
*Pasukan Pembunuh Bayaran (Pas Buyar)*
Entah ini berapa puluh tahun yang lalu.
Kala itu, Dewi Ara masih berusia sebelas tahun, masih doyan-doyannya memanjat pohon rambut hutan. Buah rambut hutan berkulit merah-merah. Dengan semangatnya, Dewi Ara yang memang sudah jelita sejak kecil itu memetik dan langsung memakan di pohon, tapi tidak dengan kulitnya yang berambut dan bijinya yang berbiji.
Satu bulatan ia masukkan utuh ke dalam mulutnya, sehingga pipi kirinya membenjol oleh dorongan buah dari dalam mulutnya. Dia buang saja kulit rambut hutan itu ke bawah tanpa melihat lagi ke tanah mana jatuhnya.
Ternyata, sudah banyak kulit rambut hutan yang berserakan di bawah pohon, tepatnya di sekitar seorang remaja lelaki yang sedang duduk bersandar dengan tenang. Ia tidak merasa terganggu ketika sesekali kulit rambut hutan jatuh di depannya. Hal itu karena dia sedang tertidur berkipaskan angin lembah.
Dewi Ara akhirnya memandang lurus ke bawah, memandang kepada remaja lelaki berambut gondrong yang sedang tertidur. Dewi Ara yang mulutnya komat kamit mengunyah rambut hutan lalu mengeluarkan biji dari sela bibirnya. Ia ambil dengan jari, lalu ia lemparkan ke bawah dengan target kepala rekannya itu.
Tuk!
Tepat mengenai kepala si anak lelaki. Timpukan itu membuatnya terbangun, tapi tidak terkejut atau menderita sakit. Sementara di atas Dewi Ara tersenyum kecil.
Tanpa Dewi Ara sadari, seekor makhluk melata bersisik biru gelap setebal tiga jari merayap di dahan pohon tempatnya berdiri.
“Aak!” pekik Dewi Ara terkejut saat si ular mematuk kaki kirinya.
“Dewi Arang!” pekik si anak lelaki terkejut dengan spontan bangkit berdiri dan mendongak ke atas.
Sementara si ular bersifat pengecut, usai mematuk dia tidak mau bertanggung jawab. Ia pergi melengos seperti binatang tidak berdosa.
“Kakang Hagara, aku dipatuk ular!” jerit Dewi Ara dengan wajah meringis.
“Cepat turun, Arang!” seru anak lelaki yang disebut bernama Hagara.
“Tidak bisa, Kakang. Kakiku kesemutan!” rintih Dewi Ara.
__ADS_1
“Ularnya beracun. Cepat lompat saja, Kakang akan menangkapmu!” perintah Hagara.
Tanpa pikir tiga kali, Dewi Ara segera melepaskan pegangan tangannya dan menjatuhkan tubuhnya. Dengan sigap Hagara menangkap tubuh Dewi Ara, tapi mereka harus jatuh bersama karena beban tubuh gadis kecil itu berat. Untung ketinggian dahan hanya sejangkauan tangan ke atas.
Dengan gerakan yang terburu-buru, Hagara melihat kaki Dewi Ara yang tidak bersandal. Ada bekas patukan ular. Segera Hagara merunduk menempelkan mulutnya ke titik patukan, sementara tangannya mencekik kaki Dewi Ara.
Hagara menyedot darah dan racunnya, lalu meludahkannya. Tindakan seperti itu Hagara lakukan beberapa kali, sampai ia yakin darah yang dikenyotnya sudah murni tanpa bisa ular lagi. Dewi Ara hanya memandangi apa yang dilakukan oleh kakaknya itu.
“Bagaimana?” tanya Hagara sambil menatap wajah adiknya yang berkeringat dingin.
“Hihihi!” tawa Dewi Ara saat melihat wajah kakaknya. “Bibirmu seperti bibir ikan, Kakang. Hihihi!”
Hagara segera meraba bibirnya yang memang terasa tebal. Rupanya, kedua bibir Hagara membengkak dengan warna agak kehitaman.
“Wadduh!” keluh Hagara lalu memonyongkan bibirnya dengan mata memandang full ke bawah. Dilihatnya bibirnya memang bengkak.
“Hihihi!” Dewi Ara masih saja menertawakan kakaknya.
“Ayo, Kakang gendong. Kau harus segera diperiksa tabib!” kata Hagara sambil memberikan punggungnya di depan adiknya.
Itulah salah satu kenangan keakraban Dewi Ara dengan kakak lelakinya yang begitu menyayanginya. Namun sayang, beberapa tahun kemudian, Hagara adalah salah satu orang yang Dewi Ara temukan menjadi mayat, setelah kedua orangtua mereka dibantai oleh ayah dari Permaisuri Nara.
“Hanya Kakang Hagara yang memanggilku dengan sebutan Dewi Arang. Selain itu sebagai panggilan mengejek, tapi juga panggilan sayangnya kepada adiknya,” kata Dewi Ara yang mengisahkan masa kecil dan sekilas kenangan kelam kematian ayah ibunya, Hagara dan semua kerabat yang tinggal satu rumah.
Pangeran Bewe Sereng, Setya Gogol dan Lentera Pyar diam mendengarkan dengan kusyuk, tanpa komentar.
“Meski aku tidak percaya jika Kakang Hagara masih hidup, tetapi aku yakin itu adalah Kakang Hagara. Karenanya, aku membiarkannya dia membawa Arda Handara dan aku percaya dengan janjinya, dia akan mengembalikan Arda Handara,” kata Dewi Ara.
“Tapi, aku tetap merasa sangat cemas, Dewi,” kata Lentera Pyar akhirnya.
“Sulit bagi kalian untuk yakin, karena hanya aku yang punya keyakinan bahwa putraku tidak akan apa-apa,” tandas Dewi Ara.
__ADS_1
“Jika benar orang itu adalah kakakmu, Dewi, lalu kenapa dia harus memakai cara seperti itu. Kenapa dia tidak berbicara bak-baik kepada Dewi dan mengakui siapa dirinya? Bukankah kalian tidak bermusuhan?” tanya Bewe Sereng.
“Aku juga tidak mengerti, kenapa Kakang Hagara memakai cara itu. Bukankah dia bisa meminta dengan baik-baik?” ucap Dewi Ara.
“Apakah kita akan tetap menunggu di sini sampai Pangeran Arda kembali, Dewi?” tanya Setya Gogol.
“Menurut pejabat pelabuhan, kapal yang menuju ke Pulau Gunung Dua akan berangkat besok sore, tepat setelah Anik Remas dan Bagang Kala usai menikah,” kata Dewi Ara. “Kita tidak akan menunggu putraku. Jika Kakang Hagara bisa masuk ke dalam laut, maka dia pasti bisa juga sampai ke mana saja bersama Arda.”
Dari arah pintu masuk penginapan muncul berjalan seorang wanita berpakaian biru seperti model seragam Kuyang Wangi dan Baling Sosor, tetapi wanita itu jauh lebih muda dari Kuyang Wangi. Wanita berparas cantik rata-rata itu berjalan menuju ke tempat Dewi Ara berkumpul bersama ketiga pengikutnya.
Dewi Ara memandang datar kepada wanita tersebut.
“Hormatku, Gusti Permaisuri,” ucap wanita itu seraya menunduk dengan kedua tangan bertemu di depan dahi.
“Bangunlah!” perintah Dewi Ara.
“Hamba bernama Letus Mimpi, Gusti Permaisuri. Hamba diutus oleh Gusti Syahbandar untuk mengundang Gusti Permaisuri,” ujar wanita yang merupakan anggota dari Penendang Delapan, tim keamanan Kota Bandakawen.
“Apakah junjunganmu menyelidiku sehingga tahu siapa aku?” tanya Dewi Ara dingin.
“Gusti Syahbandar mendengar Gusti disebut sebagai permaisuri,” jawab Letus Mimpi santun.
“Kembalilah kepada junjunganmu. Aku datang tidak seorang diri. Jika ingin mengundangku, seluruh rombonganku juga harus diundang,” kata Dewi Ara.
“Baik, Gusti Permaisuri. Jika demikian, hamba izin undur diri,” ucap Letus Mimpi.
Setelah menghormat, Letus Mimpi langsung berbalik pergi.
“Siapa yang memimpin kota ini?” tanya Dewi Ara kepada Bewe Sereng.
“Kota ini dipimpin oleh Keluarga Jangkar Ungu. Namun, aku pun tidak tahu siapa yang disebut Syahbandar itu,” jawab Bewe Sereng.
__ADS_1
Tidak lama setelah kepergian Letus Mimpi, berjalan masuk pasangan terpanas pekan ini, yakni Bagang Kala dan Anik Remas. Mereka masuk dengan warna muka yang sumringah, menunjukkan bahwa ikatan hati mereka semakin kuat bertaut.
Setelahnya, berjalan masuk pula Pendekar Bola Cinta Tikam Ginting bersama Ratu Wilasin dan Bong Bong Dut. (RH)