Putra Mahkota Sanggana

Putra Mahkota Sanggana
Sedupa 22: Putri yang Tak Berdaya


__ADS_3

*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*


Dalam posisi tegang, belasan prajurit yang mengepung Gandang Duko masih sedikit terhibur karena diberi tontonan dua paha belakang Putri Uding Kemala, ditambah celah kain yang ditutupi bayang-bayang, memberi misteri yang menggelitik rasa penasaran jiwa lelaki.


Kapan lagi bisa melihat sang putri cantik tampil secukupnya seperti itu.


Para prajurit itu ragu untuk menyerang, karena sang putri dalam sandera si penculik pemilik kumis. Sementara itu, pasukan bantuan yang jumlahnya puluhan, masih otw (on the walking).


Wuss! Bagks!


Dengan tangan kanan memeluk kaki mulus sang putri, tangan kiri Gandang Duko melepaskan angin kencang ke atas, membuat para prajurit itu mendongak siaga. Namun, tidak disangka, kaki kanan Gandang Duko menghentak keras ke bumi.


Sersss!


“Ak! Akk! Akkk …!” jerit para prajurit itu dengan tubuh berpentalan tinggi kali jauh, ketika ada gelombang berwujud jalaran sinar merah tipis menyebar ke segala arah mengenai mereka.


Maka, sudah bisa diperkirakan bahwa para prajurit itu akan menderita patah-patah tulang ketika mendarat. Itu kondisi yang akan membawa ke masa penderitaan, karena ahli tulang satu-satunya di pulau itu jarang ada di tempat. Dia suka melancong ke pulau pacarnya.


Buluk! Beledak! Beleguk!


“Ak! Akk! Akkk …!” jerit para prajurit itu untuk kedua kalinya ketika mereka jatuh menghantam tanah keras Gunung Ibu dengan berbagai gaya yang tidak diniatkan. Adalah yang patah tulang tangan, adalah yang patang tulang kaki, tulang iga, tulang leher, tulang pinggang, hingga tulang rawan.


“Hahaha!” tawa Gandang Duko begitu gembira sambil melesat menuruni tanah gunung.


“Kejaaar!” teriak seorang pejabat yang datang memimpin pasukan.


Puluhan prajurit itu cepat mengejar menuruni tanah yang menurun tanpa mengindahkan rekan-rekan mereka yang bergelimpangan tanpa keteraturan.


“Jangan sampai lolooos!” teriak si pejabat yang berusia separuh baya. Ketika para prajurit berlari mengejar, dia segera meminta busur dan panah dari seorang prajurit yang terus mengikutinya.


Beledak! Beleguk!


“Aaak! Aaak! Aaak …!” jerit sejumlah prajurit yang tidak bisa mengontrol larinya pada bidang yang menurun tajam, mereka berjatuhan dan bergulingan.


Ada yang jatuh tersuruk lalu mencium tanah, ada yang bergulingan menabrak kaki rekannya sendiri yang berlari di depan, dan ada yang bergulingan lalu tersangkut di pokok pohon. Sementara Gandang Duko terus menuruni gunung tanpa hambatan berarti.

__ADS_1


“Lepaskan aku, Bajingan, Badakan, Kambingan!” teriak Putri Uding Kemala. Jika seandainya dia bisa mencubit, pasti dia akan mencubit gila lelaki yang menculiknya.


“Hahaha!” tawa Gandang Duko yang justru senang mendengar teriak-teriakan ketidakberdayaan sang putri.


Seeet! Tak! Tseb!


“Aaak!” jerit Gandang Duko.


Bsruak!


“Aaa …!” jerit Putri Uding Kemala pula.


Mungkin semua orang pernah mengalami keberuntungan. Itulah yang terjadi pada pejabat Kerajaan Lampara yang melepaskan satu anak panah pertama dari atas, membidik Gandang Duko yang sudah cukup jauh di bawah.


Anak panah melesat cepat di udara yang menurun, tetapi meleset dari target. Gandang Duko tahu bahwa anak panah itu meleset. Anak panah itu hanya mengenai batang pohon. Namun, untung bagi si pejabat, apes bagi Gandang Duko.


Anak panah itu menyerempet sebatang pohon hutan tidak jauh dari posisi pemuda berkumis, sehingga berbelok dan langsung menancap di belakang lengan kiri si pemuda hingga tembus ke bagian depan. Ternyata rumus seperti itu membuat kesaktian Gandang Duko tidak bisa mengantisipasi.


Gandang Duko yang terkejut, jadi jatuh ke depan bersama korban penculikannya. Keduanya jatuh bergulingan. Untung ada bonus keringanan, mereka berdua jatuh bergulingan di area semak belukar, sehingga tidak terlalu sakit saat berguling tanpa kendali.


Para prajurit yang masih jauh di atas, semakin bergegas turun mengejar, tapi ekstra hati-hati. Mereka tidak mau buru-buru yang nantinya justru bisa mecelakakan mereka karena terjatuh.


Gandang Duko buru-buru bangkit. Seperti tidak merasakan sakit, dia seenaknya saja mematahkan panah yang menancap di lengannya, lalu mencabutnya. Darah pun segera mengucur deras dari lubang luka panah itu.


Gandang Duko segera mendatangi Putri Uding Kemala yang merintih kesakitan.


Terbeliak Gandang Duko ketika melihat kondisi Putri Uding Kemala.


“Hahaha!” tawa Gandang Duko yang melihat sang putri dalam kondisi tengkurap dengan kain pembalut badannya lepas. Itu jelas pemandangan alam tandus yang begitu indah, meski ada sejumlah goresan garis merah akibat sayatan semak belukar.


Gandang Duko lalu membuka bajunya, sehingga ia pun bertelanjang dada. Posisi tengkurap membuat sang putri tidak sadar dengan kondisinya dan tidak melihat apa yang akan dilakukan oleh penculiknya. Wajahnya terbenam di rerumputan.


“Aak! Apa yang kau lakukan, Keparat Bejat Keramat?!” jerit Putri Uding Kemala ketika tahu-tahu tubuhnya diobok-obok oleh tangan kasar Gandang Duko, bahkan pakai menyenggol-nyenggol dua gunungnya yang tidak pakai bra dan baru saja dimandikan dengn kembang tiga warna.


Putri Uding Kemala hanya bisa menjerit-jerit berisik saat badannya dipakaikan baju oleh Gandang Duko menggunakan bajunya. Setelah memakaikan baju dari arah belakang, Gandang Duko lalu membalikkan badan sang putri seperti membalikkan ikan di pembakaran.

__ADS_1


Melihat penculiknya sudah tidak berbaju dan berdiri mengangkang di atas perutnya, semakin terkejutlah sang putri. Meski dia sudah dipakaikan baju, tetapi badan bawahnya tersingkap bebas dalam kondisi terlentang seperti itu.


“Jangan perkosa aku, Kampret Mencret! Kau akan berdosa! Tolooong!” teriak Putri Uding Kemala yang panik begitu panik.


“Kau akan merasakan bagaimana rasanya diperkosa seperti yang dialami oleh adik sahabatku, Putri. Namun, aku tidak akan mememerkosamu di sini!” tandas Gandang Duko.


Pemuda itu lalu bergeser dari atas perut Putri Uding Kemala. Ia membungkuk meraih kain balutan yang tadi dikenakan oleh sang putri.


Breeet!


Itu bukan suara kempus, tetapi suara kain dirobek panjang. Dengan kerja cepat dan nyata, Gandang Duko merobek kain tersebut. Itu dia gunakan untuk membalut luka panahnya.


Set set set …! Clap!


Bersamaan dengan datangnya sejumlah tombak yang dilemparkan oleh beberapa prajurit yang mendekat, Gandang Duko cepat menghilang bersama tubuh Putri Uding Kemala yang disambarnya. Para tombak hanya bertancapan di semak belukar.


Setelah itu, suasana hening karena para prajurit berhenti bergerak turun. Mereka sudah tidak melihat Gandang Duko. Penculik itu dan putri telah hilang. Bahkan kelebatan bayangannya di area jauh di bawah pun tidak melintas sedikit pun. Para prajurit telah kehilangan.


“Ke mana penculik itu? Ke mana?” tanya si pejabat yang juga jadi kebingungan. Lalu dia memutuskan, “Terus turun, cari sampai ke kaki gunung!”


Maka, prajurit berjumlah besar pun segera diturunkan menuruni Gunung Ibu untuk mencari penculik. Kondisi Putri Uding Kemala yang pita suaranya tidak ditotok, seharusnya bisa mereka dengar. Jika tidak, itu berarti si penculik sudah pergi jauh.


“Kenapa, adik sahabatmu yang diperkosa, aku yang ingin kau perkosa? Hiks hiks hiks …!” tanya Putri Uding Kemala. Kali ini dia mulai menangis meratapi nasibnya yang dilecehkan. Baju yang ia kenakan hanya menutupi sedikit saja dari pusat auratnya.


“Karena pelaku pemerkosaan itu adalah kakakmu, si Pangeran Bangir Kukuh,” bisik Gandang Duko. “Kau harus menjadi korban ganjaran dari perbuatan kakakmu. Agar pangeran bejat itu bisa merasakan memiliki adik perempuan yang sudah diperkosa. Bukan hanya oleh satu lelaki, tatapi oleh dua lelaki.”


Terbeliak sepasang mata becek Putri Uding Kemala yang menghadap ke tubuh belakang si pemuda. Bayangan yang begitu buruk seketika terbayang di benaknya, yaitu kesuciannya dinikmati oleh dua lelaki, tidak peduli apakah lelaki itu tampan atau buruk rupa.


“Jangan lakukan, Kisanaaak. Ampuni aku. Kau sudah menelanjangiku. Itu cukup. Jangan lagi kau perkosa aku! Hiks hiks hiks …!” ratap Putri Uding Kemala sambil benar-benar menangis.


“Jangan menangis!” bentak Gandang Duko. “Jika kau tidak berhenti menangis, aku akan memperkosamu sekarang juga. Jangan harap para prajurit itu bisa mengejar kita.”


“Huuu …!” Tangisan Putri Uding Kemala justru semakin menjadi, sampai meraung-raung.


Tuk tuk!

__ADS_1


Karena tidak betah dengan suara tangis si putri yang lama-kelamaan memilukan hati dan perasaan, Gandang Duko akhirnya menotok pita suara gadis itu. Maka heninglah yang tercipta. Tangis Putri Uding Kemala berubah ke mode silence. (RH)


__ADS_2