
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Pendekar Sekilatan sedang bergerak seperti ping pong ke sana kemari, berusaha menjauhi sepuluh bola sinar kuning yang terus mengikutinya seperti sekelompok lebah yang sedang datang bulan.
Kecepatan Pendekar Sekilatan memang bisa diadu dengan kecepatan serangan ilmu Bola Sehidup Semati.
Jika beberapa hari lalu Abel Srikunti tidak bisa melepaskan diri dari jeratan ilmu sepuluh bola sinar kuning tersebut, maka Pendekar Sekilatan tampaknya bisa mempecundangi ilmu tersebut.
Pendekar Sekilatan akhirnya punya ide. Mengandalkan gerakannya yang cepat seperti kilat buatan manusia, ia akhirnya bergerak melesat ke arah Tikam Ginting dengan sepuluh sinar kuning mengejar di belakang.
Tikam Ginting pun bersiap menyambut kedatangan Pendekar Sekilatan.
Clap!
Ketika jarak Pendekar Sekilatan tinggal satu tombak dari Tikam Ginting, pendekar bertubuh kecil itu tahu-tahu menghilang seperti setan. Rupanya dia masih menyembunyikan kemampuan geraknya yang seperti siluman.
Tindakan Pendekar Sekilatan itu membuat sepuluh bola sinar kuning jadi siap menghantam Tikam Ginting sendiri. Namun, Tikam Ginting tidak siap dimakan oleh kesaktiannya sendiri. Ia pun menghentikan pengaktifan ilmu Bola Sehidup Semati.
Set!
Dan tahu-tahu Pendekar Sekilatan muncul bergerak cepat tapi rendah mengincar kaki Tikam Ginting dari belakang. Dua dwisula telah dia cabut dan akan merobek betis Tikam Ginting atau menusuk bokongnya.
Tikam Ginting refleks melompat menghindar dengan berjumpalitan ke depan laksana atlet senam lantai.
Mendapati dwisulanya merobek ruang kosong, Pendekar Sekilatan langsung menolakkan benar satu kakinya mengejar pergerakan gadis cantik itu.
Set!
Sambil berjumpalitan seperti itu, Pendekar Bola Cinta masih sempat melemparkan bola kayu merahnya.
“Tidak kena!” pekik Pendekar Sekilatan, seolah mengejek.
“Kena kau!” pekik Tikam Ginting sambil tiba-tiba berhenti dan berbalik menyerang Pendekar Sekilatan dengan tangan kanan bersinar bola merah dan tangan kiri bersinar bola putih. Jadi merah putih semangat nasional.
Ganti Pendekar Sekilatan yang harus menghindar dengan gesit agar tidak terkena oleh cecaran dua sinar yang berhawa tenaga sakti tinggi.
__ADS_1
Bluar! Bluar!
Pada puncaknya, Tikam Ginting membanting kedua sinar di tangannya bersusulan mengincar Pendekar Sekilatan. Namun, pendekar kecil itu masih terlalu lincah, sehingga dengan mudah bisa menghindari dua sinar yang kemudian membolongi lantai papan dermaga berdiameter satu pelukan wanita mungil.
Entah bagaimana prosesnya, bola kayu merah pulang ke tangkapan Tikam Ginting dengan sendirinya.
Dengan melompatmundurnya Pendekar Sekilatan, Tikam Ginting menyempatkan diri mengeluarkan balon sinar kelabu dari telapak tangannya yang dengan cepat membesar.
Perkara menarik itu membuat Pendekar Sekilatan penasaran untuk melihat seperti apa hasil dari permainan bola-bola Tikam Ginting.
“Wow!” desah para penonton melihat kebesaran bola Tikam Ginting. Ingin rasanya mereka bertepuk tangan, tetapi itu bukan pertunjukan sulap.
Set! Sleb!
Tiba-tiba Pendekar Sekilatan melesatkan satu dwisulanya.
Sekedar informasi. Yang ada di pikiran Pendekar Sekilatan, jika bola sinar kelabu itu adalah kumpulan tenaga sakti yang siap diledakkan kepada musuh, tentunya sinar itu akan meledak di dekat pemiliknya jika diletuskan. Karenanya, Pendekar Sekilatan melesatkan dwisulanya bermaksud meledakkan bola sebesar rumah tersebut.
Namun, ketika dwisula melesat, senjata itu justru menembus masuk, tapi tidak meledakkan bola sinar. Dwisula menghantam sisi dalam dinding bola sinar seperti membentur dinding keras. Senjata itu jatuh ke dasar bola sinar.
Tikam Ginting lalu melepaskan bola sinar besar tersebut seperti melepas balon raksasa dari telapak tangannya. Bola raksasa itu melambung santai lalu turun ke lantai dermaga, tanpa menggelinding terkena embusan angin laut.
Terkejut Tikam Ginting dan semua orang oleh serangan tidak terduga Pendekar Sekilatan. Sementara pemilik senjata juga melesat menyerang Tikam Ginting di arah berbeda dengan kedua tinju membara kuning.
Lesatan dwisula yang terlalu cepat membuat tidak ada orang sekitar yang berupaya menolong Ratu Wilasin. Di tempat itu sudah tidak ada Setya Gogol dan Lentera Pyar. Keduanya cepat pulang ke penginapan untuk menanyakan nasib Arda Handara kepada Dewi Ara yang telah pulang ke penginapan.
Bong Bong Dut yang ada di tempat itu, kondisinya masih lemas karena nyaris mati tenggelam.
Anik Remas dan Bagang Kala pun tidak terlihat lembaran telinganya karena sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya. Mereka harus memilih busana manten yang pas dan bagus, serta men-setting rencana suasana pernikahannya, seperti di sebelah mana meja ijab-kabulnya, di mana letak prasmanan, posisi duduk para saksi, serta jenis hiburan apa yang akan disewa.
Terlalu cepatnya serangan dwisula bahkan membuat Ratu Wilasin tidak sempat menjerit.
Set! Tak!
Namun, tiba-tiba, ada segaris benda panjang seperti tali bercabang yang melesat muncul dari bawah pinggiran dermaga. Lesatannya pun begitu cepat dan mampu mengungguli lesatan dwisula. Ujung benda yang lebih mirip dengan akar pohon itu menghantam dwisula dari samping dan mementalkannya ke laut. Seperti pepatah pendekar mengatakan, “Jika tidak berguna, ke laut saja”.
“Aaak!” Barulah Ratu Wilasin menjerit kencang setelah ada aksi penyelamatan baginya.
__ADS_1
Para penonton yang juga terkejut, sebagian segera menutup telinga karena lengkingan jeritan Ratu Wilasin serasa menggesek gigi dengan kikir.
Kemudian terlihat jelas bahwa tali yang mirip akar pohon itu melesat mundur kembali ke pinggiran dermaga dan bersembunyi seperti makhluk yang ketakutan.
Sementara itu, di sela-sela agresi tinjunya yang berbahaya, Pendekar Sekilatan hanya bisa memendam dongkol. Meski ia tidak melihat jelas apa yang terjadi karena sibuk menyerang Tikam Ginting, tapi jeritan Ratu Wilasin menunjukkan bahwa ratu kekanakan itu masih selamat.
Tikam Ginting bergerak mundur-mundur di sepanjang sisi bola sinar kelabu, seolah-olah ia sedang terdesak. Namun, ketika posisinya berada di sisi selatan bola sinar, Tikam Ginting berhenti mundur dan bertahan dengan mengandalkan ilmu Pertahanan Keutuhan Cinta.
Semua serangan tinju membara kuning Pendekar Sekilatan ditangkis oleh kiblatan-kiblatan sinar hijau yang muncul pada telapak tangan Tikam Ginting.
Di saat pertarungan gerak cepat itu berlangsung, tanpa Pendekar Sekilatan sadari, ada bola-bola bening seperti gelembungan air sabun yang keluar dari jari-jari kaki Tikam Ginting. Gelembung-gelembung itu langsung tertiup angin laut dan beramai-ramai masuk ke dalam bola sinar kelabu besar tanpa pecah. Di sanalah kemudian gelembung-gelembung itu bersemayam dan terus bertambah volumenya karena jari kaki Tikam Ginting terus mengeluarkan gelembung.
Brass! Paks!
“Hukh!”
Pada satu ketika, serangan tinju Pendekar Sekilatan berubah dengan tendangan berputar dan mengandung unsur garis sinar biru yang tajam. Begitu cepat. Tikam Ginting tidak sempat menghindar dan hanya menangkis dengan dua telapak tangan yang mengeluarkan sinar hijau dari ilmu Pertahanan Keutuhan Cinta.
Tikam Ginting mengeluh dengan tubuh terhuyung mundur, nyaris menempel pada dinding sinar kelabu.
Buru-buru Tikam Ginting mengulur jarak dengan cara melompati atas bola sinar kelabunya.
Pendekar Sekilatan tidak mau memberi peluang banyak bagi lawannya. Karenanya, dia cepat ikut melompati atas bola sinar yang tinggi mengejar Tikam Ginting. Namun, tingginya bola sinar bukan halangan bagi tubuh kecil Pendekar Sekilatan.
“Selamat berpesta!” pekik Tikam Ginting kepada Pendekar Sekilatan yang baru hendak mendarat di lantai sisi utara bola sinar kelabu. Namun, Tikam Ginting bukannya menyerang, tetapi justru melesat mundur menjauh.
Jleg! Wuss!
Blar blar blar …!
Seiringan kaki Pendekar Sekilatan mendarat di lantai, bola sinar kelabu di belakangnya mendadak lenyap. Maka ratusan gelembung-gelembung bening yang ada di dalam bola sinar kelabu, langsung bergerak menyergap tubuh Pendekar Sekilatan karena terbawa oleh angin laut.
Gelembung-gelembung dari ilmu Alam Ceria Persembahan Maut itu berledakan di sekeliling tubuh Pendekar Sekilatan.
West!
Dari dalam ratusan ledakan yang memekakkan telinga itu terlihat melesat keluar bayangan seseorang yang tidak jelas. Namun, ketika lesatannya berhenti, terlihat jelas sosok Pendekar Sekilatan berdiri limbung dengan kondisi tubuh yang mengenaskan karena hancur pada beberapa bagian, termasuk wajah.
__ADS_1
Tanpa jeritan lagi, Pendekar Sekilatan tumbang ke depan tanpa nyawa lagi, seiring berhentinya ledakan rapat yang terjadi.
Para penonton hanya diam dengan wajah mengerenyit karena telinga mereka berdenging dan menyaksikan kondisi Pendekar Sekilatan yang mengerikan. (RH)