Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Kera Asin 13: Wanita di Bawah Hujan


__ADS_3

*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*


Rombongan Permaisuri Dewi Ara sudah keluar dari wilayah kekuasaan Kerajaan Baturaharja.


Ketika malam tiba, rombongan yang bergerak pelan karena sebagian berjalan kaki, tiba di sebuah kademangan. Mereka harus ke pusat kademangan karena hanya di sana yang menyediakan penginapan, itu hanya ada satu dan itupun tidak terlalu ramai. Maklum, kata pelayan, Kademangan Bayongan itu bukan jalur perdagangan dan jarang disinggahi oleh musafir atau pengembara.


Karena mendapat pelanggan satu rombongan pendekar, pemilik penginapan yang adalah seorang janda bertubuh gemuk padat lemak, sangat gembira. Wanita bernama Niring Kuwikuwi itupun segera memanggil seluruh karyawannya untuk menyiapkan kamar-kamar yang terbaik. Seajauh ini para karyawan lebih banyak bengong karena banyak menganggur.


Dapur pun seketika sibuk untuk memenuhi kebutuhan sepuluh orang plus satu bajing yang doyan kelapa tua. Maklum binatang, doyannya yang tua-tua.


Sambil menunggu masakan matang, kamar dirapikan dan diwangikan, serta air mandi disiapkan, Dewi Ara dan pengikutnya memilih duduk lesehan di teras penginapan yang luasnya seluas lapangan basket.


Bagang Kala dan Anik Remas asik bermesraan di sudut teras. Anik Remas yang sedang terluka memilih merebahkan diri dengan menjadikan paha kekasihnya sebagai bantalan. Ada saja kata-kata cinta yang disiramkan Anik Remas kepada Bagang Kala, yang membuat pemuda tampan itu selalu tersenyum di bawah penerangan satu obor di atas kepala mereka.


Bewe Sereng tergeletak di sisi lain, ditemani oleh Setya Gogol yang sedang mengulek bahan-bahan obat sesuai resep dari tabib.


Bong Bong Dut sibuk memberi makan dan minum para kuda. Ia juga melakukan pemijatan refleksi untuk para kuda. Ia sering melakukan hal itu selama di Perguruan Cambuk Neraka.


Di halaman penginapan, Arda Handara dan Ratu Wilasin sedang asik bermain. Berbagai permainan mereka mainkan. Bosan dengan permainan ini, maka mereka sepakat ganti permainan. Bosan lagi, maka ganti lagi. Ternyata Ratu Wilasin memiliki banyak pengetahuan tentang permainan tradisional dan dia selalu menang banyak.


Sementara Dewi Ara duduk bersila berdepankan sebuah meja pendek yang di atasnya ada seperangkat perlengkapan minum dengan kacang rebus panas sebagai menu cemilan utama. Ia ditemani oleh Tikam Ginting.


Bukan hanya sebagai pengawal sakti, Tikam Ginting juga bisa bertindak sebagai pelayan. Seperti saat itu, dia sedang melayani junjungannya, membuatkannya wedang jahe hangat tanpa gula maupun garam.


Selain memandangi putranya bermain seru-seruan dengan sang ratu yang kekanakan, Dewi Ara juga menikmati pemandangan kademangan itu di kala malam.


Di depan penginapan itu adalah jalanan kademangan, tapi bukan jalan utama. Posisi letak penginapan memang terbilang agak bersembunyi di sudut kademangan yang bagian belakangnya adalah tebing batu yang cukup tinggi. Jadi, selain jalanan tanah yang kering, pemandangan lainnya adalah pepohonan jambu yang biji buahnya ada di dalam, bukan porno ada di luar.


Di seberang jalan memang kebun jambu berbiji. Malam membuat kebun itu terlihat gelap pekat. Posisi rumah warga agak jauh dari penginapan.


Angin malam yang agak kencang membuat tarian dedaunan pohon jambu menjadi musik yang berirama acak.


Di langit gelap, sesekali kilat menyambar, seolah dia keluar dari alam lain di atas langit. Cuaca cukup dingin itu memberi tanda bahwa mungkin sebentar lagi hujan akan turun.


Brojol sejak tadi jungkir balik di dalam sangkarnya yang diletakkan di dekat meja.


Ketika Anik Remas dan Bagang Kala bermesraan di pojokan, Dewi Ara bersikap abai. Demikian pula ketika Arda Handara menjadi kuda perah.

__ADS_1


“Hihihik …!” tawa kencang Ratu Wilasin yang membuat malam itu terkesan horor.


Ia tertawa setelah menang lagi dalam permainan Lempar Terong. Cara mainnya mudah. Sebuah terong hijau bulat digantung dengan tali, lalu dilempar dari jarak sejauh dua tombak. Melemparnya dengan batu kecil secara bergantian. Lemparan yang berhasil mengenai si terong, maka itulah yang menang dan mendapat hadiah gendongan.


“Aku menang lagi!” sorak Ratu Wilasin berloncat-loncat kecil di tempatnya. “Yeee!”


Selanjutnya, tanpa menaruh sungkan, Ratu Wilasin menaiki punggung Arda Handara yang sebenarnya terlalu kecil bagi dirinya. Namun, Arda Handara tetap berusaha menggendong wanita dewasa itu karena sebelumnya ia berhasil meakukannya.


Uniknya, melihat hal itu, Dewi Ara tidak mempermasalahkan.


Dengan wajah yang memerah di bawah penerangan beberapa obor tiang bambu, Arda Handara berjalan tertatih-tatih berusaha membawa tubuh Ratu Wilasin ke bawah terong yang digantung. Karena Arda Handara pendek dan kecil, kedua kaki Ratu Wilasin sampai terseret di tanah.


Ratu Wilasin terus tertawa dan berteriak begitu menikmati adegan kuda-kudaannya.


“Kudaku lari gagah berani. Menyeberangi laut naik ke puncak gunung berapi. Kalau tertawa, hihihi …!” Ratu Wilasin bernyanyi kencang.


Bduk!


“Akk!” keluh Arda Handara saat jatuh tersungkur karena Ratu Wilasin terlalu berat oleh beban hidup.


“Hihihi …!” Bukannya merasa kasihan, ratu yang wajahnya masih hitam itu justru tertawa kencang melengking, membuat para karyawan penginapan bergidik merinding mendengarnya.


Sementara Tikam Ginting, Setya Gogol, serta pasangan Anik Remas dan Bagang Kala hanya tertawa rendah melihat kejadian tersebut. Seperti biasa, Dewi Ara tanpa ekspresi.


Glegaarrr!


“Wuaah!” pekik Arda Handara terkejut bukan main saat tiba-tiba satu petir menggelegar besar setelah kilat memotret alam malam.


“Iiih! Turun, turun!” pekik Ratu Wilasin karena Arda Handara melompat memeluknya, persis seperti anak yang menggelayut di badan depan emaknya.


“Membuat terkejut saja,” ucap Arda Handara sambil turun dari badan Ratu Wilasin.


“Arda, sebentar lagi hujan lebat!” kata Dewi Ara datar.


“Iya, Ibunda!” sahut Arda Handara.


Ia lalu melompat naik menggendong ke punggung Ratu Wilasin.

__ADS_1


“Ayo, Kakak Ratu!” ajak Arda Handara.


“Hihihi!”


Ratu Wilasin justru tertawa tanpa mempermasalahkan tindakan Arda Handara. Karena tadi mereka pun bergantian menggendong.


“Kudaku lari gagah berani. Menyeberangi laut naik ke puncak gunung berapi. Kalau tertawa, hihihi …!” Ratu Wilasin bernyanyi sambil berlari kecil pergi naik ke teras.


Bruss!


Tidak berapa lama setelah Arda Handara dan Ratu Wilasin naik ke teras, hujan turun langsung pakai deras. Seketika suasana beruba dingin. Angin yang cukup kencang membuat hujan agak mengamuk, membuat pepohonan jambu semakin bersorak ramai dan menari-nari.


Suasana berubah kian gelap lantaran beberapa obor tiang di halaman padam tersiram air hujan.


Bong Bong Dut segera meninggalkan pekerjaannya dan naik ke teras. Ia mendekat kepada Arda Handara dan Ratu Wilasin.


Kemesraan Anik Remas dan Bagang Kala terusik oleh air hujan, mereka harus pindah posisi.


Sementara Dewi Ara jauh dari jangkauan air hujan karena teras itu beratap.


Dari dalam penginapan datang berlari kecil Niring Kuwikuwi.


“Gusti Pendekar, lebih baik ke dalam saja, di sini terlalu dingin,” ujar Niring Kuwikuwi dengan gestur tubuh yang penuh hormat. Ketika bicara pun senyumnya selalu mekar semekar hidungnya.


“Tidak apa-apa, Nyai. Siapkan saja apa yang kami minta,” kata Dewi Ara.


“Baik, Gusti Pendekar,” ucap Niring Kuwikuwi.


Wanita gemuk berbedak tebal itu lalu berbalik pergi dengan penuh hormat.


Setelah kepergian pemilik penginapan, Dewi Ara memandang serius lurus ke depan, seolah bermaksud menerawang apa yang ada di dalam kegelapan kebun jambu berbiji.


Blast!


Tidak berapa lama, kilat menyambar di langit tanpa ada suara petir.


Kilat yang sekilas menerangi alam, ternyata menunjukkan keberadaan bayangan seorang wanita berpakaian merah terang yang berdiri di bawah salah satu pohon jambu berbiji.

__ADS_1


“Apakah musuh, Dewi?” tanya Tikam Ginting yang bisa melihat apa yang dilihat Dewi Ara.


“Sepertinya begitu,” jawab Dewi Ara datar. (RH)


__ADS_2