
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Dalam kondisi busikit (bugil sisa sedikit), yakni hanya bercawat ria, Tadayu mendatangi seorang lelaki berkumis berpakaian warna merah gelap atas bawah. Namun, lelaki itu dalam kondisi terikat satu dengan batang pohon. Kepalanya yang terkulai menunjukkan dia dalam kondisi sangat lemah.
Bagaimana tidak lemah jika dalam waktu beberapa hari terikat di batang pohon itu tanpa makan dan minum.
Awalnya lelaki bernama Goreang itu disediakan makan dan minum. Itu terbukti dengan adanya dua lidi bambu yang terjuntai berdampingan, yang satu ujungnya tepat ada di depan wajah dan ujung yang lain terikat di atas pohon.
Di sekitar kaki lelaki itu ada sisa-sisa kulit pisang yang sudah mengering. Di bagian atas salah satu ujung lidi bambu ada sebuah kendi tanah liat yang digantung sedemikian rupa, sehingga ketika kendi itu memiliki air, airnya mengalir setitik demi setitik menuruni lidi hingga menetes di depan wajah Goreang, sampai airnya habis.
Sementara lidi satunya adalah tempat susunan pisang yang ditusuk, yang mereka akan turun sendiri jika pisang terbawa dicopot menggunakan gigitan. Jadi Goreang sempat makan tanpa menggunakan tangan.
Yang jelas, makanan dan minumannya sudah habis dalam beberapa hari yang lalu.
“Coba minum dulu, Goreang,” kata Tadayu sambil menempelkan telapak tangan kanannya yang memiliki sedikit genangan air.
“Sreeepr!” Goreang menyedot air di tangan Tadayu dengan liar.
“Lagi, lagi,” pinta Goreang lirih dan lemah.
“Nanti ada banyak air di laut,” kata Tadayu sambil bergerak membuka tali yang membelenggu Goreang di batang pohon.
Saat talinya sudah kendor, tiba-tiba Goreang berusaha lari.
Blugk!
Namun, ternyata persendian kaki Goreang belum sanggup untuk berlari karena terlalu lemahnya kondisi fisiknya. Ia pun jatuh tersungkur.
“Jika kedua temanmu aku buat mati, maka kau pun harus berakhir mati, Goreang,” kata Tadayu.
Tadayu lalu berusaha membuka baju Goreang. Lelaki berusia separuh abad kurang lima tahun itu berusaha melawan, tetapi tenaganya yang lemah membuat tangannya tidak lebih hanya sentuhan penolakan.
Plak!
“Diam!” bentak Tadayu setelah menampar lelaki yang lebih tua darinya itu.
Setelah tamparan keras itu, Tadayu bisa lebih mudah melucuti baju Goreang. Namun, baju itu tidak langsung dipakainya. Ia kemudian membuka paksa pula celana Goreang.
“Bau pesing sekali!” maki Tadayu sambil mengerenyitkan hidungnya.
Meski celananya begitu bau pesing, tapi kali ini Goreang kembali memberontak karena ini urusan kehormatan. Namun, tetap saja Goreang tidak bisa mempertahankan celana dan kehormatannya. Dan akhirnya, Goreang kini busikit juga, bugil sisa sedikit. Kini ia hanya bercawat kusam yang baunya lebih berseni.
Tadayu meletakkan sejenak baju dan celana Goreang di tanah. Tadayu kemudian mengikat kedua kaki Goreang. Setelah diikat, Goreang kemudian ditarik dengan tali. Ia diseret oleh Tadayu.
“Aak! Aaak!” erang Goreang yang merasakan sakit pada badannya yang harus tergores rerantingan di tanah.
Tidak berapa lama, mereka sampai di tanah berpasir dan suara ombak terdengar jelas. Goreang terus ditarik sampai ke pantai pulau kecil itu. Tali yang ditarik Tadayu kemudian diikatkan di batang pohon pantai.
Pemuda itu lalu berlari kecil ke suatu tempat yang tidak begitu jauh dan meninggalkan Goreang.
“Putri! Putri!” panggil Tadayu dengan senyum yang mengembang. Ia kemudian berhenti di dekat sebatang pohon besar.
__ADS_1
Dari balik batang pohon yang berdiameter satu depa itu melongok seraut wajah cantik berambut terurai yang masih lembab. Wajah itu tidak lain adalah milik Putri Uding Kemala. Ia berusaha sebisa mungkin tidak menunjukkan aggota badannya, yang memang sedang buto.
Tadayu sendiri sudah tidak malu tampil busikit di depan mata sang putri, maklum mereka sudah melewati malam dan pagi yang cukup mesra dan menghasilkan kesepakatan cinta, bukan menghasilkan anak atau benih lobster. Intinya mereka sudah rujuk sebelum menikah.
“Aku ada satu pakaian, tapi kondisinya sangat bau,” kata Tadayu sambil menunjukkan celana dan baju yang dijepit oleh dua jarinya.
“Iya, baunya sampai ke sini,” kata Putri Uding Kemala dengan wajah sedikit mengerenyit.
“Aku akan mencucinya lebih dulu, jadi bersabarlah,” kata Tadayu seraya tersenyum lembut.
“Lekaslah, badanku sudah bentol-bentol,” kata Putri Uding Kemala.
“Di bagian mana yang bentol?” tanya Tadayu dengan tatapan menggoda.
“Pikiranmu pasti di tempat yang menghasilkan!” tukas Putri Uding Kemala.
“Aku tidak berpikiran ke sana, tapi Putri justru menuntunku berpikiran ke sana. Hahaha!” kata Tadayu lalu tertawa kencang.
Tersipu malulah Putri Uding Kemala yang wajah putihnya jelas memerah.
Tadayu lalu pergi ke air laut untuk mencuci pakaian milik Goreang. Ia sedikit pun tidak risih dengan kondisinya yang busikit, seolah-olah di pulau itu hanya ada mereka berdua atau bertiga dengan Goreang.
Itu adalah Pulau Bujang, pulau kecil tidak berpenghuni yang ada tidak jauh di sebelah timur Pulau Tujuh Selir. Dari pantai itu, mereka bisa melihat dengan jelas keberadaan Pulau Tujuh Selir. Di pulau itulah, yang menurut cerita, Putri Gunira diperkosa oleh Pangeran Bangir Kukuh. Dan di pulau ini pula Tadayu dan Gandang Duko menawan satu anggota dari Tiga Setan Pulau Kutukan yang masih hidup, yaitu Goreang.
“Bukankah itu kapal Bajak Laut Malam?” tanya Tadayu kepada dirinya sendiri saat melihat di kejauhan ada kapal besar yang semuanya berwarna hitam.
Sangat jelas bahwa kapal bajak laut itu menuju ke Pulau Tujuh Selir.
Maka, Tadayu melanjutkan pekerjaannya mencuci baju tanpa sabun dan deterjen, cukup mengandalkan zat garam yang terkandung pada air laut.
Selesai mencuci, Tadayu pun melakukan proses pengeringan awal dengan tenaga panasnya, setelah itu barulah dijemur dengan mengandalkan sinar matahari.
Sesekali Tadayu memandang kepada Goreang yang posisinya masih terpantau oleh Tadayu. Goreang masih diam di sana, seolah tinggal menunggu kematian.
Sambil menunggu pakaian kering, Tadayu memilih duduk di bawah pohon tempat Putri Uding Kemala bersembunyi.
“Mau tidak mau, kita harus bertemu dulu dengan adikku karena aku gagal melaksanakan kepercayaannya. Aku harus mempertanggungjawabkan pengkhianatanku,” kata Tadayu kepada Putri Uding Kemala sembari memandangi lautan lepas.
“Setelah itu, Kakak Tadayu harus pergi melamarku kepada Ayahanda dan Ibunda,” balas Putri Uding Kemala.
“Iya. Aku pun harus mendapat restu dari Gusti Ratu Bunga Petir dan ibundaku,” kata Tadayu.
“Bagaimana jika orangtua kita tidak merestui kita?”
“Yang terpenting kita sudah berupaya baik. Aku berharap pernikahan kita bisa mendamaikan kedua negeri. Jika memang kita tidak direstui, kita bisa menikah di kota Bandakawen lalu tinggal berdua di Pulau Bujang ini,” kata Tadayu. “Aku dengar syahbandar di Bandakawen setiap hari menikahkan orang tanpa bayar sedikit pun, bahkan pengantinnya diberi biaya perjalanan.”
“Oh, seperti itu. Itu kabar bagus buat kita, Kakak,” kata Putri Uding Kemala senang. “Tapi … apakah kita akan pergi menghadap dalam kondisi diri seperti ini?”
“Apa boleh buat, Putri,” jawab Tadayu.
Prakr!
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara samar dari kejauhan. Suara yang sangat keras itu mengejutkan Tadayu dan Putri Uding Kemala.
“Suara apa itu, Kakak?” tanya Putri Uding Kemala yang melongokkan kepalanya, kali ini bahu terbukanya sampai terlihat.
Sang putri melihat Tadayu memandang jauh ke arah Pulau Tujuh Selir,
“Seperti ada pertarungan hebat di Pulau Tujuh Selir,” kata Tadayu lalu menoleh kepada Putri Uding Kemala. “Eh!”
Tadayu agak mendelik ketika melihat belahan atas gunung Putri. Meski tadi pagi-pagi dia sudah melihat hampir seratus persen, tetapi tetap saja terlihat indah meski hanya sepuluh persen, apalagi sebagian besarnya tersembunyi.
Buru-buru Putri Uding Kemala menarik badannya ke balik batang pohon, menyisakan wajah dan rambutnya.
Mereka pun melanjutkan bincang-bincang paginya yang membahas hubungan cinta mereka yang tumbuh secara radikal.
Hingga kemudian, Tadayu melihat sebuah perahu datang mendekati pantai Pulau Bujang itu.
“Ada yang datang,” kata Tadayu.
Putri Uding Kemala kembali memunculkan wajahnya, tetapi tidak bisa melihat ke arah perahu jika hanya kepalanya yang muncul. Mau tidak mau, ia pun harus mengeluarkan separuh badannya untuk bisa melihat keberadaan perahu yang bergerak di laut. Ia harus membekap puncak gunungnya dengan tangan kanannya demi untuk melihat perahu yang datang.
Melihat sang putri keluar agak banyak, Tadayu cepat menyuruhnya kembali bersembunyi.
“Cepat sembunyi, jangan sampai mereka mengetahui keberadaan Putri!”
Putri Uding Kemala yang sudah sempat melihat perahu yang datang, segera masuk bersembunyi lagi.
Tadayu kerutkan kening ketika melihat wanita yang berdiri gigih di atas perahu.
“Sepertinya itu adikku, Putri Gunira,” kata Tadayu memberi tahu Putri Uding Kemala.
Hal itu membuat Putri Uding Kemala jadi penasaran dan kembali melongok.
“Eeeh, jangan muncul!” hardik Tadayu sambil mencaplok wajah sang putri dengan telapak tangannya dan mendorongnya ke belakang agar kembali bersembunyi.
Tidak suka wajahnya diperlakukan seperti itu, Putri Uding Kemala cepat menepis tangan si pemuda. Akibatnya, tangan si pemuda jadi bergeser dan terperosok masuk ke selokan gunung.
“Aak!” pekik Putri Uding Kemala terkejut.
Tadayu juga terkejut. Ia buru-buru menarik tangannya. Untung tidak ada yang ikut tertarik. Sementara Putri Uding Kemala buru-buru bersembunyi kembali seperti kelomang disentuh tangan nakal.
“Itu memang adikku. Tapi … dia sepertinya bersama kakakmu, Pangeran Rebak Semilon,” kata Tadayu saat sudah jelas melihat kedua wajah manusia di atas perahu.
“Hah!” pekik Putri Uding Kemala.
“Ingat, jangan keluar. Ada hal aneh yang terjadi, kenapa adikku bisa bersama dengan Pangeran Rebak Semilon,” kata Tadayu.
“Iya.”
Putri Uding Kemala merasa sangat penasaran, tetapi dia tidak boleh diketahui sedang berada di tempat itu.
Tadayu pun meninggalkan Putri Uding Kemala dan pergi ke garis pantai untuk menunggu merapatnya perahu ke pantai. (RH)
__ADS_1