
*Petualangan Putra Mahkota (Pertamak)*
Di depan benteng Istana telah berbaris sekitar dua ribu prajurit dalam satu pasukan yang dipimpin oleh Mahapatih Duri Manggala. Belum kembalinya Senopati Beling Tuwak membuat Prabu Banggarin tetap menitahkan sang mahapatih untuk memimpin pasukan pergi ke Kadipaten Kedaweng.
Mahapatih tampil dalam busana perangnya di atas kereta perangnya yang memiliki payung lebar di atasnya, selebar payung pantai.
Sementara itu, di atas benteng Istana, terlihat Prabu Banggarin didampingi oleh dua Permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil dan para pejabat lainnya, berdiri untuk menyaksikan keberangkatan pasukan tersebut.
Di saat Mahapatih Duri Manggala telah bersiap di atas kereta kudanya, seorang komandan berkuda sedang melarikan kudanya di depan barisan pasukan sambil berteriak-teriak.
“Persiapkan diri kalian!” teriak sang komandan.
“Siaaap!” teriak para prajurit yang adrenalinnya mulai dibakar.
“Persiapkan diri kalian!” teriak sang komandan lagi sambil menunjuk ke bagian lain dari pasukan itu, mirip vokalis band yang mengajak bernyanyi penontonnya.
“Siaap!” teriak mereka serentak. Ramai suaranya menggema ke dalam Istana hingga ke pasar Ibu Kota yang mulai beroperasi lagi pasca perang yang nyaris terjadi sebelumnya.
“Hancurkan pemberontak!” teriak sang komandan lagi.
“Hancurkan, hancurkan, hancurkan!” teriak pasukan.
“Hancurkan pemberontak!”
“Hancurkan, hancurkan, hancurkan!”
Tiba-tiba seorang prajurit datang berlari menghampiri kereta perang Mahapatih Duri Manggala.
“Lapooor, Gusti Mahapatih!” teriak prajurit itu sambil berlutut menghormat dengan wajah tegang. Sebelum Mahapatih bertanya, prajurit itu melanjutkan laporannya, “Rumah Gusti Mahapatih diserang seorang pendekar!”
“Apa?!” kejut Mahapatih Duri Manggala. Lalu perintahnya, “Beri tahu Komandan Sagarang untuk menunda keberangkatan pasukan! Laporkan pula kepada Panglima Tarikurat!”
“Baik, Gusti.”
Mahapatih Duri Manggala cepat melompat jauh dan berlari di udara. Saat turun, dia kembali berkelebat jauh.
Prabu Banggarin dan orang-orang di atas benteng hanya bisa heran dan bertanya-tanya melihat kepergian sang mahapatih.
Mendapat informasi dari prajurit yang diperintah, Komandan Sagarang menghentikan aksinya dalam membakar semangat pasukan.
Sementara itu, Panglima Tarikurat selaku Kepala Pasukan Keamanan Ibu Kota, segera melapor kepada Prabu Banggarin usai mendapat laporan dari prajurit yang diperintah.
Setibanya di kediamannya sendiri, Mahapatih Duri Manggala mendapati sejumlah prajurit jaga di rumahnya telah tergeletak menjadi mayat.
Di sisi belakang rumah, tepatnya dekat pintu belakang, beberapa orang dalam kondisi berlutut dan bersimpuh, sedangkan tangan dan badan mereka terlilit tali yang mengikat kencang. Mereka terdiri dari tiga wanita dan dua lelaki. Orang-orang itu terdiri dari istri Mahapatih, putri Mahapatih, pelayan perempuan, dan dua pelayan lelaki.
Di sisi mereka ada sebuah kursi yang diduduki oleh seorang nenek-nenek berjubah abu-abu dan memegang tongkat kayu biasa. Lucunya, nenek-nenek itu memiliki mulut yang imut karena terus bergerak mengenyot tanpa ada yang dikenyot. Dia tidak lain adalah Kenyot Gaib.
__ADS_1
“Gusti Mahapatih!” teriak istri dan putri Mahapatih Duri Manggala yang sudah berusia gadis. Maksudnya hanya putrinya yang masih gadis, istrinya tidak.
“Nimas Gedak Harum! Rara Gimis!” sebut Mahapatih Duri Manggala menyebut nama istri dan putrinya.
Para pelayan rumah tidak perlu disebut, mereka sudah maklum jika tidak disebut karena memang mereka hanyalah pemeran figuran belaka.
“Hei, Nenek Bokong Ayam! Apa yang kau lakukan di kediamanku, hah?!” bentak Mahapatih Duri Manggala begitu gusar. Namun, dia tidak bisa langsung menyerang karena khawatir akan keselamatan orang-orang tercintanya.
Sebenarnya Mahapatih Duri Manggala memiliki tiga anak dewasa, satu lelaki dan dua wanita. Dua anak sedang dalam masa studi ke luar negeri, satu anak sekarang sedang terbelenggu di dekat Kenyot Gaib.
“Celeng busuk!” maki Kenyot Gaib marah karena disebut “Nenek Bokong Ayam”, lalu dia menampar udara di depannya.
Paks!
Ruang kosong di depannya yang ditampar, tetapi tenaganya sampai di wajah sang mahapatih yang berjarak beberapa tombak di depan. Sampai-sampai orang tua gagah itu terhuyung ke samping.
Terkejut dan memerah wajah Mahapatih Duri Manggala mendapati fakta tentang kesaktian si nenek yang belum dikenalnya itu.
“Jika aku bisa menamparmu sesuka hatiku, berarti kau bukan lawanku, Mahapatih,” ujar Kenyot Gaib. “Jika kau menginginkan anak istrimu selamat dari tangan mautku, bawakan Permaisuri Sanggana Kecil ke sini. Aku ingin bertarung dengannya!”
Terbeliak sepasang mata Mahapatih Duri Manggala, bukan karena terkejut, tapi karena melihat jalan keluar yang terang benderang. Ia sangat yakin bahwa si nenek mulut lucu itu belum mengenal betul seperti apa kesaktian para Permaisuri Sanggana Kecil.
“Kau tidak pantas berhadapan langsung dengan Gusti Permaisuri!” tandas Duri Manggala, bermaksud membuat panas hati si nenek.
“Lalu siapa yang pantas melawanku jika bukan permaisuri budak-budak ranjang itu, hah?! Apa kau mau aku kenyot dulu baru tahu diri?!” bentak Kenyot Gaib dengan suara cempreng menggelegar.
Tiba-tiba di luar halaman kediaman Mahapatih datang satu pasukan yang berjumlah sekitar tiga ratus orang. Pasukan itu dipimpin oleh Panglima Tarikurat yang berkuda.
“Kepuuung!” perintah sang panglima.
Ratusan pasukan itu berlari cepat dan teratur masuk ke dalam halaman dan melakukan pengepungan terhadap posisi Kenyot Gaib. Sementara pasukan bersenjata pemanah bergerak naik ke atap dan mengambil posisi yang nyaman untuk membidik.
Terlihat Kenyot Gaib tidak merasa tertekana atau terintimidasi dengan kedatangan dan ancaman pasukan itu. Ia juga tidak terlihat gembira.
“Hah! Hah! Hah!” sentak para prajurit itu bersusul-susulan sambil menusukkan tombak-tombaknya ke depan sebagai bentuk ancaman.
Banyaknya jumlah prajurit jika dibandingkan dengan luas halaman rumah yang kapasitasnya tidak memadai, membuat pengepungan itu diformat tiga lapis dan sisanya berjaga di luar.
Namun, Kenyot Gaib tetap duduk tenang di kursinya dengan mulut berkenyot-kenyot. Dia tidak perlu khawatir terhadap ancaman dari ratusan prajurit itu karena dia memiliki lima sandera.
“Kau masih berdiri di sana, Mahapatih?” tanya Kenyot Gaib kepada Mahapatih yang berdiri di dalam lingkaran pengepungan.
Wut! Bdak!
“Akk!” pekik satu pelayan lelaki ketika dahinya dihantam tongkat kayu Kenyot Gaib yang tiba-tiba mengibas ke samping.
Lelaki berusia separuh baya kurang sepuluh tahun itu terjengkang dengan kulit dahi yang robek, menjadi bengkak dan berdarah.
“Hentikan!” seru Mahapatih Duri Manggala cepat. “Jangan sakiti satu pun dari mereka. Aku akan segera mendatangkan Gusti Permaisuri!”
__ADS_1
“Cepat, aku sudah tidak sabar menunggu!” perintah Kenyot Gaib.
“Panglima, jangan ada yang menyerang. Kalian jangan membahayakan mereka,” perintah Mahapatih kepada Tarikurat dengam merujuk pada sandera.
“Baik, Gusti,” ucap Tarikurat.
Mahapatih Duri Manggala cepat melompat melewati atas kepala para prajurit. Ia mendarat langsung di punggung kuda milik Tarikurat, seolah-olah sudah di-setting lebih dulu.
“Hia hia!” teriak Mahapatih Duri Manggala menggebah kuda tunggangannya agar berlari secepat mungkin.
Sang mahapatih langsung menuju ke gerbang Istana. Pasukan yang masih berbaris di depan benteng Istana dilaluinya tanpa peduli. Semua penghormatan para prajurit jaga di setiap gerbang dan gapura di dalam lingkungan Istana tidak membuatnya memelankan lari kuda.
Ternyata Prabu Banggarin dan para pejabat sudah tidak berada di atas benteng Istana. Mereka sudah kembali ke pendapa utama, menunggu laporan tentang perkembangan selanjutnya.
“Hei, kau!” panggil Kenyot Gaib kepada Panglima Tarikurat.
Panglima Tarikurat tidak menjawab, dia hanya memandang tajam kepada pendekar tua itu.
“Daripada kau berdiri seperti celeng bego, lebih baik perintahkan orang untuk menyediakan aku air minum,” ujar Kenyot Gaib santai. “Jangan sampai gara-gara ketololanmu ada yang mati sebentar lagi.”
“Gareng Bulak, ambilkan minum untuk nenek itu!” perintah Panglima Tarikurat kepada asistennya, tanpa mengalihkan pandangan dari si nenek.
“Baik, Gusti!” ucap prajurit muda berhidung pesek di sisi Tarikurat.
“Jika kau punya racun, beri racun minumannya!” perintah Tarikurat lagi yang didengar oleh semua orang.
“Jangan coba-coba! Aku beri tahu kalian semua, aku bisa mencium bau racun sehalus apa pun sifatnya!” bentak Kenyot Gaib. “Jangan sampai aku mengenyotmu, Prajurit!”
Ingin rasanya sebagian besar prajurit dalam pasukan itu tertawa menyaksikan adegan tegang-tegangan yang tidak bisa dipegang itu. Namun, mereka harus tahu situasi. Karena itulah, mereka hanya tersenyum lebar sendiri tanpa suara, sehalus suara mesin digital.
Maka, prajurit yang bernama Gareng Bulak segera pergi masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang yang langsung ke dapur rumah Mahapatih.
Gareng Bulak keluar dengan membawa sebuah kendi tanah liat yang kemudian dia serahkan kepada Kenyot Gaib. Tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, situasi masih terkendali. Gareng Bulak kembali ke posisinya di sisi Panglima.
Kenyot Gaib lebih dulu mendekatkan lubang hidungnya ke lubang mulut kendi. Ia ingin tahu, apakah benar air kendi diberi racun atau sekedar lelucon belaka.
Nyot nyot nyot …!
Setelah memastikan bahwa air kendinya aman, si nenek lalu mengenyot kencang. Namun, mulut kendi yang juga monyong, berjarak dua jengkal di bawah dagunya. Jadi, bukan mendongak.
Hebatnya, air di dalam kendi keluar dan naik sendiri ke lubang kecil pada bibir yang mengenyot. Seolah-seolah Kenyot Gaib sedang mengenyot menggunakan sedotan gaib.
“Sepertinya ada yang mencari Permaisuri Sanggana Kecil,” kata satu suara wanita yang terdengar merdu.
“Uhhuk uhhuk!” batuk Kenyot Gaib karena tersedat air lantaran terkejut mendengar suara itu.
“Berkuda siang malam melalui gunung dan lembah, bermandi hujan bertabur debu tanah. Berharap hati akan berjumpa bujang nan gagah, tapi ternyata yang menunggu seorang wanita tua rentah,” syair Permaisuri Kerling Sukma yang duduk di punggung kuda di belakang barisan prajurit.
“Hmm!” gumam Kenyot Gaib ketika melihat sosok cantik jelita bermata hijau terang, yang ketika datang suara lari kudanya tidak terdengar. (RH)
__ADS_1