“Pasukan Beruang Biru,” sebut Eyang Hagara saat mengenali wajah-wajah orang katai, terutama Galang Ocot.
Salah satu dari rombongan itu adalah perempuan, tapi bukan Hijau Kemot.
Mengetahui rombongan sembilan orang itu adalah kesembilanan Pasukan Beruang Biru, Arda Handara segera sumringah. Namun, ia harus kecewa karena tidak menemukan wajah cantik berbibir hijau milik Hijau Kemot.
Rombongan itu dipimpin oleh sang pelatih yang cebol gendut seperti bola dengan gaya rambut cepak.
Disebut nama timnya, membuat rombongan itu berhenti bercakap-cakap sambil jalan, mereka semua memandang kepada Eyang Hagara dan Arda Handara. Eyang Hagara mereka tidak gubris, tetapi Galang Ocot terkejut melihat Arda Handara yang sempat membuatnya cemburu saat di depan Kolosom Awan.
Arda Handara yang sudah duduk di kursi, cepat turun dan berlari menghampiri rombongan itu.
“Eh, di mana Hijau Kemot calon istriku?” tanya Arda Handara kepada Galang Ocot.
Pertanyaan Arda Handara itu ternyata membuat Galang Comot gusar, terlihat dari sorot mata dan wajahnya yang memerah.
“Hei, Anak Asing!” sentak Galang Ocot keras, tidak hanya mengejutkan Arda Handara, tapi semuanya.
Galang Ocot menunjuk ke wajah Arda Handara.
“Hijau Kemot adalah kekasihku, jadi jangan terlalu berlebihan suka kepadanya!” tandas Galang Ocot.
__ADS_1
Cukup terkesiap Arda Handara mendengar hal yang mengandung kemarahan itu. (RH)