
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Entah kapan munculnya, sosok kakek bercaping dan berpakaian kuning telah berdiri di atas tanggul laut yang berada puluhan tombak dari pinggiran dermaga.
“Ibunda Cantiiik!” jerit Arda Handara yang tubuhnya melesat cepat di atas air laut, tertarik oleh satu kekuatan menuju kepada sosok kakek bertongkat.
Sementara sosok Dewi Ara melesat terbang laksana kilat mengejar putranya.
“Rupanya kakek berhidung tengkorak itu,” batin Dewi Ara, saat melihat kemunculan tiba-tiba kakek yang pernah dijumpai oleh rombongan permaisuri di jalan beberapa hari yang lalu.
Suuurrss!
Kakek bercaping yang memang berhidung tengkorak mengibaskan ujung tongkatnya dari bawah ke atas. Seiring itu, air laut yang ada di area tanggul batu naik menjulang ke udara tinggi, tepat menghadang laju tubuh Dewi Ara.
Namun, air yang seperti monster laut itu langsung pecah tertabrak oleh tubuh Dewi Ara.
Dewi Ara terkejut ketika mendapati si kakek bercaping telah lenyap di atas tanggul. Ia terpaksa berhenti terbang, tapi berdiri tegak melayang dengan rambut dan ujung pakaian yang berkibar-kibar.
Sang permaisuri melihat kakek berpakaian kuning telah berada semakin jauh di lautan. Dia berdiri di atas permukaan air laut yang berombak. Arda Handara telah terpanggul diam di bahunya.
“Hahaha!” tawa santai si kakek. Meski jaraknya jauh, tetapi suara tawanya terdengar jelas oleh pendengaran Dewi Ara.
Hal itu jelas membangkitkan kemarahan Pemaisuri Geger Jagad.
“Jangan cemas, Dewi Arang!” ucap si kakek lagi. Posisinya sangat jauh di lautan, tetapi suaranya terdengar jelas di pendengaran Dewi Ara. Suaranya pun tidak berteriak, seperti orang yang berbicara kepada orang yang dekat.
Mendelik lebar sepasang mata indah Dewi Ara mendengar dirinya disebut dengan nama Dewi Arang. Jantungnya seketika berdebar kencang.
“Aku hanya ingin bermain-main bersama putra lucumu ini, Dewi Arang. Nanti aku kembalikan,” kata si kakek lagi.
Seketika pikiran Dewi Ara menjadi kacau. Lebih kacau lagi ketika dia melihat dengan jelas sosok kakek itu membawa Arda Handara masuk ke dalam air lautan dan tidak muncul-muncul lagi.
“Gusti Pangeraaan!” teriak Setya Gogol dan Lentera Pyar histeris dari pinggiran dermaga. Mereka syok melihat Arda Handara yang dibawa masuk ke dalam laut.
Namun kemudian, mereka memendam heran karena Dewi Ara tidak melakukan sesuatu, kecuali hanya diam melayang di angkasa atas laut di dekat tanggul batu.
“Kakang Hagara? Tapi tidak mungkin,” pikir Dewi Ara.
__ADS_1
“Gusti Permaisuri! Pangeran Arda!” teriak Lentera Pyar dari dermaga kepada Dewi Ara. Seolah ia ingin menyadarkan junjungannya yang dianggapnya sedang kemasukan penunggu laut.
Dewi Ara hanya menengok kepada Lentera Pyar tanpa menyahut sekata pun.
Sementara itu, pertarungan hebat terjadi di dermaga, membuat para pelaku bisnis di pelelangan ikan itu segera menjauh dan mengamankan diri. Sebagian dari mereka juga mengamankan barang dagangannya jika memungkinkan untuk dipindahkan.
Di dermaga, kini tiga Sepuluh Pembunuh Kepeng Emas berhadapan dengan satu lawan masing-masing.
Pendekar Sekilatan berhadapan dengan Pendekar Bola Cinta yang sudah memberi rasa aman kepada Ratu Wilasin, Satria Lahap berhadapan dengan wanita separuh baya berpakaian biru dan Ki Kumis Elang berhadapan dengan seorang lelaki separuh baya berpakaian biru juga.
Wanita separuh baya bernama Kuyang Wangi. Rekannya yang berbadan besar dan berotot keras bernama Baling Sosor. Keduanya anggota Delapan Penendang yang merupakan keamanan di Kota Bandakawen.
Sebagai keamanan, Kuyang Wangi dan Baling Sosor wajib turun tangan untuk mencegah terjadinya keributan lanjutan yang bisa merusak infrastruktur kota pelabuhan itu. Semakin tinggi kesaktian pendekar yang bertarung, maka semakin besar kerusakan yang akan ditimbulkan.
Hanya, sejak tadi penonton tertawa terus-menerus, lantaran Pendekar Sekilatan bertarung dalam kondisi tidak berbaju karena bajunya diikat di pinggang guna menutupi bokongnya yang tanpa penutup. Namun, angin luat membuat kain baju yang menutupi bokong mungil itu sesekali terlihat.
“Kalian telah melakukan pembunuhan dua nelayan Kota Bandakawen, berarti kami berhak menghukum mati kalian,” kata Baling Sosor kepada Ki Kumis Elang.
“Itu risiko dari pekerjaan kami. Jika kalian mampu, bunuhlah kami. Namun jika tidak mampu, jangan menyesal jika justru nyawamu yang melayang!” tandas Ki Kumis Elang.
“Baiklah. Nikmatilah penghukuman ini!” seru Baling Sosor lalu melompat gaya kucing dengan menjatuhkan kedua telapak tangannya ke lantai dermaga, sementara kedua kakinya beraksi begitu cepat seperti baling-baling, tapi bukan baling-baling bambu.
Serangan kaki pertama lewat tipis di depan wajah Ki Kumis Elang yang refleks menarik kepalanya menghindari serangan kaki cepat tersebut. Namun, dua tendangan yang datangnya bersusulan dalam waktu satu tarikan napas saja, tidak bisa Ki Kumis Elang hindari. Ia terpaksa menangkis menggunakan toya pendeknya.
Kuatnya tenaga tendangan akrobatik itu membuat Ki Kumis Elang terhuyung ke belakang.
Dak dak!
Serangan kaki yang bertumpu pada dua tangan di lantai itu seolah tidak ada masa putusnya, karena tanpa henti susul-menyusul mengagresi Ki Kumis Elang. Dua tendangan berputar terus menyerang Ki Kumis Elang yang terhuyung.
Mau tidak mau, Ki Kumis Elang menangkis lagi yang memaksa bokongnya terhempas di lantai papan. Untuk keluar dari keterdesakan itu, Ki Kumis Elang memilih menolakkan kedua kakinya mendorong tubuhnya melesat mundur, menjauhi Baling Sosor.
Namun, Baling Sosor melenting seperti peloncat indah dan bersalto cepat di udara. Tahu-tahu tungkai kaki Baling Sosor datang mengapak mengarah kepala Ki Kumis Elang. Namun kali ini, kaki itu diselimuti sinar merah redup.
Dak! Dug! Buk!
Menggunakan toya bersinar birunya yang dipegang dengan dua tangan, Ki Kumis Elang menangkis kaki Baling Sosor di atas kepalanya. Kuatnya tenaga dalam pada kaki itu memaksa Ki Kumis Elang jatuh berlutut satu kaki. Hantaman keras lututnya pada papan tebal yang keras, membuat tulang lutut Ki Kumis Elang serasa ingin hancur berantakan seperti perceraian pengantin baru.
Belum sempat Ki Kumis Elang menikmati rasa sakit pada lutut kanannya itu, kaki lain milik Baling Sosor sudah masuk menghantam keras dadanya. Ki Kumis Elang terjengkang keras dan terseret menjauh.
__ADS_1
“Yeee!” sorak para penonton bertepuk tangan riang gembira. Sebagai warga dan pengusaha Kota Bandakawen, mereka jelas mendukung Penendang Delapan selaku pihak keamanan yang sudah akrab dengan mereka.
“Uhhuk uhhuk!”
Dengan dada terasa sesak dan terbatuk-batuk darah, Ki Kumis Elang buru-buru bangkit dengan tatapan tajam kepada Baling Sosor.
“Gila, kekuatan tenaga dalam Penendang Delapan jauh lebih tinggi dari yang pernah aku hadapi dua tahun lalu,” batin Ki Kumis Elang. “Aku harus menyerang dengan keras lebih dulu.”
Jruss!
Putusnya serangan berkontinyu Baling Sosor memberi kesempatan bagi Ki Kumis Elang mengerahkan kesaktian pamungkasnya. Ia merentangkan kedua tangannya yang diselimuti sinar hijau. Ada bayangan sayap burung ketika kedua tangan itu bergerak perlahan penuh tenaga.
“Hiaat!” teriak Ki Kumis Elang sambil melompat kecil dengan kedua tangan terangkat tinggi lalu dibanting ke depan bawah.
Wesst!
Dari bantingan kedua tangan itu terlihat jelas bayangan sinar hijau berbentuk sayap burung, lalu dua garis sinar hijau melesat cepat di lantai ke arah posisi Baling Sosor.
Siit! Zess!
Bluar!
Baling Sosor menghadapi serangan maut itu dengan mengibaskan satu kakinya di lantai seperti menggaris batas melengkung. Dari gesekan kaki itu tercipta garis sinar merah, kemudian melesat naik ke atas membentuk dinding sinar cembung.
Dua sinar hijau Ki Kumis Elang terpaksa menghantam dinding sinar merah. Dua ledakan keras dalam satu waktu tercipta hebat. Hasilnya, tubuh Baling Sosor terlempar ke belakang.
Jleg!
Namun, Baling Sosor bisa mendarat dengan kedua kaki kokohnya.
Serangan maut Ki Kumis Elang menyisakan lantai yang berlubang hangus dalam bentuk dua garis panjang.
Seperti halnya Baling Sosor di awal pertarungan, kali ini giliran Ki Kumis Elang yang tidak mau memberi lawannya kesempatan untuk membalas. Karenanya, Ki Kumis Elang telah melesat maju dengan kedua tangan dikibas-kibaskan.
“Tombak Payung Neraka!” teriak Baling Sosor sambil melempar tubuhnya melesat ke udara dengan kedua kaki dalam kondisi rapat dan ujung kaki diluruskan seperti kaki penari balet.
Bzoss!
Dari ujung kedua kaki itu tiba-tiba muncul api besar berwujud payung. (RH)
__ADS_1