Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 46: Pertemuan Kakak dan Adik


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


Meski tidak dalam kondisi dibelenggu, tiga ratus prajurit pulau sudah berlutut di pasir pantai dalam kumpulan. Komandan Bengisan dan Bong Bong Dut yang bertugas berdiri menjaga para prajurit taklukan itu.


Ctas!


“Akk!” jerit seorang prajurit pulau yang mendapat cambukan dari Bong Bong Dut karena dia bergerak menaikkan badannya.


“Jangan berdiri!” bentak Bong Bong Dut mendelik, laksana algojo perbudakan.


“Tidak! Aku hanya mau menggaruk bokong!” teriak prajurit itu kesal bukan main, tapi tidak bisa membalas apa-apa selain teriakan.


Bong Bong Dut tidak menanggapi.


Sementara itu Selir Ketiga, Pangeran Tendangan Kilat, Janggung, dan Rengkuh Badai, berdiri berkelompok. Mereka menunggu kedatangan Selir Kelima yang sedang pulang untuk melapor dan berunding dengan Ratu Bunga Petir dan selir lainnya.


Sementara Mimi Mama dan kakeknya yang pendiam berdiri terpisah di sisi lain. Mereka menggolongkan dirinya sebagai kelompok nonblok alias netral.


Arda Handara duduk di pasir pantai dengan atribut lengkap, yaitu Cincin Mahkota Separa di kepala, Kalung Peri Mimpi di leher dan Tongkat Kerbau Merah di pangkuan.


Di depan sang pangeran duduk bersila Setya Gogol dan Lentera Pyar sebagai kedua pemomongnya. Mereka mendengarkan cerita tentang Pangeran berpetualang di Negeri Orang Separa, sampai mendapat tiga gadis cebol cantik jelita yang menjadi nominasi istri. Mereka berdua menjadi pendengar yang baik.


“Berkat bimbingan Eyang Hagara, aku menjadi penerbang nomor jawu ….”


“Nomor jawu?” sebut ulang Setya Gogol dan Lentera Pyar bersamaan. Mereka tidak mengerti.


“Nomor jawu ituuu … adalah yang lebih baik dari nomor satu,” jelas Arda Handara dengan mimik serius.


“Maksud Gusti Pangeran nomor dua?” tanya Setya Gogol.


“Bukan, bukan. Nomor dua itu lebih rendah dari nomor satu. Atau, anggap saja itu nomor satu. Hahaha!” kata Arda Handara lalu tertawa. Ia kemudian melanjutkan ceritanya, “Karena aku adalah penerbang yang paling hebat, aku dihadiahi Cincin Mahkota Separa dan Kalung Peri Mimpi.”


“Waaah hebaaat!” ucap Setya Gogol dan Lentera Pyar terpukau.


Arda Handara melanjutkan cerita semakin berapi-air untuk lebih membuat kedua pemomongnya terkagum-kagum.


Sementara Dewi Ara duduk di sebuah pokok kayu yang bisa dijadikan kursi darurat. Ia duduk anggun laksana seorang ratu. Perlu diketahui bahwa Dewi Ara sudah pernah merasakan kursi keratuan di Kerajaan Sanggana Kecil yang kemudian digilir kepada Getara Cinta lalu Tirana.


Di belakang sang permaisuri berdiri Tikam Ginting dan Bewe Sereng.


Sosok kakek bertongkat berhidung tengkorak melangkah mendatangi Dewi Ara yang selalu memasang wajah dingin. Kali ini Eyang Hagara datang dengan tersenyum.

__ADS_1


“Adikku, Dewi Ara,” ucap Eyang Hagara seraya tersenyum dengan mata berkaca-kaca karena memendam rasa haru.


Terkejutlah orang-orang yang belum tahu siapa adanya si kakek menyeramkan itu. Timbul pertanyaan, bagaimana mungkin kakaknya setua bangka, sedangkan adiknya semuda belia.


Plak!


Semua semakin terkejut ketika mendengar suara tamparan yang keras. Sampai-sampai Arda Handara berhenti bercerita dan langsung memandang kepada Eyang Hagara. Setya Gogol dan Lentera Pyar pun menengok kepada Eyang Hagara.


Tidak ada tangan yang menampar pipi kiri Eyang Hagara, tapi suara itu terdengar jelas menampar dan wajah si kakek terlihat terhentak menengok ke kanan.


“Itu tamparan karena Kakang membohongiku selama ini,” kata Dewi Ara.


Plak!


Kali ini wajah si kakek terhentak sebaliknya, seperti ditampar dari kebalikannya. Semua kembali terkejut. Sementara Eyang Hagara tidak menjerit sedikit pun.


“Itu tamparan karena Kakang tidak berbicara kepadaku,” kata Dewi Ara lagi.


“Hahahak!” Arda Handara justru menertawakan Eyang Hagara.


Buks!


“Itu hukuman karena telah menculik putraku,” kata Dewi Ara lagi.


Setelah itu Dewi Ara berdiri dan berjalan medatangi Eyang Hagara.


“Kakang, aku merindukanmu sejak aku tahu kau ternyata masih hidup,” ucap Dewi Ara lembut lalu tanpa sungkan memeluk tubuh Eyang Hagara.


“Maafkan Kakang, Dewi Arang,” ucap Eyang Hagara berbisik sembari memeluk erat tubuh adik kesayangannya. Ia menyebut Dewi Ara dengan panggilan kecil kesayangannya.


Di balik kepala kakak lelakinya itu Dewi Ara meneteskan air mata dengan wajah yang tetap dingin. Mimi Mama dan Serak Gelegar yang kebetulan berhadapan dengan wajah Dewi Ara, hanya bisa mendelik terkejut.


“Bibi Permaisuri ternyata bisa menangis juga,” ucap Mimi Mama pelan kepada kakeknya.


“Sekeras-kerasnya wanita, tetap di hatinya ada satu ruang yang ditempati oleh kelembutan,” kata Serak Gelegar.


Meski ketajaman pendengarannya membuat Dewi Ara mendengar perkataan bisik-bisik kakek cucu itu, dia bersikap abai.


Eyang Hagara yang awalnya sudah berkaca-kaca, tapi kemudian terkejut karena mendapat tiga hukuman dari adiknya, akhirnya juga menangis haru. Bagaimana tidak, puluhan tahun berpisah dengan adik kesayangannya karena dirinya telah mati lebih dulu, tapi kini ia bisa benar-benar bertemu dan memeluk adiknya kembali.


“Aku berjanji, aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Dewi Arang,” ucap Eyang Hagara dengan suara lirih dan bergetar.

__ADS_1


“Dan berjanjilah, Kakang tidak akan mati lagi sebelum aku,” ucap Dewi Ara dengan suara serak dan bergetar pula.


“I-i-iya, aku berjanji,” jawab Eyang Hagara terbatah.


Mendengar dialog sedih itu, Bewe Sereng, Setya Gogol dan Tikam Ginting jadi turut terbawa sedih, seolah-olah hati mereka ingin ikut menangis, tapi mereka tahan. Sementa Lentera Pyar sudah berurai air mata.


Mimi Mama pun jadi meneteskan air mata, karena dia jadi teringat dengan kedua ayah ibu kandungnya. Ia memang bukanlah putri kandung Ratu Bunga Petir. Sekedar bocoran rahasia, Ratu Bunga Petir menderita kemandulan. Mimi Mama adalah putri yang diangkatnya sejak bayi.


Namun, entah apa yang terpikirkan di dalam kepala para selir melihat pertemuan mengharukan itu. Yang jelas, timbul pertanyaan, apakah Permaisuri Dewi Ara adalah wanita sakti yang jahat atau tidak.


Eyang Hagara lalu melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua bahu adiknya dan memandangi wajah cantik yang berkulit masih sangat mulus dan segar, seolah-olah tidak pernah tercemar oleh radikal bebas.


Lelaki tua itu lalu menyeka air mata Dewi Ara dengan jari tua keriputnya.


“Terima kasih telah mengabadikan nama Ayah di nama putramu,” ucap Eyang Hagara lagi.


“Ah, sudahlah. Aku sedang masa bertarung, tidak baik menunjukkan sisi lembut di depan musuh,” kata Dewi Ara akhirnya.


Eyang Hagara lalu melepaskan bahu adiknya. Ia pun menyeka air matanya sendiri.


“Jika kau butuh pembunuh, aku sangat siap, Dewi,” kata Eyang Hagara.


“Aku hanya ingin mengambil seorang penculik, tetapi mereka mempertahankannya. Nanti jika ada yang harus dibunuh, akan aku serahkan kepadamu, Kakang,” kata Dewi Ara.


“Di negeri seberang, anakmu membunuh beberapa penjahat,” kata Eyang Hagara memberi tahu.


“Cepat atau lambat, dunia yang keras akan memaksanya menjadi pembunuh,” kata Dewi Ara enteng.


Dewi Ara lalu berbalik dan berjalan menuju tempat duduknya.


“Eyang, apakah kau akan ikut dengan Ibunda?” tanya Arda Handara yang mendatangi mereka.


“Iya. Karena aku harus minta restu dari ibundamu tentang perjodohanmu.” Jawab Eyang Hagara.


“Hahaha! Tapi Eyang juga harus minta restu kepada Ayahanda Prabu,” kata Arda Handara yang didahului dengan tawanya.


“Gusti Ratu Bunga Petir datang!” teriak Rengkuh Badai tiba-tiba.


Dari arah jalan hutan, muncul serombongan orang yang didominasi oleh kaum wanita. Mereka berjalan kaki dengan dipimpin oleh Ratu Bunga Petir. Bersamanya ada Dewi Petir yang masih remaja, Selir Kedua, Selir Keempat yang cantik dan masih terbilang muda, Selir Kelima, Selir Keenam dan beberapa lelaki yang merupakan punggawa di Pulau Tujuh Selir.


Bersama mereka juga ada Gandang Duko yang dalam kondisi kedua tangan terbelenggu di belakang pinggang oleh tali sinar ungu. Ia berjalan di sisi ibunya, Selir Kedua atau Tetua Penghukum. (RH)

__ADS_1


__ADS_2