
*Perang Pulau Kabut (Perpu But)*
Secara khusus Keong Gelap yang mengantar dan menjadi pendayung bagi pasangan Pendekar Angin Barat dan istrinya, Anik Remas. Dari Kapal Bintang Emas ke Kapal Bintang Hitam. Kedua kapal masih sama-sama menyalakan cahaya terangnya.
Genggam Garam bisa menemukan kapal hitamnya karena dia sempat melihat cahaya api di kejauhan, ketika Dewi Ara menyalakan obor saat Arda Handara dan kedua gadis sepermainannya bergulat.
Ketika bagang Kala dan Anik Remas naik ke kapal hitam, Keong Gelap juga ikut naik.
“Sembah hormat kami, Gusti Permaisuri,” ucap Anik Remas sambil bersama suaminya turun berlutut di depan Dewi Ara.
“Bagaimana petualangan asmara kalian di lautan? Apakah baik-baik saja?” tanya Dewi Ara yang membuat pasangan suami istri itu dilanda rasa malu.
“Baik-baik saja, Gusti,” jawab Bagang Kala.
“Kau memang suami yang bisa diandalkan, Bagang,” puji Dewi Ara. Jarang-jarang dia memuji seseorang.
“Hormatku kepada Gusti Permaisuri,” ucap Keong Gelap sembari menghormat dengan menjura membungkuk.
“Bangunlah kalian semua!” perintah Dewi Ara.
Ketiga orang yang baru datang itu segera bangkit.
“Siapa namamu, Kisanak?” tanya Dewi Ara datar.
“Keong Gelap, Gusti,” jawab Keong Gelap.
“Hahahak!” tawa keras Arda Handara tiba-tiba, membuat Keong Gelap alihkan perhatiannya sejenak kepada anak pendek itu. “Paman, kau pastinya rajanya keong ya?”
“Bisa disebut demikian,” jawab Keong Gelap memilih sikap aman, meski di dalam hatinya dia tersinggung ditertawakan oleh seorang bocah. Namun, ia menduga bahwa bocil itu memiliki hubungan darah dengan sang permaisuri, sebab dia berani tertawa di belakang sang permaisuri.
“Apakah kau ingin meminta kapal ini, Keong?” tanya Dewi Ara sebelum Arda Handara berulah kembali.
“Benar, Gusti. Dengan penuh kerendahan diri, kami memohon agar Kapal Bintang Hitam dikembalikan kepada kami.”
“Apakah kalian ingin mengambil kembali kapal ini dan memberikan kapal emas itu?” tanya Dewi Ara yang sengaja sedikit mempermainkan Keong Gelap.
“Ah? Tidak … tidak seperti itu, Gusti ….”
“Coba kau tanyakan kepada ketuamu, apakah dia ingin menukar kapal hitam ini dengan kapal emas itu!” perintah Dewi Ara.
“Tapi ….”
“Pergilah, kau harus memastikannya, jangan sampai kau membawa maksud pesan yang salah!” perintah Dewi Ara lagi, memotong kata-kata Keong Gelap.
“Baik, Gusti,” ucap Keong Gelap akhirnya.
__ADS_1
Setelah menjura hormat, Keong Gelap pergi dan turun ke perahunya. Dia mendayung pulang ke Kapal Bintang Emas.
“Ketua, Gusti Permaisuri menanyakan, apakah Ketua akan menukar kapal ini dengan Kapal Bintang Hitam?” ujar Keong Gelap kepada Genggam Garam, senaiknya dia ke atas Kapal Bintang Emas.
“Aku tidak pernah bicara seperti itu!” Genggam Garam langsung membentak sebagai responnya. “Kau kembali temui permaisuri itu, aku tidak sedikit pun berniat menukar kapal ini dengan kapal itu. Aku hanya minta Kapal Bintang Hitam dikembalikan kepada pemiliknya. Pemiliknya itu adalah aku, Ketua Bajak Laut Malam. Mengerti?”
“Me-mengerti, Ketua,” ucap Keong Gelap agak tergagap.
“Jika mengerti, cepat pergi ke kapal itu lagi!” perintah Genggam Garam.
“Baik, Ketua.”
Keong Gelap pun kembali turun ke perahu dan pergi ke Kapal Bintang Hitam.
“Ketua kami tidak memiliki niat untuk menukar kapal, Gusti,” ujar Keong Gelap setelah menghormat kembali di hadapan Dewi Ara.
“Jika demikian, pergilah sampaikan kepada ketuamu itu, kami meminta ganti atas kapal kami yang telah dirompak dan diserang!” perintah Dewi Ara.
Terbeliaklah Keong Gelap.
“Jadi, aku harus melapor lagi kepada Ketua?” tanya Keong Gelap yang menafsirkan dengan berat kepala.
“Bukankah itu tugasmu?” ucap Dewi Ara.
“Aaak!” jerit Keong Gelap saat tiba-tiba tubuhnya mencelat ke udara lalu jatuh tepat di atas perahunya yang tertambat di bawah. Namun, dia tidak apa-apa.
“Mana bisa?” pekik Genggam Garam sewot setelah mendengar laporan Keong Gelap.
“Benar, tidak bisa seperti itu. Permaisuri itu sendiri yang menghancurkan dan menenggelamkan kapalnya, jadi itu tanggung jawabnya sendiri,” kata Raga Ombak, tangan kiri Genggam Garam.
Raga Ombak membela Tangan Kanan selaku orang yang memimpin penyerangan terhadap kapal penyeberangan milik Nahkoda Dayung Karat. Dia sudah mendapat cerita lengkap dan tamat dari Tangan Kanan tentang kronologi Kapal Bintang Hitam bisa dikuasai oleh Permaisuri Dewi Ara
“Katakan kepada permaisuri itu, aku tidak akan memberi kapal apa pun. Masalah kapalnya, itu urusannya sendiri!” tandas Genggam Garam.
Maka, sekali lagi Keong Gelap berdayung kembali ke Kapal Bintang Hitam menemui Dewi Ara dan menyampaikan pendirian ketuanya.
“Jadi, ketuamu bermaksud membuang kami semua ke laut?” tanya Dewi Ara kepada Keong Gelap.
Gelagapanlah Keong Gelap mendapat pertanyaan menyudutkan seperti itu.
“Ti-ti-tidak, Gusti. Ketua tidak pernah mengatakan berniat membuang Gusti Permaisuri ke laut!” bantah Keong Gelap.
Blar blar blar …!
Brakr!
__ADS_1
Tiba-tiba lima ledakan tercipta begitu saja di lima titik di Kapal Bintang Emas. Salah satunya meledakkan satu tiang, membuatnya patah dan tumbang.
Keterkejutan dan kepanikan seketika melanda kelompok Bajak Laut Malam.
“Keong Gelaaap! Apa yang kau sampaikaaan?!” teriak Genggam Geram yang mengandung tenaga dalam tinggi. Lalu ucapnya lirih, “Oh Dewi Centing, kenapa nasibku seburuk ini bertemu dengan permaisuri itu?”
“Hahahak …!” tawa Arda Handara mendengar kepanikan Genggam Garam.
“Panggil ketuamu kemari!” perintah Dewi Ara kepada Keong Gelap.
“Ketuaaa! Gusti Permaisuri memanggilmu!” teriak Keong Gelap kencang, juga mengandung tenaga dalam. Dia tidak mau mendayung bolak balik lagi.
“Iyaaa!” sahut Genggam Garam keras bernada kesal. Lalu gerutunya, “Apakah permaisuri Kerajaan Sanggana itu tidak tahu bahwa aku bisa berlari di atas air tanpa tenggelam?”
Tanpa menunggu waktu lagi, dengan gagahnya Genggam Garam berlari di geladak yang bolong-bolong oleh ledakan, lalu melompat dengan langkah yang lebar di udara. Dia jatuh ke air, tetapi ternyata tubuhnya terlalu ringan untuk tenggelam.
Benar sesumbarnya, dia ternyata bisa berlari di atas permukaan air yang berombak. Kakinya hanya tenggelam seukuran tebal belut sawah. Sepertinya dia memang mau pamer kesaktian, padahal di kapal emasnya masih ada perahu kecil satu lagi.
Jleg!
Dengan keren Genggam Garam melompat sekali genjot naik ke atas kapal hitam yang sudah sepekan belakangan ia rindukan, seperti merindukan anak gadis tetangga. Ia mendarat lembut di geladak yang tidak begitu dekat di depan sang permaisuri, dengan gaya kedua tangan merentang seperti penari balet jaga keseimbangan.
Namun, Genggam Garam terpatung dengan kedua tangan lupa turun. Kecantikan Dewi Ara yang membuatnya seperti itu. Bahkan kedua bibirnya sedikit terbuka.
Set!
“Dewi Centing!” pekik Genggam Garam terkejut saat Arda Handara melesatkan satu kerikil normal dari ketapelnya. Ia refleks terbangun dari keterpatungannya dan mengelak hanya dengan menarik kepalanya, karena tembakan Arda Handara mengincar wajahnya.
“Hahahak!” tawa Arda Handara terbahak setelah tembakannya tidak mengenai target.
Salah tingkahlah Genggam Garam setelah itu. Jelas-jelas dia menunjukkan sisi lemahnya di depan publik. Sisi lemahnya yaitu jika disuguhkan kecantikan.
“Hormatku kepada Gusti Permaisuri Kerajaan Sanggana yang sakti mandraguna,” ucap Genggam Garam sambil menghormat dan memuji untuk menutupi rasa malunya. Ingin sekali dia memuji kecantikan Dewi Ara, tetapi dia tidak mau ambil risiko seperti mencomot kucing di dalam gentong.
“Siapa namamu, Kisanak?” tanya Dewi Ara sedingin angin malam.
“Namaku Genggam Garam, Gusti Permaisuri. Aku Ketua Bajak Laut Malam,” jawab Genggam Garam bangga dengan senyum yang low profile. Lalu katanya, “Kami hanya ingin ….”
“Kami sedang menuju ke Pulau Kabut,” kata Dewi Ara memotong kata-kata Genggam Garam. “Aku akan mengembalikan kapalmu ini jika kami sudah berlabuh di sana. Jika kau menolak, terpaksa aku akan hancurkan kapal bagusmu itu.”
“Oh, tentu saja aku setuju, Gusti!” kata Genggam Garam cepat penuh antusias. Ia tidak mau jika Dewi Ara keburu menghancurkan kapal emasnya dengan seratus ledakan.
“Atau kau ingin lebih?” tawar Dewi Ara.
“Apa itu, Gusti?” tanya Genggam Garam cepat, sangat kentara jiwa tamaknya.
__ADS_1
“Selain kau akan mendapat kembali kapalmu, kalian bisa membawa pulang beberapa kapal perang. Kalian cukup melakukan pekerjaan ringan bagi seorang pelaut di Pelabuhan Pintu Kabut Pulau Kabut.”
“Pekerjaan apa itu, Gusti? Tentunya dengan senang hati kami akan lakukan,” kata Genggam Garam. (RH)