
*Seteru Dua Pulau (Sedupa)*
Dengan mengendarai debur (delman burung) yang ditarik oleh seekor burung botak yang dikendalikan oleh sais, Eyang Hagara dan Arda Handara akhirnya bertandang ke markas Pasukan Domba Merah. Saat itu, Arda Handara membawa Tongkat Kerbau Merah.
Kedatangan keduanya disambut langsung oleh Pelatih Pasukan Domba Merah, yaitu penerbang legenda Banik Terong.
“Oh, ini yang namanya Arda Handara, calon penerbang pengganti Kadidat Colong?” tanya Banik Terong ketika pertama kali berhadapan dengan sang putra mahkota.
“Perkenalkan, Kakek Legenda, namaku Arda Handara, julukanku Pendekar Ketapel Naga,” kata Arda Handara sambil menepuk dadanya dua kali dan tersenyum jumawa.
“Hohoho!” tawa Banik Terong dengan suara jenis anak-anaknya yang terdengar lucu. Lalu katanya, “Dari julukanmu, sepertinya kau memiliki sebuah ketapel pusaka.”
“Tentu, Kek. Aku yakin, Kakek Legenda tidak akan pernah mau terkena tembakanku,” kata Arda Handara. “Karena Eyang Hagara saja ketakutan jika ingin aku tembak.”
“Belelele! Benar seperti itu, Hagara?” kejut Banik Terong lalu mengkonfirmasi.
“Hahaha! Maka itu aku menyebutnya anak ajaib,” tawa Eyang Hagara. Lalu ia membungkuk kepada sahabatnya yang kerdil dan berbisik, “Kemarin dia membunuh tiga dari empat pembunuh bayaran yang ingin membunuhnya.”
“Belelele!” kejut Banik Terong lebih keras, sampai-sampai kumis dan jenggot lebatnya berjingkrak sekali. Di balik jenggotnya, Banik Terong sampai menelan jakun. Eh, maksudnya menelan ludah.
Banik Terong yang sudah memiliki pengalaman hidup yang panjang, sangat tidak mengira bahwa anak seusia Arda Handara sudah mahir membunuh.
“Hahahak!” tawa terbahak Eyang Hagara sambil menepuk sekali bahu Banik Terong.
“Ayo, ki-ki-kita ke lalat, bertemu dengan para penerbang Pasukan Domba Merah!” ajak Banik Terong agak tergagap dan suara terdengar bergetar. Meski dia mantan seorang penerbang nomor jawu, tetapi dia bukanlah seorang pendekar yang terbiasa urusan bunuh-membunuh.
“Ayo. Hahaha!” tawa Eyang Hagara yang menangkap jelas perubahan kejiwaan Banik Terong.
“Apa yang lucu, Eyang? Aku lihat tidak ada yang lucu,” tanya Arda Handara sambil berjalan di sisi Eyang Hagara.
“Coba kau tanya Kakek Legenda,” kata Eyang Hagara.
“Apa yang lucu, Kek?” tanya Arda Handara mengalihkan sasaran pertanyaannya.
__ADS_1
“Yang lucu adalah Eyang Hagara bergaulnya dengan orang-orang kecil. Hohoho!” jawab Banik Terong berdusta. Dia tidak tahu bahwa pada zaman dahulu kala, orang yang suka berdusta dikutuk menjadi terong monyet.
“Hahaha! Biar Eyang cepat tumbuh kecil,” kata Arda Handara turut melucu.
“Mana ada ceritanya orang tumbuh kecil, yang ada tumbuh besar,” ralat Eyang Hagara.
Sambil mengobrol dalam perjalanan menyusuri lorong di bawah tribun, tidak terasa akhirnya mereka bertiga keluar di pinggir lapangan yang tetap terlihat luas, meski tidak seluas Kolosom Awan.
Di udara atas lapangan terlihat ada delapan orang kerdil yang sedang terbang mengendarai tongkat, itu tongkat sungguhan yang bisa terbang.
Kedelapan orang kerdil yang sedang terbang itu mengenakan pakaian yang tidak seragam, tidak seperti ketika pertandingan. Mereka terbang teratur dengan mengikuti satu orang. Mereka terbang tidak hanya sekedar terbang, tetapi mereka melakukan sejumlah manuver yang rapi, seperti sekawanan jet tempur yang terbang di hari kebangsaan.
Berbeda dengan lapangan di negeri masa depan, lapangan itu tidak diliputi oaleh rumput hijau, tetapi lapisan kasur busa yang tebal dan seluas lapangan. Bisa dipastikan, jika ada capung yang jatuh dalam penerbangannya, tidak akan tewas, termasuk manusia.
Melihat atraksi tanpa penonton di tribun itu, Arda Handara sangat ingin ikut terbang, tetapi ia tahan karena ia belum mengenal orang-orang cebol itu. Arda Handara melihat ada dua wanita kerdil dalam kelompok tersebut.
“Para Penerbang Domba Merah!” teriak Banik Terong dengan keras.
Panggilan itu membuat para penerbang tersebut menengok ke arah Arda Handara dan kedua kakek tua. Seorang cebol berkumis hitam dan berambut gondrong terurai sepunggung, seperti rambut wanita, terbang berbalik lebih dulu dan menuju ke posisi pelatih mereka dan kedua tamunya. Kedelapan penerbang lainnya segera mengikuti.
Semuanya mengerem di depan Banik Terong, lalu mereka turun mendarat.
Arda Handara sempat terkesiap dan terpaku ketika melihat paras satu dari dua penerbang wanita. Wanita yang berambut biru terang seperti cosplay anime. Kecantikan wanita itu begitu imut dan manis seperti permen yang warna-warni menggiurkan. Selain rambutnya yang biru terang, dia mengenakan pakaian yang warnanya kombinasi merah, kuning dan hijau. Bulu matanya lentik melengkung indah dengan warna bibir merah muda. Tongkatnya berkepala burung kakak muda. Sepertinya dia wanita pecinta burung. Dia bernama Sanda Kolot, bukan hanya primadona di dalam Pasukan Domba Merah, tetapi juga di dunia penerbangan.
Pak!
Eyang Hagara yang menyadari bahwa jiwa mata keranjang keponakannya mulai tumbuh, menepak kepala Arda Handara.
“Ada apa, Eyang?” tanya Arda Handara terkejut.
“Kita sedang berhadapan dengan banyak orang, jadi kau jangan hanya memandang kepada satu orang,” jawab Eyang Hagara.
“Oh, iya, Eyang. Hahaha!” ucap Arda Handara paham, lalu tertawa cengengesan.
“Hahahak!” tawa satu orang cebol lelaki berpakaian merah muda. Jenggot hitamnya hanya sepanjang beberapa jari. Ia tidak berkumis. Rambut gondrongnya dikepang sedikit-sedikit, sedikit-sedikit dikepang, sehingga menyerupai tentakel gurita. Dia bernama Cumi Bentol, seorang penerbang pengumpan di dalam Pasukan Domba Merah.
__ADS_1
Cumi Bentol tertawa sendiri di saat rekan-rekannya memasang wajah-wajah dingin yang belum menghangat. Sementara Sanda Kolot yang memang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian mata lelaki, hanya tersenyum kecil, menunjukkan mahalnya kecantikannya.
“Tampan juga anak Negeri Kesatu ini,” batinnya di dalam hati.
Sebelumnya, tim kesembilanan itu telah diberi tahu bahwa ada penerbang dari Negeri Tanah Jawi yang mereka kenal juga dengan nama Negeri Kesatu, akan datang untuk season perkenalan. Pelatih akan merekomendasikan penerbang itu sebagai pengganti Kadidat Colong. Jika separuh dari tim sepakat menerimanya, maka Arda Handara akan menjadi bagian dari tim dan ikut dalam pertandingan Babak Penerbang Langit melawan Pasukan Beruang Biru.
Lelaki cebol yang berdiri di tengah, di sisi kiri Sanda Kolot adalah yang paling menonjol dengan tubuh lebih kekar, lebih lebar, dan kepalanya lebih tinggi lima centimeter dari yang lain. Dia memang memiliki tinggi ideal untuk ukuran Orang Separa. Cebol yang hanya berkumis panjang seperti ikan pesut itu berambut panjang terurai dengan tato merah kepala landak di bawah mata kirinya, yang orang kira itu kepala anak tikus. Dialah penerbang yang sejak tadi terbangnya diikuti oleh rekan-rekannya. Namanya Jangka Kolor.
Nama “Kolor” bisa orangtuanya berikan kepada Jangka, lantaran di negeri itu dan di masa itu makhluk hidup belum mengenal celana bagian dalam dengan nama “kolor”. Jadi jangan salahkan bapak yang menitipkan anak ke dalam rahim ibu.
Di dalam Pasukan Domba Merah, Jangka Kolor adalah penerbang nomor dua setelah Kadidat Colong. Sakitnya Kadidat Colong membuat ia menjadi Kapten Sementara Pasukan Domba Merah.
Singkat perkenalan, dari kanan ke kiri, nama-nama kedelapan anggota Pasukan Domba Merah antara lain: Kucang Tongol, Balak Molor, Cumi Bentol, Jangka Kolor, Sanda Kolot, Mini Menor, Talang Jenglot, dan Greges Epot.
“Inilah penerbang yang aku sudah bicarakan kepada kalian. Namanya Arda Handara dari Negeri Kesatu. Dia adalah cucu dari penerbang legenda zaman dahulu, Penerbang Hagara,” ujar Banik Terong.
“Kami tidak mempermasalahkan tentang dirinya yang adalah cucu dari seorang penerbang legenda,” kata Jangka Kolor. “Yang ingin kami buktikan, apakah dia layak masuk ke dalam tim hebat ini.”
“Baik, syarat apa yang ingin kalian minta kepadaku? Katakan saja, aku tidak akan malu-malu!” koar Arda Handara tanpa sungkan.
“Hihihi!” tawa dua penerbang wanita, Sanda Kolot dan Mini Menor, mendengar kalimat koaran Arda Handara.
Melihat Sanda Kolot tertawa kencang karena perkataannya, riang hati Arda Handara. Namun, dia harus jaga image, jadi dia hanya tersenyum kecil.
“Pertama buktikan bahwa anak negeri seberang juga bisa terbang. Kedua, menangkan pertandingan Empat Bunuh Lima. Ketiga, kau tidak boleh gugur dalam pertandingan latihan ini. Keempat, kau jangan genit dengan Sanda Kolot, karena dia kekasih Kadidat Colong,” tandas Jangka Kolor memberi syarat.
“Oh, sudah kekasih orang. Tenang saja, aku masih anak kecil, tidak mungkin suka dengan orang besar,” kata Arda Handara yang mengutamakan mengomentari perkara terakhir. Setelah berkata seperti itu, ia melirik kepada Sanda Kolot dan mengirim gerakan alis genit.
“Hahahak!” tawa Cumi Bentol yang merasa lucu dengan gaya angkuh Arda Handara.
“Bagaimana dengan syarat lainnya, apakah kau menerimanya?” tanya Jangka Kolor lagi.
“Tidak masalah. Aku suka tantangan,” jawab Arda Handara enteng.
“Baiklah, tapi perkenalkan dulu nama-nama kalian,” kata Banik Terong menengahi dan mencairkan ketegangan para anak muda itu.
__ADS_1
“Baik, Pelatih,” jawab Jangka Kolor.
Kedelapan penerbang itu lalu memperkenalkan namanya satu demi satu kepada Arda Handara. (RH)