Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 33: Kejutan Penerbang Baru


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


 


Bisa dibilang, lebih dari separuh warga ibu kota Omot Omong berdatangan ke Kolosom Awan untuk menyaksikan pertandingan Babak Penerbang Langit, babak final dari kompetisi Pertandingan Tongkat Bola. Bahkan banyak pula yang datang jauh-jauh dari luar kota.


Hari ini menjadi acara rekreasi bagi keluarga. Bapak mengajak istri pertama, istri kedua, dan anak-anaknya pergi untuk menonton. Para pemuda mengkel dan pemuda matang juga mengajak kekasihnya. Pergi duduk menonton di Kolosom Awan dijamin aman, karena pasukan keamanan tidak berbekal senjata api atau gas air mata.


Di tribun yang mengelilingi lapangan terbang, telah penuh oleh manusia-manusia cebol yang jumlahnya ribuan. Para penonton yang jumlahnya ribuan itu sudah ramai bernyanyi-nyayi menunjukkan dukungannya kepada salah satu tim.


Dasar lapangan ditutupi oleh lautan gumpalan kapas, yang bisa mengamankan jatuh sebuah pesawat pun, jika pesawatnya berukuran kecil.


Saat itu belum ada produksi jersey untuk penggemar, jadi untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pendukung salah satu tim, mereka harus kreatif, seperti memakai baju yang warnanya sewarna dengan kesembilanan yang mereka dukung, atau sekedar mengenakan ikat kepala sewarna, atau mereka membuat patung ukiran kayu berbentuk kepala beruang atau kepala domba. Ada juga yang membawa bendera-bendera.


Pada babak final ini, setiap tim akan berseragam khusus sesuai warna nama kesembilanannya. Pasukan Beruang Biru mengenakan seragam biru terang dan Pasukan Domba Merah berseragam merah terang.


Singkat cerita, Pertandingan Tongkat Bola Babak Penerbang Langit sebentar lagi akan dimulai, itu ditunjukkan dengan keluarnya Hakim Langit. Hakim Langit yang terbang keliling dengan tongkat terbang, hari ini mengenakan jubah mengkilap warna emas. Ada tongkat pendek dan kecil tergenggam di tangan kanannya, tetapi itu tidak menunjukkan bahwa “tongkat” miliknya pendek dan kecil pula, meski usianya sudah terbilang sepuh dan tetap cebol.


“Selamat datang di Pertandingan Tongkat Bola, babak pamungkas, Babak Penerbang Langiiit!” teriak Hakim Langit dengan suara panjang menggema karena menggunakan tenaga dalam.


“Yeaaa!” teriak para penonton bersorak-sorai girang gembira riang. Begitu ramai dan bergemuruh, membawa semua orang senang tersenang-senang.


“Kalian semua, orang-orang Negeri Separa, pastinya sudah tidak bersabar menunggu, seperti menunggu saat-saat mengobrak-abrik istri baru di malam pengantin baru, siapakah yang akan menjadi juara dan jawara di dunia penerbang. Apakah Pasukan Beruang Biru akan mempertahankan gelar juaranya?”


“Yaaa!” teriak sebagian besar penonton serentak, menghentikan teriakan Hakim Langit untuk sebentar.


“Pastiii!” teriak sebagian penonton lainnya.


“Atau!” teriak Hakim Agung lagi sambil terus melesat terbang dengan gagah di hadapan para penonton. “Apakah Pasukan Domba Merah akan menjadi juara baru yang lebih hebat?!”


“Iyaaa!” sahut para pendukung Pasukan Domba Merah gegap gempita.


“Pasukan Domba Merah juara! Pasukan Domba Merah juara!” teriak satu orang penonton yang kemudian diikuti oleh sesama pendukung Pasukan Domba Merah.


“Tenaaang! Tenaaang!” teriak Hakim Langit yang kini terbang di area tengah udara Kolosom Awan.


Seruan itu membuat riuh puluhan ribu penonton cebol itu mereda. Hakim Langit segera terbang ke depan tribun kehormatan di sisi kanan.


Di tribun itu duduk Raja Titah Bang-or dan Permaisuri Mekar Ni-or beserta beberapa anggota Keluarga Kerajaan, serta pejabat penting. Ada pula Gubernur Ilang Banyol bersama para istrinya. Ada pula Komandan Pasukan Pelindung Ibu Kota Rembes Begong.

__ADS_1


Awalnya, Eyang Hagara diajak duduk di tribun kehormatan, tetapi dia lebih suka duduk di tribun biasa, di tengah-tengah keramain, tepatnya di tengah-tengah pendukung Pasukan Domba Merah yang mendominasi di tribun kiri.


“Mohon izin, Paduka Raja. Pertandingan akan segera hamba mulai!” lapor Hakim Langit kepada Raja Titah Bang-or sambil mempertahankan terbangnya pada posisi yang sama.


“Laksanakan dan pimpin pertandingan dengan seadil-adilnya!” perintah Raja Titah Bang-or yang tampil mewah berpakaian warna putih dengan berbagai perhiasan lencana emas di bajunya yang keluasannya kecil.


“Siap, Paduka Raja!” jawab Hakim Langit, lalu menghormat dan kembali melesat terbang.


Hakim Langit terbang ke daerah tengah. Di sana dia kembali berteriak.


“Tidak akan membiarkan kalian menderita karena menunggu lama. Kita panggilkaaan … Pasukan Beruaaang Biiiruuu …!”


“Yeaaa!” sorak sebagian besar penonton lagi, terlebih-lebih ketika sejumlah penerbang keluar dari dalam gerbang di dinding ujung utara stadion.


Kesembilan penerbang itu mengenakan seragam biru terang. Mereka dipimpin oleh Galang Ocot sebagai kapten.


“Kita sambut sang kapten kesembilanan Pasukan Beruang Biru, Galang Ocooot!”


Setiap nama anggota Pasukan Beruang Biru disebut, para penonton selalu bersorak ramai sambil bertepuk tangan.


“Galang Ocooot! Kau harus menang. Jika kalah, aku bunuh diriku!” teriak seorang fans fanatik.


“Yang tercantik dan menjadi idaman setiap lelaki Separa, Hijau Kemooot!” teriak Hakim Langit lebih bersemangat.


“Hijau Kemooot! Jadilah istri ketiga belasku! Hahahak!” teriak penggemar lelaki separuh tua lalu tertawa begitu girang sendiri.


“Katak Songooong! Borok Bentoool! Talas Sewooot! Gorong Gosooong! Tarik Cebooong! Kutil Kenyooot! Dan Bujang Cendoool!” Hakim Langit menyebut nama personel Pasukan Beruang Biru satu per satu.


Setiap nama itu disebut, para personel yang terbang pelan melambaikan tangan kepada para penonton yang disambut dengan pengelu-eluan dan tepuk tangan meriah. Atmosfer yang begitu membanggakan dan lebih panas dari pertandingan biasa. Mereka sangat suka melihat banyak penggemar yang gilsat, gila sesaat, dengan menjerit-jerit histeris karena terlalu ngefansnya, terutama kaum perbukitan.


Bahkan Borok Bentol dan Talas Sewot langsung unjuk keahlian dengan melakukan terbang akrobatik salto berulang seperti roda gila. Aksi itu benar-benar disambut meriah.


“Selanjutnya. Inilah kesembilanan ajaib yang bisa memuncak berjaya dalam waktu cepat, berkat sentuhan emas pelatihnya Banik Terong. Kita sambut, Pasukan Dombaaa Meeeraaah!” teriak Hakim Langit berapi-api.


Ternyata sambutan penonton dan pendukung Pasukan Domba Merah tidak kalah heboh. Teriakan-teriakan histeris juga terlontar sebagai bentuk kefanatikan mereka. Suara tepuk tangan bersaing dengan suara teriakan mendukung.


Serombongan penerbang berseragam merah terang terbang pelan keluar dari gerbang di dinding tribun selatan.


“Tanpa keikutsertaan sang jagoan perkasa Kadidat Colong, apakah Pasukan Domba Merah bisa berkoar seperti sebelum-sebelumnya? Lalu siapakah penerbang pengganti sang kapten? Kita sebut satu per satuuu!” teriak Hakim Langit memberi intro yang membuat para penonton dan pasukan lawan menjadi penasaran, siapa penerbang yang menggantikan Kadidat Colong.

__ADS_1


Sejauh ini, baik Arda Handara dan Eyang Hagara tidak pernah membocorkan bahwa sang pangeran akan menjadi penerbang pengganti Kadidat Colong. Bahkan, meski Sanda Kolot sudah apel siang bolong ke rumah Gubernur Ilang Banyol, tetap saja Gubernur dang putrinya tidak curiga. Selama ini mereka hanya menyangka bahwa Arda Handara berlatih terbang semata-mata demi mewujudkan cita-citanya untuk membuat anak yang banyak.


“Menjadi kapten pengganti Kadidat Colong adalah perkara tidak mudah bagi si jago benteng, yaitu Jangka Kolooor!” teriak Hakim Langit.


“Yeaaah! Kolor, Kolor, Kolor!” sorak penonton lalu mengelu-elukan Jangka Kolor yang keluar dengan senyum merebak dan lambaian seorang bintang paling top di kesembilanan.


“Dan inilah pesain berat si jelita Hijau Kemot, primadona andalan Pasukan Domba Merah, Sanda Kolooot!”


“Yeaaah!” sorak penonton lebih menggebu-gebu.


“Sanda Kolot, aku cinta padamuuu!”


“Aku jugaaa!”


“Aku paling cintaaa!”


“Demi kau, aku rela ceraikan sepuluh istriku, Kolooot!”


Kaum batangan pendukung garis keras Pasukan Domba Merah meronta-ronta melihat kemunculan Sanda Kolot. Jika terjun dari tribun tidak berisiko kematian, mungkin mereka akan terjun massal demi cinta.


“Mini Menooor! Kucang Tongoool! Balak Molooor! Cumi Bentoool! Talang Jenglooot! Greges Epooot. Dan yang terakhir, pengganti Kadidat Colong yang katanya penerbang ajaib, kita sambuuut, Arda Handaraaa!”


“Yeaaah!”


“Belelele!” pekik Galang Ocot, Hijau Kemot dan seluruh personel Pasukan Beruang Biru.


“Belelele! Pangeran Arda?” pekik Gubernur Ilang Banyol dan para istrinya.


Keterkejutan Gubernur dan para istrinya membuat Raja Titah Bang-or dan Permaisuri Mekar Ni-or jadi terheran.


“Waaah, tampannyaaa!” pekik kaum perbukitan pendukung Pasukan Domba Merah saat melihat paras dan sosok Arda Handara.


Mereka semua bisa tahu bahwa Arda Handara bukanlah asli dari Negeri Orang Separa dari namanya. Namun, mereka tidak peduli. Itu artinya Pasukan Domba Merah memiliki penerbang asing yang pastinya memiliki kehebatan kualitas impor, menurut mereka.


“Handara tampaaan! Aku jadi mendukung Domba Merah karena kau!” teriak seorang gadis pendukung Pasukan Beruang Biru sambil membuang bendera biru kecil yang dipegangnya.


“Handaraaa! Lihat kepadaku!” teriak penonton wanita lainnya sambil melambai-lambai kegirangan kepada Arda Handara.


“Hahahak …!” tawa Arda Handara jumawa. Ini kali pertama dia merasakan menjadi bintang dan idola di depan ribuan orang.

__ADS_1


“Bagaimana bisa?” ucap Hijau Kemot masih tidak percaya. “Ternyata ada seorang musuh yang tinggal di rumahku selama ini.”


“Bagus. Di sini kau akan aku buat mati, Anak Setan!” desis Galang Ocot dengan tatapan benci kepada Arda Handara yang ada di udara ujung lapangan. Kegagalan pembunuh bayaran yang dibayarnya untuk membunuh Arda Handara membuat dendamnya kian matang. (RH)


__ADS_2