Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Cumi 33: Pasukan di Luar Perguruan


__ADS_3

*Cambuk Usus Bumi (Cumi)*


 


Pos perbatasan luar perkampungan Perguruan Cambuk Neraka masih bisa terlihat jelas oleh sekelompok lelaki yang berkumpul di dalam sebuah hutan kecil.


Hutan kecil itu berjarak cukup jauh dari kampung, tetapi kontur tanah yang datar membuat pandangan mereka tidak terhalang meski ada satu dua pohon yang tumbuh pada garis lurus pandangan mereka.


Meski jumlah para lelaki itu lebih dari dua puluh orang, tetapi yang mengintai hanya beberapa orang saja, selebihnya memilih duduk-duduk beristirahat, menghemat tenaga sebelum mereka menyerang Perguruan Cambuk Neraka.


Jumlah kuda yang ditambatkan pada sisi pinggiran hutan itu juga sejumlah manusianya. Pada badan kuda banyak menggantung benda logam pipih berbentuk bulan sabit.


Kelompok lelaki berpakaian bebas ala pendekar itu, ada juga yang tidak berbaju tapi bercelana, dipimpin oleh seorang lelaki berusia separuh baya. Meski wajahnya tua, tapi badannya masih muda karena berotot kencang. Meski ia berbaju, tapi bajunya dibuka dan diikat di pinggang. Yaaa, sekedar pamer agar tidak kalah dengan yang muda-muda, yang kulit dan ototnya lebih segar. Lelaki bertotopong kain biru gelap itu memelihara kumis kebesaran yang tebal tapi masih terkendali. Ia bernama Gombal Setarik. Dialah ketua dari kelompok Penguasa Dunia yang punya cita-cita setinggi langit.


“Ketua, itu rombongan Sarang Asugara!” kata seorang lelaki yang lebih muda sepuluh tahun dari Gombal Setarik. Ia berkepala nyaris botak karena panjang rambut kepalanya tinggal setinggi gigi. Ia bernama Tebak Takacau. Saking dipercayanya oleh sang ketua, dia memegang jabatan rangkap, yaitu Tangan Kanan dan Tangan Kiri.


Tebak Takacau menunjuk ke arah jalan yang jauh di sana, yang menuju ke perbatasan kampung.


“Itu berarti semua ketua sudah datang,” ucap Gombal Setarik. “Kita tinggal menunggu tanda panah dari Rombongan Kapak Hijau.”


“Baik, Ketua,” ucap Tebak Takacau patuh.


Mereka terus memantau pergerakan kereta kuda yang dikendarai oleh Ketua Lima Sarang Asugara dan istrinya, yang dikawal oleh Suriwak, Lirih Lambai dan sejumlah murid Perguruan Cambuk Neraka yang berkuda.


Ketika rombongan itu sudah tiba di pos penjagaan perbatasan dan berlanjut masuk ke dalam perkampungan perguruan, tiba-tiba sebatang panah yang nyaris tidak terlihat lesatannya menancap di sebatang pohon hutan, tidak jauh dari posisi Gombal Setarik dan anak buahnya.


“Tebak Takacau, tetap awasi penjagaan itu!” perintah Gombal Setarik setelah melihat anak panah yang menancap. Anak panah itu memang tanda dari Rombongan Kapak Hijau.


Gombal Setarik lalu pergi kepada kumpulan anak buahnya.


“Berkumpul!” teriak Gombal Setarik kepada anak buahnya.


Maka seluruh anggota Penguasa Dunia yang tidak mendapat tugas, segera bangkit berdiri dan berkumpul di depan Gombal Setarik yang pada kedua sisi pinggangnya ada senjata sabit berwarna merah tembaga.


“Penguasa Dunia!” teriak Gombal Setarik penuh semangat kepada seluruh anak buahnya.

__ADS_1


“Hancurkan, kuasai dunia!” teriak para lelaki itu sambil mengangkat kepal tangan tinggi-tinggi ke langit, tidak peduli aroma ketiak mereka langsung menyebar seperti wabah “cupi upid”. Jangan tanya apa itu wabah “cupi upid”.


“Bersiaplah! Saat kita bertempur di Perguruan Cambuk Neraka, jangan sampai ada di antara kalian yang menyerang Gusti Adipati Kuritan. Bukankah kalian sudah pernah melihat Gusti Adipati?” seru Gombal Setarik.


“Sudaaah!” jawab para lelaki itu panjang, seperti sekelompok anak PAUS (Pendidikan Anak Usia Super).


“Bagus. Bersiaplah!” puji Gombal Setarik. Lalu teriaknya lagi, “Penguasa Dunia!”


“Hancurkan, kuasai dunia!” teriak seluruh anak buah Kuasa Dunia penuh semangat.


Mereka tidak perlu khawatir teriakannya akan didengar oleh musuh, karena jarak musuh jauh.


Singkat cerita, Gombal Setarik dan semua anggotanya sudah duduk di kuda masing-masing. Mereka dalam masa menunggu dan memusatkan perhatiannya ke arah jalan dan pos penjagaan batas luar Perguruan Cambuk Neraka.


Set set set …!


Tiba-tiba mereka melihat ada serombongan anak panah yang melesat dari atas bukit, yang posisinya berseberangan jalan dengan hutan tempat mereka berada. Rombongan anak panah itu melesat cepat menuju ke arah pos penjagaan perkampungan Perguruan Cambuk Neraka. Jumlah anak panah yang bergerombol membuat mereka terlihat seperti sekawanan lebah berekor panjang.


Tseb tseb tseb …!


Rombongan anak panah itu datang tanpa terlihat oleh para murid perguruan yang berjaga di batas luar perguruan, setelah menempuh jarak yang panjang. Tahu-tahu para penjaga itu sudah ditancapi anak panah yang dalam waktu singkat membunuh mereka semua.


Serangan itu terjadi di saat di dalam Perguruan Cambuk Neraka sedang terjadi pertikaian internal yang mengadili dan menghakimi Adipati Kuritan.


“Berangkaaat!” teriak Gombal Setarik dengan lantang, tidak bernada mengayun seperti si tukang ojek.


Kali ini teriakan sang ketua tidak disambut dengan teriakan yang ramai, tetapi mereka semua segera menggebah kencang kuda-kudanya yang kemudian berlari keluar dari hutan menuju ke Perguruan Cambuk Neraka.


 


Sebanyak dua puluh satu ekor kuda berlari kencang seperti sedang berpacu dalam berkuda. Ketika mereka memasuki jalan tanah, pasukan berkuda itu meninggalkan kepulan debu tebal ke angkasa.


Set set set …!


Ketika mereka tiba di batas desa, tiba-tiba puluhan anak panah muncul melesat dari bukit yang jauh di luar kampung. Rombongan anak panah yang lebih banyak dari sebelumnya itu, melesat lewat di atas kepala-kepala pasukan berkuda dan masuk terus melesat ke dalam kampung.

__ADS_1


Rombongan panah inilah yang pertama kali menyerang semua orang perguruan yang sedang bertikai di sekitar gapura dalam perguruan.


Setelah serangan itu, barulah pasukan berkuda Penguasa Dunia pimpinan Gombal Setarik masuk menyerbu ke dalam perguruan.


“Hancurkan, kuasai dunia!” teriak Gombal Setarik saat berkuda kencang menuju ke pusat peguruan.


“Hancurkan, kuasai dunia!” teriak seluruh anak buah Gombal Setarik kencang, memberi serangan psikis yang mendebarkan jantung murid-murid Perguruan Cambuk Neraka yang mendengarnya.


Set set set …!


Seluruh penunggang kuda itu kemudian melesatkan sabit logam yang melesat jauh menebas apa saja yang mereka temui, apakah itu bambu, kayu atau anggota tubuh manusia.


Serangan rombongan anak panah yang disusul rombongan sabit logam yang sangat tajam, berhasil membunuh belasan murid Perguruan Cambuk Neraka dan melukai lebih banyak lagi.


Setelah itu, pasukan berkuda tersebut harus bersungkuran ketika Permaisuri Dewi Ara turun tangan menghadang mereka.


Gombal Setarik, Tebak Takacau dan beberapa anggota, cepat melompat naik saat kuda-kuda mereka tersungkur terkena serangan balik piringan sabit mereka sendiri.


Pada saat yang sama, jauh di sebuah bukit yang berseberangan jalan dengan hutan di luar perkampungan, seorang lelaki berusia separuh baya sedang berdiri gagah di atas sebongkah batu bukit. Dia berpakaian serba hitam dengan bagian pundak bajunya bermodel tebal dan keras. Kepalanya dibungkus kain hitam bagus yang pada bagian dahinya ada sehelai bulu unggas warna putih tegak berdiri. Di pinggang kanannya ada sebuah cambuk putih bagus melingkar menggantung. Sebuah busur bagus berwarna hitam tergenggam di tangan kirinya. Sebuah tabung yang sarat oleh anak panah tersemat di punggungnya.


Sekedar pemberitahuan, orang itu bernama Beleng Tarmehek, Ketua Rombongan Kapak Hijau.


Dari tempat yang jauh itu, ia memantau pergerakan pasukan berkuda Penguasa Dunia. Setelah melihat pasukan berkuda memasuki kampung perguruan, Beleng Tarmehek berbalik menghadap kepada pasukannya yang berjumlah lebih dari seratus orang, yang semuanya berpakaian hitam dan wajahnya ditutupi kain hitam.


Ratusan orang itu terdiri dari lelaki dan wanita, bisa dikenali dari bentuk bodinya.


Pasukan bertopeng kain hitam itu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang bersenjata kapak warnah hijau dan kelompok yang bersenjatakan panah.


Kelompok panahlah yang tadi melesatkan puluhan panah menyerang ke pusat Perguruan Cambuk Neraka. Jangan tanya kenapa mereka bisa memanah dari jarak sejauh mata memandang seperti itu. Itu sudah menjadi kesaktian mereka. Tokoh legenda ahli panah saja tidak ada apa-apanya dibandingkan kehebatan panah mereka.


“Ayo, kita habisi orang-orang Cambuk Neraka dan kuasai perguruannya!” seru Beleng Tarmehek.


“Siap!” pekik lebih seratus orang itu.


Mereka semua lalu bergerak berjemaah menuruni bukit yang tidak terlalu tinggi. (RH)

__ADS_1


__ADS_2