
*Kejar Ratu Wilasin (Kera Asin)*
Sebuah kereta kuda mewah berhenti di halaman kaputren. Kereta itu dikawal oleh satu pasukan berkuda berseragam merah yang berjumlah dua puluh prajurit. Mereka adalah Pasukan Pengawal Prabu yang dikomandani oleh Bengal Banok.
Komandan Bengal Banok adalah seorang lelaki separuh baya berfisik militer. Ia hanya mengenakan kain merah terang yang diselempangkan dari pinggang kiri ke bahu kanan, tapi masih bercelana warna hitam. Sebagian badannya terbuka menampakkan kepadatan otot yang menonjol-nonjol dan mengkilap, seperti dibaluri minyak urut. Baik kepala, lengan, dan badannya dihiasi asesoris perwira kerajaan. Di pinggang kirinya ada pedang bagus berwarna hitam.
Seorang prajurit pendamping sais kereta segera turun dan membuka pintu bilik kereta kuda, lalu berlutut satu kaki dengan memasang satu pahanya sebagai anak tangga.
Seorang lelaki mewah yang berusia tua segera turun. Ia mengenakan pakaian berbahan sutera warna kuning emas. Rambut putihnya yang digelung ditutupi dengan mahkota warna emas bertabur batu permata hijau kecil-kecil tapi indah. Lelaki berusia tujuh puluhan tahun itu memelihara kuku panjang berwarna kebiruan yang modelnya tajam seperti kuku binatang pada tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya tidak. Menimbulkan pertanyaan, dengan tangan apa jika dia beristinja, pastinya bukan dengan tangan kirinya.
Lelaki tua super mewah itu adalah Prabu Banggarin, kakek dari Ratu Wilasin.
Dengan wajah yang begitu tegang, Prabu Banggarin berjalan cepat menuju ke Wisma Keratuan, bangunan terbesar dari kompleks kaputren tersebut. Ia dikawal oleh Bengal Banok selaku Komandan Pasukan Pengawal Prabu. Di belakang mengikuti sepuluh orang prajurit berpedang, yang juga berjalan cepat guna mengimbangi langkah penguasa tertinggi Kerajaan Baturaharja itu.
Di teras Wisma Keratuan telah menunggu seorang perwira berusia separuh abad kurang lima tahun. Perwira itu berpenampilan semodel dengan Bengal Banok, tetapi kain selendang pada bahunya berwarna biru terang. Ada pedang bersarung pula menggantung di pinggang kirinya. Lelaki berkumis tebal dan mekar pada kedua ujungnya itu bernama Kumbang Draga. Dia menjabat Komandan Pasukan Pengawal Ratu.
Di belakangnya berjejer dua saf prajurit berseragam biru bersenjata pedang yang berjumlah tiga puluh orang. Mereka adalah Pasukan Pengawal Ratu.
“Sembah hormat hamba, Gusti Prabu!” seru Komandan Kumbang Draga sambil turun berlutut satu kaki dan menjura hormat dengan dalam.
“Sembah hormat hamba, Gusti Prabu!” seru ketiga puluh prajurit Pasukan Pengawal Ratu, plus sejumlah prajurit penjaga Wisma Keratuan.
“Komandan Kumbang, kenapa setelah Gusti Ratu menghilang selama empat hari, kau baru memberi kabar kepadaku?!” bentak Prabu Banggarin begitu marah, terlihat dari wajahnya yang memerah dan intonasi bentakannya yang menggelegar.
“Ampuni hamba, Gusti Prabu!” ucap Bengal Banok kencang bernada menyesal dan ketakutan, meski sebenarnya itu drama belaka. “Hamba baru memberi kabar, karena hamba mengira Gusti Ratu memang tidak mau keluar dari Wisma Keratuan.”
“Kurang ajar! Bangunlah!” perintah Prabu Banggarin setelah memaki.
Komandan Kumbang Draga dan pasukannya segera bangun berdiri. Ia sempat melirik sejenak kepada Bengal Banok yang hanya diam tanpa ekspresi.
“Para dayang itu sudah kami ikat di dalam, Gusti Prabu,” ujar Kumbang Draga.
__ADS_1
Prabu Banggarin bergegas melangkah masuk ke dalam Wisma Keratuan. Ia hanya diikuti oleh Komandan Bengal Banok dan Kumbang Draga.
Ternyata, di ruang depan Wisma yang cukup luas, ada sebanyak lima belas wanita berpinjung hijau dengan bahu terbuka. Usia mereka kisaran antara 25 tahun hingga 40 tahun. Mereka semua dalam kondisi berlutut, tetapi kedua tangan mereka diikat kencang di belakang pinggang.
“Ampuni kami, Gusti Prabu! Ampuni kami, Gusti Prabu! Kami semua tidak bersalah. Kami tidak tahu apa-apa!”
Ketika para wanita itu melihat Prabu Banggarin masuk, mereka langsung beramai-ramai bersuara memohon pengampunan dan membela diri. Karena hampir semuanya bersuara, mereka jadi terdengar ramai dan berisik.
“Diaaam!” bentak Kumbang Draga dengan mata melototi para wanita yang berstatus sebagai dayang Ratu Wilasin dan pelayan di Wisma Keratuan.
Sontak belasan wanita itu terdiam dengan wajah ketakutan.
“Ayuk Nika!” panggil Prabu Banggarin dengan membentak.
“Ha-ha-hamba, Gusti Prabu!” sahut wanita tertua dengan tergagap. Dia memang Kepala Dayang Ratu.
“Bagaimana bisa Gusti Ratu hilang dari Istana? Apakah benar kalian telah merancang siasat busuk? Jawab!” tuding Prabu Banggarin, masih membentak.
“Kami semua tidak tahu ke mana perginya Gusti Ratu, Gusti Prabu. Bagaimana mungkin kami bisa berani berpikir untuk berbuat buruk, Gusti Prabu?” bantah Ayuk Nika dengan suara gemetar.
“Akk!” jerit Ayuk Nika saat tiba-tiba Kumbang Draga maju dan melayangkan satu tamparan keras pada wajahnya. Sampai-sampai wanita itu terjatuh ke samping tanpa bisa menahan tubuhnya di lantai.
“Jangan berdusta kau, Ayuk Nika!” bentak Kumbang Draga.
“Kami semua tidak berdusta, Gusti Prabu! Ampuni kami semua!” ucap para wanita yang lain sambil sebagian menangis, karena dibayang-bayangi hukuman mati.
“Meski kami dihukum mati, kami memang tidak tahu-menahu tentang hilangnya Gusti Ratu, Gustiii!” ucap Ayuk Nika sambil menangis dalam posisi tergeletak di lantai.
“Lalu di mana Nyai Kisut?” tanya Prabu Banggarin lagi.
“Kami tidak tahu, Gusti,” jawab Ayuk Nika.
“Nyai Kisut menghilang, Gusti Prabu. Kami curiga, dialah dalang dari hilangnya Gusti Ratu,” kata Kumbang Grada.
__ADS_1
“Jebloskan mereka semua ke dalam penjara!” perintah Prabu Banggarin.
“Jangan, Gusti Prabu! Kami tidak bersalah! Hiks hiks hiks …!” ratap para wanita itu memelas.
Namun, Prabu Banggarin bergeming dengan tetap menatap marah kepada para dayang dan pelayan itu.
“Prajurit!” teriak Kumbang Draga memanggil.
Maka puluhan prajurit segera bergerak masuk ke ruangan besar itu, sehingga terkesan padat.
“Bawa semuanya dan penjarakan!” perintah Kumbang Grada kepada pasukannya.
Pasukan itu segera mencekal paksa wanita-wanita lemah yang tidak berdaya tersebut, lalu menariknya ke luar.
Sementara Prabu Banggarin melangkah masuk ke ruang dalam. Komandan Bengal Banok seorang yang mengawal masuk.
Prabu Banggarin terus masuk ke wisma megah itu. Ia berhenti di depan sebuah pintu tertutup yang dijaga oleh dua orang prajurit berpedang dan bertameng. Prabu Banggarin ingin masuk ke dalam kamar cucunya.
Setelah menjura hormat, salah satu prajurit penjaga membuka pintu yang tidak dikunci.
Ketika Prabu Banggarin melangkah masuk, dia memberi tanda dengan tangannya kepada Bengal Banok agar tidak ikut masuk ke dalam kamar itu. Mau tidak mau, komandan itu berhenti dan menunggu di luar.
“Tutup pintunya!” perintah sang prabu.
Prajurit jaga segera menutup pintu kamar itu. Rupanya Prabu Banggarin menginginkan privasi.
Di dalam kamar besar nan megah itu, Prabu Banggarin berjalan pelan menuju ke ranjang, tapi pandangannya menjelajah ke seantero ruangan, seolah sedang mencari barang bukti yang tertinggal di tekape. Aroma harum wewangian yang lembut menyerap masuk ke dalam penciuman sang prabu.
Setibanya di sisi ranjang berwarna jingga, Prabu Banggarin bukannya naik ke atas tilam, tetapi ia agak membungkuk melongok ke bawah ranjang yang memiliki ruang setinggi lutut orang dewasa.
Prabu Banggarin melihat, di bawah ranjang itu ada sebuah baskom berisi air dan bunga yang banyak. Dari baskom itulah sumber aroma harum kamar tersebut. Di bawah baskom itu ada karpet berpola segi empat sebagai tatakan.
Prabu Banggarin fokus memandangi posisi karpet yang agak miring.
__ADS_1
“Sepertinya Wilasin pergi lewat jalan rahasia ini,” batin Prabu Banggarin.
Setelah itu, Prabu Banggarin kembali berdiri tegak dan berbalik melangkah pergi menuju pintu. (RH)